MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
25. Puzzle yang Hilang


__ADS_3

Olivia menatap batu nisan di depannya itu lekat. Perlahan, setetes air mata turun membasahi pipi gadis itu. Seiring Olivia terduduk diatas tanah, menangis tersedu-sedu.


Meratapi nasibnya yang begitu malang.


"Kenapa bang? Kenapa hidup jadi orang miskin sesakit ini?! Salah ya bang, kalau Tuhan mentakdirkan kita jadi orang tidak mampu? Apa salah di mata manusia yang memandang kita rendah?!"


Olivia terus menangis tersedu-sedu, napasnya naik turun bak rollercoaster.


"Kenapa rasanya, skenario yang di buat sutradara terbaik. Harus menakdirkan Oliv jadi menyedihkan begini bang?! Harusnya ... harusnya ... hiks hiks!"


Olivia menggelengkan kepalanya kuat. Mengepal tangannya sekuat tenaga. Berusaha menenangkan diri sendiri.


"Bang Gilang, Oliv mau Abang balik. Oliv mau Abang ada disini. Oliv mau abang selalu ada disamping Oliv," pinta Olivia.


Napas nya masih naik turun, menggenggam gundukkan tanah itu erat.


"Oliv tau, Oliv tau Oliv salah! Harusnya Oliv dengar kata-kata bang Gilang kan? Harusnya Oliv tahan emosi dan nggak ngelanggar janji itu kan bang. Bang Gilang! Masih ada kesempatan untuk Oliv kan! Masih kan bang?! Kalau masih, Abang balik bang! Balik!!" pekik Olivia menundukkan kepalanya hingga bersentuhan dengan tanah.


Gadis itu menangis histeris, kembali memohon agar Gilang kembali di sisinya.


"Oliv capek bang. Oliv capek ngadepin mereka yang selalu ngejek Oliv. Rasanya Oliv ingin menghabisi mereka semua. Rasanya Oliv ..."


Olivia tercekat saat seseorang memeluknya dari samping erat. Sangat-sangat erat, hingga gadis itu merasakan kehangatan di dada bidang milik Ragel.


"Sstt, lo boleh capek. Tapi lo nggak boleh berpikiran untuk menghabisi mereka. Satu nyawa melayang, satu masalah datang. Bukankah itu yang lo bilang pada gue, hm?"


Ragel masih memeluk Olivia dari samping. Sakit rasanya melihat seorang cewek menangis sendirian disini. Tidak ada tempat mengadu, tidak ada tempat untuk berlindung.


Mungkin ada, tapi Ragel yakin. Olivia nggak mau membuat ayah dan ibu nya khawatir padanya.


"Hey, lo tau Liv? Melihat seorang gadis menangis terisak-isak sendirian disini. Rasanya sangat-sangat menyakitkan. Rasanya seperti di cabik-cabik. Menyiksa banget," ujar Ragel lirih.


Olivia diam, napasnya masih memburu. Tak percaya kalau Ragel memeluknya begitu erat. Menenangkan dirinya, padahal Ragel sama sekali nggak akan peduli dengan masalahnya.


Sementara Ragel menatap lamat nama batu nisan disana. Gilang Dwiguna.


Cowok itu mengernyitkan dahi. Entah kenapa, dia teringat akan satu nama yang diucapkan polisi Austria 5 tahun yang lalu.


"Tidak ada saksi mata yang bisa kita jadikan bukti. Bahwa anak bapak dijadikan kambing hitam oleh pelaku sebenarnya," ujar polisi tersebut lugas.


Ragel yang berumur 12 tahun menggeleng kuat. Tatapannya menyorot kosong, tangannya masih tremor.


Kejadian menyedihkan yang terjadi dalam hidupnya tadi pagi seolah mimpi buruk dan Ragel berharap dia terbangun dari mimpi buruk itu.


"Pak, nggak mungkin anak saya menembak segitu banyaknya orang. Dan nggak mungkin juga dia menembak ibunya sendiri. Dia masih kecil Pak. Ah, bukan, dia bahkan tidak akan berani melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan anak umur 12 tahun seperti dia," sangkal pak Tama.


