MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
55. Tak Selamanya Indah


__ADS_3

"U okay, Liv?" tanya Ragel yang berdiri tak jauh dari ranjang UKS.


Olivia menoleh, dengan mata sembab nya, gadis itu menggeleng pelan.


"Pergi," usir Olivia lirih.


"Liv, lo--"


"Gue bilang, pergi!" marah Olivia. Menatap Ragel dengan sorot marah. Matanya memerah hebat.


"Oke, gue pergi. Jangan lupa bubur nya dimakan, oke?"


Ragel berbalik, melangkah berat meninggalkan gadis itu. Sebelum menutup pintu, Ragel menatap Olivia yang meringkuk lalu membenamkan wajahnya di antara lipatan tangan.


Ragel menghela napas panjang. Menutup pintu itu sepelan mungkin.


Cowok itu menyenderkan kepalanya pada pintu tersebut. Menatap atap sekolah yang tinggi itu.


Samar-samar dia dapat mendengar suara tangisan Olivia lagi. Begitu perih dan rasanya Ragel ingin sekali memeluk gadis itu.


"Bodoh!" umpat Ragel.


Menyesali keputusannya disaat yang tidak tepat. Dia kira, Olivia akan baik-baik saja setelah mereka putus. Ternyata tidak.


Gadis itu bahkan tidak makan sejak tadi malam. Kondisi tubuhnya tidak stabil. Tapi dia memaksa untuk tetap datang ke sekolah.


"Apa ... gue benar-benar akan kehilangan orang yang gue sayang lagi?"


***


Ratu berlari secepat mungkin. Membuka pintu UKS, mendapati sosok Olivia yang masih meringkuk.

__ADS_1


"Kak Oliv!" Ratu berlari, lalu memeluk Olivia erat. "Badan kakak panas banget," ucap Ratu.


Olivia mengangkat wajahnya yang memerah padam. Tersenyum pada Ratu.


"Bentar yah kak, Ratu kompres dulu. Untung-untung demam nya turun," ucap Ratu langsung mengambil mangkuk kecil dan handuk kecil.


Gadis itu pergi ke kamar mandi. Menampung air di dalam mangkuk tersebut. Lalu kembali lagi.


"Kakak tiduran dulu yah," suruh Ratu. Olivia menurut. Lalu Ratu mulai meletakkan handuk kecil yang sudah dia basahkan ke kening Olivia.


Ratu menatap wajah merah padam Olivia. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Ingin rasanya Ratu memanggil Ragel dan meminta cowok itu membawa pulang Olivia. Tapi ...


"Ratu!" panggil Ragel.


"Ya kak?" Ratu berkedip sekali. Melihat wajah Ragel yang lesu. "Kak Ragel oke?"


Ragel mengangguk sekali. "Kakak minta tolong ke kamu. Jaga Olivia, dia ada di UKS sendirian," pinta Ragel.


"Gue nggak bisa."


"Lho, bukannya kakak--"


"Gue benar-benar minta tolong pada lo, sekali ini aja," ucap Ragel.


Ratu terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk sekali. "Oke kak. Tapi kalau bisa kakak yang langsung nemanin kak Oliv," ucap Ratu mulai melangkah meninggalkan Ragel.


"Oh iya, jangan bilang kalau gue yang suruh."


Ratu menghela napas panjang. "Kak Oliv sama kak Ragel ada apa-apa ya?" tanya Ratu tanpa sadar.


Olivia tercenung. Menatap Ratu bingung. "Huh?"

__ADS_1


"Ah, maksud Ratu. Kakak ... masih pacaran kan, sama kak Ragel?" tanya Ratu hati-hati.


Olivia terdiam. Membuang pandangannya ke jendela UKS. "Udah enggak," jawab Olivia pelan.


"Huh? Maksud kakak?" tanya Ratu masih nggak ngerti.


"Gue ... sama Ragel udah nggak ada hubungan apa-apa," perjelas Olivia semakin pelan.


"Kak? Seriusan? Jangan bercanda dong. Padahal kakak sama kak Ragel itu klop--"


"Kita beda Rat. Gue sama Ragel beda," Olivia menoleh cepat. Menatap Ratu dengan sorot tak suka. "Ibarat pangeran dan rakyat nya. Gue nggak bakalan bisa gue gapai dan dia nggak akan bisa memandangi gue. Kita beda, sama sekali nggak ada sama nya," jelas Olivia berusaha untuk duduk dari tidur nya.


Ratu membantu Olivia duduk. "Kak, bukan masalah status atau apapun itu. Ini masalah rasa. Masalah hati," ucap Ratu.


"Ratu tau kok gimana rasanya di putusin. Ratu berkali-kali di putusin kak Ziki. Disakitin, di selingkuhi, bahkan Ratu pernah ditinggal gitu aja sama kak Ziki di taman bermain malam-malam. Tapi Ratu berusaha untuk bisa meluluhkan hati kak Ziki. Sekalipun itu sulit, Ratu akan cari cara lain. Supaya hati kak Ziki luluh," jelas Ratu menatap Olivia serius.


"Gue beda Rat. Gue nggak bisa melakukan yang lo lakukan. Gue ... masih sadar diri."


Ratu meraih tangan Olivia. Menggenggam nya erat. "Kakak pasti bisa. Ratu yakin kak Ragel juga memiliki perasaan yang sama dengan kakak. Dan kakak juga merasakan hal yang sama. Hanya kalian saja yang belum menyadari nya," ucap Ratu meyakinkan Olivia.


Olivia terdiam beberapa saat. Menatap tangannya yang digenggam Ratu. Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap raut wajah Ratu yang selalu yakin.


Olivia tersenyum lembut. "Rat, nggak selamanya perasaan yang sama itu harus berakhir bahagia. Nggak selamanya mereka yang sama-sama saling jatuh cinta itu akan memiliki happy ending ..."


Olivia menarik tangannya dari genggaman tangan Ratu. "... dan nggak selamanya akan indah."


***


**TETAP SETIA SAMA MY PSIKOPAT BOYFRIEND YA GES YA 💓


SEE U DI PART SELANJUTNYAAAA💓**

__ADS_1


__ADS_2