
Seperti biasa, bangunan megah satu lantai yang berada di tengah kawasan perumahan elit itu, tampak ramai. Suara seruan keenam cowok yang saling berebut stik PS, makanan ringan, hingga terlibat dalam pertarungan game online itu terdengar sampai keluar.
Bahkan makhluk irit bicara seperti Jerome dan juga Mizar, tak bakal bungkam saja setiap kali mereka berkumpul dalam satu ruangan.
Setelah pertarungan sengit antara Arlan dan Raka yang memperebutkan stik PS, kali ini giliran Mizar yang menjadi orang paling ribut ketika ponselnya berdering. Dari sebuah nomor kontak yang bahkan tak pernah ia bayangkan bakal meneleponnya lebih dulu. Sejak pemuda itu menyimpan nomor si gadis lima tahun lalu.
"Ara telepon gue!" teriak Mizar sambil menegakkan punggungnya yang semula rebahan di sofa.
"Hah, siapa?!" Serentak dua saudara sepupu yang duduk berjauhan dari Mizar berseru untuk memastikan tak salah dengar. Lantas mereka saling bertatapan.
"Dia sebut nama Ara, kan? Gue nggak mendadak budek?" Arlan bertanya pada Sky yang sama bengongnya dengan cowok itu.
"Gue juga denger nama yang sama. Harusnya telinga kita normal."
"Berarti siapa yang nggak normal?"
Mereka semakin intens bertatapan, lalu mengendikkan bahu secara bersamaan. Kembali ke arah Mizar yang kini mondar-mandir kayak setrikaan Mbak Lisa - asisten rumah tangga yang biasanya membersihkan basecamp mereka.
Meski pada faktanya, hanya sekali dua kali dalam sebulan perempuan itu pegang setrikaan. Karena memang tugas utamanya bukanlah itu. Paling juga setrika pakaian Jerome yang sengaja ditinggal. Itu pun bisa sangat jarang terjadi.
"Perempuan galak itu telepon lo?" komentar Raka membuat Mizar menoleh cepat. Pasalnya, Mizar sudah mengeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Sstt! Berisik lo pada!" Mizar memberikan peringatan sebelum menyapa si gadis yang sedang meneleponnya.
Sungguh, Mizar tak pernah membayangkan hal ini bakal terjadi padanya. Tak hanya menelepon, gadis itu juga meminta bantuan Mizar untuk mengantarnya ke Bandung.
Jelas saja Mizar tak bisa menolak. Ia tak peduli sekalipun besok ada kelas pagi yang mengharuskan para mahasiswa mengikuti kuis untuk nilai tambahan.
Lihat saja, bahkan Raka sudah bersiap menyerang pemuda itu ketika Mizar menyetujui permintaan Maura.
"Lo udah sinting? Besok materi Pak Farhan kita ada kuis, Bre! Mau absen lo?" Raka mencak-mencak tak karuan begitu Mizar menutup panggilan.
Pemuda itu tak memberikan tanggapan. Ia justru mengempaskan bobot tubuhnya untuk kembali berbaring di atas sofa. Menatap langit-langit ruangan di mana mereka berkumpul saat ini.
"Udah bucin, Rak. Lo mah udah nggak ada artinya sekarang!" celetuk Sky disambut tawa sumbang oleh Bastian.
"Ngenes banget lo, Rak. Lagian dia nggak ikut kuis juga masih bisa dapet nilai A. Nah elo? Ikut kuis belum tentu dapat nilai C," sambung Bastian menanggapi ucapan Sky.
__ADS_1
Mizar? Sungguh, pemuda itu benar-benar tak peduli. Ia masih saja menatap langit-langit ruangan dengan senyum membingkai wajahnya.
"Asli, terdeteksi bucin ini mah." Jerome ikut menanggapi sambil sesekali melirik ke arah Mizar yang sudah terlihat seperti orang dungu.
"Ya lo kira aja Jer, cinta bertepuk sebelah tangan dari SMA. Mana mungkin dia nggak bucin. Apalagi belum pernah nyatain. Udah pasti auto bucin ini mah."
Arlan yang menjadi salah satu saksi bagaimana perjalanan kisah antara Mizar dan Maura, ikut memojokkan si pemuda yang mendapatkan julukan bucin dalam sekejap.
Senyum Mizar makin mengembang. Kini, ia duduk bersila sambil menatap temannya satu per satu.
"Menurut kalian, gue mesti bawa mobil atau motor?"
Bugh!
Sebuah bantal sofa, melayang tepat di wajah Mizar.
"Sampai lo nggak bisa jaga wibawa di depan yang lain, gue hajar sampai mampus lo, Zar! Nggak peduli status sebagai teman, gue! Sumpah, geli gue ngeliatnya," amuk Bastian yang tiba-tiba merasa geli dengan sikap sang teman.
