
Semua orang pasti ingin memiliki banyak teman. Tidak, seenggaknya mempunyai satu teman saja sudah lebih dari cukup. Hanya satu teman, karena dengan satu teman. Semuanya bisa dilakukan, bukan?
Iya, semuanya bisa dilakukan. Berbagi cerita, jalan-jalan bareng, beli ini dan itu, lalu tertawa bersama-sama dibawah senja.
Ah, itu benar-benar salah satu mimpi Olivia yang ingin dia wujudkan.
Tapi sayangnya, Syera ... sepertinya dia tidak mau berteman dengan dirinya lagi.
"Sye!" panggil Olivia.
Syera berhenti, cewek berambut gelombang itu mengepalkan tangannya erat. Syera enggan untuk berbalik. Menunggu kata apa yang akan di lontarkan Olivia.
Jujur, gadis itu ingin sekali bisa berteman lagi dengan Olivia. Tapi disisi lain, Syera ... takut.
Ada beberapa ketakutan yang nggak bisa dia ungkapkan.
"Lo ... masih mau berteman sama gue kan?"
Deg!
Syera masih diam tak bergeming. Bahkan menoleh ke belakang hanya untuk melihat Olivia sebagai temannya saja tidak.
"Sye! Lo beneran masih nganggap gue teman kan?" tanya Olivia sekali lagi.
Kali ini nada suaranya benar-benar berharap. Kalau Syera masih menganggap dirinya teman. Walau Olivia tau, Syera pasti lebih memilih teman-temannya yang lain. Yang lebih istimewa di banding dirinya.
Syera semakin mengepalkan tangannya erat. Gadis itu menghela napas panjang. Sebelum kalimat yang dia putuskan terucap.
"Sejak kapan, gue sama lo temenan Liv?" tanya Syera balik. Menoleh ke belakang, alis gadis itu naik segaris.
Olivia tercekat, tersenyum hambar menatap Syera tak percaya.
"Lo ..." Olivia tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu rasanya ingin nangis saja. "Enggak, lo pasti nganggap gue teman kan Sye? Iya kan? Setidaknya teman, gue nggak berharap lebih sampai ke kata sahabat Sye!"
Syera membuang muka, helaan napas kasar terdengar dari mulut gadis cantik itu. Senyum devil seperti senyum teman-teman Laura dia tunjukkan di depan Olivia.
"Hello Oliv, sejak awal gue kenal elo. Nggak pernah terbesit sedikitpun di hati gue, untuk jadi teman lo. Begitupun sebaliknya. Harusnya lo sadar itu. Jangan mudah kena tipu deh lo!" sindir Olivia. Nada suaranya dibuat se-menjijikkan mungkin.
Seolah-olah dia meremehkan kata-kata Olivia. Padahal hati gadis itu sudah lebih dulu sakit. Karena harus merelakan seorang teman yang lebih mengerti dirinya dibanding yang lain.
Olivia membulatkan mata tak percaya. Melangkahkan kaki mendekati Syera. Tapi Syera lebih dulu mengisyaratkan untuk tetap di posisi yang sama.
"Jangan dekat-dekat sama gue. Lo ... nggak pantes jadi temen gue!" ucap Syera datar.
"Nggak Sye, lo lagi akting kan? Lo lagi ngapalin teks buat drama elo kan? Atau lo lagi menghayati salah satu lagu, supaya nanti pas audisinya di mulai. Nyanyi lo feel nya dapet kan? Iya kan Sye?!"
Napas Olivia memburu, bahkan gadis itu memainkan buku-buku jarinya. Berharap apa yang dia katakan benar. Berharap Syera hanya sekedar akting atau berbagai hal.
Iyah, harusnya begitu.
Syera tersenyum sinis. Menunjuk wajahnya sendiri, lalu membulatkan matanya lebar. "Apa gue terlihat sedang berakting, Liv? Lo kira, lo tau semua tentang diri gue? Tentang kehidupan gue? Bahkan keluarga gue? ENGGAK LIV! LO NGGAK TAU APA-APA!!!" bentak Syera. Napasnya memburu, menatap Olivia campur aduk.
"Lo nggak tau apa-apa Liv. Nggak tau apa-apa tentang gue, si manusia suram ini!! Dan asal lo tau ..." Syera tersenyum lebih mengerikan lagi. Seolah dia pelakunya. "Gue temenan sama lo. Itu cuman manfaatin elo nya aja. Cuman supaya gue dapat nilai tinggi. Supaya papa gue nggak marah-marah lagi ke gue, puas?!!"
Olivia kembali tercekat. Menggigit bibirnya tak percaya. "Nggak! Lo boleh manfaatin gue lebih dari ini. Lo boleh manfaatin gue Sye! Tapi tolong, jangan hindarin gue. Selama kaki gue menginjak sekolah. Nggak ada seorangpun yang mau berteman sama gue."
