
"Olivia? Bangun Nak, udah pagi nih. Kamu nggak sekolah?"
Pak Zam menggoyang tubuh Olivia lembut. Berharap anak gadisnya bangun. Olivia malah menggeliat kecil, masih belum bangun.
"Olivia, ini udah jam berapa lho. Udah jam 8," celetuk Pak Zam menepuk-nepuk pipi Olivia.
Olivia membuka matanya lebar-lebar. Terkejut saat mendengar ayah nya bilang kalau sekarang jam 8.
"Astaghfirullah ayah! Oliv belum mandi!" Olivia langsung lompat dari tempat tidur. Kocar-kacir cari handuknya.
"Ayah kenapa nggak bilang sih?" omel Olivia berlari menuju kamar mandi.
Pak Zam tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan. Saat Olivia hendak masuk ke kamar mandi. Cewek itu melirik atap rumah yang transparan. Bibirnya mengerucut saat melihat kalau langit masih gelap.
"Ayah!!! Ini masih subuh tauuu!!" pekik Olivia kesal.
Pak Zam semakin terpingkal-pingkal karena berhasil membuat Olivia kesal dan marah pagi-pagi. Bu Ina yang juga berada di dapur tersenyum kecil melihat ulah ayahnya yang suka sekali mengerjai anaknya.
"Lagian kamu, dari tadi ayah bangunin. Nggak mau bangun. Yaudah, ayah bilang aja udah jam 8," jelas ayah nggak mau disalahkan.
"Iya deh, iya. Oliv yang salah terus ..." Olivia kesal. Kembali ke kamar untuk menyusun buku dan sholat subuh setelahnya.
"Oh iya Livia, tuh ada temen kamu di depan. Katanya dia ngaku jadi pacar kamu. Terus dia dateng kesini ..."
Belum selesai Pak Zam ngomong. Olivia sudah lebih dulu keluar kamar menuju pintu. Aish, ini pasti si kampret Ragel!!
***
"HEH, RAGEL KAMPRET! KENAPA SUBUH-SUBUH LO KERUMAH GUE, HAH?! " todong Olivia di depan pintu. Menatap Ragel yang duduk diatas motornya penuh amarah.
"Gue mau ngelamar elo. Ya enggak lah! Geer banget sih lo!" jawab Ragel turun dari motornya.
"Dih, gue juga nggak berharap elo mau ngelamar gue! Pulang lo, hush! Hush!" usir Olivia membalikkan badan Ragel saat cowok itu semakin mendekatinya. Mendorong punggung Ragel kuat.
"Apasih Liv. Bisa nggak sih lo, ramah gitu sama gue? Sambut gue dengan penuh suka cita kek. Peluk gue kek." Ragel membalikkan badannya. Tertawa saat melihat wajah bangun tidur Olivia.
Lihatlah, mata sayu gadis itu semakin sayu karena baru bangun tidur. Bahkan rambutnya lebih berantakan dari tadi malam saat mereka Videocall-an. Dan apa ini?
__ADS_1
"Bhahahahaha!! Ileran lo! Jorok woilah!!" Ragel langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat sudut bibir Olivia yang ileran.
"Ah, elah! Kampret lo!" Olivia langsung ngacir masuk ke dalam rumah. Sebelum cewek itu benar-benar masuk. Olivia menatap sinis Ragel. "Awas lo kalau masuk! Gue cincang jadi gulai cincang, lo!" ancam Olivia.
"Dih, Psikopat!"
"Elo yang psikopat!!"
***
Olivia terus menggerutu di depan cermin retak miliknya. Sambil memasang bando berwarna pink. Olivia mengintip keluar kamarnya. Melihat Ragel yang sedang membantu ayah dan ibu Olivia.
"Dih, dasar tukang caper!" cibir Olivia kembali menatap dirinya di cermin.
"Biarin gue caper. Daripada baperin anak orang, pacar gue ntar cemburu lagi," balas Ragel berdiri di depan pintu kamar.
Olivia menoleh, terperanjat nyaris melompat ke kasur nya saat melihat Ragel secara tiba-tiba berdiri di depan pintu.
"Rageeelll!! Bisa nggak sih lo, nggak bikin gue jantungan!" Olivia jengkel, mengambil tas nya lalu berjalan sengaja menabrak bahu Ragel kuat. Tapi setelahnya cewek itu malah meringis. Karena Ragel begitu kuat.
