My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Thank's, Zar!


__ADS_3

Mizar sengaja tak banyak bicara begitu Maura mengajaknya berbagi airbuds untuk mendengarkan lagu favoritnya bersama. Perasaan pemuda itu bergejolak. Kalau saja Mizar menuruti perasaannya, ia pasti sudah memeluk erat tubuh perempuan itu.


Meski begitu, Mizar menahan diri. Tak ingin membuat dirinya ataupun Maura berada dalam situasi yang semakin rumit. Pemuda itu hanya meredam amarahnya saja dan tetap berusaha menjaga jarak dengan Maura.


Dengan tujuan, Mizar memberikan ruang kepada Maura agar perempuan itu memikirkan apa yang sebenarnya ia rasakan.


Sejujurnya Mizar tak bisa memungkiri bahwa dirinya senang luar biasa ketika Maura mengingat lagu favoritnya. Namun, ia tak akan menunjukkannya di depan Maura begitu saja.


Mizar hanya ingin melihat, sebenarnya bagaimana keberadaan dirinya di mata perempuan itu. Apakah benar-benar tak ada harapan bagi cowok itu untuk meminta maaf dan mengulang masa yang pernah terlewati bersama?


Mengingat Maura masih mengingat lagu favoritnya, menjadikan pemuda itu sedikit berharap pada keajaiban di antara mereka.


Jadilah, Mizar berniat menjaga jarak untuk mengetahui reaksi Maura. Meski pada akhirnya tak pernah benar-benar bisa menghindar.


Faktanya, pemuda itu masih siaga menjaga Maura agar tak dekat-dekat Arlan ketika berada di ruangan Mama Andara. Mizar sengaja pasang badan saat Arlan mendekati perempuan itu untuk berkenalan dengan Tante Vella.


Pemuda itu semakin tak bisa mengendalikan degup jantungnya yang makin tak berirama ketika Maura menyebutkan batagor kering sebagai menu makan malam mereka. Sungguh, Mizar merasakan wajahnya semakin panas dan tak sanggup menatap si gadis yang duduk di sampingnya.


Ia bahkan tak lagi berniat menjawab pertanyaan Arlan yang jelas-jelas mengejeknya.


"Jadinya gimana, batagor kuah apa kering nih?" ulang Arlan ketika tak mendapatkan jawaban.


"Kuah!" kali ini Maura menjawab tegas. Tanpa menoleh ke arah kanan ataupun menatap ke depan.


Di bangku penumpang depan, Jerome menatap keduanya dengan kerutan heran.


"Oh, jadi Ara yang suka batagor kuah," ucap pemuda itu semakin membuat si perempuan salah tingkah.


Di belakang kemudi, Arlan tak bisa lagi menahan tawa yang sedari tadi ditahannya.


"Haha ... heran gue, bisa-bisanya lo masih inget makanan kesukaan Mizar, Ra. Gue pikir lo udah nggak peduli sama dia!"


"Ck, berisik! Sana nyetir yang bener nggak usah bercanda mulu lo. Lihat jalan!" ungkap Maura menahan sebal.


Bukannya menurut, Arlan justru semakin tertawa keras. Sementara Mizar sama sekali tak berkutik di tempatnya. Sumpah, ia ingin menjerit saat ini juga. Namun, pemuda itu berusaha menahan diri akibat terlalu gengsi.


"Haha ... santai aja, Ra. Gue bisa kok bantuin lo balik deket sama Mizar!" komentar Arlan masih seenak jidat tanpa melihat Maura yang sudah ingin menerkam orang.


Brak!


Sebuah botol air mineral mengenai kepala Arlan dan membuat cowok itu mengaduh kesakitan. Tapi lantas kembali tertawa sebelum akhirnya menemukan sebuah kedai yang menjual batagor.

__ADS_1


Untungnya ada dua menu yang ditawarkan. Kuah dan kering sesuai yang diharapkan Maura dengan Mizar.


Mereka segera mengambil tempat. Memilih meja yang paling nyaman. Sambil sesekali tak henti menggoda Mizar yang tak bisa menyembunyikan wajah merahnya.


"Kenapa lo, Zar? Muka lo merah banget asli," ucap Jerome ketika memperhatikan wajah temannya.


"Nggak usah diperjelas juga kali, Jer. Masa gitu aja lo nggak tahu." Arlan menambahkan dengan tawa tak bisa ditahan.


"Berisik lo pada. Diem nggak!"


"Haha ... ngamuk dia, Jer!"


"Parah sih, baru kali ini gue lihat seorang Mizar Sirius Rigel sampai merah gitu mukanya!"


Beruntung pesanan mereka segera datang tanpa membutuhkan waktu lama. Tiga batagor kering dan satu batagor kuah untuk Maura. Cukup membuat perhatian mereka teralihkan dan tak lagi menggoda Mizar.


Meski begitu ternyata tak bertahan lama. Begitu makanan tersaji di atas meja, Arlan kembali menggoda Mizar yang kini tak akan bisa menghindar.


"Cie, yang sejak tadi suka batagor kuah pesennya jadi batagor kering," goda Arlan benar-benar membuat Mizar sebal.


