My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Sepayung Berdua


__ADS_3

Matahari cukup terik siang ini. Maura baru saja selesai mengikuti kelas terakhir dan buru-buru pulang saat mendung tiba-tiba menggantung tanpa peringatan.


Cuaca cepat sekali berubah, padahal matahari masih bersinar terik beberapa saat lalu.


Maura mempercepat langkah. Khawatir jika hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Sukanya sih memang gitu, mendung hanya sebagai penanda. Sementara hujan tak pernah benar-benar pasti kapan bakal turun menyapa bumi.


Dan benar saja, belum juga mencapai tempat parkir, rintik hujan mulai jatuh tanpa peringatan lebih dulu sebelumnya.


"Tuh kan!" Maura mendengus sebal. Dengan sisa energi yang ia miliki akibat terlalu lapar, perempuan itu berlari ke arah gazebo terdekat.


Beruntung perempuan itu sengaja melewati taman ketika hendak menuju tempat parkir. Biasanya Maura selalu menghindari area taman ketika hendak ataupun dari gedung perkuliahan.


Ia terlalu malas berbasa-basi dengan kebanyakan mahasiswa yang memilih taman sebagai tongkrongan.


Selain itu, Maura sengaja melewati taman akibat menghindari Mizar yang pasti sudah menunggunya di depan gedung perkuliahan.


Benar, sejak semalam pemuda itu sudah kembali ke mode menyebalkan dan mengirimkan banyak pesan. Lebih tepatnya ketika si pemuda mengabarkan jika ia sudah selamat sampai tujuan. Setelah pemuda itu mengantarkan dirinya ke depan pintu dan berpamitan kepada Barata.


Setelahnya Mizar terus mengirimkan pesan jika dirinya akan menunggu Maura di depan gedung perkuliahan esok hari. Entah apa yang diinginkan. Yang jelas Maura tak mengharapkan pertemuan dengan Mizar.


Bruk!


Akibat tak hati-hati, tanpa sengaja perempuan itu bertabrakan dengan seseorang ketika mencapai gazebo terdekat. Maura mendapati seorang lelaki muda yang tak terpaut jauh dengan usia kakak pertamanya saat mendongak untuk memastikan siapa yang ia tabrak.


"Loh, Kak Baruna? Ada perlu apa Kakak di sini?" seru Maura hampir tak percaya ketika orang yang baru saja ia tabrak merupakan salah satu pengacara terbaik di firma hukum milik keluarga Bumantara.


"Ara? Udah mau pulang?" Lelaki itu balik bertanya dan membuat Maura mengangguk antusias.


Perlu kalian tahu saja, Maura ini sudah sejak lama tertarik kepada Baruna. Lebih tepatnya ketika sang kakak sulung mengajak Baruna pulang ke rumah keluarga Dewa Bumantara ketika ia masih duduk di bangku satu SMA.


Saat itu, Baruna masih berkuliah semester tiga. Ada tugas kelompok yang harus diselesaikan bersama Abigail.


Maura yang baru saja pulang dari sekolah, tak sengaja bertabrakan dengannya ketika hendak masuk ke dalam rumah.


"Eh, maaf Kak, aku nggak sengaja," ucap Maura gugup ketika ia melihat wajah Baruna untuk pertama kali.


"Nggak papa. Kamu pasti si bungsu Sirius ya?"


"I-iya." Maura semakin gugup menjawab pertanyaan pemuda itu. Terpikat oleh pesona yang terpancar dari wajah tampan Baruna.


Definisi orang tampan menurut Maura. Pemuda itu memiliki postur tubuh yang tinggi, hidung mancung, sepasang mata yang menyorot tajam, tapi tak meninggalkan kesan ramah, juga memiliki bibir yang memerah meski dia laki-laki.

__ADS_1


Tak lupa bagian yang menarik perhatian. Alis tebal yang menaungi sepasang mata yang menyiratkan kecerdasan. Ditambah kulit agak kecoklatan akibat terbakar matahari.


Mungkin, akibat seringnya lelaki itu turun ke jalan. Seperti halnya sang kakak yang selalu pulang dalam keadaan berkeringat, bau asap, dan wajah yang sama sekali tak terdefinisikan.


Apalagi yang mereka lakukan kalau bukan demontrasi menuntut para penguasa yang dianggap sewenang-wenang menggunakan kekuasaan.


Benar, begitulah definisi cowok tampan menurut Maura. Hingga akhirnya membuat gadis yang bahkan baru merayakan usianya yang ke-15 tahun saat itu merasakan jatuh cinta.


"Ra, kok ngelamun?" tanya Baruna sambil melambaikan tangan di depan wajah Maura.


"Eh?" Perempuan itu tersentak dan mendapatkan kembali kesadarannya.


