
"Pakde!! Abang!! Kak Ara pulang sama Kak Mizar!" teriakan Kenzo menggelegar di seluruh ruangan ketika bocah kelas satu SMA itu baru saja keluar. Lantas berbalik masuk ke dalam rumah ketika mendapati kakak sepupunya pulang bersama pemuda yang ia kenal.
Bukannya menyapa pemuda itu, Kenzo justru dengan berisik memberitahu semua orang.
Dari arah tangga terdengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Satu, dua ... menyusul yang ketiga. Hingga ketiga makhluk Adam itu berdiri di ruang keluarga bertepatan dengan Kenzo yang baru saja mencapai ruangan tersebut.
"Ara pulang sama Mizar? Bukannya tadi keluar sama Sagara?" Barata bertanya pada sang keponakan yang sama terkejutnya dengan dua lelaki muda dan seorang pria dewasa di depannya.
"Terus Kenzo mesti jawab gimana, Pakde? Kenzo kan juga nggak tahu Kak Ara keluar sama siapa." Jawaban remaja lelaki itu sama sekali tak membantu.
Barata melirik ke arah kedua anak bujangnya. Yang ditatap sama-sama tak bisa memberikan jawaban. Karena memang jelas, Maura pergi bersama Sagara hampir dua jam yang lalu.
Bagaimana mereka bisa tahu jika tiba-tiba gadis itu pulang bersama pemuda yang paling dihindari? Bahkan sore tadi, Maura memaksa sang kakak kedua yang baru saja sampai rumah untuk kembali ke apartemen Andara hanya demi menjemput sang adik.
Sebelumnya, teman akrab adiknya itu, mengabarkan apabila Noah tak perlu menjemput Maura karena dialah yang akan mengantarkan gadis itu pulang. Namun, tiba-tiba Maura meneleponnya dan meminta Noah supaya menjemput dirinya.
Barulah pemuda itu tahu apabila Tante Vella mengalami kecelakaan dan Maura masih terjebak di apartemen bersama Mizar.
"Kenapa nggak pulang sama Mizar, aja?"
Ya, itu pertanyaan Noah untuk pertama kali setelah mengeluhkan bahwa dirinya baru saja memarkirkan mobil di garasi. Bukannya menjawab, Maura justru memberikan sabda yang membuat Noah tak bisa berkutik.
Kurang lebih isinya sama dengan rentetan pesan yang dikirimkan gadis itu beberapa saat sebelumnya. Namun, Noah sengaja tak membalas dan hanya membaca pesan tersebut melalui bar notifikasi akibat terlibat rencana dengan Andara. Supaya pemuda itu mengabaikan sang adik dan segera pulang apabila perlu. Maura akan menjadi urusan Andara.
"Iya, Bang Noah jemput kamu!" Perdebatan itu berakhir dengan kesediaan Noah menjemput sang adik.
Lantas sekarang, tiba-tiba saja si bungsu dalam keluarga Bumantara - yang nama keluarganya tak pernah diwariskan kepada anak-anaknya oleh Barata - pulang bersama pemuda yang paling dihindari di muka bumi ini.
"Coba Papa, cek ke depan." Barata membuyarkan lamunan semua orang yang tampak keheranan.
"Nggak usah, Pa. Biarin aja dulu." Tahan Abigail sebelum Barata menyusul putri semata wayangnya ke depan.
"Kenapa?"
"Khawatir aja kalau Ara bakal ngerasa nggak nyaman. Papa kan tahu sendiri gimana dia kalau berkaitan sama Mizar. Biar dia yang panggil kita kalau emang Ara mau."
Barata tampak berpikir sebentar. Lantas mengangguk setuju dengan ucapan si sulung.
"Terus gue gimana, Bang?"
__ADS_1
"Main aja sana sama Bang Noah."
"Kok jadi gue?" protes Noah ketika mendengar ucapan sang kakak. Sementara Kenzo tampak iya-iya saja menanggapi perintah sang kakak sepupunya itu.
Mereka lantas membubarkan diri, tepat saat Maura mendorong pintu depan hingga terbuka. Kalau saja mereka tak segera mengikuti saran Abigail, pasti keempat makhluk Adam itu bakal salah tingkah menghadapi sikap dingin Maura.
Barata yang sebelumnya berniat ke dapur untuk mengambil minum sebelum kembali ke ruang kerjanya, sampai merinding ketika Maura melewati ruang tengah begitu saja. Tanpa menoleh sedikit pun.
Seandainya mereka masih di tempat yang sama, Barata tak bisa membayangkan apa yang bakal diperbuat anak gadisnya itu. Bisa jadi, Maura bakal semakin murka, mengingat betapa suramnya raut muka si bungsu.
"Dek, cari apa?"
Cukup lama sebelum akhirnya Barata memutuskan untuk menegur Maura yang tak langsung ke kamarnya. Gadis itu tampak sibuk membuka laci tempat penyimpanan kotak P3K - yang seharusnya memang terletak di sana. Namun, ia tak menemukan apa pun di tempat yang semestinya.
