
Olivia melangkah gontai di lorong rumah sakit. Wajah sendu nya terus memikirkan Syera yang terlihat berbeda. Dia seperti dihukum habis-habisan oleh seseorang.
Kenapa semuanya selalu merahasiakan masalah mereka?
"Nak Oliv!"
Olivia mengangkat wajahnya. Mendapati wajah Pak Tama yang nampak bahagia menghampiri dirinya.
"Ada apa Pak?"
"Ragel siuman!" beritahu Pak Tama senang.
Olivia membulatkan matanya lebar. Gadis itu mengangkat wajah pada langit-langit rumah sakit yang berwarna putih itu.
Tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
"Sekarang Ragel dimana Pak?" tanya Olivia dengan mata penuh rasa syukur.
"Lagi di periksa dokter," jawab Pak Tama. "Kamu beli nasi goreng?" tanya Pak Tama melihat bungkus nasi goreng yang ada di tangan Olivia.
Olivia mengangguk kecil. Bingung mau beralasan bagaimana. Olivia takut gurunya ini tidak mau makan makanan pinggir jalan seperti ini.
"Saya rencana mau beli sesuatu di cafe. Karena harganya tak terjangkau dengan kantong. Jadi saya beli nasgor di pinggir jalan aja," ujar Olivia berterus terang. "Ah, kalau bapak nggak suka. Biar saya beli makanan di kantin rumah sakit aja."
Pak Tama tersenyum. "Kebetulan saya lagi pengen nasi goreng di pinggir jalan. Jadi nggak masalah. Nggak perlu yang mahal, yang penting enak."
Olivia mengangguk, tersenyum canggung. Bingung sendiri dengan Pak Tama. Pastinya selera nya berbeda dengan selera Olivia.
Tapi, ternyata Pak Tama fine-fine saja saat dibelikan nasi goreng.
Kriet.
"Keluarga dengan pasien Ragel?" panggil dokter keluar dari ruangan.
"Gimana kondisi anak saya dok?" tanya Pak Tama.
"Kondisi anak bapak baik-baik saja. Syukurlah dia cepat siuman. Dia telah melewati masa kritis nya. Jangan lupa untuk selalu minum obat yang teratur. Agar pasien cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa," ujar dokter tersebut.
"Makasih Dok," ucap Pak Tama. Senyum nya terus terukir di wajahnya.
"Sama-sama Pak. Kalau begitu, saya izin menemui pasien lainnya."
Pak Tama dan Olivia mengangguk. Tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.
"Saya ke bagian administrasi terlebih dahulu. Kamu tolong jaga Ragel ya Nak Oliv," pinta Pak Tama.
"Baik Pak."
Setelah Pak Tama pergi meninggalkan Olivia. Gadis itu melangkah memasuki serba putih itu. Tersenyum manis saat melihat Ragel yang tidak lagi membutuhkan masker oksigen.
__ADS_1
"Hai," sapa Olivia.
Ragel menoleh. Tersenyum kala melihat Olivia melangkah mendekatinya.
Gadis itu meletakkan kantong berisi nasi goreng diatas nakas. Lalu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit.
"Udah mendingan? Ada yang sakit nggak? Atau lo pusing gitu. Soalnya kata dokter, setelah operasi kecil di kepala. Akan ada efek sampingnya," ucap Olivia khawatir. Menggenggam tangan Ragel hati-hati.
"Gue oke Livia. Kenapa lo se-bawel ini? Khawatir, hm?" tanya Ragel. Suaranya agak melemah.
"Iya, gue bawel karena orang yang lagi sakit. Siapa suruh nggak nepatin janji. Udah di bilang langsung pulang!" ketus Olivia mengerucutkan bibirnya.
Ragel terkekeh kecil. Mengangkat tangannya, menyuruh Olivia menunduk.
Olivia menurut. Menundukkan kepalanya pelan. Dengan lembut, Ragel mengusap kepala Olivia penuh sayang.
"Makasih, udah khawatirin gue," ucap Ragel menatap Olivia lagi.
Mata mereka saling menumbuk. Memberikan kehangatan satu sama lain lewat isyarat mata.
"Sama-sama. Lain kali hati-hati. Cuman itu yang gue mau," ucap Olivia tersenyum manis.
"Hm, tapi kayaknya gue butuh elusan lagi di pipi sama di rambut," omong Ragel melirik Olivia. Menggoda gadis itu.
Olivia gelagapan. Melepas genggaman tangannya dari tangan Ragel.