Dia yakin, anak laki-laki satu-satunya. Putra sulung yang menjadi pewaris nya nanti, nggak akan berbuat sejahat itu.


Walau Ragel kadang memang nakal. Tapi tetap membatas dirinya. Walau kadang memang anak laki-laki itu suka ingin tahu sama segala hal.


"Saya mengerti," ucap polisi tersebut. "Saya bukan menyalahkan anak bapak atau bagaimana. Tapi pihak polisi sedang mencari barang bukti dan itu benar-benar sulit sekarang. Cctv yang ada di bank itu, semuanya rusak dan mungkin saja satu cctv di restart ulang sama pelaku sebenarnya dan juga satu orang yang baru saja masuk ke bank pada waktu kejadian. Seharusnya korban yang bernama Gilang Dwiguna. Bisa dijadikan bukti kuat untuk sementara. Tapi sayangnya dia lebih dulu meninggal sebelum kami tanyakan lebih lanjut."

__ADS_1


"Arrghhhhh!!"


Ragel memekik keras, menutup telinga sekuat tenaga. Sorot matanya semakin kosong, saat telinganya terus saja berdenging dengan suara tembakan pistol yang mengisi ruang suara di telinganya.


"Hei, Ragel!" Pak Tama berusaha untuk menenangkan anak laki-lakinya.


Tapi Ragel malah lebih Tremor. Apalagi Ragel mengingat kembali kata-kata yang diucapkan pelaku sebenarnya.


"Anda tembak saya. Dia juga akan ikut tertembak," ancam sang pelaku.


Arah pistol itu sudah berada disisi orang yang akan dijadikan korban terakhir.


Dan pistol ditangan Ragel bersiap untuk menembak pelaku sebenarnya. Ragel tak punya pilihan lain, selain satu-satunya cara untuk mengakhiri nyawa sang pelaku sebenarnya.


Dor!


"Arrghhhhh!!"


Ragel kembali memekik keras. Semakin menutup rapat telinganya. Seluruh tubuhnya Tremor, dia tidak bisa menguasai diri lagi.


"Ragel!" Pak Tama berlari menyusul Ragel yang berlari begitu saja.


"Anda mengambil langkah yang salah, tuan muda."


Ragel menghela napas panjang. Mengepalkan tangan kanannya yang bebas sekuat tenaga. Tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi cowok itu.


"Hai bang!" sapa Ragel pelan.


Kenapa Ragel baru menyadari, kalau gadis yang beberapa hari terakhir ini. Memiliki Abang yang merupakan salah satu korban dari si pelaku sebenarnya.


"Gue Ragel," Ragel tersenyum tipis menatap batu nisan tersebut. "Pacar Olivia, adek lo," lanjut cowok itu.


Ragel mencoba untuk bersikap tenang. Padahal dirinya sudah lebih dulu Tremor karena mengingat kejadian 5 tahun lalu.


Ragel mengurai pelukannya. Merangkul pundak Olivia agar tidak jauh-jauh darinya.


"Gue ... minta maaf karena macarin adek lo tanpa izin lo terlebih dahulu. Gue juga ..."


Ragel terdiam beberapa saat. Melirik Olivia yang sedang menatapnya polos.


"Gue bakalan jaga adek lo baik-baik. Tapi sori, gue nggak bisa janji. Karena akan percuma ..." Ragel tersenyum sendu. Mengusap batu nisan itu pelan. "Tapi gue akan berusaha untuk buat adek lo bahagia dan baik-baik aja. Mau itu berkali-kali, atau sampai beribu kali. Gue akan berusaha untuk buat adek lo bahagia dan baik-baik aja, bang."


Olivia menatap Ragel bingung. "Kenapa lo nggak langsung janji aja? Sesusah itu ya, bilang janji?" tanya Olivia.


Ragel menatap Olivia. Tersenyum segaris pada gadis itu.


