
...PLAY MUSIC : KEISYA LEVRONKA...
...🎧 TAK INGIN USAI🎧...
Suara klakson mobil, berbunyi nyaring memekakkan telinga malam itu. Dalam hitungan detik, mobil sedan hitam tersebut menabrak mobil sedan lainnya.
Bagian depan mobil tersebut hancur. Ada dua korban meninggal di dalam mobil tersebut. Salah satu nya mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala.
Mobil sedan yang dikemudikan seorang pria paruh baya itu. Berusaha untuk keluar dari dalam mobil.
Setelah berhasil keluar. Pria paruh baya tersebut, melangkah tertatih-tatih menghampiri mobil sedan berwarna hitam yang terguling nyaris masuk ke jurang.
Dengan sisa tenaga yang ada. Pria paruh baya itu berusaha mengeluarkan pengemudi mobil tersebut. Menarik nya keluar dan setelahnya dalam hitungan detik. Mobil sedan yang berada di pinggir jurang itu jatuh.
Boom!
Pak Tama terbangun dari mimpi buruk tersebut. Kejadian belasan tahun lalu, kembali datang seperti peringatan untuk Pak Tama.
"Pah?"
Pak Tama menoleh. Menatap Ragel yang berdiri di depan pintu.
"Oh, kamu Ragel," Pak Tama berkedip sekali. Menyelidik anaknya penuh tanya. "Mau kemana? Rapih bener," tanya Pak Tama.
"Jalan sama Olivia," jawab Ragel seadanya. Melangkah mendekati meja kerja sang Papa.
"Jalan apa kencan?" goda Pak Tama. Matanya menyipit, menggoda putra nya.
"Iya iya. Kencan. Ragel mau pamit pergi dulu," ucap Ragel mengalah.
Pak Tama terkekeh kecil. Mengangguk singkat. "Jangan lupa oleh-oleh nya."
Ragel mendesis pelan. Menatap Pak Tama tajam. "Ragel bukan pergi jauh, Papa!"
Pak Tama kembali terkekeh. "Yaudah, pergi sana! Buru, nanti Olivia nungguin kamu nya lama."
"Iya Papa!"
Ting, tong!
Keduanya terdiam saat mendengar bel rumah berbunyi. Anak dan bapak itu saling menatap satu sama lain.
"Papa nggak ada janji sore ini," jawab Pak Tama menjawab pertanyaan Ragel.
"Ragel juga nggak suruh Olivia datang ke rumah," ucap Ragel.
Seolah mereka mengetahui siapa pelaku yang membunyikan bel rumah. Keduanya bergegas keluar dan membukakan pintu.
__ADS_1
"Haloo, keluarga Aditama. Sudah lama sekali saya dan keluarga tidak datang kesini. Apa kabar kalian?"
Pak Dion berdiri di depan pintu dengan mengembangkan tangannya. Seolah menyambut ramah Pak Tama dan Ragel.
Lalu di belakangnya. Ada Bu Henny dan Syera yang ikut tersenyum ramah.
"Mau apa kamu kesini!"
***
"Cantik bener anak ayah."
Ayah duduk di kursi plastik disamping Olivia. Memerhatikan raut wajah anak gadisnya yang sedang menunggu seseorang.
"Nungguin Ragel?" tanya ayah.
Olivia menoleh, setelah berkali-kali memberikan chat balasan pada Ragel.
"Iya Yah. Ragel ngajak jalan. Dia yang jemput Oliv, katanya." Olivia memelankan satu kata terakhir. Tak yakin satu kalimat di depan nya.
"Sudah kamu kabari?"
"Sudah. Udah berkali-kali Oliv bilang kalau Oliv udah siap dari tadi," jawab Olivia.
"Tunggu sebentar lagi. Mungkin dia lagi di perjalanan," ucap Ayah menenangkan anak gadis nya.
Olivia mengangguk. Kembali menatap ke depan. Sesekali menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan balasan dari Ragel.
Olivia menghela napas panjang. Berdiri dari duduk. Mengambil sling bag nya, lalu izin pamit pada orang tua nya.
"Ayah, Ibu. Oliv pergi dulu yah," ucap Olivia di depan pintu.
"Lho, Ragel nya udah datang?" tanya Ayah.
Olivia tersenyum kecil. "Oliv pergi dulu!"
Olivia segera menyalami ibu dan ayah nya. Lalu bergegas pergi. Mencari ojek yang ada di persimpangan jalan.
***
"Mau apa kamu kesini?"
Pak Tama menatap tajam pada keluarga Dion itu. Sudah membuang mereka hanya karena satu masalah. Sekarang mereka datang, seolah tak terjadi apa-apa.
"Oh, brother! Tidak bisakah kamu mempersilakan saya dan keluarga saya duduk dulu?" Pak Dion tersenyum ramah.
"Tidak bisakah anda pergi dari sini? Anda benar-benar seperti benalu yang tak tau sopan santun." Ragel menatap sinis pada Pak Dion.
__ADS_1
"Ah, dasar! Anak sama bapak sama saja. Atau memang keturunan kalian, hanya mementingkan harta. Agar bisa berkali-kali lipat, huh?" Ragel menatap Syera sinis. Tak suka dengan gadis itu.
"Nak Ragel, kamu tidak boleh seperti itu. Bukankah saya adalah calon mertua kamu? Dan Syera adalah calon istri kamu?"
Deg!
Olivia yang bersembunyi di balik pagar terkejut. Calon mertua? Calon istri?
Jadi Ragel dan Syera benar-benar telah bertunangan? Lalu untuk apa dia memacari Olivia?
Seketika penglihatan Olivia mengabur. Buliran air mata turun membasahi pipi nya. Gadis itu menghapus air mata nya.
Lalu mengeluarkan ponsel dan mengetikkan dua kata tanpa berpikir panjang.
Dering notifikasi berbunyi di ponsel Ragel. Buru-buru cowok itu membuka ponsel nya. Mendapati satu pesan dari Olivia.
Olivia :
|Kita putus.
Deg!
Ragel segera menekan panel telepon. Menghubungi Olivia. Meminta penjelasan atas pesan yang dia kirim.
"Liv! Lo nggak bercanda kan--"
"Gel, gue minta putus. Jangan pernah hubungi, atau temui gue lagi. Karena gue nggak mau jadi perebut cowok orang," potong Olivia terdengar parau. Segera menutup telepon tersebut. Sebelum Ragel mengangkat bicara.
"Akh!" Ragel menatap sinis pada keluar Dion tersebut. "Ini semua salah kalian! Pergi dari rumah saya!!"
"Nah lho, Ragel. Tidak bisakah kamu sedikit menghormati saya--"
"PERGI DARI RUMAH SAYA!!" bentak Ragel.
Melangkah cepat menuju motornya. Dengan emosi yang menggebu-gebu, Ragel tancap gas meninggalkan rumah.
***
**HALOHA!
GIMANA KABAR KALIAN GAES? MOGA BAIK-BAIK AJA
BTW, AKU SARANIN BACA CERITANYA SAMBIL DENGAR LAGU KEISYA LEVRONKA-- TAK INGIN USAI🎶
POKOKNYA DARI BAB INI, SAMPAI BEBERAPA BAB, WAJIB PAKE BANGET DENGER LAGU NYA DAN BACA BAB INI. BIAR KERASA AJA GITUðŸ˜
OKE, SEE U DI PART SELANJUTNYA 💛
__ADS_1
SIAPIN HATI YAW
PAY PAY👋**