MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
43. Karena Olivia


__ADS_3

Olivia terdiam, menatap garpu dan sendok makan di tangannya. Dia sudah selesai makan sejak tadi. Begitupun dengan Ragel.


Sejak lima menit yang lalu, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.


"Syera nggak masuk sekolah hari ini." Olivia bersuara. Masih menatap lekat piring kotor yang ada di depannya.


"Laura bilang dia sakit," lanjut Olivia.


Ragel mendengarkan saja. Menatap gadisnya itu yang semakin tertunduk, hingga wajahnya tak terlihat.


"Itu semua salah gue. Seharusnya gue nggak datang dalam hidup Syera. Seharusnya gue nggak berteman sama Syera. Dan seharusnya gue nggak merebut elo dari Syera." Suara gadis itu mulai lirih.


Olivia meletakkan garpu dan sendok makan tersebut. Mengusap wajah nya dari dagu hingga kening. Menghela napas panjang.


"Semua ini karena gue. Gue yang bodoh, karena nggak peka sama posisi Syera. Gue yang bodoh karena manut saja tanpa pikir panjang. Gue bodoh! Bodoh! Bodoh lo Oliv!!!"


Ragel berdiri dari duduknya. Mendekati Olivia. Menggeser bangku gadis itu hingga berhadapan dengan Olivia.


Ragel berjongkok di depannya. Mengulurkan tangan, membebaskan tangan Olivia hingga kini wajah memerah gadis itu terlihat.


Matanya basah. Hidungnya memerah. Pipinya ikutan basah karena air mata.


Ragel menggenggam tangan Olivia lembut. Mengusap wajah gadisnya itu hati-hati.


"Siapa yang bilang gitu, hm? Laura?" tanya Ragel. Olivia diam. Ragel menghela napas. "Berapa kali gue bilang. Jangan pikirin mulut kotor Laura. Dia nggak penting bagi hidup lo. Dan lo juga nggak perlu dengar kata-kata iblis nya."


Ragel menggenggam tangan Olivia lebih erat. "Lo hidup, bukan sekedar mendengar hal-hal negatif dari orang lain. Coba pandang dunia dari sudut yang lain. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, agar lo tetap berjalan pada rel yang benar. Elo yang berhak memilih. Hal apa yang akan lo lakukan."


Olivia menatap mata Ragel lekat. Untuk beberapa saat. Hanya tatapan mata yang seolah mengisyaratkan banyak hal diantara mereka.


Olivia balik menggenggam tangan Ragel. "Tapi gue juga butuh kritikan--"


"Kritikan dan saran dalam hidup lo itu. Untuk melangkah maju ke arah yang lebih baik. Bukan bikin hidup lo semakin buruk," potong Ragel cepat.


Ragel berdiri. Mengusap rambut Olivia lembut.


"Lo tau kenapa gue terus melangkah dengan bodo amat?" Ragel menatap Olivia. Begitupun dengan Olivia. "Karena gue merasa. Kalau ini hidup gue. Terserah gue mau melangkah kemana. Asal itu hal positif. Gue akan terus melangkah tanpa takut. Karena ini hidup gue. Dan gue harus memanfaatkan nya sebaik-baiknya."


"Ragel," panggil Olivia.


"Hm?"


"Makasih. Gue bener-bener beruntung dipertemukan sosok elo. Makasih sekali lagi."


***

__ADS_1


Motor klasik itu ikut bergabung di jalan dengan kendaraan lainnya. Tak ada satu pun suara yang terdengar dari sepasang remaja yang menaiki motor itu.


Hanya deru motor dan kendaraan lainnya yang mengisi hening nya malam itu. Dingin nya angin yang menerpa wajah. Membuat Olivia menutup matanya perlahan.


"Kamu harus janji sama Abang Livia. Jangan bandel lagi. Nurut sama apa yang Abang bilang. Dan juga, jangan dengerin omongan negatif orang-orang. Ngerti?"


Gilang. Cowok berumur 17 tahun itu menatap adek nya hangat.


Olivia kecil mengerjapkan matanya bingung. Memiringkan kepalanya sembari berseru. "Kalau mereka jahat. Harus di lawan dong bang! Olip nggak bandel bang! Olip cuman ngelawan mereka biar kapok!"


Gilang terkekeh. Mengacak rambut Olivia kecil gemas.


"Iya iya. Livia nggak bandel. Tapi ngeselin. Ngeyel juga. Nggak bisa dengerin kata Abang nya," ucap Gilang berjongkok di hadapan Olivia.