Olivia menghunuskan tatapan tajam. Lalu berlalu begitu saja, seraya mencibir Ragel.
"Kalian bertengkar pagi-pagi udah kayak kucing sama tikus aja," ucap Bu Ina terkekeh kecil. Melihat wajah kesal Olivia dan wajah bahagia Ragel. Mengingatkannya pada Gilang-- kakak Olivia yang juga suka mengganggu Olivia.
"Iya, si Ragel tikus nya!" balas Olivia mendorong cowok itu yang malah mengekori nya kesana-kemari.
"Dih, elo. Gue yang harusnya jadi kucing, elo tikus!" balas Ragel nggak mau kalah.
Olivia mengangkat tangannya sebatas telinga. Menatap Ragel jengah. "Terserah tuan muda yang terhormat!!"
Ragel, Pak Zam, dan Bu Ina tertawa kecil. Olivia mendesis pelan, duduk disamping Bu Ina yang sedang mengambil nasi untuk Pak Zam.
"Nih untuk Ayah ..." Bu Ina mengangkat pandangannya, mengulas senyum seraya bertanya sama Ragel, " nak Ragel juga mau diambilin?"
Ragel terdiam, menipiskan bibirnya. Melihat senyum Bu Ina mengingatkannya pada Mama nya sendiri.
"Nggak usah Tan, saya jadi nggak enak kalau diambilin sama Tante," tolak Ragel sopan.
__ADS_1
Bu Ina masih mengulas senyum. Mengambil piring plastik warna hijau, lalu mengambil satu sendok nasi. Mengambil telur dadar dan tumis kangkung. Meletakkannya di depan Ragel.
"Nggak usah malu. Anggap aja rumah sendiri. Lagian juga kamu teman Olivia pertama yang datang kesini. Tamu adalah raja," ujar Bu Ina masih mempertahankan senyumnya.
Entah kenapa, jantung Ragel berdetak dua kali lebih cepat. Dia merindukan Mama nya. Entah kenapa, mata Ragel berkaca-kaca. Menatap nasi tersebut lekat.
Hangat sekali. Kapan kali terakhir Ragel diambilkan nasi sama Mama nya?
Olivia yang sedang menyuap makanannya menoleh. Mengernyitkan dahi kala melihat Ragel yang malah terus menatap nasi itu lekat.
"Lo tau nggak Gel? Ada banyak orang yang nggak makan diluar sana dan ada banyak orang yang buang-buang nasi karena terlalu rakus," ujar Olivia. Nggak ada niatan sedikitpun Olivia untuk menyinggung Ragel. Tapi itu emang kenyataan.
"Gue tau ..." Ragel mengangkat pandangannya. Mengulas senyum, yang terlihat palsu di mata Olivia. "Makanya, gue terharu karena bisa makan sampai saat ini," lanjut Ragel lirih. Menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Entah perasaan Olivia saja atau gimana, tapi yang jelas ... di mata Olivia, senyum Ragel tetaplah senyum palsu.
***
"Makasih Tan, Om, atas sarapannya. Enak!" Ragel mengacungkan jempolnya. Berdiri di depan calon mertua.
Pak Zam terkekeh kecil. "Nggak usah panggil Om. Panggil ayah aja, nggak enak. Udah lanjut usia, masih di panggil Om," ujar Pak Zam.
Ragel terkekeh geli, mengangguk mengerti. "Iya deh, Yah. Calon mertua!" ucap Ragel masih terkekeh. Pak Zam dan Bu Ina ikut terkekeh.
Olivia yang sedang memasang sepatu, langsung memukul Ragel dengan sepatu usang nya.
"Nggak usah halu!" kecam Olivia.
"Dih, ayah aja nggak masalah. Kok elo yang sewot?" balas Ragel nggak mau kalah.
"Nak Ragel juga boleh kok, manggil Ibu aja. Nggak usah Tante," ucap Bu Ina yang duduk di kursi.
"LIV! YUK LAH, LANGSUNG KE KUA AJA!! UDAH DI RESTUIN NIH!!"
Olivia langsung menjitak kepala Ragel kuat. Menatap cowok itu penuh kesal.
"OGAH GUE PUNYA SUAMI KAYAK ELO, RAGEL KAMPRET!!"
__ADS_1