
Bruk!
Tak!
Tubuh mungil itu terjatuh, hingga menabrak dinding begitu kuat. Seragam sekolah yang dia gunakan kotor.
"Akh!"
Syera menjerit kesakitan saat Laura menendang perutnya sekuat tenaga.
"Lo nggak usah jadi pahlawan buat si miskin, bego!!" hardik Laura terus menendang Syera.
Membuka tas gadis itu, lalu menjatuhkan semua isi nya dengan buku-buku tebal. Hingga mengenai kepala Syera.
"Apa guna lo ngasih tau Ragel, hm? Mau cari perhatian dia lo?!" bentak Laura menarik wajah Syera.
Menekan kedua pipi gadis itu sekuat tenaganya. Membuat Syera meringis kesakitan.
"JAWAB GUE!!!! LO ITU NGGAK PANTAS JADI ORANG BAIK SYE! DAN ELO, NGGAK PERLU IKUT CAMPUR URUSAN GUE!"
Laura menghempas wajah Syera kasar. Menendang kaki gadis itu. Tersenyum sinis.
"Akh!" Syera meringis kesakitan. Tulang kering nya rasanya retak.
Syera menatap Laura penuh dendam. Seolah menyumpahi cewek iblis itu untuk enyah dari bumi ini.
"Oh? Lo nyumpahin gue? Enyah aja lo dari bumi ini! Gitu ya Sye?"
Laura tersenyum devil. Menampar pipi Syera kuat. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup berdenging di telinga.
"Elo aja yang mati! Bumi nggak butuh orang munafik kayak elo!" hardik Laura.
"Lau, lo terlalu kejam," ucap Sinta menatap Syera khawatir. Sebuah senyuman terukir di bibir gadis itu. "Bisa lebih kejam lagi? Atau ... perlu gue yang bikin dia habis?"
Laura tersenyum devil. Menatap Syera dengan mata melotot.
"Boleh, kapan perlu. Bikin dia nggak bisa sekolah besok!"
Laura menepuk kepala Syera pelan. Seolah mengatakan, kalau Syera akan baik-baik saja.
Iya, Syera akan baik-baik saja. Karena dia tidak perlu sekolah besok.
"Lain kali, kalau mau ngelakuin sesuatu. Kasih tau gue. Karena gue, majikan lo!"
Laura menarik dagu Syera tinggi. Mencengkram nya dengan kuat. "Lo nurut sama gue. Rahasia elo dan keluarga elo itu akan aman, Syera."
"Atau lo akan tau akibatnya. Karena ikut campur urusan gue!"
***
Dua jam sebelum kejadian.
Syera melirik Sinta dan Resa yang mengapit dirinya. Seolah Syera adalah tahanan yang tidak boleh bergerak kemanapun.
Gadis itu menatap punggung angkuh Laura dari belakang. Cewek iblis itu -- kenapa Syera harus mengikuti nya?
__ADS_1
"Gais!" Laura berhenti tiba-tiba. Menoleh ke ruangan putih. Dimana Olivia dan Rian baru saja masuk kesana. "Gue rasa, ini akan semakin seru," lanjut Laura tertawa jahat.
Menoleh ke belakang. Tawa cewek itu semakin menjadi. Hingga air matanya keluar.
"Hah! Rasanya cewek miskin itu, akan habis di tangan gue. Ya ... tentu saja melalui si Rian bego! Hahahaha," Laura terus tertawa jahat. Mendekati Syera. Mendorong kening gadis itu kuat.
"Lo bisa liat temen miskin lo itu hancur. Sehancur-hancur nya, Syera!"
Syera membulatkan matanya. Jangan bilang, Laura menyuruh Rian untuk melakukan yang tidak-tidak.
Ah, cewek iblis ini. Sepertinya urat syaraf dalam otaknya sudah putus hingga ke akar-akarnya.
"Lo gila Lau! Kemana hati nurani elo, hah?!!" pekik Syera mendorong Laura sekuat tenaganya.
Laura menendang tungkai kaki Syera. Hingga gadis itu tersungkur ke depan. Laura melangkah ke depan berjongkok di depan Syera.
"Kalau gue gila. Terus elo gimana? Orang nggak waras? Orang munafik? Atau, orang yang lebih gila dibanding gue?" Laura mendorong kening Syera kuat.
Syera meringis kesakitan. Leher nya rasanya mau patah. Tulang-tulang di lehernya rasanya retak.
