
Mizar tak pernah menduga jika kesempatan itu tiba-tiba datang tanpa terencana. Awalnya ia berniat menemui salah satu temannya di luar circle Andromeda. Mereka terlibat dalam sebuah proyek bersama di mana Mizar dimintai tolong untuk menyiapkan rancang bangunnya.
Ya, Mizar memang berkuliah di teknik sipil dan beberapa kali menerima proyek yang sama sejak berada di semester awal ia berkuliah. Berawal dari seorang dosen yang mengajaknya bekerja sama hingga pemuda itu memiliki peminatnya sendiri untuk proyek skala kecil hingga menengah.
Ia sedang fokus membahas pekerjaan dengan teman satu timnya itu, ketika netranya menangkap dua orang yang sedang berseteru. Mizar sama sekali tak pernah menduga jika itu Maura.
"Lex, gue butuh bantuan lo," ucap Mizar pada Alex - sang teman - yang duduk di depannya.
"Apaan? Tiba-tiba banget?"
Mizar menunjuk ke arah lelaki dan perempuan yang tengah bersitegang dengan dagu. Alex mengikuti arah pandang cowok itu dan memahami maksud ucapan Mizar.
"Oke, gue mesti ngapain?"
"Seret dia keluar. Gue bakal kasih pelajaran cowok itu lebih dulu."
"Bukannya dia Sagara?" Alex balik bertanya ketika menyadari pemuda yang ditunjuk oleh sang teman.
"Iya."
Setelah menjawab singkat, Mizar bangkit dari kursi dan segera mendekati kedua manusia yang tengah bersitegang itu. Tanpa aba-aba, pemuda itu melayangkan pukulan hingga membuat Sagara jatuh terjengkang. Lantas bertanya pada Maura apakah ada bagian yang terluka dari perempuan itu. Namun, hal itu membuatnya lengah hingga membuat Sagara berhasil membalas pukulannya.
Mizar mengusap ujung bibirnya yang terasa perih. Ia sama sekali tak terkejut ketika punggung tangannya memerah darah. Baginya hal itu sudah biasa.
Hanya saja, ia tak terbiasa menjadi pusat perhatian di tempat ramai seperti saat ini. Apalagi akibat pertengkaran. Sungguh Mizar mending melakukannya di tempat sepi. Namun, ia tak bisa mundur begitu saja.
Pemuda itu meraih kemeja Sagara dan hendak membalas pukulan yang baru saja dilayangkan kepadanya. Tapi Alex lebih cepat membantu cowok itu dan menyeret Sagara keluar dari ruangan.
"Makasih," ucap perempuan itu ragu-ragu. Sorot mata gadis itu lekat menatap Mizar, tapi tak setajam biasanya.
"Ng- ...." Kalimat Mizar terpotong ketika seorang pria - mungkin akhir tiga puluh tahunan - menghampiri mereka dan bertanya. "Selamat malam, Kak. Saya manajer di sini. Apa ada yang perlu kami bantu?"
"Oh, maaf Pak. Kami sudah membuat kekacauan. Maaf atas kegaduhan yang kami perbuat. Kami paham maksud baik, Bapak, tapi tak ada yang kami perlukan.
Justru, kami minta maaf karena sudah membuat kerusuhan. Jika ada kerusakan akibat perbuatan kami, Bapak bisa menghubungi nomor ini." Dengan sigap Muara mengambil alih sambil menyerahkan kartu nama sang papa.
__ADS_1
Pria itu menerima kartu nama dari Maura. Raut wajahnya menahan geram ketika membaca benda kecil dan tipis pemberian perempuan itu.
"Oh."
Gadis itu dengan cepat menjelaskan ketika menangkap perubahan wajah tak senang dari sang manajer.
"Bapak jangan salah paham. Beliau memang wali saya dan Bapak bisa menghubungi beliau jika ada kerugian akibat ulah kami.
Sekali lagi, kami mohon maaf sudah membuat suasana menjadi tak nyaman."
Sang manajer mengangguk paham. Menerima maaf Maura sekaligus membawa kartu nama yang diserahkan perempuan itu. Lantas meninggalkan Maura dan Mizar yang masih berdiri di tempatnya.
Inilah yang Mizar maksud dengan kesempatan yang tak pernah diduga sebelumnya. Gadis itu kembali menatapnya dengan sorot penuh pengharapan. Padahal perempuan itu tak pernah menatap dengan penuh harap, kecuali penuh dendam.
