My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Ada Apa dengan Bumantara?


__ADS_3

"Dek, nggak mungkin kan kamu abis 'jalan' sama Mizar?"


Tanpa basa-basi Abigail - yang menunggu di ruang tengah lengkap dengan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya - bertanya pada Maura yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Astaga!" seru si perempuan akibat kaget karena ulah kakak sulungnya.


"Abang bikin kaget aja sih," sambung Maura sambil mengelus dada.


Kalau saja kondisi ruang keluarga tak redup, mungkin ia tak akan sekaget itu. Akibat lampu temaram ruangan itulah yang membuat Maura terkejut dengan sapaan Abigail.


Apalagi, Abigail sengaja duduk di tempat yang paling minim pencahayaan. Siapa yang tak kaget jika disapa seperti itu?


"Kamu kaget bukan karena sembunyiin sesuatu kan?" tanya Abigail tanpa merasa bersalah.


"Hah? Nggak ada kok. Emang Ara, sembunyiin apaan? Abang tuh, yang sembunyi di tempat gelap gitu sampai bikin Ara, kaget."


Perempuan itu mencebikkan bibirnya dengan sebal sambil menekan saklar hingga membuat ruangan menjadi lebih terang. Dengan begitu Maura bisa melihat wajah sang kakak yang menatapnya dengan sorot curiga.


"Ck, iya, iya. Tadi Ara abis jalan sama Kenzo. Ke tempat anak-anak biasa balapan."


Sorot mata Abigail seketika melebar begitu mendengar pengakuan si bungsu. Punggung lelaki itu menegak dan menatap sang adik dengan tatapan serius.


"Jadi itu alasannya kenapa wajah Mizar luka-luka? Terus, bisanya kamu ajak Kenzo ke tempat seperti itu, Dek. Gimana kalau Papa sampai tahu?"


"Ck, kamu tuh. Belum lagi kalau sampai Tante Ambar, tahu. Nggak malah makin runyam urusannya?" sambung Abigail dengan raut muka cemas.


Sang adik memang kadang-kadang bandelnya tak ketulungan. Ada saja ulah yang membuat mereka cemas.


Lebih tepatnya, Abigail-lah yang sering kali dibuat cemas. Sebab lelaki itu yang akan mendapat pertanyaan dari sang Papa dan memiliki tanggung jawab besar atas adik-adiknya. Tak hanya Noah dan Maura, tapi juga Kenzo dan Keenan.


Apalagi mengingat sifat sang tante yang suka sekali menyebar provokasi di keluarga besar Bumantara. Dengan Maura mengajak Kenzo kabur ke tempat terlarang itu, tentu akan semakin memperburuk keadaan.


Terlebih sang tante paling sering menyudutkan Maura karena ia memilih jalur yang sama sekali dengan keluarga besar Bumantara yang namanya dibesarkan oleh sang kakek buyut. Bakal semakin menjadilah ulah si tante merundung Maura.


Sekalipun perempuan itu tegar-tegar saja dan bersikap masa bodoh, Abigail-lah yang tak bisa menerima. Tapi, justru sang adiknya-lah yang mencari ulah.


Raut muka Maura berubah sendu. Ia mendekati sang kakak dan memeluk lengannya yang kekar.


"Bang Agil jangan bilang-bilang Papa, ya? Ya, ya, ya?"

__ADS_1


Abigail menghela napas panjang. Mana tega ia marah jika melihat wajah sang adik yang bersikap begitu menggemaskan?


Yang ada tangan Abigail justru bergerak ke puncak kepala Maura dan mengacak-acak rambut pendek perempuan itu.


"Asal kamu nggak bikin ulah lagi. Tahu sendiri kan, gimana ulah Tante Ambar? Kamu mau dengerin omelannya mulu setiap kali ketemu?"


Huft!


Maura hanya sanggup menghela napas panjang. Tak bisa memungkiri ucapan sang kakak begitu saja.


Terkadang ucapan Tante Ambar memang ada benarnya. Tapi Maura tak mau diribetkan dengan urusan keluarga yang secara turun-menurun tak lepas dari profesi pengacara itu.


Keluarga Bumantara memang memiliki sejarah panjang dalam bidang hukum. Sanjaya Bumantara berjuang seorang diri membesarkan firma hukum yang kini menjadi milik keluarga mereka. Sebelum akhirnya dibantu oleh ketiga anaknya.


Si anak sulung, Brahmaputra Bumantara - kakek Maura - mendapatkan tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya. Membesarkan firma hukum milik sang ayah bersama kedua saudaranya yang lain.


