MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
57. Ragel Dan Kebahagiaan


__ADS_3

Mungkin, apa yang dikatakan Olivia itu benar adanya. Bahwa Ragel tak pernah merasakan cinta dan kasih sayang dalam hidupnya.


Atau ... pernah?


Tapi Ragel melupakannya secepat itu. Secepat kilat yang menyambar bumi.


Begitulah, Ragel mungkin pernah merasakannya. Tapi rasa cinta dan kasih sayang itu seolah lenyap dalam sekejap dalam hidupnya.


Setelah kepergian sang Mama yang turut melibatkan dirinya. Membuat beberapa ingatan Ragel tentang rasa cinta dan kasih sayang dari sang Mama berantakan.


"Mah," Ragel jongkok di sisi makam sang Mama. Mengelus batu nisan itu pelan, "apa kabar?"


Ragel menatap gundukan tanah yang baru saja dia taburi bunga lekat.


"Ragel disini tidak baik-baik saja," ucap Ragel lirih.


"Ragel disini ..." Ragel menghela napas panjang, "entahlah Mah. Ragel nggak ngerti sama diri Ragel. Orang-orang selalu menyebut Ragel sebagai anak psikopat gila. Mereka juga menyebut Ragel sebagai anak yang bandel dan tak bisa melindungi Mama," Ragel berucap tegar.


Sekali lagi, Ragel menghela napas panjang.


"Padahal kan Ragel bukan anak yang seperti itu, iya kan Mah? Ragel menangkap orang-orang yang berusaha untuk menghancur Papa, seperti mereka menghancurkan Mama hingga tega meninggalkan Ragel disini. Berdua saja dengan Papa. Ragel bukan psikopat gila. Ragel bahkan tak membunuh orang--" Ragel terdiam. Mengepalkan tangannya erat.


"Seseorang bilang, bahwa rasa cinta dan kasih sayang itu adalah hal terpenting dalam menjalin suatu hubungan. Benarkah itu Mah?" tanya Ragel menatap nanar pada batu nisan di depannya.


"Mah, apa Ragel tak pernah merasakan cinta dan kasih sayang itu? Mah, bisa tidak, kalau Ragel meminta untuk Mama kembali ke sisi Ragel. Disini, di samping Ragel. Bersama Ragel, mendampingi Ragel. Membawa Ragel pada rasa cinta dan kasih sayang," lirih Ragel. Suaranya terdengar serak menahan tangis yang akan meledak.


"Mah, bisa kan Ragel meminta satu hal itu? Hanya satu mah. Nggak banyak-banyak. Ragel ingin mendengar suara lembut Mama. Melihat mama masak di dapur dengan appron pink kesayangan Mama. Mendengar tawa mama yang begitu renyah. Membuat Papa tersenyum seperti dulu lagi. Kembali seperti dulu. Seperti keluarga kita yang dulu. Disaat kebahagiaan itu lengkap seutuhnya. "


Ragel semakin mengeratkan genggaman. Mulai menundukkan kepalanya. Membiarkan air matanya jatuh membasahi gundukan tanah itu.


"Ragel hanya ingin kebahagiaan seperti dulu Mah. Disaat Mama disisi Ragel dan Papa."


***


Siang itu, disaat jam makan siang. Olivia lebih memilih untuk datang ke perpustakaan.


Akhir-akhir ini, gadis itu lebih sering ke perpustakaan ketimbang ke kantin.


Mengingat sebentar lagi akan memasuki akhir semester satu kelas dua belas. Olivia juga memikirkan bagaimana cara dirinya menghadapi ujian masuk perguruan tinggi nantinya. Lalu mendapatkan beasiswa.

__ADS_1


Setelah menemukan beberapa buku pelajaran yang dia perlukan. Olivia mulai melangkah menuju bangku yang kosong untuk mulai mempelajarinya.


Tapi sayang, tak ada satupun bangku kosong di tempat dia berdiri.


Pilihannya jatuh pada satu bangku di paling pojok dekat jendela. Tertutup oleh rak-rak buku dan hanya ada satu orang disana yang sedang tertidur dan terlihat tak berniat membaca buku yang dia jadikan bantal itu.


Olivia mulai melangkah mendekati bangku tersebut. Lalu duduk di seberangnya yang tersekat meja.


"Permisi, gue duduk disini ya?" ucap Olivia sopan.


"Hm."


Hanya suara dehaman yang terdengar.


Olivia mengangguk sekali. Lalu meletakkan buku-buku yang telah dia susun tinggi diatas meja.


Mulai membuka buku-buku tersebut untuk mempelajarinya.


Empat puluh menit berlalu, dan Olivia masih berkutat dengan buku-bukunya tanpa terganggu apapun. Lagi pula, seseorang yang ada di depannya juga tidak kunjung beranjak dan sama sekali tidak bergerak.


Sepertinya dia tertidur sangat lelap.


Gadist itu merenggangkan otot-otot nya. Menutup buku-buku tersebut. Lalu memandangi seseorang yang masih tertidur lelap di depannya.


Olivia seperti tak asing dengan wangi parfum orang yang ada di depannya.


Tak mau salah mengenali nya dan sok SKSD. Olivia memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.


Tapi tangan Olivia di genggam seseorang. Membuat gadis itu duduk kembali.


"Sori, lo ... kenal gue?" tanya Olivia ragu-ragu.


"Nggak perlu gue lihat wajah lo sekalipun. Gue tau kalau itu lo, Livia," jawab Ragel mengangkat kepalanya.


Memandang Olivia dengan wajah datar nya.


"Aaaa ..." Olivia gelagapan, "sori. Gue kira siapa," Olivia mulai bangkit dari duduknya.


Lagi-lagi di cegah oleh Ragel. Cowok itu meminta Olivia untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Segitu tak suka nya elo pada gue?" tanya Ragel serius.


Olivia diam. Tak ingin mengangkat bicara. Memilih untuk menunduk.


Tak kunjung mendapat jawaban. Ragel menghela napas panjang.


"Sori."


Satu kata itu mampu membuat Olivia mengangkat kepalanya. Menatap Ragel yang kini juga menatapnya.


"Bukan maksud gue buat nyakitin elo. Gue ... benar-benar bisa jelasin tentang hubungan gue sama Syera," ucap Ragel sungguh-sungguh.


"E-enggak usah--"


"Setidaknya lo tau fakta ini dari gue. Sebelum lo mendengar berita miring dari orang lain," potong Ragel.


Cowok itu menatap Olivia serius. "Gue, sama Syera memang pernah bertunangan. Tapi kami putus--"


"Ragel!"


Tiba-tiba Syera datang dan berteriak sekuat tenaganya di depan pintu perpustakaan. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


Tanpa pedulia dengan pandangan orang-orang. Syera berlari mendekati Ragel.


"Ratu, dia ... pingsan lagi," beritahu Syera cemas.


Ragel membulatkan matanya lebar. Tanpa berpikir panjang. Ragel segera berlari meninggalkan Olivia tanpa berkata apa-apa. Bahkan tak melanjutkan ucapannya.


Olivia yang melihat itu, hanya menatap punggung Ragel yang menghilang di balik pintu.


"Aaaa ... Liv, sori, kayaknya waktunya--"


"It's okay." Olivia tersenyum tipis.


Kembali memikirkan ucapan Ragel yang belum selesai.


Jadi Syera dan Ragel memang pernah bertunangan. Tapi putus dan ... apa?


Kenapa mereka memutuskan tunangan itu?

__ADS_1


__ADS_2