
Ini Angga, cowok yang dikenal dengan informasi nya yang sangat mendetail. Bahkan semua orang sampai tercengang, saat Angga mengungkap beberapa rahasia di sekolah ini.
Iya, Angga memiliki bakat yang nggak biasa. Bukan karena orangtuanya salah satunya ada yang menjadi reporter atau mata-mata.
Tapi memang sejak kecil, Angga selalu mencari informasi tentang orang-orang yang akan dia dekati. Atau lebih tepatnya, cowok itu harus lebih waspada pada orang-orang di sekitarnya.
Bagi Angga, informasi mendetail adalah hal utama. Karena Angga sudah lebih dari cukup termakan kata-kata dusta dari orang-orang pendusta juga.
"Kalau lo main asal nyari teman. Lo harus berada diantara dua pilihan yang menakutkan. Mati masuk jurang, atau lo jadi babu mereka selama lo belum di cap sebagai tanda expired berakhir."
Kata-kata itu yang selalu membuat Angga menyadari. Betapa pentingnya informasi, sebelum dirinya bersosialisasi dengan orang-orang.
Angga memang tak sempurna secara fisik seperti cowok pada umumnya. Bukan, Angga bukan cowok cacat. Hanya saja, Angga terlalu biasa untuk cowok seumurannya yang disebut bak dewa Yunani karena ketampanan yang mereka miliki.
Tapi Angga bodo amat. Merasa diri tak sempurna, hanya membuat karakternya terbunuh secara perlahan.
Maka dari itu, cowo bertubuh jangkung yang terlihat biasa itu. Mencoba menerima apa yang dia miliki.
Tapi sayangnya, ke-kepoan yang ada dalam diri Angga tak bisa di hentikan.
Cowok itu ingin mencari lebih tau tentang salah satu guru PL yang sangat digandrungi siswi-siswi SMA Pelita.
Bahkan kehebohannya tak kalah heboh dengan adanya Ragel yang banyak di kagumi siswi-siswi di SMA ini.
Angga duduk tak jauh dari Saga yang sedang menikmati nasi goreng kantin. Cowok itu memerhatikan Saga dari balik buku menu.
__ADS_1
Saga itu ... agak misterius dalam pandangan Angga. Dia lebih suka menyendiri, daripada bersama-sama dengan guru PL lainnya.
"Kalau gue berhasil menemukan satu celah dari Pak Saga. Pasti ini menjadi bahan buat gue untuk mengetahui perkembangan hubungan Ragel sama Oliv selanjutnya," monolog Angga. Cowok itu manggut-manggut sendiri dengan perkataannya.
"Mas Saga kenapa baru sekarang sih ke kantin budhe? Padahal tadi yah, nasi goreng budhe enak banget lho, daripada yang ini."
Wanita setengah baya yang duduk di depan Saga mengamati guru muda itu lekat dengan senyum centil yang biasa dia tunjukkan.
"Ah, saya tadi banyak kerjaan budhe. Tapi nasi goreng yang ini enak juga," ucap Saga tersenyum manis sampai matanya ikut tersenyum juga.
"Aduuuhhh, manis banget senyum mas Saga deh. Pengen budhe ambil terus di pajang di kamar!!" seru budhe lebay.
Saga terkekeh kecil mendengar penuturan budhe yang menurutnya hanya gurauan.
Angga menggeleng pelan. Sudah lebih dari cukup yang memerhatikan Saga hari ini.
***
Angga memerhatikan buku kecilnya. Langkah demi langkah, cowok itu terus berpikir. Untuk apa Angga mencari informasi nggak penting gini?
Untuk apa Angga peduli pada orang lain? Dan untuk apa juga, Angga memerhatikan seseorang yang jelas-jelas baik di mata banyak orang?
"Ah! Bego banget gue!" pekik Angga menarik rambutnya kuat.
"Saya rasa kamu memang rada bego," ucap Saga menatap Angga dengan seulas senyum tipis.
__ADS_1
Angga berbalik, melihat Saga yang ada di depannya dengan satu tangan tenggelam di dalam saku celana.
"Hah, iya pak. Saya memang bego. Sebelas dua belas sama juara satu dari belakang," ucap Angga menyindir diri sendiri.
Saga malah terkekeh kecil melihat tingkah muridnya. Guru PL itu mendekati Angga lalu menepuk bahu siswa nya dua kali.
"Jangan terlalu cepat membunuh kepercayaan diri kamu sendiri. Nggak baik bagi mental kamu nanti nya," pesan Saga masih dengan senyum kecilnya.
Angga mengangguk perlahan. Menatap Saga bingung, bagaimana Saga bisa tau kalau dia mengumpat diri sendiri tadi.
"Saya tadi dari kantin budhe. Ngeliat kamu ngumpat sama diri sendiri. Bikin saya hampir spot jantung. Lain kali, bilang ke diri sendiri. Kalau kamu itu punya potensi sendiri yang nggak ada di orang lain, ngerti?" jelas Saga kembali menepuk bahu Angga sekali lagi.
"Dan juga ..." Saga kembali tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat aneh di mata Angga. "Pertimbangkan dulu untuk mata-matai orang."
Angga membeku. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut cowok itu.
Saga ... bagaimana dia bisa tau. Kalau Angga sedang memata-matai dirinya. Dan juga, senyum aneh itu. Terasa janggal bagi Angga.
...****************...
***Huaaaaaa😭😭
akhirnya bisa up, setelah di paksa buat mikir😭😭 btw iya tau, part ini terlalu pendek. Tapi mo gimana lagi kan yah🌬️ yang penting up dulu😭😭
see you di part selanjutnya, pay pay👋👋💞***
__ADS_1