Pemuda itu melempar gumpalan tissu hingga masuk ke dalam piring Arlan.


"Eh si anying, ngajak ribut lo?!" teriak pemuda itu sambil mengambil gumpalan tissu dari piringnya dengan tatapan jijik.


Kalau saja Mizar nekat menjadikan tissu bekas lap sebagai senjata, Arlan pasti bakal menghajarnya habis-habisan. Tak peduli teman ataupun bukan.


"Mampus, makan tuh tissu!" Jerome tergelak akibat lemparan Mizar tepat sasaran.


Sedangkan Maura menjadi satu-satunya orang yang lebih banyak diam. Menikmati batagor kuah di depannya tanpa merasa terganggu dengan keributan ketiga pemuda di sekitarnya.


"Ck, Ra, lihat tuh ulah, Mizar! Percaya sama gue, lo nggak boleh jadian sama cowok kayak dia!" ucap Arlan semakin menjadikan Mizar geram.


Tak hanya tissu, kali ini Mizar meraih botol sambal dan menuangkannya ke piring Arlan. Pemuda itu tahu, Arlan paling tak bisa memakan makanan pedas. Dengan begitu ia pasti akan semakin kesal dan tak akan berani membalas perilaku Mizar.


"Zar, astaga! Bisa mampus gue kebanyakan makan sambal." Wajah Arlan terlihat murung seketika. Ia kehilangan selera makan dan menyodorkan piringnya ke depan begitu saja.


Di depannya, Jerome tak henti-hentinya tertawa hingga tubuh jangkung cowok itu melengkung.


"Seneng banget lo liat temen menderita!" keluh Arlan sambil melirik sebal ke arah Jerome. Pemuda itu tak lagi bersemangat ketika menatap batagor di depannya.


"Habiskan, nggak baik buang-buang makanan!" tegur Mizar sambil mengaduk makanannya sendiri lantas menyuapkan ke mulutnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Gila, sengaja mau bikin gue mampus lo?" Arlan berteriak tak terima.


"Yaudahlah, Lan. Makan aja. Paling juga masuk UGD doang." Maura yang semula diam, ikut berkomentar. Sepertinya gadis itu juga merasa sebal dengan ulah Arlan.


"Astaga! Kompak banget kalian kalau bikin gue susah?" keluh Arlan dengan wajah memelas. Namun, tak membuat yang lain mengalah.


"Tenang, gue bakal gantiin lo nyetir kalau perut lo bermasalah." Jerome menawarkan bantuan meski tak juga berhenti tertawa.


Mizar menahan senyum di ujung bibirnya.


Arlan memang pantas mendapatkan perlakuan kejam! Begitu pikir Mizar dan membiarkan sang teman tersiksa oleh keadaan.


***


Menjelang pukul sebelas, mereka baru tiba di Jakarta. Mizar terpaksa mengantarkan Arlan lebih dulu, sebab perut pemuda itu mules akibat saus batagor yang tercampur cukup banyak sambal.


Meski begitu, Mizar sama sekali tak menyesal. Sebab, esok pemuda itu pasti sudah baik-baik saja. Itulah mengapa ia tega menuangkan cukup banyak sambal ke piring batagor milik Arlan.


Sekalipun tak kuat memakan makanan pedas, faktanya tak akan benar-benar berakibat fatal pada sang teman.


"Anterin gue sekalian kali, Zar. Bakal bolak-balik nggak sih lo kalau mesti anter Maura dulu baru nganterin gue?" Jerome yang merasa menjadi pengganggu di antara kedua anak muda itu cukup tahu diri.


Mizar yang sudah mengambil alih kemudi menoleh ke arah Maura yang masih duduk di bangku belakang.


"Gimana, Ra? Nggak papa?"


"Nggak masalah. Lebih efesien apa yang dikata Jerome."


"Oke deh kalau gitu." Mizar menjawab singkat sambil menjalankan mobil meninggalkan kawasan rumah Arlan.


Perjalanan dari rumah Arlan ke apartemen Jerome tak membutuhkan waktu lama. Sebentar saja, mereka sudah memasuki kawasan apartemen Jerome.


Tanpa banyak bicara, Jerome langsung turun dari mobil dan meminta Maura untuk duduk di depan.


Setelah berpamitan, Mizar segera meninggalkan kawasan tersebut dan menuju rumah Maura.


Kini, hanya menyisakan Maura dan Mizar yang tertinggal di dalam mobil. Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah Maura, tak cukup banyak percakapan di antara mereka. Bahkan hampir tak ada percakapan sama sekali.


Adegan batagor kuah dan kering tadi, masih cukup membuat keduanya merasa canggung. Tanpa batagor kuah dan kering saja, sudah membuat mereka tak saling bicara. Apalagi setelah insiden tersebut. Tentu saja, Maura memilih bungkam seribu bahasa.


Hingga mobil yang dikemudikan Mizar berhenti di sebuah rumah milik keluarga Dewa Bumantara.

__ADS_1


Sampai akhir pun, tak ada kata yang terucap dari mulut Maura. Kecuali,"Thank's, Zar." yang cukup membuat pemuda itu tak berdaya.


__ADS_2