My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Revenge is Red - 04 (End)


__ADS_3

Perempuan itu melirik jam dinding yang berada di kamarnya. Ia berbaring gelisah. Sudah menjelang pukul sepuluh malam, tapi belum ada satu pun anggota keluarganya yang pulang ke rumah.


Tak juga papa ataupun kedua kakak lelakinya. Mereka masing-masing baru saja memberikan kabar jika harus menyelesaikan pekerjaan yang tak bisa tertunda.


Bahkan sang papa harus segera pergi ke Surabaya tanpa sempat pulang dan berpamitan langsung, karena besok ada persidangan penting yang harus dihadiri. Tak akan cukup waktu jika mengejar penerbangan besok pagi.


Itulah mengapa pria itu akan pergi malam ini juga. Setelah menyelesaikan beberapa urusan di kantor.


Maura mendengus sebal. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Menatap rumah yang berada di seberang jalan.


Sama saja, mobil sang paman belum juga terlihat di garasi. Itu artinya firma hukum yang dibangun oleh kakek buyutnya yang kini dipimpin oleh generasi ketiga, dalam keadaan sibuk hingga membuat sebagian besar penyandang nama Bumantara tertahan di kantor masing-masing.


"Cih, di saat kayak gini, kenapa Kenzo nggak ada main ke sini sih?" keluh Maura pada dirinya sendiri.


Sebenarnya ia bisa main ke rumah yang berada di seberang jalan itu. Namun, tantenya bukanlah termasuk orang yang ramah.


Wanita itu merupakan sosok yang sering kali menanamkan persaingan kepada anak-anaknya agar menjadi seorang Bumantara yang membanggakan. Juga sering kali membanding-bandingkan ini dan itu.


Jelas Maura malas apabila berhadapan dengan sang tante yang akan terus-terusan mendoktrin Kenzo ataupun Keenan agar mereka seperti kakek ataupun ayah kedua anak lelaki itu. Sebab jelas, Maura tak akan masuk hitungan sebagai calon Bumantara yang bisa diharapkan.


Bisa saja perempuan itu menutup telinga dan tak peduli sindiran sang tante. Tapi tetap saja ia malas apabila harus pura-pura tak peduli. Bagaimanapun Maura masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Diliputi rasa bosan yang berkepanjangan, Maura mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas tempat tidur dan nekat menghubungi nomor adik sepupunya itu. Tak membutuhkan waktu lama sampai pesannya mendapat balasan.


Kenzo : Oke, gue keluar sekarang. Kak Ara tunggu di depan aja. Gue pastikan Mama nggak bakal tahu ataupun laporan sama Pakde!


Tanpa mengirimkan pesan balasan, Maura mengambil jaket dari gantungan baju di balik pintu. Perempuan itu menyambar kunci sebelum turun ke garasi dan mengeluarkan sebuah kendaraan yang dulu menjadi kebanggaannya.


***


Suara mesin motor yang meraung-raung membelah suasana malam. Tak jauh dari kerumunan yang semakin malam semakin dipadati banyak orang, dua buah motor dengan joki masing-masing berada di atasnya telah siap menunggu aba-aba dari gadis berpakaian seksi yang berdiri di tengah lintasan.


Perempuan itu, mengurai slayer yang mengikat rambutnya dan melambaikan ke arah kedua pemuda yang telah bersiap-siap di atas motor besar mereka.


Benar. Mizar dan Sagara akhirnya bertemu di lintasan untuk menuntaskan dendam masing-masing. Meski Mizar masih yakin pasti, pertarungan mereka tak akan berhenti sebatas ini saja.

__ADS_1


"Mumpung masih ada waktu, lo bisa mundur sekarang kalau masih sayang sama nyawa lo," ucap Sagara di sela-sela persiapan mereka.


"Lo juga bisa mundur mumpung masih belum terlambat!"


"Heh, nggak udah sok jago. Lo bakal mampus malam ini!"


Sagara mengeraskan rahangnya. Lihat saja, raut muka cowok itu tampak berambisi untuk mengalahkan Mizar. Itu artinya menang atau kalah, dia akan tetap melampiaskan kekesalannya dengan kekerasan.


Tujuan Sagara hanya satu, dia tak ingin melihat Mizar lebih unggul darinya dalam hal apa pun.


Sungguh, firasat Mizar seratus persen akurat dalam hal ini. Ia tahu Sagara. Bagaimana tabiat cowok itu hingga apa yang bisa diperbuat demi mencapai keinginannya.


