
Ragel mengamati setiap gerak-gerik orang-orang yang ada dilayar monitor tersebut. Setiap sudut sekolah ini, ada CCTV yang hanya dirinya dan kedua temannya yang tahu.
Sebenarnya CCTV itu sudah lama terpasang. Bahkan sebelum generasi mereka yang ke-17. Tapi sayangnya, CCTV ini sering disalahgunakan dan berakhir membiarkan CCTV tersebut rusak.
Semenjak Ragel menginjakkan kaki di SMA ini. Cowok itu meminta Papa nya untuk memasang CCTV untuk memantau gerak-gerik siswa-siswi yang mencurigakan dan memantau orang-orang munafik yang ada disekitar Papa nya.
Entah kenapa, sejak hari itu ... Ragel selalu waspada dan kadang suka bertindak lebih jauh sampai nyaris membunuh orang.
"Gel, lo harus tau kejadian yang ada di kelas pacar lo," ucap Angga. Matanya masih menatap layar monitor.
Memundurkan kembali video tersebut ke beberapa menit yang lalu saat Ragel ikut gabung melihat kejadian di kelas pacarnya itu.
Disana, pacarnya sedang dirundung. Hal yang paling membuat Ragel geram adalah ... semua orang hanya diam tanpa ada yang mau melerai perundungan tersebut.
Orang mana yang hanya menyaksikan penyiksaan itu seolah-olah sedang menonton film bioskop?
"Ang, kirim ke gue video 20 menit yang lalu di ruangan itu. Cepat!" titah Ragel mutlak.
Cowok itu berbalik, mengepalkan tangannya kuat. Jujur saja, Ragel paling benci adanya pembullyan di sekolah favorit ini.
Masih sekolah favorit namanya, kalau muridnya masih menghalalkan perundungan seperti itu?
Saat Ragel melewati pintu kayu lapuk, Ziky yang berdiri tak jauh dari pintu tersebut membuka suara.
"Kenapa lo sampai se-marah itu ngeliat si miskin di rundung sama Sinta?" tanya Ziky dingin.
Ragel diam, semakin menguatkan kepalan tangannya. "Dia pacar gue dan dia berhak gue bela. Lo ... nggak ada hak buat sebut dia miskin," jawab Ragel sama dinginnya.
Ziky mengangguk, "gue kira lo mau manfaatin dia, karena si miskin pintar dan bisa melancarkan aksi lo untuk nge-bunuh orang-orang munafik yang ada disekitar Papa lo."
Pernyataan Ziky membuat Ragel tersenyum simetris, menoleh pada cowok playboy itu. "Kadang gue heran. Kenapa lo bisa tau tujuan gue? Lo ..." Mata hitam legam itu membulat penuh. "... nggak perlu ikut campur urusan gue!"
***
Sinta terus menarik rambut Olivia sekuat tenaganya. Tak merasa puas, cewek itu menampar pipi Olivia hingga bunyinya terdengar kuat mengisi ruangan tersebut.
Olivia ingin melawan, bahkan melakukan hal yang lebih kejam dengan perlakuan Sinta kepadanya. Tapi cewek itu tidak punya tenaga lagi. Kakinya terlalu sakit untuk berdiri, ditambah lagi perutnya terasa nyeri karena hantaman meja yang nggak main-main mengenai perutnya.
Rasanya nyawa Olivia diujung tanduk.
__ADS_1
Orang-orang yang memperhatikan mereka tak lebih hanya sekedar menonton tanpa ada niat sedikitpun untuk melerai dan menarik Sinta yang seperti orang kesetanan.
Sial! Bahkan gurunya juga hanya menonton saja. Kenapa orang-orang ini begitu kejam sekali?!
"Akh!!" Olivia memekik keras saat Sinta menarik rambut cewek itu hingga beberapa helai nya rontoknya.
Kejam!! Benar-benar kejam!!
Ini hanya salah paham, Olivia bahkan tidak ada niat mencuri. Tetapi kenapa dirinya dituduh dan berakhir disiksa seperti kucing malang yang tak dibutuhkan lagi?!!
Apakah Tuhan mengizinkan Olivia untuk bertemu Abangnya dan berkumpul disana? Apakah Olivia ditakdirkan untuk mati sekarang?
"Lo mau cari mati sama gue, hm?" Suara dingin itu, menyelimuti ruangan yang persis seperti tempat tak ada rasa bersalah.
Dengan tangan yang ditenggelamkan ke dalam saku celana, Ragel melangkah dingin. Mendekati kedua orang yang menjadi objek tersebut.
Derap langkah yang berat ditambah hawa dingin menyelimuti ruangan tersebut. Ragel melempar benda pipih itu ke arah Sinta.
