MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
40. Jangan Ganggu Dia!


__ADS_3

"Oliv, gue suka elo!"


Rian menatap Olivia yang terkejut. Ragu-ragu, Rian mendekati Olivia beberapa langkah. Tapi gadis itu malah mundur.


"Gue tau ini mengejutkan dan terdengar konyol. Tapi gue ..." Rian menghela napas panjang. "Benar-benar cinta sama lo!"


Olivia menggeleng. Tak percaya dengan ucapan Rian.


"Bercanda lo terlalu kaku Yan. Lo bohong kan?"


Olivia terkekeh kecil. "Sori Yan, gue nggak bisa!"


Olivia berlari begitu saja. Meninggalkan Rian seorang diri disana. Dengan berbagai pertanyaan yang timbul di benak cowok itu.


Napas Olivia memburu. Menatap Rian semakin takut. Ada banyak ketakutan dalam diri gadis itu sekarang.


"Kenapa lo lebih milih Ragel dibanding gue?! Gue bisa jagain elo Liv! Bahkan lebih dari Ragel!!" bentak Rian. Menatap Olivia dengan mata melotot.


Meminta jawaban atas semua nya. Semua hal, kenapa gadis itu menolaknya. Kenapa Olivia lebih memilih Ragel dibanding dirinya.


"Apa yang ada di Ragel nggak ada di gue, hah!? Kenapa lo bisa semudah itu menerima Ragel di hidup lo dibanding gue?!"


Rian memukul dada nya. Menekan setiap katanya. Berharap Olivia sadar dan beralih padanya.


"Karena Ragel lebih bisa lindungi gue daripada elo," jawab Olivia lirih. Menundukkan kepalanya.


Rian yang ada di depan matanya sekarang lebih mengerikan.


Rian tersenyum sinis. "Lebih bisa melindungi elo, iya?! Gue bahkan lebih dan lebih dari bisa melindungi elo dari apapun. Gue lebih baik dari si brengsek itu!!"


"Ragel nggak brengsek! Elo yang brengsek!!" pekik Olivia sekuat-kuatnya.


"Hah! Bengal! Cewek bengal! Asal lo tau aja! Ragel itu lebih brengsek. Dia bahkan nyaris membunuh banyak orang--"


"Tapi dia nggak pernah berpikir untuk merendahkan perempuan!!!"


Bugh!!


Olivia kaget, saat seseorang menendang Rian sekuat tenaga di depannya. Hingga cowok itu terpental dan membentur dinding.


"Hah, hah, hah!" Napas Olivia memburu. Gadis itu mengangkat pandangan nya. Melihat Ragel tepat di depannya.


Wajah itu terlihat khawatir. Memerah padam, seakan menahan amarah.


Melihat Olivia yang mengenaskan. Ragel segera membuka seragam nya. Hingga menyisakan kaos berwarna putih.


Ragel berjongkok, menyampirkan seragamnya pada Olivia.


Menatap wajah gadis itu yang mulai pucat pasi.


"Sori, gue lengah," lirih Ragel. Memegangi wajah Olivia lembut.


Olivia masih terdiam. Seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan Ragel.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Olivia. Gadis itu melihat seseorang di tendang sekuat itu.


"Sori, gue nggak maksud buat lo ketakutan," lanjut Ragel lebih lirih lagi.


Saat cowok itu akan menenangkan Olivia. Rian lebih dulu menyeret Ragel. Lalu memukul punggung cowok itu dengan siku nya sekuat tenaga.


Hingga Ragel lemah tak berdaya.


"Lihat! Lo lihat! Dia bahkan nggak bisa jagain lo. Jadi, nggak ada alasan untuk lo nolak gue!"


Rian benar-benar gila!


Ragel mengeram, mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Berdiri dengan kondisi yang kurang seimbang.


Dalam sekali hentakan, cowok meninju wajah Rian. Hingga Rian terhuyung dan tumbang.


"Jangan bikin Livia takut!" Ragel menarik kerah baju Rian. "Kalau lo beneran suka sama Livia! Lakukan hal baik seperti yang lo lakukan sama dia dulu! Dan kalaupun Livia nolak elo. Setidaknya Lo sadar. Kalau bukan elo yang Livia suka!"


"Dan lo harap Oliv bakalan suka elo dibanding gue?" seringai Rian.


Ragel menyeringai mengerikan. Menatap Rian dengan mata kelam nya.


