
Saga tersenyum kecil, mengepalkan tangannya kuat. Saga berbalik, memiringkan kepalanya.
"Karena saya dan guru PL lain nya termasuk warga sekolah sini," jawab Saga enteng.
Pak Tama membalas senyum kecil Saga. Mengatakan satu kalimat yang membuat Saga terdiam beberapa saat.
"Saya tau, sangat tau! Tapi maksud saya, menertibkan dalam arti kata lain. Saya yakin kamu paham," ujar Pak Tama berdiri dari duduknya.
Mendekati Saga, menepuk pundak pria berumur 20 tahun itu pelan.
"Saya tau kamu Saga," ucap Pak Tama pelan.
"Bahkan satu memori saja hilang di dalam ingatan bapak." Saga balik menatap Pak Tama. Senyum kecil masih terpatri.
"Bagaimana bapak bisa tau saya. Sedangkan satu potong puzzle saja hilang," ucap Saga.
Setelah mengatakan hal itu, Saga melangkah meninggalkan Pak Tama. Membiarkan kepala sekolah tersebut memikirkan perkataan nya.
"Potongan puzzle yang hilang? Apa maksud dia?"
***
Tumpukan buku tersusun rapih diatas meja. Gadis itu segera izin pamit pada guru yang berjaga di perpustakaan.
Tanpa ba-bi-bu, gadis berkuncir satu tinggi itu mengangkat nya. Tinggi tumpukan buku tersebut hampir menghalangi penglihatannya.
Kalau saja gadis itu tidak menurunkan beberapa senti dari mata nya.
Bruk!
Baru saja keluar dari perpustakaan. Olivia sudah menabrak seseorang.
"Sial! Punya mata lo nya nggak?!"
Olivia terdiam, melihat sepasang sepatu mahal berdiri tepat di depannya. Olivia menaikkan pandangannya.
Mata mereka saling menumbuk satu sama lain. Olivia berdeham pelan. Segera menyusun bukunya yang terjatuh di lantai.
"Gue punya mata."
__ADS_1
Ragel jongkok, ikut membantu gadisnya yang sibuk menyusun buku yang jatuh tadi.
"Kalau punya mata, jangan main asal nabrak dong!" kesal Olivia mengernyitkan dahinya dalam. Seakan memusuhi Ragel.
Padahal kemarin malam mereka baru saja akur. Hanya karena masak bareng untuk dinner sama Papa Ragel. Tapi sekarang sudah seperti tikus dan kucing.
"Bawel lo! Yang nyusun buku tinggi-tinggi siapa, hm? Sampai tuh mata nggak keliatan!"
Olivia terkekeh kecil, memalingkan wajahnya. Malah dia yang di bilang bawel.
"Lo nggak masuk kelas?" tanya Olivia saat menyadari Ragel malah memakai baju voli berwarna oranye dengan lengan pendek hitam.
"Jamkos. Gue bosan, makanya latihan tadi. Eh, malah ketemu elo disini," jawab Ragel enteng.
"Dih! Kalau jamkos entu bukan malah main voli! Mana tengah hari lagi! Belajar sono lo! Bentar lagi UAS!" omel Olivia.
"Bawel lo!" Ragel menepuk pelan kening Olivia. Lalu mengangkat buku-buku tersebut.
"Ke kelas?"
"Eh, nggak usah--"
"Gue nggak butuh penolakan!"
Bukannya marah, Ragel malah menepuk kepala Olivia pelan.
"Lo yang kepala batu! Udah gue aja yang angkat!" Ragel melangkah meninggalkan Olivia lebih dulu.
"Rageeeelllll! Gue bisa sendiri!!!" pekik Olivia segera menyusul pacarnya itu.
Rian yang berdiri tak jauh dari sana terdiam. Melihat Olivia yabg kelihatan bahagi bersama Ragel.
Rasanya dada nya nyeri. Melihat Olivia dekat dengan Ragel. Padahal rumor tentang mereka yang pernah dekat saja tidak ada.
"Kenapa saat gue nembak lo. Malah lo tolak mentah-mentah. Apa sesusah itu, buat jatuh cinta sama gue?" tanya Rian bermonolog sendiri.
Entah kenapa, ingatan Rian jadi berkelana ke satu tahun lalu. Saat cowok itu dengan tegas mengungkapkan perasaannya.
"Oliv! Gue suka sama lo! Ayo kita pacaran!"
__ADS_1
Rian menatap Olivia lekat. Mata itu penuh harap agar Olivia menerima pernyataan cinta nya.
Olivia mengerjapkan mata nya sekali. Sebelum akhirnya kepala itu menggeleng dengan mantap.
"Sori Yan. Gue nggak bisa Nerima elo. Kita--"
"Cukup! Gue nggak mau denger kalimat selanjutnya." Rian mengusap wajahnya kasar. "Nggak perlu ada kata 'kita' kalau pada akhirnya. Hati lo bukan untuk gue."
Rian segera meninggalkan Olivia. Dia kira, Olivia akan menerima dirinya.
Dia kira, dia pantas untuk Olivia. Karena mereka memiliki kesamaan dan itu sangat cocok.
Tapi nyatanya, hanya Rian yang berangan-angan akan menggapai Olivia. Hingga mereka memutuskan untuk kejenjang yang lebih mantap lagi.
Rian terlalu banyak berandai-andai.
***
"Ayo buat kesepakatan yang lebih menguntungkan gue!"
Rian berdiri mantap tepat di depan Laura.
Gadis dengan seragam ketat itu menoleh pada Rian yang berkeringat karena mencari Laura.
"Oh, waw! Lo habis ngapain sampai berkeringat begitu?" tanya Laura pura-pura terkejut.
"Nggak usah drama Lau. Langsung ke inti," balas Rian dingin.
Baginya, Laura tak lain hanyalah cewek bermuka dua. Cewek iblis yang selalu saja memanfaatkan orang lain. Dan Rian terjebak di dalam nya.
"Oke-oke, sepertinya kapten basket kita udah nggak sabar untuk memiliki si miskin seutuhnya," ucap Laura berdiri dari duduknya diatas meja.
Laura tersenyum cantik, menatap Rian dengan mata sinis nya.
"Lo tau kan, kalau si miskin suka di lab kimia?" tanya Laura. "Ajak dia kesana besok. Berdua saja, kalau bisa. Cari waktu yang tepat. Dimana Ragel tidak bersama Olivia saat itu."
Rian mengernyit dalam. Menatap Laura bingung.
"Kita pake cara kuno. Gue sama temen gue. Bakalan letakin ember berisi air diatas pintu. Nanti lo suruh si miskin masuk duluan. Dengan begitu, rencana selanjutnya ..."
__ADS_1
Laura mendekati Rian. Membisikkan sesuatu tepat di telinga Rian.
"Gue serahkan ke elo, Rian!"