Untuk itu Mizar harus lebih waspada malam ini, apabila tak ingin hal buruk menimpa dirinya.


"Three ... two ... one ... Go!"


Suara si perempuan menyadarkan Mizar tepat pada waktunya. Pemuda itu menarik tuas gas dan melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Sagara jauh di belakang.


Hingga putaran kedua, Mizar masih memimpin di depan. Sementara tak ada pergerakan sama sekali dari Sagara. Cowok itu masih menempel di belakang Mizar tanpa bermaksud mendahului.


'Berengsek! Apa yang direncanakan manusia gila itu?!' umpat Mizar dalam benaknya.


Ia mulai curiga dengan pergerakan Sagara sejak cowok itu tak juga menyalip Mizar meski banyak kesempatan.


Tak hanya sekali dua kali Mizar hampir kehilangan keseimbangan. Seharusnya ada banyak momen di mana Sagara bisa mendahului pemuda itu.


Faktanya Sagara masih terus menempel di belakang tanpa berniat mendahului Mizar sama sekali. Sangat bertolak belakang dengan sorot mata berambisi ketika mereka baru memulai pertandingan tadi.


Seakan cowok itu menunggu waktu yang tepat untuk sekadar menghancurkan Mizar sebatas ini.


'Berengsek! Apa yang dia rencanakan?!'


Mizar mulai tak tenang. Ia yakin pasti Sagara pasti mengatur rencana dalam kepalanya. Pemuda itu tak bisa meremehkan lawannya kali ini. Mizar semakin hati-hati sambil terus membaca gerakan Sagara dan fokus ke area lintasan. Ia tak boleh mati konyol malam ini.


Sungguh, kejadian itu bukan tak mungkin bisa terjadi. Selama berurusan dengan Sagara, kemungkinan sebesar itu pasti bisa saja terjadi.

__ADS_1


'Fokus, Zar! Fokus!' Mizar berbisik berulang-ulang dalam benaknya.


Ini putaran terakhir yang akan menjadi babak penentu kemenangan mereka. Ia tak boleh terpengaruh dan harus tetap stabil mengendarai motornya.


Sekalipun tetap tak ada tanda-tanda Sagara bakal bertindak dan melampaui kecepatan laju motor yang dikemudikan Mizar. Padahal akan lebih mudah bagi cowok itu mencari alibi untuk menghajar Mizar apabila dirinya yang menang.


Kenyataannya Sagara tetap dengan gaya permainan masih mengikuti Mizar dari belakang.


Sementara itu, di belakang Mizar, Sagara terus menatap punggung lawan balapannya dengan sorot mematikan.


Bukan Sagara jika dia tak memiliki cara licik untuk mengalahkan Mizar. Tanpa diketahui banyak orang, anak buah ketua Black Mamba itu telah menyebarkan paku payung di sepanjang lintasan. Tepat ketika mereka telah menyelesaikan putaran kedua.


Tujuannya memang memperlambat gerak Mizar di putaran terakhir dan akan semakin membuat kekalahannya terasa dramatis. Apalagi saat garis finish sudah terlihat di depan mata.


Kekalahan seperti itu pasti akan terasa menyakitkan. Itulah salah satu alasan mengapa Sagara masih bertahan di belakang.


"Mampus lo!" gumam Sagara dengan seringai dingin membingkai wajahnya.


Cowok itu benar-benar yakin dan begitu percaya diri bakal menghantui Mizar malam ini. Kalaupun Mizar bisa lolos dari jebakan, ia masih bisa membalik fakta dengan menjadikan lelaki itu sebagai tersangka.


Ya, benar. Begitulah rencana yang sudah disusun oleh Sagara. Tanpa pernah memperhitungkan jika rencana tersebut bisa saja gagal.


"Berengsek!" Pemuda itu berteriak kesal.


Disusul decitan ban yang bergesekan dengan badan jalan serta teriakan euforia para penonton di sepanjang lintasan.


"Berengsek! Setan! Bangsat lo, Zar!"


Segala macam umpatan terucap dari mulut Sagara. Tatapan mata cowok itu lurus ke depan. Menjadikan Mizar sebagai pusat atas fokusnya.


Sedangkan orang yang dia teriaki sama sekali tak peduli. Justru apa yang dilakukan Mizar membuat Sagara semakin geram.


Mizar baru saja mencapai garis finish sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Sagara. Tawa lega membingkai wajahnya. Untuk pertama kali, ia merasa puas telah mengalahkan Sagara.


Sekalipun tak pernah tahu, apa yang bakal ia hadapi setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2