"Gue nggak berharap banyak sama perasaan seseorang," ucap Ragel. "Walau begitu, gue ingin terus berada di samping dia. Melindunginya dengan baik."

__ADS_1


"Jadi tolong ..." Ragel menampar pipi Rian kuat. "Jangan ganggu dia!"


"Lo bilang jangan ganggu dia? Melindungi dia?" Rian menyeringai lebar. "Elo sendiri yang membuat Oliv terganggu. Bahkan melindunginya? Oliv tersiksa karena elo!!!!"


"Bangsat!!!"


Saat Ragel akan meninju wajah Rian sekali lagi.


Olivia berlari dan menahan tangan besar itu. Gadis itu segera memeluk tubuh Ragel erat.


Berharap cowok itu tidak melakukan kekerasan lebih dari ini.


Sudah cukup Ragel melindungi nya dan memedulikannya.


"Cukup Gel! Cukup. Gue nggak apa-apa. Gue nggak merasa terganggu akan kehadiran elo," ujar Olivia pelan.


Olivia tersenyum di balik punggung Ragel.


"Gue malah merasa tenang," ucap Olivia pelan.


Genggaman tangan Ragel pada kerah baju Rian mengendor. Membuat cowok itu terjatuh ke lantai.


Ragel berbalik, menatap wajah Olivia yang tersenyum padanya.


"Lo ..."


"Psstt! Bukannya gue pernah bilang. Kalau lo itu nyebelin?"


Raut wajah Ragel berubah.


Olivia malah terkekeh melihat perubahan raut wajah kesal Ragel.


"Tapi lo juga ngangenin," lanjut Olivia. Menepuk pipi Ragel pelan.


***


Aura dingin di ruang kepala sekolah semakin mencekam. Lihatlah mata-mata tajam yang terus menghunus antara anak dan bapak ini.


Ragel menghela napas panjang. Melirik Rian yang habis babak belur karena ulah nya.


"Saya nggak ngerti lagi sama jalan pikir kalian. Udah besar, tapi soal cinta masih aja kekanakan! Bisa nggak, nyelesein nya dengan kepala dingin. Tanpa perlu baku hantam?!"


"Kalau dia nggak ada niatan buat melecehkan Olivia. Saya juga nggak akan buat babak belur," ucap Ragel angkat suara.


Rian memelototkan matanya lebar. "Kalau Oliv lebih milih gue dibanding elo yang bahkan hanya bisa menyalahi orang lain. Gue rasa Oliv akan lebih bahagia!"


"Bang--"


"Ragel!" Pak Tama menghentikan Ragel yang mungkin saja akan melayangkan tinju nya lagi. "Kamu juga salah Rian! Pikirkan sebelum kamu bertindak. Melakukan hal yang bahkan tidak pernah terjadi di sekolah saya ini. Akan berakibat fatal pada nilai sekolah kita."


"Kamu juga Ragel. Lebih baik kamu menarik kerah baju nya dan memberikan dia beberapa nasihat tanpa perlu meninju nya sampai babak belur!" ucap Pak Tama mutlak.


"Tapi--"


"Cukup!" Pak Tama mengangkat tangannya. Menghela napas panjang. "Kalian berdua, saya skorsing selama seminggu. Renungkan perbuatan kalian. Lalu, setelah masa skorsing berakhir. Saya harap, hal ini tidak terjadi lagi."


Begitulah, Ragel dan Rian akhirnya diskorsing dengan jumlah yang telah ditentukan.


***


Ceklek!


Olivia terkesiap mendengar pintu kepala sekolah terbuka. Gadis itu menatap Ragel khawatir.


Harusnya yang ada di ruang kepala sekolah adalah dirinya. Harusnya Ragel tidak terbawa masalah karenanya. Tapi--


"Gue oke," ucap Ragel menangkap raut wajah Olivia yang gelisah.


Olivia menggeleng pelan. "Lo oke, tapi lo di skorsing karena gue. Itu namanya nggak oke Gel!" lirih Olivia.


Memegangi wajah cowok itu yang lebam. Olivia berbisik lirih, "maaf. Sekali lagi, maaf."


Ragel mengambil tangan Olivia. Menggenggam nya erat, tersenyum sangat tipis. Baru kali, ada seseorang yang se-khawatir Olivia.


"Bukan salah elo," ucap Ragel.


Olivia menggeleng. "Salah gue. Lo nggak boleh bantah!"