Sekali lemparan, hp tersebut langsung menyala. Memperlihatkan video CCTV tersebut. Sinta, Laura, Resa, dan Hani sedang melakukan aksinya dengan meletakkan kotak ponsel Sinta dan ponselnya ke dalam tas Olivia saat gadis itu ketiduran di bangkunya.
"Lo tau apa akibatnya. Kalau lo nuduh pacar gue tanpa bukti jelas? Terus melakukan perundungan nggak manusiawi tadi?" tanya Ragel dingin.
"Sekali lagi lo berbuat nggak manusiawi kayak tadi. Gue pastiin,hari ini lo dapat berita kalau perusahaan Papa lo bangkrut dalam sekejap. Dan lo, jatuh miskin. Jadi pengemis nggak ada akhlak!!" ancam Ragel sungguh-sungguh.
Jangan salahkan Ragel untuk menggunakan kekuasaannya sebagai cucu dari orang terkaya sedunia. Semua perusahaan ada saham kakeknya. Bahkan semua orang tau, kalau kakek Ragel adalah pengusaha kaya dengan menanam saham dimana-mana.
Sinta terdiam. Mengepalkan tangannya, menatap Olivia penuh kebencian. Sedang yang ditatap diam dengan wajah penuh lebam.
"Urusan gue sama lo belum selesai!" Sinta berlalu pergi begitu saja. Menerobos orang-orang yang ada didepan pintu. Disusul teman-temannya yang lain.
Sial! Rencana membuat mental Olivia semakin terpuruk, hancur berantakan!!
Ragel berbalik, menangkupkan tangannya di wajah Olivia yang penuh lebam dengan hati-hati.
"Gue nggak tau harus bilang apa. Lo ... harus nurut sama gue kali ini," ucap Ragel.
Olivia menatap Ragel lekat. Menelisik raut wajah datar cowok itu. "Lo ... kenapa nolongin gue?" tanya Olivia tiba-tiba.
"Nggak mungkinkan, gue ngebiarin pacar gue mati di tangan busuk mereka?" tanya Ragel balik.
__ADS_1
"Apa alasan lo nolongin gue? Selama gue sekolah di sekolah elite. Baru kali ini gue ditolongin sama orang." Olivia tersenyum sinis. "Ada perasaan senang yang terbesit di hati gue. Tapi sayang, orang yang nolongin gue malah elo, Ragel!"
Ragel balik membalas senyum Olivia sama sinis nya. "Karena lo pacar gue, puas?"
"Kalau gue bukan pacar lo? Apa alasan lo nolongin gue?"
"Karena lo murid Papa gue. Lo sekolah disini dan lo berhak mendapat pembelaan dari gue. Dan gue punya kewajiban untuk nolongin lo," jawab Ragel lugas.
Olivia masih tersenyum sinis. Melepaskan tangan Ragel dari pipinya. "Kalau gue bukan murid Papa lo dan nggak sekolah sini. Apa gue juga berhak mendapat pertolongan dari lo, Ragel?" tanya Olivia semakin rumit.
Ragel tersenyum simetris. Memajukan wajahnya hingga tak ada jarak diantara mereka. "Gue ngelakuinnya atas dasar rasa empati. Jiwa menolong gue masih ada, walau orang-orang sering sebut gue Psikopat, puas pa-car?" ujar Ragel kesal.
Olivia memundurkan wajah Ragel. Memalingkan wajahnya keluar jendela. "Gue lebih baik mati aja," ucap Olivia tiba-tiba.
Ragel menggeleng pelan, tak mengerti dengan jalan pikir Olivia yang kadang suka tiba-tiba.
"Lo aja takut ditelpon malaikat Izrail. Gimana mau minta mati. Situ sehat?" tanya Ragel berbalik, berjongkok di depan Olivia.
"Buruan lo naik. Sebelum pikiran lo merambat, buat ngajak gue juga mati bareng elo."
Olivia menatap punggung Ragel kesal. Ingin memukul cowok itu, tetapi dia tak punya tenaga lagi.
"Dih, nggak usah geer. Gue juga nggak mau mati barengan sama lo."
...****************...
...***KYAAAAAAAAAAA!!! malam Minggu sama siapa nih kalian?👀 Acha kepo nih, wkwkwkwk 🤣 enggaaakkk, Acha cuman pengen tau aja...
plak! sama aja Achaaaaaa pinteerrr🍜
oke oke, kek nya Acha cari gara-gara. harusnya malam Minggu up part yang baik-baik aja. ini malah Up part beuh, mantap!🐒 bikin hati para readers panas🍜
yuk lah bisa yuk, kasih Acha semangat. Acha lagi nggak ada semangat buat up nih😭😭 soalnya stuck di tengah jalan👀
mana apk sebelah, udah dua bulan nggak di intip-intip. pasti berdebu tuh, huaaaaaa 😭
oke, kek nya segitu dulu curhat nya, bye bye semuaaa
makasih💞
__ADS_1
Acha ✍️🍂***