
Kata ayah, Olivia itu adalah anak perempuan yang sangat ceria. Olivia itu pemberani daripada anak perempuan lainnya.
Sejak kecil, Olivia dituntut untuk berpikir matang dan mencoba untuk membela siapapun yang berani mengejek orangtua dan Abangnya.
Setiap hari, kalau ayah bosan membaca koran. Ayah selalu mengulang cerita yang sama tentang Olivia. Hingga gadis berumur 18 tahun itu mengingat jelas setiap kata-katanya.
"Kamu itu dulu nggak cengeng. Berani banget daripada anak perempuan lain. Pernah sekali, kamu hampir saja memukul anak laki-laki yang berbadan gempal karena anak itu mengejek fisik ibu," Pak Zam menghela napas panjang.
"Kadang ayah sendiri heran. Kenapa bisa punya anak cewek. Tapi beraninya nggak main-main."
Bu Ina yang sedang mengambil nasi itu Pak Zam terkekeh kecil. "Ibuk sama pusingnya ngeliat tingkah kamu waktu kecil Liv," sambung Bu Ina.
Olivia terkekeh kecil mengingat dirinya waktu kecil dulu. Sangat berani sekali, sampai-sampai anak cowok dia buat nangis sejadi-jadinya.
Tapi sekarang, semenjak janji yang diucapkan kepada Abangnya sendiri. Membuat Olivia lemah, seolah janji itu memang terikat akan dirinya.
"Ayah sama Ibuk bisa aja. Yaudah kalau gitu, Oliv pergi sekolah dulu."
Olivia menyalami punggung tangan ayah dan ibu nya.
Gadis itu berjalan ke bibir pintu. Memasang sepatunya dengan cekatan. Olivia segera berdiri dan menoleh lagi ke dalam rumah.
"Assalamualaikum Yah, Buk!"
Olivia melangkah pergi menjauh dari rumah. Baru beberapa langkah, ayah memanggil dengan suara khas nya.
"Oliv!"
Olivia berbalik, menemukan ayah yang berlari kecil menghampirinya. Lalu memberikan kotak nasi yang ada di tangannya.
"Di sekolah kamu juga wajib makan. Kalau belajar kan butuh stamina yang kuat!"
Ayah mengangkat kedua tangannya seolah sedang menunjukkan otot-ototnya.
Olivia terkekeh kecil melihat tingkah ayah nya yang lucu. "Iya iya, nanti pas jam keluar main. Oliv makan bekal nya. Biar kuat!"
Olivia mengikuti gerakan ayah nya. Mereka sama-sama terkekeh kecil.
"Kamu udah gede. Pasti ada banyak masalah yang terjadi setiap waktunya. Tapi ayah harap, kamu mau berbagi cerita. Apapun itu, kepada ayah. Agar ayah bisa tahu, kalau anak gadis ayah adalah anak gadis normal yang juga bisa menangis dan tertawa di depan ayah. Ayah sayang kamu, Livia!"
Ayah menepuk kepala Olivia pelan. Tersenyum lembut pada anak gadis nya. Olivia sudah besar, dan masalahnya pasti akan semakin rumit ke depannya.
Dan ayah sangat berharap, Olivia mau berbagi cerita dengannya.
"Kenapa harus ayah aja? Ibuk juga dong!"
Ibu berjalan menghampiri mereka dengan tongkat yang membantunya. Langsung memeluk Olivia dan ayah. Hingga tongkat bantu itu terjatuh.
"Kita hadapi masalahnya sama-sama," ucap ibu lirih.
"Iya, kita hadapi semuanya sama-sama," imbuh Olivia mengusap air mata yang membendung di pelupuk matanya.
***
Olivia memasuki angkot, memilih duduk di dekat pintu angkot. Saat gadis itu menoleh lurus ke dalam angkot. Olivia kaget karena Saga duduk disana dengan seulas senyuman yang dia berikan kepada Olivia.
"Eh, maksudnya selamat pagi pak!" sapa Olivia salah tingkah sekaligus terkejut.
"Pagi!" balas Saga ramah.
"Tu ... tumben pak?"
__ADS_1
Saga menaikkan sebelah alisnya. Lalu berkedip sekali menyadari pertanyaan Olivia.
"Motor saya mogok di persimpangan jalan dekat rumah. Jadi saya naik angkot aja. Daripada terlambat," jelas Saga.
Olivia mengangguk kecil tanda mengerti. Bingung lagi mau berbicara apa dengan Saga.
Saat angkot berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Olivia buru-buru keluar dari angkot. Lalu membayar ongkos nya.
Tapi sayangnya, uluran tangan yang lebih besar dari nya sangat cepat.
"Biar saya saja," ucap Saga setengah berbisik.
Posisi mereka begitu dekat sekali. Hingga membuat jantung Olivia berdetak dua kali lebih cepat.
"Makasih Pak."
Saga mengangguk kecil. "Langsung ke kelas?" tanya Saga memerhatikan Olivia yang masih diam.
"Ah, iya Pak!"
Saga mengangguk kecil lagi. "Bareng aja. Ada yang mau saya ambil di kantin kejujuran," ujar Saga.
Olivia hanya mengangguk saja.
"Kamu kenapa? Manut-manut saja apa yang saya bilang? Lagi sakit?"
Pak Saga menghadap Olivia sepenuhnya. Memerhatikan wajah siswi nya yang memerah.
"Nggak pak! Nggak pa-pa. Saya baik-baik aja."