"Gue sama sekali nggak ada maksud buat minta bantuan lo, tapi ... ini terpaksa gue lakuin."
"Ya?"
Sungguh, Mizar ingin berteriak kencang. Namun, sebisa mungkin ia menjaga wibawanya di depan Maura. Mana mungkin pemuda itu bakal berteriak kegirangan begitu saja? Tidak, Mizar tak akan melakukan hal itu jika tak ingin membuat Maura berubah pikiran ataupun salah sangka.
Senyum membingkai wajah Mizar. Sungguh, rasanya Mizar ingin berteriak sekencang yang ia bisa.
Bagaimana tidak, sore tadi Maura bahkan mati-matian menolak tawarannya ketika ia hendak mengantarnya pulang. Namun, sekarang justru perempuan itu sendirilah yang meminta bantuan Mizar.
Bagaimana mungkin hal itu tak membuat Mizar senang? Jelas saja, pemuda itu ingin berteriak kencang. Meski pada akhirnya Mizar tetap berusaha menahan diri.
"Oke. Gue bakal anter lo pulang."
Tanpa pikir panjang, Mizar langsung mengiyakan. Lagian mana mungkin pemuda itu bakal menyia-nyiakan kesempatan langka ini begitu saja?
Dan, di sinilah mereka sekarang. Keduanya duduk diam di teras depan rumah Maura.
Sebenarnya, Mizar bermaksud menolak ajakan Maura untuk mampir. Ini sudah terlalu malam dan Mizar tak ingin menganggu waktu istirahat Maura. Ia tahu betul betapa lelahnya perempuan itu hanya dari wajahnya saja. Namun, lagi-lagi Mizar tak kuasa menolak permintaan cewek itu.
Apalagi saat mendengar ucapannya yang terdengar khawatir.
__ADS_1
"Bibir lo berdarah. Seenggaknya bersihin dulu lukanya biar nggak infeksi." Ucapan Maura membuat Mizar berpikir dua kali sebelum akhirnya mengiyakan permintaan perempuan itu.
Kapan lagi melihat Maura cukup perhatian pada dirinya? Begitu pikir Mizar.
"Sorry, pada akhirnya aku justru ngerepotin kamu."
Maura sama sekali tak memberikan tanggapan. Perempuan itu justru masuk ke dalam rumah setelah meminta Mizar menunggu di kursi teras depan.
Pemuda itu sama sekali tak membantah. Ia duduk dengan tenang sampai Maura kembali dengan kotak P3K di tangannya.
Brak!
Suara yang ditimbulkan akibat kotak P3K yang dibanting oleh Maura, membuat pemuda itu terlonjak kaget.
Jujur saja, selama Maura berada di dalam rumah, pemuda itu duduk dengan gelisah meski berusaha tampak setenang mungkin. Pikirannya terlalu sesak dengan berbagai macam kemungkinan. Namun, dari semua kemungkinan yang ia pikirkan itu, tak ada satu pun yang membuatnya merasa tenang.
"Bersihin dulu luka lo." Ucapan Maura membuyarkan lamunan pemuda itu. Ia menoleh sesaat, tapi tak melakukan apa pun.
Lebih pada memikirkan bagaimana cara pemuda itu membersihkan luka di wajahnya. Sementara ia tak tahu betul di mana bagian bibirnya yang terluka.
Hingga Maura menawarkan bantuan untuk membersihkan luka Mizar dengan setengah terpaksa.
Sesungguhnya, Mizar menahan napas ketika jarak Maura begitu dekat dengannya. Ia bahkan menelan saliva dengan susah payah hanya dengan menatap wajah Maura yang semakin dekat. Hanya beberapa centimeter saja.
Mizar bahkan bisa merasakan embusan napas perempuan itu di kulitnya.
Ini benar-benar di luar dugaan. Tanpa sadar, Mizar merebut kasa dari tangan perempuan itu sebelum dirinya menjadi gila.
"Biar aku saja."
Sesaat mereka saling tatap. Hingga akhirnya Maura mengalah dan membiarkan pemuda itu membersihkan lukanya sendiri. Tentu dengan bantuan cermin yang kemudian diberikan oleh Maura.
'Ya Tuhan, bisa mampus gue kalau gini caranya!' keluh Mizar dalam hati.
Separuh tubuh pemuda itu terasa lemas sekarang. Ia tak sanggup menekan degup jantung yang semakin tak beraturan.
__ADS_1