
Maura tergemap di tempatnya ketika Mizar tiba-tiba memintanya masuk ke bangku penumpang. Sementara ia sendiri, berjalan ke bangku kemudi setelah memastikan Maura masuk ke dalam mobil.
Perempuan itu menatap dengan raut muka bingung. Tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut.
Sementara ia tak bisa berbuat apa-apa sebab Mizar-lah yang membawa kunci mobilnya. Dan, jelas tidak mungkin perempuan itu memaksa turun dari mobil dan mengejar si pemuda yang masih berdiri di samping pintu kemudi.
Hujan di luar masih cukup deras. Bisa saja ia langsung basah kuyup begitu nekat keluar dari mobil. Dibanding hal itu terjadi padanya, Maura lebih memilih tetap berada di dalam. Menunggu Mizar dengan sabar hanya untuk menghujani pemuda itu dengan makian.
"Ini gimana maksudnya sih?" tanya Maura begitu Mizar sudah berada di sampingnya.
"Apanya yang gimana, Ra? Ya aku mau nganterin kamu pulang."
"Hah, biar apa? Gue nggak minta."
Mizar tak memberikan tanggapan. Pemuda itu justru memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil Maura. Lantas membawanya pergi dari kawasan parkir fakultas ilmu budaya.
"Bisa lo turun dari mobil gue sekarang?" desak Maura cukup tak berperasaan. Sengaja membuat pemuda itu kesal.
Faktanya Mizar sama sekali tak peduli. Ia terus mengemudi hingga melewati gerbang kampus. Membelah jalanan sewaktu hujan.
Maura mendengus sebal. Percuma perempuan itu mendebat. Mizar memilih bungkam dan tak banyak memberikan tanggapan.
Di sampingnya Maura memilih untuk tak banyak protes. Ia duduk dalam diam dan sama sekali tak ingin menatap Mizar yang berusaha curi-curi pandang.
Sungguh, Maura tak memahami apa yang ada dalam pikiran cowok itu. Apa yang membuatnya tiba-tiba begitu tebal muka hingga mengabaikan segala bentuk penolakan Maura?
Perempuan itu bahkan tak tahu lagi cara menghindari si pemuda. Ia sudah kehabisan akal.
"Nggak perlu bete gitu, Ra. Seterusnya aku bakal terus anterin kamu pulang." Mizar berkomentar sambil melirik muka Maura yang masih terlihat sebal.
"Ck, gue nggak minta. Nggak usah sok peduli lo sama gue."
"Loh, emang aku peduli kok sama kamu."
Di sampingnya Maura hanya memutar bola mata sebagai tanggapan. Sama sekali tak berminat menanggapi ucapan Mizar yang membuatnya merasa tak nyaman.
Diam-diam, Mizar menahan senyuman. Sama sekali tak mengambil pusing sikap Maura yang kelewat cuek kepadanya.
Pemuda itu justru menyalakan pemutar musik di depannya dan membiarkan suara Chris Martin mengalun pelan.
"Jadi emang kamu masih sering dengerin Coldplay?" tanya Mizar begitu pemutar musik menyuguhkan lagu band asal Inggris itu. Kali ini berjudul Universe yang berkolaborasi dengan idol grup asal Korea, BTS.
Maura tak langsung memberikan jawaban. Perempuan itu menoleh ke arah luar dan bergumam pelan.
"Nggak. Kebetulan aja kali," jawab Maura cukup singkat.
__ADS_1
Ia tak ingin lebih peduli. Meski dalam hati kian merasa tak nyaman akibat pertanyaan dari Mizar.
Maura tak bisa memungkiri. Dalam beberapa hari terakhir, perempuan itu mulai tertarik kembali mendengarkan lagu-lagu Coldplay yang sebelumnya ia hindari.
Setiap kali mendengarkan suara Chris Martin - yang sebenarnya cukup berhasil membuat dirinya merasa nyaman - bayangan yang muncul pertama kali dalam benaknya justru Mizar.
Demi membuatnya tetap waras, Maura mulai menghindari semua jenis lagu yang berhubungan dengan Coldplay. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Maura mulai kembali mendengarkannya setiap kali ada kesempatan.
Bahkan playlist lagunya dipenuhi dengan lagu-lagu milik Coldplay. Itu pula yang membuatnya langsung memberikan airbuds kepada Mizar ketika lagu favorit cowok itu masuk ke dalam playlist-nya.
"Ra, serius ini kebetulan doang? Dari tadi lagu-lagunya Coldplay semua loh yang keputar."
Mizar kembali berkomentar ketika satu lagu berakhir dan menyambung dengan lagu yang lain. Masih menghadirkan suara Chris Martin dari pelantang suara dalam mobil.
"Mungkin, Bang Noah. Kemarin sempat bawa mobil gue," bohong Maura membuat Mizar menahan senyuman.