__ADS_1


Ragel terkekeh, mengacak rambut Olivia lembut. "Terserah elo Liv," ucap Ragel.


Olivia mengangguk, lalu tersenyum pada Ragel.


Gadis dengan seragam putih Ragel itu menoleh saat Rian berdiri tak jauh dari mereka.


Olivia melangkah mendekati Rian. Berdiri tepat di depan cowok itu.


"Rian. Sori, gue--"


"Nggak perlu minta maaf. Gue yang bodoh, karena sudah bersikap kurang ajar," potong Rian tak berani menatap Olivia lagi.


"Gue tau dan gue percaya kalau lo laki-laki baik," ucap Olivia masih terus menatap Rian.


"Gue cowok brengsek Liv! Gue udah bikin lo ketakutan karena ulah gue." Rian menggeleng, menghela napas berat. "Dan gue benar-benar harus menghukum diri gue sendiri," lanjut Rian mengusap wajahnya.


"Yan, lo nggak boleh gitu. Maafin diri lo. Nggak ada manusia yang selalu sempurna. Diri lo tetap diri lo," ujar Olivia mengulas senyum pada Rian.


Kali ini Rian melihat Olivia. Gadis itu nampak manis dengan senyumannya.


"Gue juga minta maaf. Karena nolak lo waktu itu. Gue cuman ..." Olivia menghela napas panjang. "Nggak percaya aja. Karena, gue ngerasa lo cuman nganggap gue sekedar teman biasa. Jadi rasanya sangat terkejut saat lo nembak gue tiba-tiba," ujar Olivia.


"Bukan maksud gue nolak elo. Siapa sih, yang dengan tega nya menolak pesona kapten basket sekolah?" Olivia tersenyum sinis. "Iya, itu gue. Tapi gue mikirnya. Kalau lo itu hanya cocok jadi teman gue. Nggak lebih. Karena, gue nggak pantas jadi kekasih elo."


Olivia menghela napas panjang. Gadis itu menoleh pada Ragel yang juga menatap nya.


"Soal gue yang nerima Ragel sebagai kekasih gue. Karena hati gue berlabuh dengan sendirinya pada cowok itu," ujar Olivia tersenyum pada Ragel. Cowok itu berjalan mendekati Olivia.


"Dan gue rasa, dalam diri gue. Ada niatan untuk mengubahnya dan mengajak nya untuk jadi yang lebih baik," lanjut Olivia.


Rian tersenyum. Mengusap wajah pelan. "Oke. Semoga lo bisa selalu sama dia. Dan kalau dia nyakitin elo. Jangan sungkan bilang ke gue, Oliv," ucap Rian mengulas senyum pada Olivia.


Olivia mengangguk singkat.


Lalu setelahnya, Rian berjalan meninggalkan Olivia.


Olivia berbalik menghadap Ragel. Tersenyum pada cowok itu.


"Kenapa dia? Ganggu lagi?" tanya Ragel.


"Enggak kok. Cuman ngobrol bentar tadi," jawab Olivia masih mempertahankan senyum nya.


Ragel mengangguk pelan. Mengulurkan tangannya pada Olivia. "Yok, pulang!"


Olivia mengangguk. Menggenggam tangan Ragel erat.


"Gel, makasih atas segalanya," ucap Olivia.


Ragel menoleh. Melihat wajah Olivia dari samping. "Nggak perlu terimakasih. Udah kewajiban gue jagain elo."


***


**HALOOOO GAIS!!!!


MINAL AIDZIN WALFAIZIN YAH. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. ACHA DAN TOKOH FIKSI MEMINTA MAAF KALAU ADA SALAH.


BTW, JAN LUP. THR NYA☺️ BTW NGGAK TELAT KAN YAH. SOALNYA KAN MASIH SUASAN LEBARAN


OKE GAIS. SEGITU AJA. OH IYA JANGAN LUPA MAMPIR KE CHAT STORY ACHAAAAA.


JUDULNYA ADALAH ...


JREEEENGG


JREEEENGG


JREEEENGG**


GANG THE LIMA



**MARI RAMAIKAN GAIS. SORI KALAU ALUR NYA ABSURD🤣🤣


OKE SEKIAN. TERIMA CUAN DARI READERS☺️🙏


PAY DI PART SELANJUTNYAAAAAA

__ADS_1


SAMA DI CHAT STORY GANG THE LIMA. MUAAAAHHH💕💕💕💕**


__ADS_2