"Kotak P3K. Papa tahu di mana?" Maura menjawab pertanyaan Barata dengan balas bertanya. Tanpa sedikit pun menoleh ke arah pria yang sudah cukup lama menjadi single parent itu.
"Kayaknya ada di Bang Agil. Tadi Papa lihat Bang Agil ambil kotak P3K dari tempatnya."
"Oh."
Maura menjawab singkat lantas beranjak dari ruang keluarga dan berniat naik ke lantai dua. Namun, pertanyaan Barata selanjutnya menghentikan langkah kaki perempuan muda itu.
Gadis itu menghela napas sebelum menoleh ke arah sang papa.
"Nggak, bukan Ara. Buat Mizar. Dia yang luka."
Tanpa menunggu tanggapan sang papa, Maura berbalik dan naik ke lantai dua untuk menuju kamar si sulung. Tak butuh waktu lama, sebab Barata melihat anak gadisnya kembali menuruni tangga sambil membawa kotak P3K di tangannya.
"Butuh bantuan, Papa?" tawar Barata ketika melihat sang anak gadis melewati ruang keluarga.
"Nggak usah, Pa. Ara bisa sendiri." Jawaban anak perempuan semata wayangnya itu masih terdengar dingin. Dan, sebagaimana ucapan Abigail, pria itu memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan anak gadisnya.
Ya, mungkin Maura cuma butuh waktu untuk menuntaskan masalahnya sendiri, tanpa perlu dorongan orang lain.
"Oke, Papa di ruang kerja kalau kamu butuh bantuan."
Meski samar, Maura menipiskan bibir. Lalu mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke teras depan.
Brak!
__ADS_1
Dengan penuh penekanan, perempuan itu meletakkan kotak P3K di atas meja teras depan. Sorot matanya menatap ke arah Mizar yang dibuat kaget oleh tindakan Maura yang cukup tiba-tiba.
Harusnya Maura tak usah peduli saja ketika melihat ujung bibir Mizar mengeluarkan darah akibat pukulan Sagara. Toh, itu bukan salahnya. Siapa suruh Mizar ikut campur dan memukul Sagara lebih dulu?
Jangan salahkan dirinya jika Sagara membalas pukulan cowok itu dan membuat ujung bibirnya berdarah!
Maura juga tak menginginkan Mizar membelanya. Apalagi bersikap sok pahlawan dengan menyelamatkan dirinya.
Ya, seharusnya memang begitu saja. Ia tak usah peduli dan pulang begitu urusannya dengan Sagara terselesaikan.
Sialnya, hati kecil Maura tergelitik untuk menawarkan bantuan ketika melihat pemuda itu terluka. Apalagi setelah menyelamatkan dirinya. Bahkan sudah mengantarkan ia pulang.
'Goblok!' Maura mengumpat dalam hati.
Kalau saja ia tidak teledor dan melupakan membawa ponsel, mungkin dirinya tak akan terjebak dalam situasi seperti sekarang. Ia terpaksa menerima tawaran Mizar untuk mengantarnya pulang dan menimbulkan rasa tak tega dalam dirinya ketika melihat cowok itu terluka.
Buntut persoalan yang kini membuatnya menyesal karena ia harus duduk berhadapan dengan Mizar di teras rumahnya. Padahal, seharusnya ia bisa bersikap masa bodoh seperti biasa.
"Huft!" Gadis itu menghela napas kasar.
Ia melirik ke arah Mizar yang sama sekali tak menyentuh kotak P3K di depan mereka.
"Kenapa diem aja? Tuh, obatin luka lo terus pulang!" ucap Maura galak seperti biasa.
Di depannya Mizar tak sanggup berkata-kata. Sepasang netra pemuda mengerjap berkali-kali hanya untuk menimbang, bagaimana caranya mengatakan pada Maura bahwa ia tak bisa mengobati luka itu seorang diri.
Mungkin Mizar memang bisa merasa perih di ujung bibirnya yang terluka. Namun, Mizar tak bisa melihat pasti di mana letak luka itu berada. Lantas bagaimana ia bisa mengobati luka seperti yang diharapkan Maura?
Kalaupun ia menolak, perempuan itu pasti akan semakin murka. Lagipula ini harusnya menjadi momen langka yang bahkan tak pernah diharapkan oleh Mizar. Bagaimana mungkin ia akan menyia-nyiakannya?
"Lo nggak mendadak bisu cuma gara-gara bibir lo luka kan?" tanya Maura kian sarkas.
Pemuda itu menarik bibir. Berusaha tersenyum. Namun, faktanya ia justru meringis akibat perih yang menjalar dari bekas lukanya.
"Ck, lama! Sini biar gue yang obatin luka lo!"
Maura meraih kotak P3K dan mengambil kasa serta serta alkohol untuk membersihkan luka Mizar. Lantas mendekat ke arah cowok itu hanya untuk melihat lebih jelas luka di ujung bibir Mizar. Namun, gerakannya justru dihentikan oleh pemuda itu.
"A-aku bisa bersihin sendiri. Ada cermin?"
__ADS_1
Sumpah, bukan ini yang diinginkan Mizar. Namun, berada dalam jarak dekat dengan Maura, sama sekali membuat jantungnya tidak aman.