MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
16. Luka Tak Berdarah


__ADS_3

Ragel itu ibarat anak kecil yang kehilangan arah. Dia ... lebih baik menghilang di muka bumi. Daripada harus hidup dalam lingkaran tak berguna begini.


Karena bagi Ragel, senyum dan tingkah laku baik adalah sakit yang paling mendalam yang pernah Ragel lakukan selama ini.


Dia sakit, tapi tak berdarah.


Dia ingin mati, tapi rasanya percuma.


Dia ingin menggores tangan dan menampakkan darah dan luka yang mengalir deras di tangannya.


Karena pada dasarnya, hidup Ragel sudah hancur lebih dulu.


Hidup Ragel yang hancur itu, membawa dirinya pada jurang hitam yang dalam. Tak bertepi, tak ada rasa, hanya kegelapan yang terus menghampirinya.


Hidup yang dia ciptakan sendiri, telah membawa dia pada satu trauma yang tidak ada obatnya.


Ragel menganggap semua orang adalah hama. Ah, mungkin bukan hama, tapi tikus pengerat yang tak berguna yang dapat merusak hidup yang dia buat sendiri.


Begitulah kira-kira, kehidupan hitam Ragel membuat dia nekad membunuh siapa saja yang berani mengganggu hidupnya.


"Lo tau kan apa kesalahan yang lo perbuat?" tanya Ragel dingin.


Menarik dagu cowok yang ada di depannya itu. Gigi Ragel bergemelutuk, menahan marah yang mendarah daging.


"Ba--ng Ra--gel! Gue akh! Nggak bermaksud buat ma--lu sekolah ini, akh!!" ucap anak cowok itu, berusaha untuk melepaskan dagunya dari cengkraman tangan Ragel.


Ragel memiringkan kepalanya, tersenyum psikopat. "Terus lo kira, gue percaya? Lo kira gue nggak punya bukti jelas atas perbuat lo itu?"


Ragel tertawa hambar. Membuang wajah menjijikan di depan matanya hingga membentur dinding. "HAH!! KALAU BUAT MALU SEKOLAH, MENDING MIKIR DUA KALI,ANJING!!


Bugh!!!


Benturan pada dinding lapangan indoor voli terdengar nyaring memenuhi ruangan. Satu per satu, orang-orang berdatangan untuk melihat kejadian yang ada disana.


Darah segar mengalir dinding berwarna hijau tersebut. Cowok itu memegangi kepalanya yang pusing. Pandangannya mengabur, bahkan kesadaran setengah sudah hilang.


Dengan perlahan, cowok itu menoleh. Berusaha untuk membela dirinya.


"Gue tau, gue salah bang! Tapi Abang nggak seharusnya ngelakuin perbuatan nggak manusiawi gini. Gue rela dihukum, apapun itu. Tapi tolong, jangan ngerusak fisik dan mental gue!!" mohon cowok itu menangkupkan tangannya. Napas nya memburu, kesadarannya nyaris hilang karena kepalanya yang berdenyut hebat.


Mendengar kata-kata adik kelas nya itu. Satu tinjuan langsung Ragel layangkan ke dinding. Hingga satu cap darah tercetak di dinding hijau tersebut.


Setetes darah turun ke lantai, menyatu dengan darah lainnya. Lihatlah, ada banyak darah tercetak di dinding tanpa noda itu, sebelumnya.


Ragel tersenyum psikopat, mata bulat hitamnya melebar. Menarik dagu cowok itu. Lalu berbisik dengan sadis nya.


"Lo kira, dengan ngasih lo hukum. Bisa bikin lo jera? Bisa bikin lo nggak ngelakuin hal seperti itu lagi, tikus pengerat?"


Cowok itu berusaha untuk menatap mata hitam menyeramkan Ragel. "Bi-sa bang. Gue janji, nggak bakalan ngulangi lagi."


Krek!!!


Ragel melempar cowok itu seperti bola voli. Tanpa rasa kasihan sedikitpun. "NGGAK USAH JANJI-JANJI BANGSAT!! PERCUMA LO JANJI. SEPULUH TAHUN KE DEPAN JUGA BAKALAN DIULANGI LAGI!!" bentak Ragel tak tanggung-tanggung.


Orang-orang yang menyaksikan itu ngilu. Apalagi mendengar suara 'krek' dari tubuh si korban. Uh, sadis sekali tontonan ini.


Ragel mengeluarkan pisau cutter dari saku celananya, memiringkan kepala seraya tersenyum psikopat. "Ada kata-kata terakhir, sebelum nyawa habis?"


***


Sudah dua hari, sejak kejadian Olivia jatuh dari motor dan di siksa habis-habisan sama Sinta. Gadis itu kini berjalan sendirian di lorong kelas 11.


Kakinya sudah mulai membaik. Tapi masih terasa ngilu setiap detik kakinya menginjakkan lantai. Padahal sudha dipijat oleh ayahnya. Walau memang cara tradisional, untuk meredakan rasa nyeri saja butuh waktu lama.


Apalagi dengan cara yang modern. Pasti juga sama.

