My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Makasih, Ara


__ADS_3

Hal yang sudah lama tak pernah berani Mizar bayangkan kembali terjadi malam ini. Maura berada dalam boncengannya meski perempuan itu lebih memilih diam tanpa kata.


Setidaknya, bagi Mizar itu lebih menyenangkan. Ketimbang mimpi yang sudah lama tak pernah ia bayangkan tak menjadi kenyataan.


Mizar melirik sekali lagi ke arah perempuan yang berada di belakangnya itu. Netranya terpejam. Sementara kepala si perempuan menempel di punggungnya.


Di antara deru motor dan desau angin, Mizar bisa mendengar dengkur pelan yang berasal dari perempuan di belakangnya.


Senyum membingkai wajah Mizar. Mungkin Maura terlalu lelah setelah melewati kejadian menegangkan malam ini. Perempuan itu bahkan tak protes ketika Mizar memintanya untuk berpegangan pinggang agar tetap menjaga keseimbangan.


Tak lama, ia memejamkan mata dan jatuh tertidur sambil memeluk pinggang Mizar. Sementara Mizar dengan lembut memegang tangan Maura agar si perempuan tetap merasa nyaman. Meski tak mudah membawa motor sport hanya dengan satu tangan.


Senyum kembali membingkai wajah Mizar. Pemuda itu tak bisa memungkiri bahwa dirinya tengah berbahagia. Haruskah ia bersyukur dan berterima kasih pada Sagara? Sebab, akibat ulah cowok itu semakin mendekatkan hubungannya dengan Maura.


Pemuda itu bahkan baru pertama kalinya melihat, betapa raut muka Maura begitu panik saat melihat wajahnya penuh luka. Ia bahkan tak bisa mencegah Maura yang tetap nekat pergi ke apotek hanya demi membelikan obat dan membersihkan lukanya.


Mizar tersenyum kian lebar ketika mengingat adegan di depan mini market yang kembali terulang dalam benaknya.


"Ck, kalian baku hantam pake tangan apa batu sih? Lihat nih, wajah lo parah banget lukanya," omel Maura sambil membersihkan luka di wajah Mizar.


"Aww ... perih, Ra. Pelan-pelan." Pemuda itu mengaduh kesakitan. Tangannya refleks menahan gerakan Maura yang tengah membersihkan luka di pipinya.


"Makanya, kalau nggak mau perih nggak usah berantem."


"Kenapa? Kamu khawatir ya?" pancing Mizar sengaja mengedipkan sebelah mata dengan genit.


Bukannya mendapat simpati, pemuda itu justru mendapatkan lirikan tajam.


"Mimpi!" ujar Maura sambil melemparkan kapas bekas membersihkan luka ke arah muka Mizar.


"Aduh, Ra. Sakit beneran nih." Pemuda itu kembali mengeluh. Namun, Maura sama sekali tak peduli.


"Bodo!"


Meski begitu, bukannya kapok, Mizar justru menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Maura.


Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke depan demi melihat wajah Maura yang memberengut sebal. Lantas senyumnya mengembang. Tapi wajah itu masih saja datar.


"Ra, harusnya kan aku yang sebel. Kan kamu udah lempar kapasnya ke bekas luka aku," ucap Mizar masih berusaha bertingkah konyol di hadapan Maura.


"Bodo amat!" tukas Maura dengan bibir masih memberengut.


Mizar menahan tawa. Dalam kondisi normal, siapa yang tak ingin mencubit pipi perempuan itu? Tentu saja Mizar juga ingin melakukan hal yang sama.


Wajah Maura terlihat begitu menggemaskan dan membuat Mizar ingin sekali mencubitnya. Namun, ia segera sadar posisi dan mengurungkan niatnya dalam hati itu.


'Kenapa ada makhluk ciptaan-Mu yang sebegini menggemaskan, Tuhan. Mana bisa tahan gue kalau dia imut banget gini,' ratap Mizar dalam benaknya. Namun, ia segera mengalihkan perhatian.


Tak ingin membuat perempuan di depannya curiga. Sebagai gantinya pemuda itu berdehem dan kembali menyodorkan wajahnya kepada Maura.


"Terus ini gimana lukanya?"


"Nggak peduli gue. Urus aja sendiri."


Di depannya, Mizar memasang raut muka jenaka yang sama sekali tak mendapat perhatian dari Maura.

__ADS_1


"Ih, kok gitu sih. Gimana obatinnya, Ra. Kan aku nggak bisa liat lukanya."


"Bodo amat, kan gue udah bilang nggak peduli." Maura tetap bersikukuh tak mau menanggapi permintaan Mizar.


"Huft!" Si pemuda menghela napas panjang.


Maura hanya meliriknya sedikit saja. Selebihnya perempuan itu masih duduk tenang di depan Mizar tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Jangankan peduli, Maura benar-benar memasang ekspresi datar di wajahnya.


"Gini amat nasib jomlo ya, Tuhan," imbuh Mizar.


"Berisik banget sih lo jadi orang! Kelebihan tenaga apa gimana sih?"


"Ya, usaha, Ra. Siapa tahu kamu berubah pikiran terus mau ngobatin aku. Berubah pikiran buat jadian sama aku juga boleh kok," ujar Mizar terang-terangan.


Senyum jenaka membingkai wajahnya. Berusaha menarik perhatian perempuan di hadapannya.


Jika pemuda itu berharap Maura bakal salah tingkah, tentu ia pasti salah sangka. Jelas, perbuatan Mizar semakin membuat Maura memasang mimik sebal di wajahnya.


Meski begitu, si perempuan pada akhirnya tergerak untuk mengobati luka Mizar, ketika pemuda itu tak lagi banyak bicara.