"Lo itu sama aja kayak gue. Orang kayak elo, lebih pantas disebut gila daripada gue. Atau munafik ya?"
Laura tertawa jahat. Memukul jidat Syera kuat. Hingga berbunyi.
"Elo yang gila Laura! Rencana jahat lo itu, benar-benar keterlaluan!! Lo mau bikin Olivia hancur lebih dari ini, hah!" Syera tetap melawan. Mencoba untuk berdiri, mendongakkan kepala menatap Laura.
Menampar pipi cewek itu. Menunjuk Laura mengintimidasi. "Perbuatan elo itu, udah nggak bisa di toleransi Laura!"
Syera melangkah pergi meninggalkan Laura. Persetan dengan cewek itu. Dia nggak peduli, apa yang akan dilakukan Laura padanya nanti.
Syera melangkah memasuki kelas Ragel. Tak menemukan cowok itu di kelasnya. Syera mendesis pelan.
Berbalik, lalu mencari Ragel dimana pun. Cowok itu susah sekali di cari saat dibutuhkan.
"Ragel! Elo dimana sih?! Lo nggak tau pacar lo dalam bahaya, hah!" monolog Syera tersu saja menghela napas panjang.
Jengah, Ragel tak ditemukan.
"Bisa nggak sih, lo muncul sekali aja di depan gue Gel?!" Syera mendesis pelan saat tak menemukan Ragel dimana pun.
Syera terus berlari. Menyurusi setiap sudut sekolah, berharap menemukan Ragel.
Gadis itu menoleh ke bawah tangga. Dimana Ragel duduk dengan tenang. Buku sebagai penutup wajahnya dari sinar matahari.
"Gel!" panggil Syera menuruni anak tangga.
Ragel menurunkan buku yang ada di wajahnya. Menatap Syera jengah.
Cowok itu melangkah lebar meninggalkan Syera. Terlalu lelah untuk menghadapi cewek munafik ini.
"Ragel! Tunggu dulu!"
Syera semakin mengejar Ragel. Berharap cowok itu mau mendengarkan nya. Sekali saja.
"Lo nggak ada urusan sama gue!"
__ADS_1
Syera menghela napas panjang saat Ragel malah mempercepat langkahnya.
"Dengerin gue sekali aja, plis!"
Syera semakin mengejar Ragel. Mencoba meraih tangan cowok itu. Berharap Ragel mau mendengarnya.
"Sekalipun, nggak ada kesempatan buat elo untuk berurusan sama gue."
Ragel kukuh. Terus melebar langkah. Tak membiarkan Syera mendekati nya.
"Ini masalah Olivia," Syera akhirnya buka suara. Berdiri tak jauh dari Ragel dengan napas tersengal-sengal.
Ragel berhenti, berbalik menghadap Syera.
"Dia ada di Labor kimia yang baru. Sama Rian," lanjut Syera.
Dapat Syera lihat, tangan Ragel terkepal kuat. Seolah menahan amarah yang akan meletup beberapa menit lagi.
"Semuanya ulah--"
Ragel lebih dulu pergi. Tak mendengar ucapan Syera selanjutnya.
Syera tersenyum kecil. Begitu rupanya.
Sejak awal, Syera tau. Kalau dirinya dan Ragel. Hanya sebatas teman. Hanya sebatas rasa kasihan satu sama lain.
Dan hanya sebatas -- hubungan pertemanan masa kecil. Tanpa ada rasa cinta.
Ya, begitu seharusnya. Dan bodoh nya Syera.
Malah jatuh cinta, sama sosok Ragel yang bahkan tak meliriknya sama sekali.
***
Hai gaiiiissss!!!
Maaf yah Acha baru up sekarang. Acha nggak akan kasih alasan apapun. Karena yah, alasannya akan sama aja.
Acha harap kalian masih setia dengan MY PSIKOPAT BOYFRIEND.
Kira-kira gimana ceritanya sampai sini? Sudah ada yang bisa nebak. Gimana kelanjutannya? Dan apa yang ada terjadi nanti nya?
Btw, insyaallah. Kalau nggak writers block atau ada kendala. Acha bakalan up minimal 2 kali seminggu.
Tapi nggak janji lho ☺️🙏
Semoga betah.
Sankyuuuuuuu💓
Jangan lupa mampir di GANG THE LIMA.
Buat nge-refresh hati dan pikiran. Agar tak emosi💓
See you💕
__ADS_1