MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
33. Berbelanja


__ADS_3

Olivia berkedip sekali saat motor Ragel berhenti tepat di depan supermarket yang tak jauh dari rumah Olivia.


"Lo ... tukar rumah Gel?" tanya Olivia masih menatap supermarket itu lekat. "Ah! Atau lo nipu gue. Bilang kalau lo anak kepala sekolah, iye?"


Olivia membulatkan matanya menatap Ragel meminta jawaban. "Wah, wah! Kalau lo anak dari ekonomi rendah. Nggak usah malu-malu bilang ke gue. Gue ikhlas--"


"Bawel lo!" potong Ragel cepat. Mengambil ponselnya, lalu mendekatkannya pada telinga Olivia.


"Hai calon mantu papa! Anak pinter dari sekolah papa yang telah membanggakan sekolah dan papa terkhususnya. Bukan kamu ya Gel!"


Olivia mengernyit mendengar vn dari Pak Tama. Menatap Ragel dengan pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Papa gue kirim vn sama gue tadi--"


"Sori banget yah, papa nggak maksud nyuruh atau ngelepasin tangan gitu aja. Papa ada pekerjaan yang sangat urgent dan memang perlu diselesaikan sekarang juga."


Suara Pak Tama yang memotong gerakan mulut Ragel. Membuat cowok itu merotasi matanya malas.


Dasar Papa!


"Jadi ... emmm, kamu sama Ragel aja dulu yah. Maksud Papa, biar Ragel yang masak. Nah kemungkinan Papa akan pulang jam 8. Semoga papa bisa tepat waktu dan ketemu sama calon mantu!"


"Pay pay! Inget ya Gel! Kamu yang masak. Bukan Olivia!"


Hmph!


Olivia menahan tawa nya. Mendengar suara kepala sekolahnya sendiri yang sangat jauh berbeda dengan di sekolah.


Penuh wibawa, tegas, dan dingin. Definisi kepala sekolah yang sebagai mana mestinya. Ternyata memiliki sisi lain yang tidak diketahui murid-muridnya.


Pak Tama benar-benar berbeda dengan yang di sekolah.


"Kenapa lo nahan tawa?" tanya Ragel memerhatikan Olivia.


"Ah, enggak! Pak Tama ternyata punya sisi lain yang berbeda dengan di sekolah," jawab Olivia tersenyum kecil kalau mengingat ucapan Pak Tama.


Sepertinya dia sangat mewanti-wanti Ragel. Kalau-kalau yang masak ternyata Olivia.


"Iya, sisi lain yang menyebalkan!"

__ADS_1


Ragel masuk ke dalam supermarket. Mengambil keranjang belanja berwarna merah dekat kasir. Disusul Olivia dari belakang.


Olivia memerhatikan supermarket yang lumayan besar. Selama gadis itu tinggal di dekat sini, Olivia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di supermarket megah ini.


Karena yang pasti, bahan pokok disini sangat mahal dan akan jauh lebih murah bahan pokok di pasar biasa.


"Pak Tama suka masakan apa?" tanya Olivia menatap Ragel yang memilih ayam di freezer.


"Opor ayam, sambal terasi, sama ..." Ragel berpikir sejenak. Mengingat makanan kesukaan sang Papa. Sambil memilah ayam yang segar. "... ayam panggang?"


Ragel menggedikkan bahu bingung. "Entahlah, gue juga nggak yakin. Makanan kesukaan Papa hampir sama dengan--"


"Dengan siapa?" tanya Olivia mengerjapkan mata bingung.


"Ya ... makanan kesukaan Papa," jawab Ragel memasukkan ayam ke dalam keranjang.


"Eh, bentar Gel!" Olivia segera mengambil potongan ayam lainnya. Dimana hanya paha saja yang lebih dominan.


"Biar gue yang masak. Lo boleh bantu. Asal jangan bikin ribet!" ucap Olivia lugas.


Ragel terkekeh kecil. Mengusap rambut Olivia lembut. "Iya iya!"


"Awas lho, beneran jatuh cinta!"


"Ih, apaan sih lo! Lo aja kali!"


Olivia menghentakkan kakinya. Melangkah meninggalkan Ragel menuju rak sayuran.


"Pak Tama suka sayur apa?"


"Sayur?" tanya Ragel. Olivia mengangguk. "Kangkung? Timun? Acar? Tomat, kentang, wortel? Gue rasa Papa suka semuanya. Asal sayur, asal sehat yang penting makan. Motto hidup sehat Papa yang nggak patut dicontoh."


"Kenapa? Bagus dong, Papa lo suka sayur," ucap Olivia memilah wortel, kentang, dan daun bawang dan seledri.


Rencananya gadis itu ingin buat sayur sup denagn suwiran ayam sebagai topping.


"Makan sayur iya. Tapi yang lemak-lemak nggak ketinggalan," ucap Ragel memerhatikan Olivia yang sedang memilah sayuran.


Dilihat-lihat, gadisnya ini manis juga kalau lagi anteng.

__ADS_1


Olivia mengangguk. Meletakkan sayuran yang sudha di pilih ke dalam keranjang. Sedikit terkejut melihat Ragel yang menatapnya lamat.


"Apa?"


"Apa? Gue cuman ngeliat elo doang," jawab Ragel santai.


"Gue doain kalimat lo tadi berbalik ke elo!" kutuk Olivia seraya memilih santan.


Santan disini kemasannya beda dengan yang di pasar. Pake kotak, ada takaran pas berapa mili. Kualitas terjaga. Harga pun juga bagus:)


"Kalimat yang mana?"


Olivia berbalik, memicingkan mata menatap Ragel kesal. "Awas lho, beneran jatuh cinta! Itu yang lo bilang!"


Ragel terkekeh kecil. "Sama-sama jatuh cinta juga nggak masalah Liv."


"Bodo! Gue nggak denger!"


Olivia segera pergi setelah memasukkan santan sebagai belanjaan terakhir.


Ragel semakin terkekeh melihat Olivia yang salah tingkah. Segera menyusul Olivia yang sudah lebih dulu berdiri di depan kasir.


"Semuanya 320 ribu kak," ucap mbak kasir ramah.


Olivia membulatkan matanya. "Gel! Banyak bener. Bentar, gue kurangin dulu."


Saat Olivia akan mengeluarkan beberapa belanjaan yang mungkin tidak akan diperlukan banyak nanti nya.


Ragel menahannya, menggeleng pelan. Memberikan beberapa lembaran uang merah.


"Kembaliannya kak. Sekalian isi pulsa nya? Kami ada promo--"


"Kakak ganteng nya udah ada yang punya ya mbak. Silakan cari yang lain," potong Olivia tersenyum kecil. Menarik Ragel keluar supermarket sesegara mungkin.


"Lo cemburu?"


"Hah? Cemburu? Ya enggaklah! Mana ada kata cemburu hadir di hidup Olivia--"


"Iya iya, cemburuan!" potong Ragel cepat.

__ADS_1


"Ih, kagak ye Gel!"


__ADS_2