MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
18. Hai Ratu!!


__ADS_3

Olivia menghela napas pelan, setiap langkahnya. Pasti ada saja yang terus membicarakan tentang dirinya. Ditambah lagi, gosip yang beredar tentang dirinya dan Ragel yang berpacaran.


Benar-benar membuat Olivia semakin terkenal dalam arti kata lain.


Gadis itu terus melangkah di lorong sekolah yang penuh dengan bisikan lebah yang menggangu.


Kalau Olivia boleh jujur, dia ... ingin sekali membungkam mulut-mulut sialan itu dengan tangannya sendiri. Tapi dia tahan dan mengingat pesan dari Abangnya. Saat dirinya masih 5 tahun.


"Livia!" Gilang berlari menghampiri Olivia yang jatuh tersungkur, karena melawan teman-teman yang mengejeknya.


Napas anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu memburu. "Liv, kan Abang udah bilang. Jangan lawan!"


Gadis kecil itu malah tersenyum kecil, berusaha untuk duduk. "Tapi Olip nggak mau liat Abang di ejek sama teman-teman Abang lagi," ujar Olivia.


Bu Ina menghela napas pendek, memeluk anak gadisnya erat. "Kamu itu masih kecil Liv. Jangan lawan mereka yang umur nya jauh 5 tahun dari kamu. Nanti kalau ibu sedih karena Olivia kenapa-napa gimana?"


Bu Ina semakin mengeratkan pelukannya. Takut sekali melihat anak gadisnya seberani itu melawan teman-teman Abangnya.


"Olip ndak napa-napa! Olip mau jadi pahlawan buat bang Gilang, buk!" rengek gadis itu.


Air matanya mengalir tanpa izin dari sang empu. Olivia terus terisak dan meracau nggak jelas. "Olip nggak mau diejek. Olip juga nggak terima bang Gilang sama keluarga kita diejek miskin. Kita nggak miskin!! Kita nggak miskin!! Huaaaa!!"


Gilang yang mendengar racauan adik kesayangannya itu, langsung berdiri. Mengepalkan tangannya serat mungkin.


Melangkah mendekati ketiga orang yang telah membuat Olivia celaka.


Bugh!!


Satu tinjuan dilayangkan ke arah anak laki-laki yang belagu dan mengejeknya miskin itu.


Anak laki-laki yang lain terkejut. Langsung menolong temannya yang tersungkur berdiri.


"Heh! Nggak usah sok berani Lang! Lo itu cupu!!" bentak salah satunya.


"Elo yang cupu! Berani lawan anak kecil, CUPU!!" hardik Gilang ganas.


Ketiga anak laki-laki itu membulatkan mata, tak terima disebut cupu oleh Gilang.


"Elo yang cupu! Ngebiarin anak kecil ngelawan kita-kita!!" lawan salah satu dari mereka.


Gilang langsung tersulut emosi. Semakin mengeratkan kepalan tangannya. Sekali lagi, anak laki-laki itu memukul wajah mereka secara brutal tanpa ampun.


"Gilang! Berhenti!!"


Bu Ina kaget bukan main melihat emosi Gilang yang tidak terkontrol. Bu Ina berusaha untuk melerai anak sulung nya itu. Dapat dilihat air muka Gilang yang penuh emosi dengan mata memerah.


Selama ini, Gilang yang Bu Ina kenal adalah anak laki-laki yang berwajah tenang. Tak peduli apa kata orang-orang tentang diri mereka yang miskin dan hanya menyusahkan orang yang ada disekitar mereka.


"Lang, tenang. Jangan ngelakuin hal seperti itu lagi. Kamu tau kan akibatnya apa?" ucap Bu Ina mengelupas dada anak semata wayangnya itu.


"Tapi Buk--"


Bu Ina menggeleng pelan, "nggak ada tapi-tapi. Dengar kata ibuk!"


Gilang menghela napas panjang. Ibunya pasti begitu mengkhawatirkan dirinya dan Olivia.


"Kak Gilang!" Olivia langsung memeluk Abangnya. Menoleh ke belakang lalu memeletkan lidah mengejek orang yang dia sebut 'jahat'.

__ADS_1


"Orang jahat harus nya ndak boleh sekolah sini!"


Bu Ina menghela napas, begitu juga dengan Gilang. Ternyata Olivia hobi sekali mencari masalah.


Gilang mensejajarkan posisinya dengan tinggi adik kecil nya itu. Menangkupkan tangannya di pipi tembem Olivia.


"Livia dengar Abang yah ..." Gilang tersenyum kecil. Olivia mengangguk. "Jangan lawan mereka yang ngejek kamu lagi. Kamu mau ngeliat Abang ngelakuin hal yang lebih brutal dari tadi sama mereka yang celakain kamu?" tanya Gilang, Olivia menggeleng polos.


"Jadi jangan gitu lagi, janji?" Gilang mengangkat jari kelingkingnya.


