MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
08. Alasan Pacaran sama Olivia


__ADS_3

"Syera," panggil Olivia. Memerhatikan Syera yang sedari tadi mengemasi buku-bukunya. Syera menoleh. Berkedip dua kali. "Lo ... marah sama gue?" tanya Olivia ragu-ragu.


Syera mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan maksud Olivia. "Eng--"


"Eh, Sye! Lo udah beres masukin bukunya? Kita ke mall yuk!! Gue pengen makan jajanan Korea yang pedes entu!!" Hani tiba-tiba saja datang entah dari arah mana. Langsung menggandeng tangan Syera.


"Eh, Oliv! Gimana rasanya jadi pacar Ragel? Seneng pastinya dong. Apalagi lo dapet nya semudah balikin telapak tangan. Wah, padahal kalian belum pdkt. Tiba-tiba aja jadian. Mengejutkan!" sindir Hani tersenyum simetris. Menatap Olivia penuh intimidasi.


"Gue heran deh, jangan-jangan bener lagi kata Laura. Lo pake pelet. Sanking suka nya sama Ragel, lo sampe pergi ke dukun supaya si Ragel suka sama lo. Terus lo porotin Ragel. Kalau Ragel nya udah miskin, lo tinggal pergi pas lagi sayang-sayang nya. Duh ... kasian banget!!" cela Hani. Berpura-pura memasang wajah kasian.


"Siapa? Siapa yang pake pelet? Si miskin? Oalah, iya juga. Si miskin kan, tetap miskin. Jadi dia pake pelet, biar dapet pacar yang kaya." Laura dan geng nya datang. Cewek dengan bedak tebal itu duduk di meja Olivia. Menatap Olivia penuh hina.


"Hellooo!! Masih jaman ya, pake pelet-pelet nggak jelas gitu? Mana keluar duit banyak lagi. Kan sayang tuh duit. Lo bisa pake buat apa aja, contohnya ... eum, jadiin elo kaya dan selevel sama kita!!" hujat Laura, tertawa remeh.


"Eh, lo lupa Ra? Oliv kan, mana bisa selevel sama kita. Orang bapak nya aja ojol, hahaha!!" cemooh Resa, membuat Hani, Laura, dan Sinta tertawa.


Syera ingin sekali membela Olivia, tapi dia tak punya keberanian sama sekali. Karena kalau dia melawan Laura, Hani, dan geng mereka. Maka sama saja, Syera cari mati.


"Sye, bukannya Lo suka ya ... sama Ragel? Sayang banget yah, malah di tikung teman sendiri. Harusnya elo yang lebih berhak jadi pacar Ragel. Bukan si miskin!!" sindir Sinta menendang meja Olivia sekuat tenaga.


Olivia hanya diam. Lebih baik menutup telinganya, daripada dia terbawa emosi dan malah masuk pada jebakan mereka. Karena Olivia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.


"Duh, kasian. Teman makan teman. Harusnya nih yah, Ragel itu lebih buka mata lebar-lebar. Pandang tuh, ada Syera yang lebih cantik. Lebih pintar, lebih kaya. Lebih best daripada elo!!" Hani mendorong bahu Olivia kuat.


Olivia masih tetap diam. Menoleh pada Syera yang malah diam, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Gue nggak tau Sye. Lo bener-bener nganggap gue teman. Atau hanya sekedar capung yang lo tangkap. Lalu lo lepas sesuka hati lo,'batin Olivia menatap Syera.


Tak peduli dengan ocehan tak berguna yang penuh hujatan itu.


Maafin gue Liv. Gue ... temen nggak becus,'batin Syera. Gadis itu menunduk, tak berani menatap wajah Olivia.

__ADS_1


"Setengah jam, 20 detik. Lo ternyata lama juga ya, beresin buku-buku lo. Kira-kira berapa biji tuh buku, sampe setengah jam lebih gue tunggu-tunggu. Lo nggak nongol-nongol?" omel Ragel di depan pintu kelas.


Laura, Hani, Resa, Sinta, dan Syera kompak menoleh ke sumber suara. Membulatkan mata saat melihat Ragel berdiri disana dengan wajah dinginnya.


"Ayo pulang! Gue laper. Lo boleh porotin gue. Kapan perlu, lo minta ke gue beli pulau, helikopter, rumah segeda istana merdeka juga gue jabanin. Lo mau keliling dunia, ayuk! Gue jabanin apa yang lo mau. Soalnya harta bokap gue nggak bakalan habis. Sampai generasi ke 100 sekalipun," tandas Ragel datar. Menoleh pada cewek-cewek di meja Olivia.


Ragel berjalan mendekat, mengambil tangan Olivia. Menariknya menjauh dari cewek-cewek pembully itu.


Ragel berhenti, menoleh pada cewek-cewek itu. "Satu lagi, gadis gue emang miskin. Tapi dia jauh lebih pintar dan cantik dari elo pada. Jadi ... jangan remehin gadis gue!"


***


Olivia berhenti, melepas tangannya dari genggaman Ragel. Membuat Ragel mau tak mau, ikut berhenti. Menoleh pada gadisnya itu.


