MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
62. Maaf


__ADS_3

Olivia berhenti beberapa langkah tak jauh dari gudang. Mengamati gudang yang usang tersebut lekat. Sepertinya ini pertama kali bagi Olivia melihat gudang tersebut, setelah hampir tiga tahun bersekolah disini.


Tanpa berpikir panjang, Olivia segera mendekati gudang tersebut dan langsung masuk. Terkejut saat melihat Saga dengan pistol yang mengarah pada Ragel.


"Pa-pak Saga, stop disitu!" pekik Olivia tremor melihat situasi yang secara tiba-tiba ini.


Saga menoleh, tertawa kecil menurunkan pistolnya.


"Halo Olivia," sapa Saga.


Olivia menatap Saga takut. Napasnya tiba-tiba memburu tak beraturan. Menoleh pada Ragel yang menatapnya sejak tadi.


"Pergi," suruh Ragel dengan gerakan mulutnya. "Gue bilang pergi. Sekarang!"


Olivia meneguk ludahnya. Menggeleng pelan, dia tak ingin pergi begitu saja meninggalkan Ragel sendirian disini. Menghadapi Saga yang ternyata sudah gila.


"Haaahhh, jadi kalian berdua saling menguatkan ya? Padahal hubungan kalian udah kandas tak berbentuk ini."


Saga berjalan mendekati Olivia perlahan. Tersenyum sinis pada Olivia yang memilih melangkah mundur.


"Hei, Olivia. Kamu tau satu hal nggak?" tanya Saga semakin melangkah maju mendekati Olivia.


"Diem disitu lo, bangs*t! Jangan deketin Livia!" bentak Ragel.


Saga tak peduli. Pria itu lebih mendekati Olivia dengan senyumnya yang terlihat mengerikan.


"Kakak kamu yang meninggal di Swiss karena tertembak di bank itu. Itu semua salah Ragel," ujar Saga secara gamblang.


Tak sedikitpun dalam dirinya berkata bahwa dia lah yang melakukan hal tersebut dan Ragel hanya dijadikan sebagai kambing hitam nya aja.


"Bodoh bukan? Harusnya waktu itu Ragel mencegah saya untuk tidak menembak pistol ke arah kepala Abang kamu dan lebih memilih dirinya yang mati daripada harus orang yang dijadikan tumbalnya."


Olivia menatap Saga tak percaya. Mendengar ucapan guru nya itu. Rasanya bukanlah Saga yang ada di depannya ini. Seperti orang lain yang merasuki tubuh Saga dan mengatakan hal yang tidak dapat dia mengerti.


"Pak Saga bohong kan? Ini bukan bapak kan? Pak Saga yang saya kenal nggak gini," ucap Olivia tak percaya.


Saga tertawa kecil, semakin mendekati Olivia yang sudah mengenai dinding gudang.


"Siapa kamu kenal saya sampai segitu nya? Ini saya yang asli. Bukan saya yang dibuat-buat. Saga yang kamu kenal, hanya Saga palsu yang menjalankan tugasnya untuk dapat menghancurkan keluarga Tama. Kamu tak pernah tau saya Olivia," ujar Saga mengangkat pistol miliknya. Mengarahkan nya ke wajah Olivia.


"Ah, gini aja gimana? Kamu bukankah ingin bertemu dengan Abang kamu itu? Bagaimana kalau sekarang? Biar saya antar kamu menemui Abang kamu yang ada di akhirat sana."


Saga mulai menarik pelatuk nya. Saat akan menembak nya, Ragel dengan cepat berlari dan memeluk Olivia dengan erat hingga keduanya jatuh.


Dor!

__ADS_1


Arah pistol tersebut Saga arahkan pada kaki Ragel. Peluru tersebut benar-benar masuk ke dalam daging Ragel hingga darah kental mengalir dari kaki Ragel.


"Argh!" Ragel merintih kesakitan. Merasakan perih sekaligus panas dari peluru yang menancap di kakinya.


Olivia membulatkan matanya lebar. Segera menarik kaki Ragel yang berlumuran darah. Gadis itu meringis melihat daging yang jelas terlihat dari lubang seukuran peluru itu.


"Bangs*t! Lo gila Saga!!" bentak Ragel.


Saga tertawa jahat, tak menyangka ternyata sasarannya tepat mengenai Ragel. Mangsa terbesar baginya.


"Huhuhu, sakit ya?" Saga berjongkok di depannya. Menatap Ragel dan Olivia, lalu menatap lubang seukuran peluru di kaki Ragel. "Mana sakit saat seluruh keluarga saya diambil oleh Papa anda? Bahkan dia nggak bertanggungjawab atas kecelakaan yang dia sebabkan. Hanya memberikan biaya rumah sakit dan uang pemakaman. Padahal saat itu, anak saya sedang membutuhkan operasi. Seandainya saja waktu itu dia memberikan uang untuk operasi anak saya. Anak saya pasti akan hidup sampai sekarang. Itu semua karena ulahnya! Ulahnya yang menyebabkan seluruh keluarga saya meninggal! Tama itu yang lebih bangs*t!!!"


Olivia menatap takut pada Saga. Pria itu lebih menakutkan sekarang. Tak ada celah diwajahnya untuk menjadi baik seperti yang sering dia tampakkan walau itu hanya topeng.


"Apa hanya salah pak Tama? Bukankah Pak Saga juga berhak disalahkan karena bapak tidak sigap mencegah pak Tama saat itu untuk membiayai operasi anak bapak? Saya rasa, pak Tama bukanlah orang yang mudah kabur dari tanggungjawab," ujar Olivia menatap Saga takut.


