MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
07. Kesal


__ADS_3

"Lo liat pacar gue nggak?" tanya Ragel menggebrak meja.


Membuat Refki yang baru saja mengunyah bakso tersedak. "Lo--" Refki menelan bakso dalam mulutnya bulat-bulat saat melihat Ragel dengan tatapan horornya.


"Mana pacar gue?!" tanya Ragel lebih ke membentak.


"Gue nggak tau Gel. Tadi gue keluar duluan langsung ke kantor guru. Mending lo nanya ke teman-temannya aja deh. Noh, ada Syera," tunjuk Refki ke arah Syera yang tertawa bersama teman-temannya.


Ragel mengangguk dua kali. Lalu menendang kursi yang ada di seberang Refki hingga jatuh. Berjalan dengan tangan yang tenggelam di saku celananya.


Ragel menendang meja panjang putih itu. Menatap satu per satu orang-orang yang duduk disana. Termasuk Syera.


"Mana Livia?" tanya Ragel datar.


Semua orang yang disana mengernyitkan dahi. Menatap Ragel bingung.


Ragel berdecih. "Maksud gue, pacar gue!"


"Oh, si miskin?" cibir Hani santai.


Prak!


Ragel memukul meja kuat. Menatap Hani horor. Lalu tersenyum kecil seraya memiringkan kepalanya.


"Pacar gue emang miskin. Tapi dia lebih cantik dari elo," sinis Ragel.


Hani terdiam, menatap Ragel takut. "Sori," cicit Hani.


"Jangan ada yang berani sebut pacar gue miskin, ngerti lo semua?!" peringat Ragel. Seluruh orang-orang yang ada di kantin hanya mengangguk patuh.


Ragel kembali fokus pada siswi-siswi tempat dia berdiri. "Gue ulang. Mana pacar gue?" ulang Ragel sekali lagi.


"Gue nggak tau," ucap Syera.


"Ck! Lo teman dekatnya kan? Yakin lo teman dekatnya, sedangkan lo aja nggak peduli sama dia? Teman apaan lo!" cela Ragel.


"Terus lo harus ikut campur soal gue teman dekatnya Oliv atau enggak, hah?! Nggak usah peduli deh lo Gel!" serang Syera berdiri dari duduknya.


"Udah Sye!" Fani mencoba menenangkan Syera. "Lagian lo Ragel. Nggak peka banget sih. Syera itu udah lama suka sama lo. Dari kalian kecil lagi," Fani angkat bicara.


Fani, teman masa kecil Syera sekaligus orang satu-satunya yang tahu tentang masa lalu hubungan Syera dan juga Ragel dulu.


"Lo nggak usah ikut campur bisa?" Entah kenapa, setiap kali Ragel melihat sosok Syera. Dia begitu benci pada gadis itu.


Padahal Ragel tak pernah sekalipun mencoba untuk menyakiti cewek, baik secara fisik maupun batin.


"Oliv masih di Labor, puas lo?!" beritahu Syera nyerah.


Percuma perang mulut sama Ragel. Karena Syera lelah. Lelah karena terus disalahkan oleh Ragel. Padahal 'itu' bukan perbuatan dirinya, tapi perbuatan papa Syera sendiri.


"Puas," ucap Ragel mengangguk dua kali.


***


Ragel tersenyum simetris, berjalan mendekati dua insan yang masih saling pandang. Yang cewek nya kayaknya deg-degan karena si cowok makin dekat padanya.

__ADS_1


Ragel seperti nonton sinetron alay bin lebay.


Ragel berdiri di belakang Olivia. Meletakkan kepalanya di bahu sempit sebelah kanan gadis itu.


Dengan senyum bodoh yang dia buat. Ragel berujar, "Pacar saya cantik banget kalau wajahnya memerah kayak tomat merah gini!"


Olivia dan Saga tentu saja terkejut bukan main. Saga langsung mundur beberapa langkah.


Sedangkan Olivia menoleh ke kanan. Melihat Ragel dengan mata bulat yang menggemaskan.


"Lo!" pekik Olivia tertahan. Semakin terkejut saat wajah mereka begitu dekat. Ragel tersenyum manis. Mengamati wajah Olivia yang terkejut. Kalau diliat dari mana pun, Olivia seperti sedang berciuman dengan Ragel ... bego:)


"Awas lo!" usir Olivia kesal.