__ADS_1


Kalau soal perutnya yang menghantam meja tempo hari. Tidak masalah bagi Olivia. Karena sejak dia kecil, gadis itu sudah membentengi mental dan tubuhnya dengan baja yang paling kuat.


Ngomong-ngomong soal hubungannya dengan Ragel. Tetap kayak biasa, nggak ada yang berubah.


Tapi pandangan orang pada dirinyalah yang berubah. Ada beberapa yang mulai menyegani Olivia, ada juga yang malah semakin menambahkan bumbu ghibah.


Memang, membicarakan orang se-sedap menambahkan micin di makanan.


Lihatlah sekarang, banyak yang membicarakan Olivia. Tanpa peduli dengan orangnya yang jelas-jelas di depannya ini.


"Eh, liat orang berantem yuk!"


"Berantem? Dimana? Siapa yang berantem?"


"Itu lho, kak Ragel! Di lapangan indoor voli. Kak Ragel nyaris bunuh si Reno yang sok ganteng itu!!"


"Serius? Wah, nggak boleh ketinggalan nih!!"


Olivia menatap kepergian adik kelas dan teman seangkatannya itu. Hingga menghilang di belokan.


Mengerjapkan mata beberapa kali. Olivia langsung membulatkan mata, menyadari apa yang di bilang orang-orang tadi.


Ragel ... astaga!!


Olivia harus segara kesana. Sebelum nyawa korban melayang.


***


Menatap Ragel dengan kesadaran yang hampir hilang. Napas cowok itu memburu, menyenderkan kepalanya di dinding.


"Bang, lo sendiri yang bilang ..." Cowok itu mengambil napas secara perlahan. Dia sudah tidak kuat lagi. Bahkan badannya remuk semua. "... waktu kak Oliv di bully. Lo bilang, jangan ngelakuin hal yang nggak manusiawi. Saat kak Sinta nyaris bikin kak Oliv sengsara," ujar cowok itu terbata-bata. Sesekali dia batuk dan mengeluarkan cairan merah segar dari mulutnya.


Sial! Sepertinya dia akan mati sekarang.


Ragel diam, mengeratkan ganggang pisau cutter di tangannya. "Itu beda," ucap Ragel tersenyum simetris. "Gue ngelakuin itu karena ak--"


Matanya membulat, seakan mengancam Ragel kalau-kalau cowok itu nekad membunuh adik kelas nya sendiri. Padahal nyali Olivia sudah menciut duluan.


Ragel kaget, tapi dengan cepat cowok itu memasang wajah datarnya. Seolah dia tak bersalah dan tak terjadi apa-apa.


"Lo gila atau gimana sih Gel?! Lo pikir dengan lo membunuh orang yang sudah membuat masalah. Ide yang bagus, hah?! Lo pikir dengan lo bunuh orang, maka masalah clear gitu aja? Enggak!! Yang ada malah makin nambah masalah, Ragel bego!!" bentak Olivia tanpa rasa takut, pancaran wajah gadis itu terlihat ketakutan. Tapi ini demi nyawa seseorang.


Kalau dia telat sedetik saja. Pasti, sangat di pastikan. Satu nyawa melayang di tangan Ragel.


"Lo bisa ngelaporin tindakan dia sama bokap lo. Atau lo bisa langsung ke pihak yang berwajib. Jadi lo nggak perlu menyelesaikan masalah sampai tangan kotor," lanjut Olivia. Menatap wajah Ragel yang datar.


Olivia tersenyum tipis. Napasnya memburu, bahkan detak jantungnya tak karuan. "Lo mau di pandang jelek sama orang-orang disini? Lo mau bikin mental orang langsung down? Lo juga mau, semua orang memandang lo dengan tatapan penuh hina, terus di jadiin bahan gosip tujuh turunan?" tanya Olivia bertubi-tubi.


Gadis itu mengedikkan bahu. Menoleh pada orang-orang yang kini sedang menonton mereka. Olivia ... sudah biasa diperlakukan seperti itu. Tapi bagaimana dengan Ragel?


"Lo mau, hm? Disebut psikopat parah sama orang-orang?" tanya Olivia lagi.


Olivia masih tetap di tempatnya dengan posisi yang sama. "Kalau lo ada masalah, lo bisa kasih tau ke gue atau bokap lo. Apa guna lo jadi anak kepala sekolah, kalau masalah beginian aja. Tangan lo yang bersih, harus kotor karena membersihkan masalah? Lo jangan berpikir pendek Gel. Ada banyak solusi di setiap masalah, gue yakin lo pasti ngerti."


Ragel masih tetap diam. Menatap manik hitam Olivia yang penuh ketakutan itu datar. Secara perlahan, pisau cutter yang ada di tangannya jatuh hingga berdenting mengisi suara di lapangan itu.


Dan secara bersamaan, Olivia ikut jatuh terduduk. Dengan napas lega yang masih memburu. Kakinya rasanya seperti jeli. Olivia bahkan tidak kuat untuk berdiri. Nyali nya langsung down seketika.


Dia berhasil kan? Dia berhasil menyelamatkan satu nyawa yang nyaris melayang, kan?