Meski begitu, ikatan saudara tak selamanya rekat. Pasti ada sirik yang menggerogoti hati dan jiwa masing-masing. Begitu juga yang terjadi dalam keluarga Bumantara.


Persaingan yang ketat muncul pada generasi ketiga dan terus menerus terjadi hingga kepemimpinan berada di tangan Barata Dewa Bumantara. Beruntung ia memiliki hubungan yang erat dengan saudaranya. Wisnu Saloka Bumantara. Namun, hal itu tak menghentikan kemungkinan persaingan yang muncul dari sepupu dan para keponakan mereka.


Seharusnya semua masalah selesai sampai di sana. Faktanya justru persaingan itu diturunkan istri Wisnu - Ambar Pavarti - kepada anak-anak mereka. Lebih parahnya Ambar sering kali menjadikan Maura sosok yang tak boleh dijadikan contoh. Apalagi panutan.


Wanita itu berusaha menjadikan Maura itik buruk rupa di antara para angsa. Merusak hubungan baik antar sepupu yang sebenarnya baik-baik saja dan tak perlu dirusuhi dengan hal-hal kotor seperti itu.


Padahal sebenarnya, Maura hanya tak ingin menambah persaingan di dalam keluarga besar mereka. Dengan begitu, ia bisa mendorong Kenzo ataupun Keenan untuk menempati tempat mereka yang seharusnya.


Maura kembali menghela napas panjang. Lantas mengeratkan pelukannya pada lengan sang kakak.


"Emang Ara, seburuk itu ya, Bang?" tanya Maura tiba-tiba merasa tak percaya dengan dirinya sendiri.


"Hah?"


"Ya, sampai Bang Agil aja ingetin Ara, biar Tante Ambar nggak marah-marah setiap kali ketemu Ara."


Nada bicara perempuan itu merendah. Ia menautkan jari-jemarinya yang masih bergelayut di lengan sang kakak.


"Kamu terbebani ya sama nama besar keluarga kita?" tanya Abigail kepada sang adik.


Sudah sejak lama keduanya tak membicarakan persoalan keluarga besar mereka jika sedang bersama.

__ADS_1


"Ya, Ara jadi kepikiran begitu Bang Agil, ingetin Ara."


Abigail menepuk puncak kepala sang adik.


"Tahu kan kenapa Papa sengaja nggak kasih nama Bumantara di belakang nama kita?"


Abigail balik bertanya, kalau-kalau sang adik lupa apa alasan orang tua mereka. Alih-alih memberikan nama Bumantara, sang papa justru memilih Sirius untuk menandai bahwa mereka bersaudara.


"Biar masing-masing dari kita punya takdir yang berbeda. Nggak melulu terjebak dalam firma hukum yang udah kebanyakan orang."


Abigail tertawa. Jawaban Maura memang benar. Bahwa Barata berharap anak-anaknya memiliki takdir yang berbeda. Tak harus dengan menjadi pengacara hanya karena tuntunan nama besar ataupun paksaan orang tua.


Namun, fakta bahwa firma hukum mereka sudah kebanyakan orang, menampar si sulung atas kenyataan yang sama sekali berbeda. Itulah yang membuat Abigail tertawa.


Kalau saja ucapan Maura benar adanya, ia tak perlu pulang hampir tengah malam setiap hari. Barata tak perlu turun tangan mengurusi persidangan.


Meski begitu ia tak langsung memberitahukan pada Maura tentang kondisi yang sebenarnya.


"Kok Bang Agil, ketawa sih?" tanya Maura dengan kening berkerut heran.


"Ra, Ra. Ada benernya sih, Tante Ambar bilang gitu. Biar Kenzo sama Keenan mau nerusin Om Wisnu."


"Ya, walaupun nggak seharusnya dia jelek-jelekin kamu juga sih," sambung Abigail menegaskan kalimat terakhirnya.


Kening Maura makin berkerut. Tak memahami arah pembicaraan sang kakak.


"Gini deh, sesekali mainlah ke kantor. Biar kamu tahu gimana kondisi kita yang sebenarnya."


"Emang kenapa, Bang? Ada masalah di kantor?"


Abigail menepuk puncak kepala sang adik.


"Kamu bakal tahu kalau mau main ke kantor. Abang tunggu ya. Ajak Mizar sekalian."


"Hah? Kenapa jadi Mizar?"


"Dahlah, nggak usah protes. Ikutin aja kata Bang Agil."


"Tidur sana. Bang Agil juga mau tidur," imbuh Abigail sambil berdiri dari posisi duduknya.

__ADS_1


Diikuti Maura yang masih menatap sang kakak dengan raut muka penuh tanda tanya sampai mereka berpisah di kamar yang berbeda.


__ADS_2