My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Bentrokan


__ADS_3

Kedua anak muda beda jenis itu menyusuri jalanan malam ibukota dengan berboncengan motor.


Sesekali remaja lelaki yang berada di boncengan mencondongkan badan hanya demi bertanya,"Kak Ara nggak mau gantian aja? Biar aku yang nyetir."


Sebenarnya, si remaja lelaki dalam boncengan perempuan itu sedikit risih berada di belakang sang kakak sepupu. Apalagi ketika beberapa orang yang bersimpangan jalan, menoleh hanya demi melihat betapa konyolnya ia berada dalam boncengan Maura.


Secara, ia cowok dan tubuhnya lebih jangkung dibandingkan Maura. Jadi, kesan yang ditimbulkan terlihat sangat aneh bagi remaja lelaki itu.


Meski begitu si perempuan yang memilih untuk memegang kemudi tak membiarkan adik sepupunya itu mengambil kendali. Maura justru meminta Kenzo tetap tenang dan tak lagi banyak bicara.


Hingga keduanya sampai ke tempat yang sama sekali tak terduga oleh Kenzo. Bahkan oleh Maura sendiri. Tiba-tiba saja pikiran perempuan itu menuntunnya ke tempat ini.


Benar-benar tak bisa dipercaya. Maura bahkan sempat tergemap di tempat sebelum Kenzo membuyarkan lamunan perempuan itu.


"Kak, serius kita ke sini? Nggak bahaya nih?" tanya Kenzo ketika turun dari motor. Menyadarkan Maura akan keberadaan mereka saat ini.


Sedangkan bocah kelas dua SMA itu terlihat takjub dengan dunia malam yang baru saja ia ketahui untuk pertama kali. Biar bagaimanapun Kenzo tetaplah bocah penurut yang mengikuti semua jadwal dari sang ibu, meski membangkang dalam satu hal.


Ia tak pernah mau termakan oleh provokasi sang ibu yang memintanya harus menunjukkan diri sebagai Bumantara sejati atau apalah itu.


"Aku bakal turuti semua ucapan, Mama. Tapi aku nggak akan mau nurut buat bersaing sama Abang ataupun Kak Ara. Mereka saudaraku. Itu yang selalu diajarkan Kakek sama aku," bantah Kenzo setiap kali sang ibu mencekokinya dengan berbagai macam kalimat hasutan pada anak sulungnya.


Jadi, wajar saja apabila Kenzo tampak takjub ketika melihat meriahnya dunia malam yang selama ini hanya pernah ia dengar dari teman-teman sekolahnya. Juga cerita Maura beberapa tahun lalu sebelum si kakak sepupunya itu, benar-benar berhenti dari dunia malam ini.


Sementara, raut muka Maura tampak syok sekaligus heran. Apa yang ia pikirkan hingga bisa sampai ke tempat ini?


"Goblok!" umpat si perempuan dengan suara pelan.


Perempuan itu menepuk kening dengan kesal. Ia tak berniat menjawab pertanyaan sang adik sepupu yang kini sudah tak ada lagi di sampingnya. Bocah itu sudah menyusup di antara para pemuda lainnya yang bergerombol di tepi jalan hanya untuk menyaksikan balapan.


Hingga netra Maura menangkap dua sosok yang ia kenal sedang beradu kecepatan. Sedang sosok-sosok lain yang tak lagi asing bergerombol dengan kelompok masing-masing.


"Kak, bukannya itu Kak Mizar sama Kak Sagara?" Maura yang kini berdiri di samping Kenzo mendapat pertanyaan dari adik sepupunya itu.


"Iya," jawab Maura singkat.


Ketimbang menjawab pertanyaan Kenzo, benak Maura dipenuhi asumsi, apa yang menjadikan kedua pemuda itu beradu ketangkasan? Apa ini hasil yang dibicarakan anak-anak Andromeda ketika mereka berkumpul di basecamp tadi?


Sejujurnya, Maura sama sekali tak ikut campur dalam pembahasan para anggota inti Andromeda. Ia bahkan sengaja menutup telinga dan memilih menghindar. Selain sebagai orang luar, ia juga sudah berjanji untuk tak terlibat dalam dunia malam yang sangat keras ini.


Hanya saja, melihat kedua cowok itu sedang beradu kecepatan, sepertinya ia tak salah menebak bahwa memang inilah yang para cowok itu bicarakan sore tadi.


"Kak, lihat! Ada yang ...."

__ADS_1


Maura membungkam mulut Kenzo sebelum remaja lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. Sang adek sepupu memberontak dan berusaha melepaskan bungkaman tangan Maura si mulutnya. Sepasang netranya melotot tajam pada sang kakak.


"Apa sih, Kak?" Kenzo bertanya dengan nada tinggi hendak marah. Namun, Maura buru-buru memintanya supaya diam.


"Lo tunggu sini. Jangan ke mana-mana. Gue yang bakal urus."


"Lo mau ke mana, Kak? Gue ikut!"


Maura memberikan tanda agar Kenzo tetap di tempat dan dilarang keras mengikutinya. Sedangkan Maura dengan cepat menyelinap. Menemui siapa pun yang bisa dimintai pertolongan saat ini juga.


***


"Anjing!" maki Sagara sambil melayangkan pukulan kepada anak buahnya.


Ia baru saja mendapat laporan jika anak buahnya gagal menjalankan rencana karena ada anggota Venus yang berhasil menghentikan ulah mereka.


