
"Buruan naik! Lo mau telat? Kalau gue telat, yah fine-fine aja. Lah, elo--"
"Lo bisa nggak sih, nggak usah bawel? Gedek telinga gue denger lo ngomel pagi-pagi," gerutu Olivia. Menoleh ke belakang. Melihat ibu dan ayahnya masih memerhatikan mereka.
Padahal rencananya, Olivia jalan kaki sampai depan gang. Lalu naik angkot disana. Ogah banget pergi sekolah bareng Ragel!
"Ya, gimana gue nggak bawel. Elo nya lama amat naik ke motor gue! Motor gue ini bersih ya, Liv!! Nggak ada noda sedikitpun," balas Ragel nggak mau kalah.
Olivia meletakkan telunjuknya di depan mulut Ragel. "Shut up, okay? Gue boncengan sama elo, tapi di depan gang turunin gue. Biar gue naik angkot aja sampai sekolah," ujar Olivia naik ke atas motor klasik Ragel. Memegang pundak cowok itu agar tidak jatuh.
"Terserah elo!" Ragel hendak menghidupkan motornya. Tapi saat menyadari cewek itu malah masih memegang pundaknya, Ragel menoleh. Menatap wajah Olivia dari dekat.
"Apa?"
"Lo cowok atau cewek? Lo kalau di tebengin orang megang pundaknya? Heran kadang gue liat lo," ujar Ragel. Mengengkol motor gedenya, lalu menggas motor tersebut. Menoleh sekilas pada Olivia. "Pegang yang bener!"
"Ish, iya bawel!!" Olivia malah memegang jaket Ragel erat.
"Om Tante-- eh, maksud Ragel ibuk sama ayah. Kami berangkat dulu, assalamualaikum!!"
***
Olivia menepuk pundak Ragel berkali-kali saat mereka sudah melewati gang yang dimaksud Olivia. Tapi Ragel malah pura-pura tidak tahu dan langsung melaju begitu saja.
Plak!
"Gel!! Lo gimana sih?! Gue bilang berhentiin gue di depan gang!! Kenapa malah lurus aja sih!!!" protes Olivia berteriak di telinga Ragel.
Untung saja cowok itu memakai helm. Kalau tidak, sudah di pastikan. Telinga Ragel akan pengang karena teriakan Olivia.
"Nanggung! Bentar lagi juga nyampe ke sekolah. Hemat duit, lo nggak tau betapa susah nya orang-orang berhemat demi membeli yang mereka mau?"
"Justru itu, gue kasih rejeki sama abang-abang angkot supaya bisa memenuhi kebutuhan anak dan istrinya!!" balas Olivia.
"Ngeyel bener lo!" Ragel masih melajukan motornya. Tak peduli dengan omelan Olivia di belakang.
"Gue loncat nih Gel! Suer, gue nggak boong!!" ancam Olivia nggak main-main.
"Yaudah, loncat aja," jawab Ragel santai.
"Wah, parah lo! Gue serius Gel, gue beneran loncat nih! Atau nggak, turunin gue secara baik-baik disini aja. Buruan, gue nggak mau diliat anak-anak sekolah kita," ujar Olivia semakin menepuk bahu Ragel kuat.
"Lo bisa nggak sih, cuek aja. Nggak usah peduli. Lagian mereka juga tau kalau lo sama gue itu pacaran. Apa masalahnya?" Ragel masih kukuh untuk tidak menurunkan Olivia di tengah jalan.
Gadisnya ini sudah gila, ya? Masa' Ragel ninggalin seorang gadis di tengah jalan. Ayolah, Olivia bener-bener gadis gila yang Ragel temui.
"Itu masalahnya! Ayo buruan, turunin gue!"
"Nggak!"
__ADS_1
"Turunin gue Gel!"
"Kalau gue bilang enggak, ya enggak!!" Ragel tetap kukuh pada pendiriannya.
"Yaudah, gue loncat!!" putus Olivia. Gadis itu langsung loncat tanpa mikir panjang.
Hingga tubuh Olivia terguling-guling ke jalan. Untung saja jalannya nggak begitu ramai. Kalau ramai, wah Olivia bisa gawat.
Ragel langsung memberhentikan motornya. Turun dari motor, menghampiri Olivia yang meringis kesakitan karena beberapa luka yang muncul di lengan dan lututnya.
Ragel menepuk jidat Olivia pelan. Gemas sama pacarnya sendiri. "Makanya, nggak usah ngeyel! Pake nekat loncat, lecet kan tangan sama kaki lo!" omel Ragel menarik lengan gadisnya itu.
"Lo nya aja yang nggak denger apa kata gue! Gue bilang turunin gue, ya turunin!!" protes Olivia tak terima.
"Udah kena batu, masih mau bela diri, hm?" Ragel mengangkat dagu nya, menatap Olivia dengan tatapan marah.
"Biarin, lagian nggak sakit-- aw! Sakit bego!!" Olivia meringis saat Ragel malah menekan pelan luka di lutut Olivia.
"Nggak usah pura-pura nyembunyiin luka. Jelas-jelas berdarah gini!!" omel Ragel menunjuk luka-luka Olivia.
Olivia diam, tak bisa melawan kata-kata Ragel lagi. Gadis itu berusaha untuk berdiri, malah ujung-ujungnya kaki Olivia terkilir dan hampir jatuh. Untung saja Ragel sigap dan langsung menangkap tubuh Olivia.