"Tapi, kamu nggak boleh jahat juga. Masa' jahat di balas sama jahat juga. Nggak lucu dong."


"Apa nya!? Nggak gitu bang Gilang. Orang jahat, kita juga jahat. Orang baik, kita juga baik. Simpel!" seru Olivia nggak mau dituduh jahat.


"Tetap aja. Nggak boleh gitu. Pokoknya, Livia jangan ngeyel!" ujar Gilang. "Pokoknya Livia harus janji. Jangan bandel lagi. Tetap jadi gadis kecil yang baik, yah?"


Gilang mengacungkan jari kelingking nya pada Olivia kecil. Menatap adek nya dengan senyuman yang terus terukir di wajah tampan nya.


Olivia mengerjap kecil. "Kalau janji, nggak boleh ingkar dong?" tanya Olivia polos.


Gilang mengangguk sekali.


"Yaaa ... tinggal kaitkan kelingking lagi. Terus janji lagi," jawab Gilang.


"Semudah itu?"


Gilang mengangguk sekali. "Nggak mudah sih. Kalau bisa, jangan ingkar, oke?"


Olivia mengangguk semangat. Mengaitkan kelingking mungilnya dengan kelingking Gilang.


"Olip janji!"


Saat itu, Olivia kira. Dia tetap bisa ingkar, selama Gilang masih ada di samping nya. Tapi ternyata, Gilang pergi begitu cepat.


"Liv? Livia?"


Ragel menepuk bahu Olivia dua kali. Mengagetkan gadis itu.


"Ibu sama ayah lo suka apa?"


"Eh? Nggak usah Gel. Jangan repot-repot," tolak Olivia halus.

__ADS_1


Ragel menggeleng pelan.


"Nggak repot. Sekali-kali gue beli makanan kesukaan calon mertua," goda Ragel tersenyum tipis.


Olivia membulatkan matanya. "Ish, Ragel! Jangan bikin orang deg-degan!"


Entah kenapa, sejak Olivia dekat dengan Ragel. Ada rasa nyaman dan aman. Dan juga ... perlahan-lahan, Olivia mulai memikirkan Ragel.


Ragel memiringkan kepalanya. "Hm? Deg-degan karena apa?"


Pipi Olivia bersemu merah. Mendorong kening Ragel karena terlalu dekat dengannya.


"Bener-bener jantungan gue nya, Ragel bego!!"


Ragel terkekeh kecil. Mengacak rambut Olivia gemas.


"Nggak usah nge-blush gitu. Elo nya jadi makin lucu," ucap Ragel tanpa sadar mampu memporak-porandakan hati Olivia.


"Rageeeelll!!! Bisa nggak sih. Lo nya santai aja kalau ngomong. Dan juga ..." Olivia menarik tangan Ragel dari kepalanya. "Gue nggak nge-blush dan tolong jangan acak rambut gue yang rapih!!" gerutu Olivia.


Ragel tertawa. Memukul jidat Olivia pelan. "Lama-lama lo mirip nenek lampir Olivia."


"Heh!" Olivia menunjuk Ragel tak terima. "Gue manusia!" sungut Olivia.


"Iya-iya. Manusia rasa nenek lampir." Ragel kembali tertawa terbahak-bahak.


Olivia masih kesal. Detik kemudian, melihat Ragel yang tak berhenti tertawa. Membuat Olivia mengembangkan senyum nya.


"Nah gitu. Kan cantik kalau pacar gue senyum manis gitu," ujar Ragel mengusap pipi Olivia.


Tolong! Ini si Ragel nggak peka, atau pura-pura bego?


****


Hai gais!💕


Maaf banget kalau Acha baru up sekarang. writer block dan rasa malas selalu menghantui, huhuhu😭


Acha lagi mumet banget nulis seminggu ini. Ini aja harus di paksa. Maaf yah, nggak bisa janji up 2 kali dalam seminggu.


Acha jadi merasa bersalah. maafin yah🥺🙏


Semoga kalian tetap stay di MY PSIKOPAT BOYFRIEND sampai ending. Dan masih setia mengikuti Acha untuk buat cerita-cerita lainnya.


Sankyuuu gais. jangan lupa tinggalkan jejak dan vomen nya. Acha bakal usaha buat up lebih rajin lagi. Supaya kalian nggak bosen nungguin cerita selanjutnya.

__ADS_1


Doain aja yah, semoga lancar. Sekali lagi makasiiiihhh 💕


Sayang kalian semuaaaaaaa💕


__ADS_2