MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
05. Pacaran Dadakan


__ADS_3

Olivia mengeluarkan buku tulis tebal dan pena nya dari dalam tas. Gadis itu menoleh pada Syera yang sudah menunggunya.


"Yuk! Langsung ke Labor kimia. Takut nya nanti guru nunggu lagi," ajak Syera menarik tangan Olivia.


Olivia mengangguk seraya mengulas senyum. "Lo udah catat materi Minggu kemarin?" tanya Olivia.


Syera menggeleng pelan. Menoleh 90 derajat pada Olivia di belakangnya. Gigi rapih nan putih itu terlihat.


"Baru setengah mbaakk ... hehehe, gue kemarin sibuk ikut kontes nyanyi diam-diam, jadi nggak sempat nyata deh. Gue pinjam catatan lo yah, pusing gue catat yang di papan. Nggak ada warnanya, hitam semua," ujar Syera nyengir kuda. Gadis itu lebih memilih menekuni bakat terpendam nya.


Sebenarnya, ikut kontes nyanyi adalah ide gila yang keluar begitu saja dari otak Syera. Keluarga Syera, memiliki peraturan yang begitu ketat. Apalagi Syera adalah satu-satunya pewaris keluarganya.


Tapi sayangnya, Syera tak begitu suka dengan hal-hal yang berbau manajemen atau perkantoran sedikitpun.


Olivia menggeleng pelan. Walaupun mereka baru kenal kelas 12 semester satu ini. Tapi Olivia rasa, dia udah lebih mengenal Syera. Walau mereka tak sering bersama.


"Nanti gue pinjemin. Tapi lo harus janji bener-bener buat catatan nya, jangan iya-iya aja!" tunjuk Olivia. Membuat Syera terkekeh kecil.


"Iya deh iya, janji!" seru Syera mengacungkan kelingkingnya di udara. Mereka sudah berdiri tepat di depan pintu Labor kimia.


Olivia tersenyum, mengaitkan jari kelingkingnya pada Syera. Setelahnya mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Begitu rupanya, memiliki teman ... tidak se-menakutkan yang Olivia pikirkan.


***


"Teman-teman sekalian, hari ini buk Nita nggak bisa hadir, karena anak nya sakit dan dirawat di rumah sakit. Jadi yang mengajar kita hari ini adalah pak Saga. Guru PL yang nantinya akan mengawasi kita," ujar Refki. Cowok itu memeluk begitu banyak kertas di tangannya. Sepertinya, itu adalah tugas yang akan mereka kerjakan disini.


"10 menit lagi pak Saga sampai di Labor kimia. Jadi, kerjakan dulu tugas kimia ini," lanjut Refki membagikan kertas selembar itu satu-satu.


"Wah, pak Saga yang ganteng dan baik banget itu yah? Widih, bisa nih minta id line sama follow Ig nya," seru Sinta menaikkan kedua alisnya pada kedua temannya.


"Idih, enak bener. Terus bang Yabi lo kemanain, Sin?" tanya Resa.


"Jadi bangku cadangan," celetuk Sinta ngasal, cewek itu tertawa terbahak-bahak, diikuti dengan kedua temannya.


"Boleh juga tuh. Di beli dulu hati nya. Tapi harga nya nggak main-main."


Brak!!


Pintu Labor kimia itu terbuka, untung saja engsel pintu nya tidak patah. Tapi bisa di pastikan, tak beberapa lama lagi, pintu itu ... akan musnah:)


Semua siswa IPA 1 menoleh pada sumber suara. Terdiam saat melihat Ragel-- anak kepala sekolah yang boleh dikatakan tidak pernah datang ke Labor IPA.

__ADS_1


Tiba-tiba datang seperti jelangkung!!


"Yo!" sapa Ragel dengan seulas senyum. Membuat cewek-cewek IPA 1 memekik tertahan karena manisnya senyum itu. "Lagi belajar kimia toh? Oalah, gue kayaknya salah masuk kelas deh."


Semua diam. Tak ada yang merespon ucapan dari si anak kepala sekolah tersebut.


"Gue mau nanya dong," Ragel duduk di atas meja guru dengan santainya. "Kalau gue campurin sianida ke sirup. Terus gue kasih ke kalian, kalian mau minum nggak?"


"LO GILA HAH?! MAU NGERACUNIN ANAK ORANG?!"


Olivia menutup mulutnya saat menyadari ucapannya yang lebih tepatnya membentak dengan suara cemprengnya itu.


Mau membentak si berandalan sekolah apa? Mau cari masalah kah sama dia?


Ragel tersenyum tipis. Berjalan mendekati gadis yang baru saja membentaknya itu. Berdiri tepat di depan Olivia, hanya satu sentimeter saja. Jarak yang begitu tipis.


"Nama lo?"


Olivia mundur satu langkah, Ragel malah semakin maju satu langkah. Membuat gadis itu terpojok di belakang labor. Olivia gelagapan. Dia tidak tau harus mengucapkan apa. Ini bencana. Benar-benar bencana.


Ragel menunduk. Melihat nama di nambedges gadis itu. "Olivia Dwi Ananda." Ragel mengangkat wajahnya. Tersenyum manis. Tangan kanannya membentuk pistol, mengarahkan nya diantara alis tipis gadis itu. "Lo ... jadi pacar gue. Mulai hari ini, dan seterusnya," tembak Ragel masih tetap mempertahankan senyumnya.

__ADS_1


Olivia membulatkan mata, matanya masih terpaku dengan mata hitam kelam Ragel. Olivia melirik satu garis lekung keatas yang menghiasi wajah Ragel.


Bukan, itu bukan senyum tulus ataupun senyum manis. Itu ... senyum palsu yang Ragel tunjukkan.


__ADS_2