"Kepala batu!" cibir Ragel, cowok itu lalu memapah Olivia hingga ke motornya. Menaikkan tubuh langsing itu ke atas motornya. "Kalau minta turun lagi lo, gue piting kepala lo!" ancam Ragel.
"Dasar, psikopat!!"
***
Olivia menundukkan kepalanya. Menghela napas panjang. Siap-siap saja, dia pasti jadi bahan gunjingan di pagi hari yang cerah ini.
Ragel memarkirkan motornya. Turun dari motor dan langsung jongkok di depan Olivia.
Olivia mengernyitkan dahinya. Mengerti maksud Ragel. "Nggak usah, gue bisa sendiri," ucap Olivia turun dari motor lagi.
Cewek itu meringis kesakitan saat kaki kanannya baru menginjak tanah. Sepertinya kaki Olivia terkilir parah.
"Kepala batu!" Ragel mengetuk dahi Olivia pelan. Sekali lagi jongkok di depan Olivia. "Nggak usah nge-bantah! Buruan! Gue anter ke UKS dulu," titah Ragel mutlak.
Olivia mencibir. Menuruti saja, naik ke pundak lebar Ragel. Cewek itu memegang erat kedua bahu tegap Ragel.
"Eh, kak Ragel beneran pacaran sama kak Oliv ya?"
"Hah? Seriusan? Mana-mana?"
"Tuh tuh, kak Ragel lagi gendong kak Oliv."
"Widih, manja banget. Baru sehari pacaran, udah nunjukin kemesraan. Mana manja banget lagi. Punya kaki nggak sih, kak Oliv?"
"Hush! Lo mau di sleding sama kak Ragel?"
__ADS_1
Olivia menundukkan kepala saat melewati lorong kelas 10 dan 11. Cewek itu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada bahu tegap Ragel.
"Turunin gue disini. Gue punya kaki, tugasnya untuk bawa gue jalan sampai ke kelas," lirih Olivia.
Ragel tak peduli, dia terus melangkah. Meninggalkan bisikan-bisikan yang terdengar seperti lebah menjijikkan di telinganya.
"Lo nyerah? Cuman disebut kayak gitu, udah langsung nyerah?" tanya Ragel dingin.
Olivia diam, menoleh pada siswi-siswi yang terus membicarakannya karena iri. Menghela napas pendek. "Kalau gue bilang gue nyerah. Lo mau putusin gue?" tanya Olivia balik.
Ragel tersenyum sinis. "Nggak!"
"Percuma juga, kan?" Olivia menatap bahu tegap Ragel dalam diam. "Lo ... nggak bawa tas?" tanya Olivia saat menyadari tidak ada tas di genggaman Ragel.
"Nggak. Lo tau? Berat punggung gue rasanya bawa tas. Nggak ada guna juga," ujar Ragel dingin. Menatap orang-orang yang terus membicarakan mereka.
Kalau tidak ada Olivia disini. Sudah Ragel pastikan, Ragel akan menutup paksa mulut-mulut kotor itu.
Olivia diam. Hanya menatap Ragel dari belakang. Aura dingin dapat Olivia rasakan dari diri Ragel. Sepertinya cowok itu sedang menahan amarahnya.
Sebenarnya ... Ragel sayang nggak sih sama dirinya?
***
Derap langkah Ragel terus terdengar hingga masuk ke kelas sang kekasih. Olivia yang berada di gendongan Ragel hanya bisa pasrah. Mengingat Ragel yang nggak mau menurunkan dirinya di tangga tadi.
Ayolah, Ragel berlebihan namanya ini.
"Lo deh Gel yang kepala batu. Tadi gue bilang turunin gue di tangga. Kenapa lo nggak mau nurutin?" tanya Olivia semakin kesal.
"Gue udah nurutin kemauan lo buat nggak pergi ke UKS. Sekarang lo harus nurut sama gue," jawab Ragel menoleh kepada teman-teman Olivia yang terus menatap mereka sinis.
"Ck! Lo diktator ya, Gel?" tanya Olivia saat dirinya sudah duduk di bangkunya.
Ragel berbalik, berjongkok di depan Olivia. Mengusap lembut rambut Olivia. "Gue bukan diktator. Ini demi kepentingan lo juga," jawab Ragel lagi. Kali ini aura dingin Ragel perlahan-lahan memudar.
"Sampai kapan lo nyembunyiin hal nggak penting gini? Gue tau, lo ... cuman akting kan?" Olivia menatap mata Ragel lamat. Menelisik ekspresi wajah Ragel yang palsu baginya.
"Lo nganggap perlakuan gue selama ini akting? Apa sejelas itu gue nunjukkin kepalsuan ekspresi wajah gue?" tanya Ragel balik. Membuat Olivia terkejut.
Mengalihkan pandangannya, melihat teman-temannya yang masih menatap mereka sinis.
"Lo pergi. Bentar lagi bel bunyi," usir Olivia halus. Mendorong dada Ragel pelan.
Ragel terkekeh kecil. Mengetuk dahi Olivia pelan. Lalu berbisik kecil.
"Lo lucu, Livia."
Bisikan kecil itu ... entah kenapa membuat Olivia sedikit salah tingkah.
__ADS_1