
Mizar mengurungkan niatnya mendekati Maura saat melihat perempuan itu tengah berbincang dengan Sagara, sebelum meminta sang pemuda untuk pergi. Wajahnya terlihat lelah sekaligus kesal di saat yang bersamaan. Mizar bahkan bisa melihat cewek itu menghela napas panjang berkali-kali ketika Sagara tak juga pergi.
"Dahlah, Ga. Gue nggak mau lagi denger apa pun dari mulut lo!" Maura menegaskan. Meminta Sagara untuk benar-benar pergi kali ini.
Cowok itu terpaksa mengalah. Ia pergi dengan kedua tangan mengepal.
Di saat yang tepat, Mizar bersembunyi di balik tiang penyangga. Menunggu sampai Sagara hilang dari pandangan.
Pemuda itu sengaja memberikan jeda kepada Maura sebelum memutuskan untuk mendekati si gadis yang terlihat sangat kesal.
"Hai, suntuk banget kayaknya. Ada apa?" tanya pemuda itu basa-basi.
Maura tampak terkejut. Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Mizar sedang berdiri di sampingnya.
"Astaga. Ngapain lo di sini?" tanya si gadis ketika mendapati Mizar berada di dekatnya.
"Eh, sorry. Aku nggak maksud bikin kamu terkejut."
Maura mengelus dada. Lantas bersiap meninggalkan cowok itu sebelum Mizar menahan tangannya.
"Lo mau apa lagi sih, Zar?" ucap Maura terdengar kesal. Namun, cowok itu justru nyengir dan memperlihatkan sederet giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
"Aku mau minta tolong sama kamu," ucap pemuda itu terlihat ragu-ragu.
Maura yang berdiri di depannya terlihat lebih terkejut dibandingkan sebelumnya. Sepasang mata itu seolah mengatakan,"Apalagi yang mau dia lakukan sekarang?"
Meski begitu, Maura memilih bungkam dan menunggu Mizar mengucapkan apa yang ia pikirkan. Namun, pemuda itu justru termangu dan tak sanggup mengatakan apa pun untuk disampaikan kepada si perempuan.
"Lo mau ngomong apa sih?" tanya Maura mulai tak sabar.
Mizar salah tingkah. Pemuda itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Ehm ... lusa mama aku ulang tahun. Kamu mau kan, bantuin aku cari kado buat mamaku?"
Seketika, ucapan Mizar tersekat di kerongkongan. Ia tak sanggup memberikan tanggapan atas pertanyaan Maura yang cukup menyudutkan.
"Dahlah, yok!"
Ucapan Maura yang cukup tiba-tiba justru membuat Mizar kian terpaku. Pemuda itu tak sanggup berkutik hingga Maura melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Lo mau ngelamun di sini aja apa gimana sih?" tanya Maura dengan kening berkerut. Ia semakin tak sabar dengan sikap Mizar yang tiba-tiba cengo.
"Oh, eh ... nggak, aku ...."
__ADS_1
"Ck, lama," gumam Maura sambil berlalu dari hadapan Mizar.
"Ra, kamu mau ke mana?" Mizar justru bertanya seperti halnya orang bego.
"Gimana sih, bukannya lo ajak gue cari kado buat nyokap lo? Emang mau ke mana lagi kalau nggak pergi sama lo?" Maura mengajukan pertanyaan yang hanya sanggup membuat Mizar melongo.
Pemuda itu tak lepas menatap perempuan yang kini berhenti tepat di depannya. Sepasang netranya tak henti berkedip hanya demi memastikan jika ini bukanlah mimpi.
"Kenapa sih? Jadi pergi nggak?"
"Oh? Eh ... iya, jadi. Ayok kita pergi!"
Senyum Mizar mengembang. Pemuda itu mengikuti Maura yang berjalan dari belakang.
Siapa yang menyangka jika ajakannya secara random itu, bersambut dengan baik. Meski tanpa sepengetahuan mereka seseorang sedang menatap keduanya dengan sorot penuh luka.
...----------------...
Haii,, maaf ya masih belum bisa normal update-nya. Kondisi masih belum membaik.
Bakal diusahain update normal secepatnya. 😥😥😥🙇♀️🙇♀️🙇♀️
__ADS_1