Mereka tengah menghadapi orang-orang yang menuntut Sagara bahwa ia harus mendapatkan hukuman sesuai kesepakatan di awal. Namun, pemuda itu berkelit dan berusaha memutar fakta untuk lepas dari hukuman yang sudah disepakati.


Dia baru saja mengatakan pada semua orang bahwa Andromeda menyebarkan paku payung di jalanan hingga membuat ban motornya bocor dan membuatnya kalah bersaing. Pada saat itulah seorang anak buahnya berbisik dan mengatakan bahwa rencana mereka telah gagal.


Tanpa ampun, Sagara menghajar anak buahnya. Beruntung kejadian itu bisa cepat dihentikan oleh yang lain. Lantas pengadilan terhadap Sagara kembali dilakukan.


"Mereka yang lo maksud sebagai anggota Andromeda?" Rendra kembali bertanya sambil mendorong tiga orang anak muda ke hadapan Sagara.


"Goblok!" desis Sagara penuh dendam.


Pemuda itu baru menyadari betapa bodohnya para anak buah yang mendapatkan tugas malam ini.


"Heh, dia bukan orang gue!" ucap Sagara masih berusaha berdalih.


"Oh ya, lo masih mau sangkal fakta yang ada di depan mata?"


"Siapa yang tahu kalau mereka justru orang suruhan lo yang pura-pura jadi anggota Black Mamba."


Semua mata tertuju pada Sagara. Selain Venus sebagai penyelenggara, di sana juga ada para anggota Andromeda, Black Mamba - yang sebagian sudah kehilangan muka - juga para anggota geng motor lainnya.


Bahkan ada lebih dari lima geng motor yang berkumpul malam ini. Namun, Sagara masih saja menunjukkan kebodohannya dengan membual di hadapan semua orang. Yang tentu saja, tak ada lagi yang respek pada pemuda itu.


"Halah bacot! Udahlah hajar aja. Kebanyakan omong kosong tuh cowok!" Seseorang berseru dari arah gerombolan para anggota geng motor yang lain.


"Bantai aja, Zar. Bukannya sesuai kesepakatan tadi, yang menang boleh lakuin tradisi lama?!" Seruan lain dari gerombolan para penonton kembali terdengar.


"Dahlah kelamaan. Hajar aja sampai mampus. Biar dia nggak bisa lagi berulah!"

__ADS_1


"Tu-tunggu! Ini nggak bener. Gue beneran nggak ngerencanain perbuatan curang itu. Justru motor gue yang jadi korban dan bikin gue kalah!"


"Halah, bacot doang lo!"


"Ada yang bilang lihat lo kasih tanda ke arah penonton di putaran terakhir. Lo nggak bisa ngelak lagi!"


Wajah Sagara tampak terkejut. Tak percaya bahwa ada yang membaca gerakannya meski sudah ia lakukan sesamar mungkin agar tak terlihat orang lain.


"Nggak mungkin. Ini pasti jebakan buat bikin gue kalah!" Sagara masih saja berteriak hingga membuatnya kian terlihat seperti orang tolol.


"Nih orang, makin nggak beres aja otaknya!" Jerome mulai geram. Kalau saja Sky tak menahannya, pemuda itu pasti bakal menghajar Sagara saat ini juga.


"Tahan. Makin runyam kalau kita gerak sekarang," larang Sky sambil menahan dada Jerome.


Meski begitu, suasana panas yang bisa terhindarkan. Para pemuda yang memang memiliki dendam pada Sagara sejak awal, mendesak agar hukuman segera diberikan.


Bahkan beberapa mulai tak bisa dikondisikan dan berusaha merangsek ke depan. Beruntung para anggota geng Venus (yang memang lebih menguasai sebagian besar kelompok) dengan cekatan membuat brigade hingga bisa menghalangi orang-orang yang berusaha menghajar Sagara.


"Santai, Bro. Ini pertarungan antara Mizar sama Sagara. Biar mereka yang tuntaskan persoalan ini. Kalian tenang dulu!" Rendra yang memang dikenal sebagai rajanya para raja berusaha meredam emosi massa. Namun, sepertinya gemuruh amarah tak bisa lagi terbendung.


Cowok itu kecolongan saat seseorang memprovokasi dan berhasil menggerakkan massa supaya maju ke depan.


"Dahlah, hajar aja udah. Kelamaan!"


Di saat yang bersamaan, seseorang di antara para gerombolan maju ke depan dan menghampiri Sagara yang berada di tengah kerumunan.


Tanpa basa-basi, lelaki itu melayangkan pukulan hingga membuat Sagara jatuh tersungkur.


"Mampus!"


"Woi, mundur bangsat! Siapa suruh lo hajar dia?!" Rendra memberikan peringatan, tapi tampaknya hal itu sudah tak bisa lagi dipahami.


Suara-suara tak bisa lagi dikendalikan. Aksi saling dorong menjadikan suasana kian memanas.


Black Mamba menjadi satu-satunya kelompok yang mendapatkan serangan.


Mereka tak bisa tinggal diam. Sebisa mungkin membalas dan membuat suasana semakin liar. Baku hantam tak bisa lagi dikendalikan.


Bugh!


Bugh!!


Bugh!!!

__ADS_1


Pukulan yang dilayangkan oleh seseorang, disambut dengan pukulan yang lain. Tak jelas siapa yang memulai. Faktanya aksi saling serang tak bisa dihindari.


__ADS_2