"Sini deketan. Gue obatin luka lo."


"Obatin luka aku aja nih? Nggak sekalian mau pacaran?"


Sungguh, butuh keberanian ekstra untuk melontarkan candaan tersebut kepada sang perempuan. Mizar was-was, jika perempuan itu akan bereaksi keras begitu mendengar ucapannya. Namun, Maura sama sekali terlihat tak peduli.


Meski mengetahui fakta itu lebih menyakitkan ketimbang melihat reaksi kesal Maura yang seringkali ia tunjukkan.


Senyum membingkai wajah Mizar. Lelaki itu menggeser kursinya agar semakin dekat dengan Maura. Membiarkan si perempuan menyentuh luka di wajahnya tanpa banyak komentar.


Tak apa menahan sedikit perih. Yang penting ia bisa berada dalam jarak sedekat embusan napas dengan Maura.


Mengingat hal itu, membuat Mizar kembali menahan senyum di ujung bibirnya. Sungguh, pemuda itu sedang dimabuk kepayang. Ia bahkan tak menyadari jika motor yang dikemudikan sudah mendekati kawasan tempat Maura tinggal.


Kalau saja tak ada seorang lelaki muda yang hampir memasuki seperempat abad usianya, mungkin Mizar bakal tersasar.


"Zar, mau ke mana lo?" tegur Abigail ketika Mizar lewat begitu saja di depan rumahnya.


Pemuda itu baru saja datang dari kantor dan hendak menutup pintu gerbang yang sebelumnya masih terbuka.


Hari ini, Pak Sofyan - petugas keamanan di kediaman Bumantara - sedang cuti sakit. Jadilah Abigail membuka dan menutup pintu gerbang dengan tangannya sendiri.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat sang adik bungsunya berboncengan dengan Mizar. Bukannya berhenti, cowok itu justru terus melajukan motornya.


"Eh?"


Mizar yang terkejut dengan teguran Abigail, menarik tuas rem secara mendadak. Berakan tersebut membuat si perempuan dalam boncengannya tersadar seketika. Kalau saja Mizar tak menahan tangan perempuan itu, mungkin Maura bakal terjatuh dari boncengan.


"Kalian dari mana?" imbuh Abigail sebelum Mizar memberikan tanggapan atas pertanyaan lelaki itu sebelumnya.


Di belakang Mizar, Maura sudah kembali menemukan kesadarannya. Dengan cepat perempuan itu menjawab pertanyaan si sulung dalam keluarga Bumantara.


"Jalan." Maura menjawab singkat sambil turun dari boncengan.

__ADS_1


Jelas, Abigail tak percaya. Apalagi melihat wajah Mizar penuh luka. Lelaki itu menatap sang adik dengan sorot curiga.


Lagipula, apa hubungan kedua anak muda itu sudah benar-benar membaik sebelumnya, sehingga membuat level pertemanan mereka naik ke taraf hangout bareng?


Tak mungkin. Abigail menyangkal dengan sendirinya. Untuk urusan satu itu, Abigail sepenuhnya percaya dengan asumsi yang baru saja terlintas dalam benaknya.


"Udah, Kak Agil masuk aja dulu. Ara nyusul bentar lagi," sambung Maura sambil mendorong tubuh sang kakak agar masuk ke dalam rumah.


"Zar ...."


"Udah ih, buruan masuk," pungkas Maura sebelum sang kakak menyelesaikan kalimatnya.


Abigail semakin curiga. Namun, Maura tak memberikan kesempatan untuk bertanya.


"Bang Agil, buruan masuk."


Terpaksa Abigail menuruti ucapan si bungsu. Lelaki itu masuk ke dalam rumah dengan kening berkerut akibat heran sekaligus curiga.


Ia masih sempat bertukar tatap dengan Mizar yang mengangguk ke arahnya. Terlihat malu sekaligus sungkan.


"Mereka beneran udah baikan?" gumam Abigail. Bimbang dengan pikirannya sendiri.


Sementara di depan gerbang, kedua anak muda itu masih saling bertatapan. Tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulut keduanya.


"Ehm, kalau gitu, gue masuk dulu. Thanks udah anterin gue pulang."


Senyum Mizar mengembang. Sengaja tak langsung memberikan tanggapan.


Maura terlihat gugup di tempatnya. Lantas berbalik untuk memutuskan tatapan di antara mereka.


"Ra," panggil pemuda itu ketika Maura hendak melangkah masuk ke dalam rumah.


Ia menoleh. Dengan sorot mata serta gestur yang tak bisa dipahami oleh Mizar.


"Ya?"


"Ada yang lupa," ucap Mizar membuat kening perempuan itu berkerut.


"Apa?" tanya Maura dengan raut bingung tercetak di wajahnya. Seingat perempuan itu, tak menitipkan apa pun pada Mizar.


Bukannya segera menjawab, Mizar justru menahan tawa.


"Apa sih? Gue bukannya nggak ada titip apa pun sama lo?" Nada bicara Maura mulai ketus. Menjadikan tawa Mizar kian rekah.


Memang bukan Maura jika tak bersikap jutek pada si pemuda.


"Nggak papa. Aku cuma mau bilang makasih."


"Buat?"


"Karena udah obatin aku. Makasih ya, Ra."


Senyum membingkai wajah Maura. Meski masih terlihat dingin seperti biasa, entah mengapa membuat Mizar semakin suka.


Pemuda itu balas tersenyum. Sampai Maura benar-benar masuk ke dalam rumah dan meninggalkan dirinya yang masih setia menahan senyum rekah membingkai wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2