Ragel tertawa kecil melihat Olivia salah tingkah.
***
Olivia menatap dirinya di pantulan cermin yang retak. Dengan setelan sederhana yang dia kenakan. Gadis itu menepuk pipinya sekali. Lalu keluar dari kamar dengan perasaan senang.
Tepat 2 Minggu, Ragel sudah boleh diizinkan untuk keluar dari rumah sakit lebih awal dan Olivia berniat membantu Ragel dan Pak mengemasi barang-barang lalu pulang ke rumah mereka.
"Rapi bener. Mau kemana anak gadis ibu?" tanya sang ibu.
Olivia tersenyum malu. Duduk di samping sang ibu. "Oliv pamit dulu yah buk. Mau bantu Ragel ngemasi barang-barangnya. Soalnya hari ini dia pulang," ucap Olivia.
Ibu mengangguk sekali. Mengelus kepala putri nya lembut. "Hati-hati lho. Pulang nya jangan kemalaman. Kalau ada apa-apa telpon ayah atau nggak ibu, oke?"
"Oke!" seru Syera segera menyalami Ibu. Lalu pamit pergi.
***
Olivia tidak pernah sebahagia ini ketika mendengar kabar seseorang akan keluar dari rumah sakit karena kondisi yang hampir pulih. Padahal seseorang itu bukanlah keluarga Olivia.
Hanya sosok cowok yang selalu mengganggu hari-hari Olivia dan tiba-tiba saja menjadi pacar nya.
Olivia menghela napas. Masuk ke dalam lift. Kedua tangannya memegang erat tali tas yang dia sandang.
__ADS_1
Ragel sudah hampir pulih. Olivia harus memberikan hadiah untuk Ragel. Agar cowok itu senang. Kira-kira, apa yang Ragel suka?
Olivia terus memikirkan hadiah yang cocok untuk Ragel.
Olivia melangkah menuju ruang inap Ragel. Langkahnya terhenti, saat melihat sosok Syera dan keluarganya berdiri tepat di depan ruangan tersebut.
Koper besar milik Ragel sudah ada di luar. Olivia dapat melihat Ragel yang keluar dari kamar inap dengan kursi roda yang dibantu Papa nya.
Olivia mundur selangkah. Lain kali saja. Lain kali saja gadis itu menemui Ragel. Sekalian memberikan hadiah pada nya.
Iya, lain kali saja Olivia.
"Liv!"
Langkah Olivia terhenti. Gadis itu berbalik. Melihat Ragel yang kesusahan mendorong kursi roda. Membuat gadis itu tergerak untuk mendekati Ragel lebih dulu.
"Akhirnya lo datang. Gue khawatir lo nya nggak datang. Gue kira lo--"
"Ragel, jaga kesehatan lo baik-baik yah. Nanti kita ketemu di sekolah dengan kondisi lo yang benar-benar pulih. Gue tunggu," potong Olivia tersenyum manis.
"Lo nggak mau nganterin gue sampai rumah? Nemenin gue di perjalanan menuju rumah?"
Olivia menggeleng pelan. "Gue tunggu lo di sekolah. Sekarang gue pamit dulu. Mau beli hadiah untuk lo dulu," ucap Olivia.
Ragel menatap Olivia lamat. Gadis ini seperti menghindari nya karena kehadiran keluarga Syera.
Ragel mengusap kepala Olivia. Mengerti dengan ucapan gadis nya itu.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa langsung pulang setelah beli hadiah untuk gue. Harus yang bagus," ujar Ragel.
Olivia tersenyum. Mengangguk sekali. "Hm. Tungguin aja hadiah nya."
***
**HOLAAA GAIISSSSSSS!!
MAAF BANGET BARU BISA UP SEKARANG😭🙏
MAKASIH JUGA UDAH SETIA SAMA MPB. ACHA BENER-BENER MINTA MAAF KARENA NGGAK UP-UP MINGGU-MINGGU INI😭😭
SEKALI LAGI, MAAFIN YAH. INTINYA THANKS BANYAK-BANYAK KARENA UDAH SETIA SAMA MPB. DOAIN ACHA NULIS NYA LANCAR TERUS. BIAR NGGAK ADA WRITERS BLOCK.
SOALNYA ACHA SERING STUCK DI SATU TITIK. SETIAP MAU NULIS CERITA.
SANKYUUU JUGA ATAS VOTE DAN KOMENT NYA.
SEKIAN DULU, PAY PAY DI PARY SELANJUTNYA.
SALAM DARI ACHA💓💓**
__ADS_1