Benar-benar, Mizar justru terlihat menjijikkan dengan sikapnya sekarang. Sama sekali tidak pas dengan image yang selama ini ia tunjukkan di hadapan semua orang.
Sedangkan keempat pemuda lainnya hanya tergelak ketika melihat Mizar ngamuk-ngamuk sambil melempar ulang bantal sofa ke arah Bastian.
Rencananya Mizar bakal mengantar Maura ke Bandung dengan mengendarai motor. Biar lebih romantis katanya. Apalagi kalau di jalan mereka sempat menikmati hujan. Pasti akan membuat suasana semakin menyenangkan. Itu rencananya.
Pada faktanya rencana itu gagal total ketika Jerome mengabarkan pada Andara bahwa kedua orang itu bakal ke sana.
"Kalau gitu gue boleh sekalian minta tolong?" pinta Andara tiba-tiba ketika terhubung dengan sambungan telepon.
"Minta tolong apa?"
"Bawain gue baju ganti sekalian. Ara tahu sandi apart gue kok."
Ya, itu permintaan Andara yang disampaikan kepada Mizar ketika gadis itu mendapat kabar dari Jerome bahwa ia dan Maura akan menyusul ke Bandung.
Mizar tak bisa menolak. Mengingat Andara sudah berjasa membuatnya dengan Maura memiliki kesempatan berbicara. Walaupun pada akhirnya tetap saja percakapan keduanya sia-sia.
Setidaknya setelah kejadian itu, Mizar mendapatkan jackpots yang ia percaya masih ada hubungannya dengan Andara. Tentu, jika tidak berniat menjenguk ibu Andara yang sedang sakit, mana mungkin Maura bakal menghubungi Mizar?
__ADS_1
Jawabannya sudah jelas. Tidak akan pernah!
Dan, di sinilah ia sekarang. Berada di depan rumah Maura dengan kendaraan roda empat yang sama sekali tak masuk dalam rencana.
Mizar membuang napas kesal. Sedari pagi wajahnya sudah kusut akibat rencananya hanya menjadi sebuah rencana. Apalagi dengan kehadiran manusia lain yang entah menyapa terasa sangat menyebalkan sekarang.
Benar, selain Mizar masih ada dua manusia lainnya yang ikut di dalam mobil. Jerome dan Arlan.
Jerome? Dia memang sengaja menawarkan agar dirinya yang membawakan pakaian Andara. Sekalipun sempat terjadi perdebatan akibat urusan perempuan. Namun, segera terpatahkan dengan ungkapan Jerome bahwa bentuk pakaian dalam wanita juga sudah begitu dari sananya. Kenapa mesti malu?
Andara kalah telak. Perempuan itu terpaksa mengiyakan setelah memberikan sederet syarat yang cukup tak masuk akal.
Sesungguhnya, Mizar bersyukur dengan keberadaan Jerome dan urusan baju ganti Andara. Jadi, ia tak perlu bolak-balik setelah menjemput Maura. Namun, yang jadi pertanyaan, kenapa Arlan tiba-tiba ikut dengan mereka?
"Gue mau pastiin lo sama Ara, aman." Ucapan Arlan tak dipahami semua orang. Kecuali mungkin Sky yang diam-diam terkikik pelan.
Lagi, Mizar tak bisa menolak setelah perdebatan panjang. Dengan syarat, Arlan harus mau gantiin ia nyetir jika diperlukan.
Tanpa banyak protes, Arlan menyanggupi. Mizar semakin tak punya alasan buat menghindar.
"Zar, udah sampai lo? Masuk dululah. Ara masih siap-siap."
Tiba-tiba dari arah gerbang, muncul sebuah Honda Brio silver yang berhenti tepat di samping mobil Mizar. Pemuda itu menurunkan kaca mobil dan berseru dengan suara lantang.
"Eh, iya Bang. Ini juga mau turun." Mizar memberikan tanggapan.
"Oke, gue titip Ara, ya. Jadinya ramean ke sananya?" Abigail kembali bertanya saat melihat dua pemuda lainnya berada di dalam mobil yang dikendarai Mizar.
"Iya, Bang. Biar nggak sepi aja di jalan."
"Bagus sih. Biar ada yang gantiin juga lo capek. Gue duluan ya. Titip, Ara."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, mobil Abigail menjauh. Diikuti suasana senyap yang cukup tiba-tiba.
"Lo kenapa?" Arlan yang duduk di bangku belakang bertanya dengan kerut heran.
Pemuda di belakang kemudi itu melirik dari spion tengah. Lalu menoleh ke arah Jerome yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Gue mesti ngomong apa begitu ketemu, Ara?" tanya Mizar dengan raut muka tanpa dosa. Sedangkan kedua temannya, kompak menonyor kepala si pemuda.