Olivia buru-buru jalan duluan di depan Saga dengan langkah lebar.
"Mampus gue. Degup jantung nya mana makin kencang lagi," bisik Olivia memegangi dadanya yang semakin berdebar.
"Saya dengar Oliv," ucap Saga.
Olivia membulatkan matanya. Berbalik cepat, menemukan Saga yang malah terkekeh kecil.
"Pak!"
Saga semakin tertawa melihat wajah Olivia yang semakin memerah. Guru PL itu mendekati Olivia lalu menepuk kepalanya pelan.
"Kamu lucu!"
Olivia tentu saja membulatkan matanya tak percaya. Jantung nya kembali berdegup cepat.
Saga ... berani-beraninya dia membuat Olivia semakin salah tingkah.
"Pak Saga! Tanggung jawab!!" pekik Olivia.
Untung saja lorong menuju kelas nya sepi. Padahal ini masih pagi lho, pak Saga hanya modus tadi.
***
Olivia duduk di bawah pohon rindang. Membuka bekal yang di berikan ayahnya tadi. Nasi putih dengan ceplok telur.
Olivia tersenyum kecil, rasanya bekal ini adalah bekal teristimewa dalam hidup Olivia.
Olivia menyuap sesendok nasi. Rasanya nikmat sekali, hanya nasi putih dan ceplok telur. Sudah sangat nikmat bagi Olivia.
Tanpa gadis itu sadari, tetesan air mata membasahi pipi gadis itu.
__ADS_1
Olivia buru-buru menghapusnya. Tapi semakin Olivia mencoba kuat, semakin mengalir deras buliran air mata itu.
"Sial! Jangan nangis napa! Plis, jangan nangis. Gue mohon Liv, jangan nangis! Jangan nangis Olivia!!"
Olivia menepuk dadanya mencoba menenangkan diri sendiri. Tapi dadanya malah semakin sesak. Rasanya ada rasa yang tidak bisa Olivia sebutkan, tersekat dan membuat dada gadis itu sesak.
Rasanya ... semua bayangan yang terlintas saat gadis itu menutup mata. Membuat Olivia tersiksa.
"Hei!"
Olivia terdiam, membuka mata perlahan. Menatap Ragel dengan mata basah itu.
Cowok tampan itu terlihat khawatir. Tatapan mata yang tersirat cemas itu, seolah mengatakan kenapa.
Tapi Olivia malah diam dengan air mata yang terbendung di pelupuk matanya.
"Liv, hei! Jangan nangis. Hei!"
Ragel menghapus air mata yang membasahi pipi gadisnya itu. Meletakkan kotak bekal yang ada di pangkuan Olivia ke samping.
Menyandarkan kepala Olivia di dadanya. Sesekali Ragel mencium rambut gadis itu. Mengusapnya perlahan, mencoba menenangkan Olivia.
"Hei, jangan nangis. Ada gue disini," ucap Ragel lembut.
Olivia menggeleng kuat, mencengkram kuat kemeja putih Ragel. Air matanya pecah seketika. Tanpa aba-aba, suara isak tangis terdengar keras.
Ragel hanya diam mendengar suara isak tangis Olivia yang semakin kencang.
"Gue boleh egois kan Gel? Boleh kan? Sekali aja boleh kan? Gue mau jadi orang egois sekali aja," racau Olivia semakin mencengkram erat kemeja putih Ragel.
Ragel mengusap rambut Olivia lembut. Mengeratkan pelukannya, mengangguk samar.
"Boleh. Lo boleh egois sama diri lo. Lo boleh egois sama orang lain. Lo berhak melakukan apa saja dalam hidup lo. Asal itu positif, gue akan dukung," jawab Ragel pelan.
Olivia melepas pelukannya, menatap Ragel dengan mata basah yang memerah.
Ragel menahan napas sesaat, melihat Olivia menangis. Ada rasa tak sanggup untuk melihat mata indah itu basah.
Ragel memang pernah melihat Olivia nangis. Tapi mata basah itu tidak begitu jelas terlihat saat hujan juga turut menangis bersama gadis nya ini.
Olivia mengontrol napasnya, menggigit bibirnya kuat. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gue ..." Olivia menutup matanya. Mencoba untuk tenang sebentar saja. "Gue mau semua orang tau. Kalau gue, adalah manusia yang paling menderita di dunia yang kejam ini."
Ragel menatap Olivia lamat. "Lo boleh egois Liv. Tapi ingat, ada gue yang bisa lo lampiaskan segala rasa egois lo ke gue."
"Lo boleh egois. Karena semua manusia, memang di takdirkan untuk memiliki rasa egois dalam diri mereka," ucap Ragel lugas. Menepuk kepala gadisnya lembut.
Nyatanya, hubungan mereka yang tidak jelas. Perlahan mulai menemui titik temu. Tanpa mereka sadari sendiri.
🥀🥀🥀
Hai hai haloooooooo👋🏿👋🏿👋🏿
Iya iya Acha tau, ceritanya rada-rada absurd. Acha juga lagi usaha buat balikin plot nya ke awal rencananya Acha😭
Tapi ... ceritanya nggak ngebosenin kan? Kita ulur sedikit lagi ye. Biar makin greget. Btw, terus selalu suka sama MPB.
Dan tetap setia sama kami sampai end nanti. Hehehe 😆
Oke, Acha minggat dulu. Terlalu banyak note writer, dikhawatirkan bisa ada clue disini.
__ADS_1
See youuuu
Acha yang paling cantik🤪💞