Olivia menggeleng masih tak percaya. Melangkah mendekati Syera. Berharap Syera mau menganggap dirinya ini teman lagi.
"Elo! Elo satu-satunya orang yang mau ngomong sama gue. Elo satu-satunya yang bahkan nggak malu kalaupun gue miskin. Dan elo juga--"
__ADS_1
"LIV!! GUE NGGAK PANTAS JADI TEMAN LO! DAN LO JUGA NGGAK PANTAS JADI TEMAN GUE!! JADI ..."
Syera menghempas tangan Olivia kasar. Menatap temannya itu sinis.
"Nggak usah kenal gue lagi dan jangan dekat-dekat gue lagi!"
Syera berlalu begitu saja. Meninggalkan Olivia yang bergeming di tempatnya. Menatap punggung temannya hingga menghilang.
Olivia ... masih tak percaya. Kalau hubungan pertemanan dirinya dan Syera, sejauh itu.
***
Ragel mengulurkan kaki panjangnya. Hingga Syera yang lewat di tempatnya nyaris terjatuh.
"Puas banget kayaknya lo bikin orang sakit hati? Masih punya muka ternyata, bikin orang semakin jatuh ke jurang yang lo buat sendiri," sinis Ragel. Bersedekap dada, berlalu melewati Syera.
"Benalu! Harusnya elo itu nggak usah disini. Dasar parasit!" hina Ragel.
Syera terdiam beberapa saat,lalu berbalik langsung menarik kerah belakang seragam sekolah Ragel. Dengan cepat, gadis itu menampar pipi Ragel.
Tapi Ragel menahan tangan mungil itu kuat. "Oh, ternyata si benalu punya keberanian buat nampar gue? Hebat banget lo!"
Ragel menghempas tangan itu kasar. Menunjuk Syera. "Lo itu ... emang nggak pantas punya teman sebaik Olivia!!"
"Apa peduli lo?! Mau gue pantas atau nggak jadi teman Oliv. Itu nggak ada hubungannya sama lo!!" bantah Syera sama dinginnya.
"Hah!" Ragel menghela napas kasar. Menampakkan senyum mengerikan yang dia miliki. "Apa peduli gue? Perlu lo tau peduli apa gue sama temen lo itu? gue rasa lo nggak perlu tau. Karena elo, nggak pantas untuk tau!"
"Lo--"
"Apa?" potong Ragel cepat. "Gue udah cukup puas mendengar penghinaan dari mulut kotor Papa lo. Jangan cari masalah atau nambah masalah lagi. Atau lo tau akibatnya, Syera Rahmania!!"
Syera terdiam mendengar ancaman Ragel yang tak main-main. Gadis itu, rasanya ingin menghilang saja.
Apa Tuhan lebih suka menguji dirinya yang lemah ini?!
Syera frustrasi, Syera rasanya ingin kabur saja dari dunia yang penuh dengan orang-orang kejam.
"Lau, kenapa lo masih aja bully Oliv. Dia itu nggak salah apa-apa."
Laura berbalik, tersenyum sinis menatap Syera.
"Lo tau Sye? Olivia itu cocok jadi objek bully gue. Dia miskin, semua yang melekat yang di badannya itu. Harga nya murahan, mungkin saja sumbangan atau bekas dari orang lain. Salah dia sendiri, kenapa harus sekolah di tempat orang kaya yang jelas-jelas berbeda darinya yang level bawah," ujar Laura melangkah mendekati Syera.
Menekan pipi Syera hingga mulut mungil Syera seperti ikan koi.
"Lo cantik Sye. Tapi sayang, hubungan tunangan elo sama Ragel harus berhenti gitu aja. Padahal hampir satu bulan kan, kalian tunangan? Tapi secepat itu Ragel ninggalin elo."
Laura menepuk kedua pundak Syera pelan. "Sekarang harusnya posisi itu, punya gue bukan? Harusnya gue yang jadi tunangan Ragel. Lo kira, setelah elo dan Ragel putus gitu aja. Gue bakalan nyerah? Enggak. Walau Ragel berkali-kali nolak gue ..."
Laura membulatkan matanya. "Gue juga akan buat orang yang dekat sama dia. Mengalami hal yang sama seperti gue. Dan untungnya elo, mau jadi bawahan gue, anak pintar!"
"Tapi Lau, bukan berarti elo harus bully Oliv. Oliv itu nggak salah--"
"Dia salah, dan dia patut mendapat apa yang dia perbuat," potong Laura cepat. Memainkan kuku-kuku cantiknya.
"Jangan bully Oliv lagi. Gue mohon!" pinta Syera sungguh-sungguh.