Padahal tadi adalah momen yang dia tunggu-tunggu. Nggak pernah lho, Saga mau dekat dengan Olivia. Apalagi berniat mengambil daun kering yang nyantol di rambutnya.


"Pacar gue kalau terkejut, gemas!" goda Ragel masih dengan posisi yang sama.


Bukannya mesem-mesem, Olivia malah makin kesal. "Lima meter dari gue!!" titah Olivia mendorong kening Ragel sekuat tenaga.


Tapi nihil, Ragel sengaja menggoda Olivia dan tak bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Biarkanlah kayak gini, Yank. Lagian elo, mau aja di goda sama om-om," sindir Ragel menoleh pada Saga.


Saga mengulas senyum tipis. Sudah biasa menghadapi sikap anak kepala sekolah ini. "Saya baru 22 tahun Ragel. Masih muda. Belum nikah, belum punya istri, dan belum malam pertama," ujar Saga.


Ragel tersenyum sinis. "Perlu banget emang ngejabarin tentang kehidupan najis lo?" tanya Ragel penuh hina.


Olivia yang mendengarnya langsung memukul kepala Ragel dengan buku. "Sembarangan kalau ngomong. Pak Saga itu guru PL disini. Punya hak untuk dihormati sama muridnya!!" bela Olivia tanpa peduli kalau Ragel adalah pacarnya.


"Ah, anu ..." Saga salting. Bingung sendiri mau bicara apa. "Kalian ... pacaran, ya?" tanya Saga ragu-ragu.


"Kita suami istri. Bentar lagi acara resepsinya dimu--"


"Enggak pak!!" potong Olivia cepat. Menghunuskan tatapan tajam bak elang pada Ragel. "Maksud saya, kita temanan. Nggak ada hubungan spesial kok," ralat Olivia canggung.


"Dih, sok-sokan malu-malu macan betina. Bilang iya kek. Lagian elo itu emang pacar gue. Lupa lo?" Ragel keki. Menarik tangan Olivia yang bebas. Lalu menggenggamnya erat.


"Bapak Saga yang terhormat boleh pergi. Karena kami mau berduaan," ucap Ragel dengan memberikan isyarat tangan untuk pergi. "Oh, tenang aja. Kami nggak mojok-mojok. Saya tau tata krama dan aturan yang ada," lanjut Ragel dengan wajah lempeng.


"Ummm ... oke. Kalau gitu, saya pergi dulu. Bye Ragel dan Olivia!" Saga melambaikan tangannya pada pasangan itu. Berjalan menjauh. Membiarkan dua pasangan itu menghabiskan waktu mereka hanya berdua.


"Apaan sih lo!" Olivia menarik tangannya dari genggaman Ragel. "Sejak kapan gue jadi pacar lo, hah?!" tantang Olivia.


Dia tau, kalau menantang Ragel itu artinya ... akan ada bencana besar yang melanda.


"Sejak 3 jam yang lalu. Lo lupa?" jawab Ragel lempeng. Bersedekap dada, menghadap Olivia sepenuhnya.


"Oh, yang di Labor kimia?" Olivia mengangguk mengerti. "Tapi gue belum jawab apa-apa dan sekarang lo tau jawaban gue kan?" tanya Olivia.


Ragel mengangguk yakin. "Tau," beo Ragel. Memajukan wajahnya pada Olivia. Tersenyum manis pada gadisnya itu. "Iya. Itu jawaban elo, kan?"


Olivia menahan napasnya. Wajah mereka terlalu dekat. Apalagi di lorong sepi ini. Olivia takut, ada setan lewat, terus merasuki si Ragel psikopat.


"Sejak kapan gue jawab iya. Gue jawab enggak!! Sampai kapanpun, gue nggak akan mau jadi pacar lo. RAGEL GILA!" damprat Olivia kesal. Mendorong kening cowok itu hingga wajah mereka ada jarak.

__ADS_1


"Hah, ngeles!" cibir Ragel. "Lo telat, Livia. Diam lo tadi, sebagai jawaban. Kalau lo ... mau jadi pacar gue," ujar Ragel berdiri tegap. Masih dengan senyum yang sama, Ragel terus menatap Olivia.


"Heh, nggak usah asal oke-in bisa nggak sih! Pokoknya, lo sama gue ... nggak ada kata 'kita', ngerti?!" Olivia frustasi.