Lelaki di depannya itu tertawa. Membuat lesung yang tersembunyi di pipinya muncul ketika ia melemaskan bibir.


"Kamu lagi mikirin apa?" Baruna bertanya sambil terus menatap wajah Maura yang tampak menggemaskan akibat terkejut.


"Oh? Haha ... nggak, Kak. Kak Baruna tadi ada ngomong apa? Kayaknya aku beneran ngelamun deh."


"Ck, kamu nih. Padahal kamu tanya apa yang aku lakuin di sini. Eh, giliran dikasih tahu, malah nggak didengerin."


Maura nyengir kuda sambil menggaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya tak terasa gatal.


"Sorry," ucap Maura singkat.


"Boleh ... kalau Kak Baruna, nggak keberatan sih." Maura menjawab ragu-ragu.


Lelaki itu tertawa. Menyuguhkan kembali lesung pipi yang selalu berhasil membuat Maura terpikat.


"Aku baru aja ketemu sama dekan fakultas kamu. Ada kasus yang mesti kutangani. Beliau meminta bantuanku untuk memenangkan kasus ini."


"Eh? Nggak papa nih Kak Baruna cerita kayak gini?"


"Sstt ... ini cuma rahasia di antara kita," ucap Baruna sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.


Ujung bibir perempuan itu berkedut. Ia tak bisa menahan senyum ketika melihat ekspresi Baruna yang tampak serius, tapi juga dibuat-buat.


"Nggak bosen juga ya nungguin hujan kalau kayak gini," komentar Baruna setelah beberapa waktu berlalu.


"Ehm, kenapa bisa gitu?"


"Soalnya nungguinnya bareng kamu."

__ADS_1


Maura termangu. Cukup terkejut dengan pengakuan lelaki yang kini duduk di sampingnya. Sementara Maura masih bertahan dengan posisi berdiri.


"Kak Baruna lagi ngegombal apa gimana sih?" Perempuan itu berusaha untuk tak terlihat canggung. Meski pada faktanya degup jantungnya berdebar kencang.


"Kok gombal sih? Nggaklah. Aku tuh justru lagi bersyukur, Ara. Bisa bayangin kan, gimana bosennya kalau nungguin hujan sendirian? Di tempat kayak gini pula."


"Haha ... nggak ada temennya. Nggak ada kopi pula." Maura memberikan tanggapan dan disambut acungan jempol oleh Baruna.


"Nah, itu yang kumaksud."


Senyum kembali mengembang di wajah Maura. Ia pikir setelah cukup lama tak bertemu Baruna, bakal menipiskan perasaan dalam hatinya.


Faktanya tak semudah itu. Sosok Baruna masih membekas kuat dalam jiwa.


"Oh, jadi di sini? Pantes aku cariin ke mana-mana nggak ketemu."


Sebuah suara mengejutkan dua manusia beda jenis yang sedang berteduh di gazebo itu.


Maura menoleh cepat dan mendapati Mizar sedang berdiri tak jauh darinya. Sebagian kemeja pemuda itu basah akibat percikan air hujan. Sekalipun ia sudah membawa payung untuk melindungi dirinya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Maura dengan nada galak. Namun, entah mengapa ia justru salah tingkah.


Seperti halnya seorang kekasih yang ketahuan selingkuh dengan lelaki lain.


"Aku tadi cariin kamu ke kelas dan hampir nggak ada orang. Kata temen kamu, kamu udah balik dari sebelum hujan. Tapi aku tunggu di gedung depan, kamu sama sekali nggak ada lewat. Makanya aku cariin kamu. Ternyata di sini." Mizar memberikan penjelasan dengan nada bicara seolah dirinya kecewa.


Dan, lagi-lagi hal itu membuat Maura kian merasa bersalah.


'Sial kenapa kesannya jadi gue yang salah? Kan gue nggak ada setuju buat ketemu sama dia! Salah sendiri maksain diri!' ucap Maura kesal dalam hati.


Meski begitu, Maura tak akan menujukkannya begitu saja. Mizar bisa jadi besar kepala.


"Misi, Bang. Ara, gue ajak pulang dulu ya."


Tiba-tiba Mizar menarik perempuan itu untuk mendekat ke arahnya. Sebelum Maura sepenuhnya sadar dengan apa yang dilakukan Mizar, pemuda itu sudah mengajaknya pergi dari sana.


Mizar bahkan tak memberikan Baruna kesempatan untuk bicara dan menarik Maura begitu saja.


"Eh?"


Maura tergemap ketika Mizar tiba-tiba menarik tubuhnya agar berada di bawah payung sama.

__ADS_1


"Geser, Ra. Baju kamu bisa basah kalau jauh-jauh gitu," bisik Mizar di telinga Maura. Yang sialnya membuat perempuan itu merasakan perasaan yang berbeda.


__ADS_2