"Heh, Syera! Sekalipun elo mohon sampai sujud di kaki cantik gue. Gue nggak bakalan kabulin. Kecuali elo, memutuskan sendiri untuk mengakhiri pertemanan konyol lo itu!!" bentak Laura berlalu begitu saja.
__ADS_1
Syera menjerit seraya menarik rambutnya. Dia frustrasi, bagi Syera kehidupan yang dia idam-idamkan sudah mati.
Syera tidak tahu, harus bagaimana menyikapi kehidupan suramnya ini.
***
Ragel berdiri di depan pintu kelas, menatap Olivia yang masih diam di tempatnya. Wajah gadis itu tertunduk sambil memainkan buku-buku jarinya.
Ragel menghela napas, melangkah menghampiri sang pacar. Meraih tangan Olivia, menggenggamnya erat.
Olivia meluruskan pandangannya. Menatap Ragel dingin.
"Putusin gue, Gel!" pinta Olivia pelan.
Ragel menghela napas panjang. Menatap Olivia sama dinginnya. "Sekuat itu hati lo buat putus sama gue?"
Olivia mengangguk mantap. Melepas tangannya dari genggaman tangan Ragel.
"Gue ... gue ... hiks hiks, gue nggak mau. Gue nggak mau kehilangan orang yang paling berharga untuk kedua kalinya. Gue ... gue ... gue benci Gel! Gue benci di tinggal sendiri. Gue benci!! Gue benci ngingkarin janji. Gue benci!!!" racau Olivia terduduk lemas. Menutup wajahnya, air mata terus keluar dari sela-sela jari gadis itu.
Ragel diam, menatap Olivia yang menangis tanpa henti di bawahnya. Cowok itu berjongkok, menegapkan bahu Olivia. Hingga mata mereka saling bertemu.
"Gue nggak bisa," jawab Ragel pelan.
Olivia membulatkan matanya yang basah. Memukul dada Ragel sekuat tenaga.
"Kenapa nggak bisa?! Kenapa lo harus ada di bagian hidup gue?! Lo mau nyiksa gue lebih dari ini, hah?! Ragel, gue mohon ... hiks hiks ... jangan siksa kehidupan tentram gue!!"
Olivia terus memukul dada Ragel sekuat tenaga. Gadis itu terus menangis sesenggukan. Mencengkram erat seragam sekolah cowok itu.
"Gue mau putus. Apa sesusah itu lo buat putusin gue. Apa sesusah itu lo ngomong putus di depan gue Gel?! Oh, mungkin lebih mudah saat lo nembak gue, lalu bikin gue semakin tersiksa lebih dari ini, iya?!"
Ragel menggeleng, memeluk Olivia erat. Walau terus memukul dada nya berkali-kali dan semakin memberontak. Cowok itu tetap memeluk pacarnya erat.
"Gue punya alasan. Gue ... nggak berniat sedikitpun untuk nyiksa elo Livia," ucap Ragel pelan.
Olivia mendongak, menatap Ragel dari bawah tajam. Tangannya mengepal kuat.
"Kasih tau gue alasan elo," ucap Olivia lugas.
Ragel tersenyum tipis. Menatap mata Olivia yang basah. "Harus berapa kali gue bilang. Gue bakalan jawab," ucap Ragel.
Olivia berdecih, membuang muka kesal. "Setelah satu bulan kita pacaran? Iya? LO JAHAT GEL!!"
Olivia langsung memukul dada Ragel kuat. Lalu pergi meninggalkan cowok itu.
Olivia, terlanjur sakit hati. Ragel itu ... tega sekali dirinya. Menyiksa Olivia secara batin tanpa terlihat.
Ragel terdiam, memegangi dadanya yang di pukul Olivia sekuat tenaga. Memang tidak sakit bagi Ragel.
Tapi entah kenapa, tiga kata terakhir yang Olivia lontarkan. Begitu sakit.
"Gue emang jahat Livia. Bahkan lebih dari yang lo bayangkan."
***
Hai kalian!๐ Apa kabar? Moga baik-baik aja yah๐ oh iya, akhir tahun ini kalian mau kemana? Jalan-jalan? Atau tetap stay sama mas kasur sambil baca My Psikopat Boyfriend? Wkkwkwkwkwk ๐คฃ
Acha kasih note di part ini sekalian nyapa kalian. Hehehe, soalnya pengen aja gitu ngobrol lewat note kan yah. Biasanya kalau di apk sebelah Acha selalu kasih note nggak jelas๐ญ
__ADS_1
Btw, gimana sampai part ini? Suka? Acha harap kalian suka yah. Oh iya, jangan lupa ambil hikmah di setiap part nya yah
Sayang kalian banyak-banyak ๐