Ayolah, dia udah cukup menelan bulat-bulat kata-kata hina dari orang-orang di sekolah ini. Cukup orang-orang tau tentang dirinya yang miskin ini.


Jangan menambah beban lagi. Karena Olivia lelah. Lelah terus di hina dan dihujat habis-habisan oleh orang-orang sombong yang ada di sekelilingnya.


"Nggak bisa!" Ragel kukuh. Menggeleng kuat. Olivia akan tetap jadi pacarnya.


Olivia membulatkan matanya. Tak percaya dengan apa yang Ragel katakan. Bisa tidak, cowok ini dilempar saja ke rawa-rawa yang penuh buaya?!


Kenapa juga dia harus bertemu dengan si Ragel kampret yang sangat menyebalkan ini.


"Plis Ragel, gue nggak mau jadi pacar lo. Gue yakin, lo juga nggak mau kan jadi pacar gue? Karena gue miskin, kumal, dekil, jelek--"


"Siapa bilang lo jelek, dekil, kumal? Siapa bilang lo miskin, hah?! Suruh orang itu kesini. Kalau nggak tinggal nama aja dia!!" potong Ragel penuh emosi.


Membuat Olivia semakin terkejut. "Ma ... maksud lo apa?" tanya Olivia bingung.


Ragel menatap Olivia lembut. Mengusap rambut panjang gadisnya itu. "Dimata gue, elo itu nggak miskin Livia. Nggak juga dekil, kumal, ataupun jelek. Lo lebih cantik dan lebih memesona daripada cewek-cewek murahan diluaran sana," ujar Ragel tersenyum lembut.


Bugh! Bugh! Bugh!


Olivia langsung memukul punggung Ragel bertubi-tubi. Kalau ibarat kayak anime, mata Olivia sudah berapi-api penuh amarah. Rambut yang naik keatas seperti ranjau. Aura merah campur kuning yang memancar di sekitar Olivia. Bahkan Olivia bisa terbang dengan jurus bangau.


"Buaya lo! Dasar jamet!! Kampret nggak guna!! Nggak usah sok bikin gue mesem-mesem!!! Kata-kata manis lo itu, lebih pait dari obat demam kalau cuman di telen doang!! Pait, pait, pait!! Enyah lo kampret!!!" serang Olivia bertubi-tubi. Tangannya tak henti-hentinya memukul Ragel berkali-kali.


Bukannya marah, Ragel malah ngakak dibuatnya. Hingga air mata cowok itu keluar. Ragel berusaha menghindar, tapi Olivia kalau ngamuk bukan main ngeri nya.


"Lo kenapa jadi marah sih, Yank? Gue lagi nge-goda elo dengan lemah lembut. Dari hati yang paling dalam lho, gue goda elo!!" kelakar Ragel. Cowok itu tak henti-hentinya tertawa. Berusaha untuk mencari perlindungan yang lebih baik lagi.


Olivia malah terus mengejar Ragel. Terus memukul cowok itu sekuat tenaga, berharap Ragel benar-benar enyah dari hadapannya. Kapan perlu, muka bumiiii!!!


"Sini lo! Jijik gue dengar kata-kata pait lo entu! Jijik!!" pekik Olivia terus mengumpat dan memukul Ragel dengan buku kimia tebalnya.


"Kata-kata gue itu manis ye Livia! Pake banget manisnya. Setan elo nya aja masih kukuh di badan lo. Makanya nggak salting pas gue kasih kata-kata manis!!" bela Ragel pada dirinya sendiri. Semakin tertawa terbahak-bahak.


"Elo setan nya!" pekik Olivia tidak terima.


Saat gadis itu akan menggapai Ragel. Olivia malah tersandung kaki nya sendiri. Hingga gadis itu nyaris tumbang, kalau bukan Ragel dengan cepat menangkap tubuh Olivia.


Posisi mereka benar-benar seperti orang berpelukkan. Seperti pasangan yang harmonis dan romantis.


Fiks, ini definisi sinetron alay bin lebay yang sebenarnya.


****


***pukul terus Liv, Acha dukung dari sini. entar kalau belum puas, biar Acha tambahin lagi pukulannya 🤣🤣🤣


oke-oke, ngakak Acha kalau baca part ini. benar-benar deh, astgaa😭


gimana gais, serius, Acha nggak habis pikir sama Ragel dan Olivia😀


oke, see you👋👋***

__ADS_1


__ADS_2