Sorot mata gadis itu yang memerah dengan bibir yang bergetar. Membuat Ragel tak tega menyaksikan semua hal yang seharusnya tak disaksikan Olivia.


Ragel berusaha berdiri. Tapi ujung-ujungnya malah dia yang jatuh. Hingga darah kembali mengalir diluka tembakannya.


Saga tersenyum jahat, mengarahkan pistolnya di kepala Ragel. Menarik pelatuk pistol tersebut.


"Kata-kata terakhir?"


Ragel menepis tangan Saga kuat. Hingga pistol tersebut jatuh ke lantai. Napas Ragel terengah. Menatap Saga marah.


"Gila lo!" bentak Ragel menendang kaki Saga dengan kaki nya yang tidak terluka. Berusaha berdiri dengan dibantu Olivia.


Brak!


Para polisi mendobrak pintu gudang, lalu mengangkat pistol nya. Mengarahkannya pada Saga yang terjatuh karena tendangan Ragel.


"Angkat tangan!"


Saga mengangkat tangannya. Wajah datar nya seolah mengisyaratkan kalau dirinya tau bahwa ini akan terjadi dan perkiraannya benar.


"Bapak Saga ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan berencana dan teror terhadap keluarga Adhitama," ujar kepala kepolisian.


"Mari ikut kami pak," titah polisi tersebut menghampiri Saga.


Saga tersenyum sinis, "hanya saya? Bagaimana dengan anak laki-laki yang kalian jadikan tersangka itu?"


Semua mata tertuju pada Ragel. Termasuk Olivia. Gadis itu menatap Ragel dengan sorot tak percaya.


"Bukankah dia juga terlihat dalam pembunuhan yang saya rencanakan?"

__ADS_1


Ragel mengangkat tangannya, pasrah dengan keadaan sekarang. Meskipun dirinya tidak melakukan kejadian tersebut. Tapi dia tetap ada ditempat itu. Menyaksikan kejadian mengerikan itu.


"Tangkap saya juga," ucap Ragel lugas.


"Ragel!" Pak Tama tak terima. Anaknya terbukti tidak bersalah, kenapa harus disangkutpautkan lagi.


"Pah, ini cuman sebentar. Lagian waktu itu Ragel nggak kasih info yang jelas. Hanya diam seperti patung. Sekarang Ragel akan memberikan info yang jelas. Agar polisi dapat memberikan hukuman yang pas untuk orang ini," ujar Ragel menoleh pada Olivia.


"Maaf," ucap Ragel.


Olivia terdiam beberapa saat, menatap Ragel dengan sorot yang tak dapat dijelaskan.


"Gue tau lo masih nggak nyangka akan fakta yang diungkap secara tiba-tiba ini. Tapi gue harap, lo masih tetap sama Livia. Tetap seperti Livia yang mengenal gue sebagai sosok mantan....." Ragel menggeleng pelan, "bukan, lebih tepatnya teman. Gue nggak akan menjelaskan lebih detail atau mengelak apapun. Karena nggak ada hal yang perlu gue jelaskan lagi setelah kejadian ini."


"Gue.... masih syok saat ini," ucap Olivia menunduk dalam.


Ragel tersenyum tipis. Memerhatikan wajah Olivia yang menunduk. Rasanya dia ingin memeluk Olivia, mengucapakan beribu maaf atas kesalahannya di masa lalu.


"Lo boleh menghukum gue semau lo. Lo bahkan boleh memaki gue saat ini Liv," ucap Ragel menjatuhkan dirinya. Terduduk di dekat Olivia, menatap mata gadis itu yang berkaca-kaca.


"Maki gue semau lo sekarang. Sampai lo puas."


Buliran air mata itu jatuh secara tiba-tiba. Olivia menangis sejadi-jadinya, menggeleng kuat.


Dirinya bahkan tidak tau, alasan apa yang membuat dia menangis saat ini.


"Lo gila Gel. Lo bego. Lo brengs*k. Lo--" Olivia sesegukan, semua kata-kata yang ingin dia sebutkan tercekat. Dirinya dilema.


Dia menyukai Ragel. Tapi secara bersamaan, dia juga membenci Ragel. Sangat benci. Setelah tau fakta bahwa Ragel terlibat dalam pembunuhan berencana yang menyebabkan kakak nya jadi korban juga.


"Kenapa lo nggak cegah si bang*at itu! Kenapa lo malah diam dan melihat darah mengalir deras di kepala bang Gilang! Kenapa lo diam aja waktu itu Gel! Bahkan Mama lo juga jadi korbannya!"


"Lo bego Gel! Bego! Laki-laki paling bego yang pernah gue temui!"


Ragel tersenyum tipis mendengar umpatan dan makian Olivia. Ini belum seberapa dari rasa sakit yang dirasakan Olivia selama ini.


"Ayo Ragel. Polisi meminta keterangan lebih lanjut terkait kasus pembunuhan berencana itu." Polisi mengangkat tubuh Ragel. Meminta cowok itu untuk berjalan hati-hati karena luka tembakan di kakinya yang masih mengeluarkan darah.


"Jangan masukkan Ragel ke penjara pak. Karena saya tau Ragel tidak bersalah," ucap Olivia dari balik isak tangis.


Ragel terdiam, menoleh pada Olivia yang kini di peluk oleh Syera. Gadis itu bahkan tidak menatap dirinya sedikitpun.


Ragel berbalik, mendapati sang Papa yang ada di depannya.


"Papa bersama kamu nak. Kita selesaikan semua ini hingga tuntas."

__ADS_1


__ADS_2