"Kalaupun kamu memang kenapa sih, Ra? Kan nggak ada yang larang juga."
Maura kembali memutar bola matanya dengan jengah. Lantas memilih untuk benar-benar tak peduli lagi pada Mizar.
Meski begitu, pemuda itu tak kehabisan akal. Ia terus saja mendesak Maura agar mengakui bahwa ialah yang memutar playlist di mobilnya.
"Iya, itu gue. Puas lo sekarang?"
"Nah gitu dong. Kan lebih lega jadinya. Iya kan?"
"Bodo!"
Pemuda itu tak henti tertawa. Membuat Maura mengakui bahwa memang ialah yang memutar playlist di mobilnya, menjadikan Mizar bersorak senang.
"Makan dulu yuk. Aku bakal traktir kamu Winger Bucket, Colonel Burger atau apa pun yang mau kamu makan."
"Ice cream."
Jawaban Maura di luar dugaan. Pemuda yang berada di belakang kemudi itu tampak terkejut. Ia menoleh dengan wajah tak percaya menatap Maura.
"Serius kamu mau makan ice cream? Hujan-hujan gini?" tanya Mizar seolah tak memercayai indra pendengarannya.
"Ck, bawel. Pulang aja kalau nggak mau traktir. Lagian apa hubungannya hujan sama makan ice cream?" ujar Maura memberikan tanggapan.
Tentu saja Mizar tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Senyum di wajahnya kian mengembang ketika menanggapi pernyataan Maura dengan antusias.
"Oke, kita makan ice cream sekarang!"
***
__ADS_1
Jam yang melingkar di pergelangan tangan Maura sudah menunjukkan pukul empat. Noah belum juga selesai kelas tambahan. Sementara dirinya sudah tak tahan menahan lapar.
Kegiatan di lapangan basket sudah membuat gadis itu bosan dan ingin secepatnya pulang. Namun, ia harus masih tertahan di sekolah akibat sang kakak belum juga selesai kelas tambahan.
Kalau tahu bakal begini endingnya, Maura tentu tak akan menolak ajakan Raisa untuk pulang bersama. Sialnya, Maura beranggapan bahwa tak masalah menunggu sang kakak selama jam tambahan.
Dengan harapan bermain basket bisa mengalihkan perhatian. Faktanya hal itu sama sekali tak bisa membantunya mengurangi rasa bosan. Hingga baru sebentar saja, sudah membuatnya bosan ingin pulang.
Inilah risikonya menjadi anak bungsu. Sang papa tak membiarkannya membawa kendaraan sendiri karena masih berada di bawah umur. Sementara Bang Agil yang dihubungi sejak beberapa menit lalu, belum juga memberikan tanggapan.
Mungkin kakak sulungnya itu sedang merencanakan menggelar aksi lagi kali ini. Hingga mengabaikan pesan yang dikirimkan oleh sang adik.
Jadilah Maura tertunduk lesu di tepi lapangan. Menunggu dengan rasa bosan yang begitu menyebalkan.
"Belum pulang, Ra?" Dari arah yang berlawanan dengan Maura, Mizar muncul dengan anggota basket yang lain.
Ini harinya tim basket putra sekolah mereka mengadakan jadwal latihan.
"Nungguin, Bang Noah. Bang Agil nggak bisa dihubungi."
"Mau aku anterin?" Mizar menawarkan bantuan. Melihat wajah pucat Maura tentu saja remaja lelaki itu tak tega.
"Nggak usah. Lo kan mesti latihan."
"Nggak papa. Aku bisa izin. Abis itu balik lagi buat ikut latihan."
"Oke deh. Sorry, gue ngerepotin." Tawaran itu akhirnya diiyakan oleh Maura.
Mizar melambaikan tangan sebagai jawaban. Lantas menemui pelatih untuk meminta izin, agar dirinya diperbolehkan mengantar pulang Maura.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah membelah jalanan ibu kota. Cuaca cukup terik sebelumnya. Tapi tiba-tiba mendung datang meski tak diundang.
"Ra, hujan. Kita neduh dulu ya!" teriak Mizar berebut dengan desau angin dan suara hujan yang menenggelamkan suaranya.
"Boleh. Depan ada kedai ice cream. Kayaknya ke situ aja deh. Mumpung belum terlalu deras!"
"Yakin mau makan ice cream ujan-ujan gini?"
"Apa hubungannya makan ice cream sama hujan?"
Mizar tak memberikan jawaban. Lantas mengangguk mengiyakan. Tak peduli lagi dengan apa yang bakal mereka makan di cuaca dingin. Asalkan ia lakukan bersama Maura.
Hari itu mereka makan ice cream berdua di hari berhujan untuk pertama kali.
Dan, menjadi kenangan yang terulang di masa sekarang.
__ADS_1