Olivia segera menautkan kelingking mungil nya dengan kelingking Abang nya itu.


"Janji!"


Olivia mengusap wajahnya. Dia jadi teringat kejadian masa lalu. Betapa Olivia merindukan Abangnya itu.


Olivia nyaris jatuh, saat seseorang menarik tangannya secara paksa. Lalu membawa nya ke lorong yang lebih sepi lagi.


Plak!!


Olivia kaget, memegangi pipinya yang perih karena tamparan Laura yang begitu kuat.


"Lo--"


"HEH CABE!! KALAU MAU COSPLAY JADI ULET BULU, NGGAK USAH DI SEKOLAH JUGA!! NGGAK TAU TEMPAT BANGET SIH LO, MESUM DI DEPAN SEKOLAH. NAJIS!!" hardik Laura menyiram jus jeruk yang ada di tangannya ke wajah Olivia.


Olivia semakin terkejut, wajahnya berasa lengket karena jus jeruk itu. Gadis itu ingin sekali membalas perbuatan Laura yang keji, tapi sayangnya itu nggak akan berguna.


Laura tersenyum hina. Menarik rambut Olivia kuat. "Lo benar-benar nggak punya malu ya? Atau jangan bilang, lo pura-pura nggak tau? Sok jadi orang polos," hina Laura mencengkeram dagu Olivia sekuat tenaga.


Tangannya masih setia menarik rambut gadis itu. Lalu dengan cepat Laura menampar pipi Olivia sekali lagi. Hingga Olivia mendesis kesakitan.


Olivia tersenyum sama hina nya dengan senyum Laura. Masih memegangi pipinya yang perih. Dapat dia rasakan wajahnya yang lengket karena siraman jus tadi.


"Lo ngeliat gue pelukan sama Ragel di sekolah kemarin, iya?" tanya Olivia tenang. "Terus lo cemburu? Bentar deh, yang jadi pertanyaannya ..."


Olivia memiringkan kepalanya. Matanya membulat lebar. "Punya hak apa lo sampai nge-bully gue cuman karena ngeliat gue di peluk Ragel?"


Laura mengepalkan tangannya sekuat tenaga. "LO TANYA GUE PUNYA HAK APA, HM? LO SADAR NGGAK SIH. KALAU DIANTARA KITA ADA YANG PERNAH MENJALIN HUBUNGAN LEBIH DARI YANG LO BAYANGKAN? LO SADAR NGGAK SIH, LO ITU PANTES DISEBUT CABE? SADAR NGGAK SIH, LO?!!" bentak Laura.


Saat tangannya ingin menampar Olivia sekali lagi. Tangannya ditahan sama tangan yang lebih mungil darinya. Lalu tangan mungil itu malah lebih dulu menampar pipi Laura lebih kuat.


"Sakit nggak kak Lau? Pasti sakit, kan?" tanya Ratu lempeng.


Laura menatap Ratu sinis. Memegangi pipinya yang perih karena tamparan adik kelasnya itu.


"Mana sakit kak, kalau disebut cabe. Padahal itu nggak nyata? Setau Ratu nih ya kak, kalau kata-kata itu bisa jatuhin mental lebih dalam lagi. Kalau tindakan lebih ke ..." Ratu mengetuk dagu nya pelan. Sengaja berpikir sejenak. "Fisik ya? Iya nggak sih, kak Syera?"


Syera yang berdiri tak jauh dari sana terkejut. Saat Ratu malah bertanya padanya. Gadis cantik itu gelagapan. Tak tahu harus ngomong apa.


"Lho, kok pada diem. Padahal tadi seneng aja tuh, pas kak Laura nyebut kak Olip cabe. Atau tadi kalian ingin ngelakuin lebih dari tadi?"


"Apa sih Rat! Lo nggak ada hak buat ikut campur! Jangan mentang-mentang lo tunangan Ziky ya. Lo dengan seenaknya ngelawan gue gini!! Inget Rat, gue yang udah nolongin lo--"


"Nolongin apa sih kak Lau? Kak Laura nggak pernah nolongin Ratu sama sekali," potong Ratu, senyum segaris masih terpatri di wajahnya.


"Walau Ratu bukan tunangan kak Ziky sekalipun. Tetap aja, Ratu bakalan nge-bela yang benar dan lemah. Ketimbang nge-bela orang yang bermuka dua seperti kakak deh," lanjut Ratu bersedekap dada.

__ADS_1


"Kak Sye! Kalau kakak gimana? Mau ikutan nge-bully atau nge-bela orang lemah? Saran Ratu ya kak, jangan ikut jalan kak Laura. Nggak baik. Yang ada sesat kita," ujar Ratu enteng.


Olivia menoleh, melihat Syera yang masih bungkam di tempatnya. Jadi sedari tadi, Syera ada disana? Memerhatikan dirinya yang dibully tanpa mau menolong dirinya?