"Percuma, karena pada akhirnya. Janji tetap janji dan langgaran tetap akan dilanggar. Karena itu, gue bilang nggak bisa janji. Tapi gue akan berusaha," jawab Ragel lugas.


Olivia masih diam, menatap manik hitam cowok itu. Olivia menghela napas panjang. Menatap gundukan tanah itu lekat. Sekali lagi, setetes air mata membasahi pipinya.


Olivia mengusapnya secepat mungkin. Gadis itu mencabut rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh dia sekitar makam Abangnya.

__ADS_1


"Bang Gilang, makasih. Oliv ..." Olivia menghela napas panjang. Rasa nyeri dan sakit bersatu. Apalagi sekarang, orang yang sangat-sangat Olivia hindari malah ada disampingnya.


Olivia tersenyum simpul. Gadis itu segera berdiri lalu pergi begitu meninggalkan Ragel.


Ragel menatap punggung kecil Olivia hingga menjauh. Cowok itu menghela napas panjang.


Sebelum Ragel benar-benar pergi. Cowok itu berucap sesuatu di makam Gilang.


"Sori bang. I'm really sorry."


***


"Livia!" Ragel terus mengejar Olivia yang hampir masuk angkot.


Dengan cepat, Ragel menggapai tangan mungil itu. Lalu menarik nya hingga Olivia berbalik menghadapnya.


"Sori mas. Nggak jadi," ucap Ragel.


"Apa? Lo mau bilang apa ke gue? Mau bilang gue bakalan baik-baik aja di dekat lo, iya?" tanya Olivia menantang.


Cukup dia mendengar kata-kata manis buaya nggak guna seperti itu. Janji memang tetap janji. Tapi apa sesusah itu bilang janji?


Kalau hanya untuk membuat Olivia baik-baik saja. Oke, Olivia bahkan bisa membuat dirinya baik-baik saja tanpa ada nya Ragel.


"Gue bener-bener jagain lo--"


"KALAU LO BENER-BENER JAGAIN GUE. PUTUSIN GUE SEKARANG JUGA! KARENA HANYA DI DEKAT LO. MASALAH YANG AWALNYA HANYA SEKEDAR EJEKAN KARENA GUE MISKIN. JADI MEREMBET KEMANA-MANA!" bentak Olivia melepas tangannya dari genggaman Ragel.


"DAN GUE NGGAK MAU BERURUSAN SAMA MASALAH LO. APAPUN ITU, MAU LO PERNAH TUNANGAN SAMA SIAPAPUN. GUE NGGAK PEDULI!! YANG INTINYA SEKARANG, GUE MAU KITA PUTUS!!"


Ragel membulatkan matanya, menggeleng pelan. "Lo bercanda. Gue nggak akan ngelepasin elo begitu aja. Nggak akan," kukuh Ragel.


Olivia berdecih pelan. Membuang wajah kesal. "TERSERAH ELO GEL! TERSERAH! GUE NGGAK PEDULI LAGI. MUAK GUE!!"


Olivia langsung berlari meninggalkan Ragel. Berharap cowok itu tidak lagi mengejarnya.


Ragel menghela napas panjang. Mendongakkan kepala, menatap langit abu-abu diatas sana.


"Sangat jelas, kalau cerita ini. Hanya gue yang dijadikan tokoh antagonis terkuatnya."


****


Hey hey gais! Jangan salahkan Ragel disini😭


Serius, sori Gel. Acha bener-bener minta maaf. Terlalu banyak masalah disini.


Hey kalian semuaaa👋 yuk bisa yuk, jangan ngehujat Ragel aja. Dukung dia sekali-sekali yah😭 nangis lho Acha nya, nangis 😭😭😭


Oke, kira-kira sampai sini. Ada yang tau kata kunci nya lagi? Pasti ada. Jelas banget itu lho.


Kira-kira kapan akan terungkap? Setelah yang satu iniiiiiii🎙️🎤 tetap stay beberapa hari lagi yaw teman-teman Acha semuaaaaaaa 💞

__ADS_1


See youuuu and pay pay🌬️


Nangis kejer deh😭😭😭😭😭😭😭😭


__ADS_2