Olivia kaget setengah mati. Saat Ragel dengan tiba-tiba menangkupkan tangannya di pipi Olivia. Mengangkat wajah bulat itu. Hingga pandangan mereka bertemu.


"Sori."


Satu kata itu, memiliki makna yang berjuta-juta.

__ADS_1


"Nggak perlu minta maaf ke gue. Lo harus minta maaf sama diri lo sendiri, ngerti?" Olivia tersenyum manis. Tatapannya melunak hanya untuk Ragel.


Mungkin untuk kali ini. Gadis itu akan selalu ada disamping Ragel dan menjadi pendengar setia Ragel.


Tatapan mata Ragel melunak. Mengangguk pelan. "Makasih," Ragel menggeleng pelan. "Gue nggak tau mau ngomong apa. Intinya makasih," ucap Ragel tiba-tiba.


Olivia menganggap dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya. Menggenggam tangan besar Ragel di pipinya.


"Iya, sama-sama."


***


Waktu yang paling Olivia sukai di sekolah hanya satu. Waktu yang juga banyak diminati siswa-siswi di seluruh dunia.


Iya, waktu pulang.


Denting suara bel pulang yang terdengar merdu di telinga siswa-siswi, adalah kegemaran yang paling surgawi di dunia sekolahan.


Gadis yang sedang memasukkan buku-bukunya itu ke dalam tas. Langsung menyandangnya. Menghela napas pendek.


Setelah tadi menjadi saksi di ruang kepala sekolah karena ulah Ragel. Olivia buru-buru datang ke kelas ketika jam terakhir berbunyi.


Sudah 2 jam lama nya dia dijadikan bahan interogasi oleh kepala sekolah.


Olivia lelah, rasanya ingin cepat pulang. Istirahat sebentar, lalu menjajakan kerajinan yang dia buat keliling ibu kota dengan sepeda keranjang miliknya.


Saat kaki lemah itu menginjakkan kaki di depan pintu kelas. Olivia terdiam melihat guru PL juga baru nongol dari balik belokkan.


Saga, guru PL yang menjadi idaman para siswi disini. Tiba-tiba datang tepat di depannya. Dengan pakaian rapih dan tas ransel laptop yang tersandang di punggung tegap nya.


"Eh, Olivia!" sapa Saga ramah.


Olivia tersenyum seraya mengangguk sekali. "Pak! Mau pulang?" tanya Olivia basa-basi.


Saga membalas senyum Olivia. "Iya. Kamu sendiri baru pulang? Padahal udah setengah jam lalu bel pulang bunyi."


"Ah ..." Olivia menggaruk pipinya yang tak gatal. "Saya anu ... kalau pulang emang setengah jam setelah bel pulang bunyi. Biasa pak, menikmati lorong sepi yang hanya ada kita sendiri disini," jelas Olivia cengir.


Saga terkekeh kecil. Paham dengan maksud muridnya ini.


"Iya-iya saya ngerti. Emang sih, kalau jalan sendirian tanpa ada orang. Rasanya kita menemukan diri kita. Daripada jalan sendirian tapi ramai. Diri kita rasanya menghilang di telan bumi, ya kan?"


Olivia mengangguk semangat. "Bapak tumben pulang jam segini. Biasanya saya liat, bapak pulang jam 5 sore?" tanya Olivia.


Saga terdiam. Menoleh pada Olivia di sampingnya. Hanya derap langkah mereka berdua yang menjadi nada di lorong ini.


"Kamu ... tau jam berapa saya pulang?" tanya Saga menyelidik maksud arti kata Olivia tadi.


Olivia membulatkan mata. Menggeleng pelan, seolah pertanyaan Saga tidak ada jawabannya. "Enggak kok pak. Kan saya bilang, saya kadang emang suka pulang lama. Bahkan jam 5 sore saya baru pulang," jelas Olivia.


Jujur, gadis itu takut ketahuan oleh Saga. Kalau dia adalah stalker Saga juga.


Saga mengangguk sekali. "Tadi tugas saya menilai uh kalian udah selesai. Jadi saya rasa, mending saya langsung pulang saja. Kangen kasur soalnya," ucap Saga terkekeh kecil.


Olivia ikut terkekeh. Sesekali matanya melirik wajah Saga yang juga terkekeh. Tampan sekali.


"Oh iya, bagaimana masalah Ragel sama si Reno. Udah beres?" tanya Saga tiba-tiba.


Olivia sontak kaget. Dia seperti tertangkap basah memerhatikan guru nya sendiri.


"Hm ... anu pak, udah," ucap Olivia gugup.


Saga mengangguk. Langkah mereka terhenti di depan parkir. Saga berbalik menghadap Olivia sepenuhnya. Sedangkan Olivia sudah menahan napas lebih dulu.


"Kamu pulang sama siapa? Mau bareng saya?" tawar Saga baik-baik.

__ADS_1


Olivia ingin buka suara. Tapi sialnya, suara berat nan dingin yang paling dikenali Olivia muncul seperti hantu jelangkung.


"Pacar saya pulang sama saya."


__ADS_2