Ratu berkedip sekali. Wajahnya di buat se-kecewa mungkin. "Ah, nggak seru. Udah deh kak Olip, kita pergi aja. Kayaknya pertanyaan Ratu susah banget dijawab sama Syera yang padahal pintar 100 persen."


Ratu menarik tangan Olivia keluar dari lingkaran itu. Meninggalkan Laura dan teman-temannya yang penuh amarah. Apalagi Laura.


***


Olivia berhenti, melepas genggaman tangan Ratu di pergelangan tangannya. Membuat gadis mungil itu berbalik dan bertanya-tanya.


"Makasih. Tapi sori, gue nggak se-lemah itu untuk nggak ngelawan Laura dan teman-temannya," ucap Olivia lugas.


Ratu mengangguk mengerti. "Ngerti kok Ratu. Pasti susah kan buat ngelawan mereka. Ratu nggak bilang kakak lemah. Tadi cuman mau nanya ke mereka yang nggak punya hati nurani."


Olivia tersenyum tipis, memegangi wajahnya yang lengket. Dengan cepat Ratu mengeluarkan tisu basah dari saku rok nya lalu menyodorkannya pada Olivia.


"Lap pake ini aja kak Olip. Tenang, aman kok. Ratu bukan orang jahat seperti mereka."


Olivia menerimanya. Mengelap wajahnya dengan tisu basah.


Ratu duduk di bangku putih panjang itu. Menghela napas panjang. Lelah rasanya lari kesana tadi, hanya untuk menyelamatkan Olivia dari perundungan.


"Lo kenapa bisa disitu?" tanya Olivia seraya duduk di samping Ratu.


Ratu tersenyum kecil. "Tadi nggak sengaja papasan sama kakak. Mau nyapa, eh kakaknya malah di tarik sama kak Laura," jelas Ratu.


Olivia mengernyit, ada satu pertanyaan muncul di benaknya. Gadis berkulit pucat ini kenal dirinya?


"Lo ... kenal gue?"


Ratu terkekeh kecil. Menghela napas sekali lagi. "Kenal lah kak! Gimana sih! Kak Olip itu terkenal banget tau, di kelas 10. Banyak banget cerita-cerita menarik tentang kakak!!" seru Ratu semangat.


Olivia tersenyum hampa, menatap adik kelasnya sama hampa nya. "Terkenal karena miskin nya? Terkenal karena disebut pelakor, terus juga terkenal karena pake pelet. Jadi gue sama Ragel bisa jadian segampang itu. Padahal rumor tentang gue dan Ragel yang pernah dekat aja nggak pernah ada, iya?"


Ratu tergugu, menatap wajah kakak kelasnya yang hampa. Apa yang di bilang Olivia benar. Tapi maksud Ratu terkenal bukan arti kalau Olivia buruk di mata dirinya.


Olivia itu, adalah kakak kelas terbaik yang pernah Ratu lihat. Bahkan, Olivia lebih dari seorang artis. Otak nya yang brilian dan tak terduga. Membuat Ratu semakin mengagumi kakak kelas nya.


Tapi Olivia malah mengartikan yang lain.


"Kak Olip, bukan itu maksud Ratu. Ratu tau kok tentang rumor yang tersebar itu. Menurut Ratu itu wajar-wajar aja. Mau kak Ragel pacaran sama siapapun, itu bebas. Asal jangan pacaran sama cewek nggak bener," jelas Ratu ragu-ragu.


Ratu menggaruk pipinya bingung. "Maksud Ratu ... kak Olip itu keren banget. Walau sering dirundung, kakak masih terus berpikir ke depan nggak peduli sama omongan orang. Kakak juga lebih fokus buat liat masa depan. Ketimbang mendengarkan ocehan nggak guna mereka."


"Kakak itu kuat banget!! Hebat banget tau!! Ratu bahkan sampe iri. Pengen banget bisa jadi kak Olip yang masih bertahan hingga detik ini," ujar Ratu panjang lebar.


Napas terengah-engah setelah mengutarakan kata-kata yang begitu panjang itu. Senyum manisnya masih terpatri di wajah putih pucat gadis itu.


Olivia terdiam, mengulurkan tangannya mengusap rambut adik kelasnya itu. Senyum manis terbit di wajah cantik Olivia. Entah kenapa ... Olivia berasa di beri kesempatan untuk bisa percaya sama orang lagi.


"Sori, gue nggak maksud bikin lo takut tadi. Makasih udah mengagumi gue," ucap Olivia.


Ratu mengangguk polos. "Ratu boleh peluk kakak?"


Olivia mengangguk pelan. Walau rasanya masih kaget. Tapi Ratu langsung memeluk Olivia seerat mungkin.

__ADS_1


"Kalau Ratu boleh minta ke Tuhan. Ratu ingin kak Olip jadi kakak Ratu, hingga akhir hayat!!"


__ADS_2