"Kenapa? Masih mikirin temen-temen lo? Oh iya, bukan teman-teman. Tapi musuh dalam selimut," ucap Ragel. Tapi Olivia masih tetap diam. Tak menjawab ucapan Ragel.


Olivia mendekat, menarik ujung seragam Ragel. Mendongakkan kepala. Menatap manik hitam gelap cowok itu.


"Apa alasan elo pacaran sama gue? Gue butuh jawaban," ucap Olivia serius.


"Gue nggak bisa jawab sekarang. Tapi gue, bakalan jawab satu bulan tepat dihari jadian kita hari ini," jawab Ragel.


"Kapan?" tanya Olivia lagi.


"Tanggal 12 bulan depan. Gue pasti akan jawab," jawab Ragel tenang.


Olivia berdecih, menghempas tangan Ragel. "Kalau nggak kasih jawabannya sekarang. Otomatis gue berhak minta putus, kan?"


Ragel menggeleng. "Enggak. Lo minta putus secara sepihak. Nggak akan gue kabulin," ujar Ragel santai. Bersedekap dada, tersenyum kecil.


"Hah? Lo gila!! Mana bisa gitu! Lo mau nyiksa gue? Kalau lo mau nyiksa gue, silakan. Gue fine-fine aja. Tapi tolong, jangan bikin hal-hal yang bikin kepala gue pusing dan ujung-ujungnya ... lo tau kan Gel? Lo juga liat sendiri kan?! Gue capek Gel! Gue capek! Capek gue denger hujatan dan hinaan nggak guna mereka. Gue pengen hidup tenang. Plis, tolong kabulin permintaan gue. Lo kabulin, gue bakalan senang dan lo juga ada untungnya kan? Lo nggak jadi bahan gosip lagi, dan gue ..." Olivia menunjuk dirinya sendiri dengan raut lelah.

__ADS_1


"Beban gue berkurang satu. Setelah putus, anggap aja kita nggak kenal dan nggak pernah terjadi apa-apa sama kita. Plis, gue mohon!!" Olivia memasang puppy eyes. Berharap Ragel mau mengabulkan permintaan nya.


"Lo beneran mau putus? Nggak mau manfaatin gue dulu?" tanya Ragel memastikan.


Olivia mengangguk dua kali. "He'em, gue mau putus. Gue nggak berhak manfaatin elo. Gue nggak mau bikin dosa. Cukup gue dihina sebagai orang miskin. Nggak usah nambah, dihina sebagai tukang tikung teman atau tukang pelet orang. Plisssss!!" ujar Olivia sungguh-sungguh. Mata bulatnya begitu berharap pada Ragel.


Ragel terdiam, mengamati wajah penuh mohon gadisnya ini. Ingin rasanya Ragel tertawa. Tapi dia tahan, karena dilihat darimana pun. Olivia benar-benar ingin putus. Padahal mereka baru jadian 8 jam yang lalu.


"Nggak bisa dan nggak akan gue kabulin," kukuh Ragel berjalan meninggalkan Olivia.


"Eh, kok nggak bisa!! Harus bisa Gel. Ada untungnya buat lo sama gue. Ada simbiosis mutualisme di dalamnya. Lo untung, gue untung!!" Olivia mengejar Ragel. Berdiri tepat di depan cowok itu. Menghalangi jalan Ragel.


"Gue bilang nggak bisa. Ya nggak akan pernah bisa. Nggak ada kaitannya dengan simbiosis mutualisme elo, paham?" Ragel masih kukuh dengan pendiriannya.


"Kalau gitu, kasih gue jawaban. Kenapa lo mau pacaran sama gue!" Olivia malah semakin memojokkan Ragel. Tetap ingin meminta jawaban atas kejadian yang tak masuk akal ini.


"Gue yakin, ada alasannya elo macarin gue, kan?" tanya Olivia, satu alisnya terangkat.


Ragel tertawa sumbang, menatap Olivia dengan tatapan dinginnya. "Gue bilang, gue bakalan kasih jawabannya setelah satu bulan kita pacaran. Puas?"


Olivia menggeleng kuat. "Enggak! Sama sekali nggak puas!!"


"Terserah elo deh!" Ragel muak, berjalan duluan meninggalkan Olivia.


"Oke, putus!" final Olivia. Berjalan cepat, meninggalkan Ragel yang langsung membulatkan matanya tak percaya.


"Eh, maksud lo apa?" tanya Ragel langsung menyusul Olivia meminta jawaban.


Tapi Olivia tak mendengarnya. Gadis itu yang awalnya jalan cepat, malah jadi berlari. Langsung memberhentikan angkot dan masuk ke dalam.


"Jalan pak!" ucap Olivia. Melihat Ragel yang lari nya cepat, membuat Olivia membulatkan mata.

__ADS_1


Baru beberapa jarak, angkot jalan. Ragel dengan cekatan langsung naik ke dalam angkot. Tak peduli kalau seandainya dirinya terjatuh.


"Maksud lo apa sih Yank? Kan udah gue bilang, gue punya alasan macarin elo. Jangan main asal putus aja, bisa?"


__ADS_2