
Selamat soreeeee๐๐ฟ gimana nih, puasa nya. lancar?
Moga lancar selalu ya, hingga lebaran nanti. eits, udah ada yang beli baju lebaran belom? belom? mau dibeliin nggak?
bukan! bukan sama Acha. tapi sama my bapak dan my emak kalian. wkwkwkwk ๐คฃ bercanda bestie.
oke, seperti kali ini part lebih dari 10k kata.
btw, jangan lupa mampir ke cerpen Acha yah,link di bawah๐
https://mangatoon.mobi/activity/shortStoryShare?id\=30489&\_language\=id&\_app\_id\=2
happy reading gais๐๐พ๐พ
siapkan hati dan mental๐พ๐๐๐ฟ๐คง
"Lo tau nggak, Gel?" Olivia mendekatkan wajahnya pada Ragel. "Lo itu jelek!" tukas Olivia.
"Iya, gue tau," jawab Ragel santai.
"Lo juga bawel! Menyebalkan! Suka banget ngatur orang!"
"Iya, gue sadar."
Olivia berkedip sekali. Melihat Ragel di kaca spion cowok itu.
"Lo nggak marah?" tanya Olivia.
Ragel melirik Olivia dari kaca spion. "Kalau fakta. Ngapain gue marah?"
Olivia berpikir sejenak. "Iya juga sih."
Pagi ini, Ragel dan Olivia pergi sekolah bareng. Jangan salahkan Olivia yang manut saja di bonceng Ragel.
Salahkan cowok itu, karena datang pagi-pagi. Supaya nggak keduluan sama angkot yang biasa di naikin Olivia di perempatan jalan dekat rumahnya.
Motor Ragel memasuki kawasan sekolah. Cuek bebek saat murid-murid memerhatikan mereka yang tumben sekali pergi sekolah bareng.
"Oke, bye! Nanti gue pulang sama kang angkot aja!" Olivia berlari meninggalkan Ragel. Tanpa menunggu sepatah kata pun dari mulut cowok itu.
Bukan Olivia nggak tau terimakasih. Tapi gadis itu terlalu canggung saat dilihat banyak orang.
Ragel menggeleng pelan. Memerhatikan tingkah Olivia yang lucu di pagi hari.
***
"Pagi Sye--"
Olivia terdiam saat sadar kalau dirinya bukan lagi teman Syera. Cewek itu memiliki teman yang jauh lebih baik dari Olivia.
Olivia sudah tidak dianggap dikelas ini. Olivia akan selalu sendiri.
Tapi kadang, ada Ragel yang suka mengganggu dirinya. Kadang Olivia mengintropeksi dirinya sendiri.
Bagian mana dirinya yang membuat Olivia enggan untuk didekat orang-orang? Apa karena dia gadis miskin yang kebetulan sekolah di sekolah mahal karena beasiswa?
Olivia melangkah menuju kursinya. Meletakkan buku pelajaran dan mulai mempelajari materi yang masih belum dia pahami.
Bagus deh, kalau akhirnya begini.
"Sye! Lo mau ke club' nggak?" ajak Laura merangkul bahu Syera.
"Nggak! Sori Lau, gue ada les pulang sekolah," tolak Syera.
"Oh? Les? Atau latihan nyanyi?" tanya Laura menatap Syera. "Lo bohong kan, sama bokap lo?"
Syera menggeleng pelan. "Gue les privat dirumah. Bagian mana nya gue bohong?" tanya Syera menatap manik Laura langsung.
"Duh, putri kecil kita. Udah mulai berani, hm?" Laura mengangkat dagu Syera tinggi.
Olivia yang melihat itu segera berdiri. Ingin rasanya menghampiri Syera. Lalu menarik gadis itu dari cengkeraman Laura.
"Pagi anak-anak! Silakan duduk!"
Olivia berhenti. Gadis itu berdecak pelan, segera duduk kembali di tempat duduk nya.
Katanya Syera bahagia berteman dengan Laura dan geng nya. Tapi nyatanya, gadis itu malah masuk ke lubang macan lebih dalam.
__ADS_1
***
Olivia membereskan buku-bukunya. Gadis itu segera menyandang tasnya. Menoleh sekilas pada bangku Syera yang ada dibelakang.
Kosong.
Syera pulang lebih cepat bersama teman-temannya. Wajar saja, gadis itu pasti buru-buru pulang karena guru les sudah datang.
Olivia tersenyum kecil. Melangkah keluar kelas. Langkah gadis itu terhenti saat sepasang sepatu basket berdiri tepat di depan kelas nya.
"Hai!"
Olivia mengangkat pandangannya. Kelereng hitam gadis itu menatap sosok laki-laki dengan rambut acak-acakan.
Olivia mengenali nya. Olivia tidak berbohong, kalau Rian pernah menyatakan perasaannya pada Olivia.
Hanya saja ... rasanya canggung karena sudah lama tidak bertemu dengan Rian. Setelah Olivia menolak cowok populer itu secara mentah-mentah.
"Hai!" balas Olivia canggung.
Rian tersenyum kecil. Ada rasa senang yang membuncah di dada Rian saat ini.
"Lo ... ada waktu?" tanya Rian sama canggung nya.
Olivia mengangguk sekali. "Ada apa emang?" tanya Olivia balik. Mencoba memecah kecanggungan diantara mereka.
"Gue mau minta elo buat ngajarin materi kimia dari Bu Nita. Ada beberapa materi yang gue nggak ngerti," ujar Rian menatap Olivia tanpa berkedip sekalipun.
Olivia berpikir sejenak. "Kenapa nggak minta ajarin pak Saga?" tanya Olivia.
"Ah ... kalau itu," Rian mengusap leher belakangnya ragu. "Gue ada masalah sama guru PL itu. Biasa, masalah sepele."
Olivia menghela napas panjang. "Yaudah. Tapi sebentar aja," ucap Olivia.
Rian mengangguk senang. Mempersilakan Olivia berjalan duluan.
***
"Di lab kimia?" tanya Olivia menatap pintu cokelat di depannya. Ruangan putih itu terlihat dari kaca bening.
"Iya. Gue rasa tempat ini yang bagus untuk belajar. Apalagi pemandangan nya ada taman," jawab Rian membuka pintu cokelat itu.
"Yan, bukan apa-apa tapi gue--"
"Lo nggak percaya sama gue?" potong Rian menatap Olivia lebih lekat.
Olivia membasahi bibirnya. Mengalihkan pandangannya.
"Ma--maksud gue ... kita berdua aja di lab?"
"Liv!" Rian berjalan selangkah mendekati Olivia. "Gue bukan cowok brengsek seperti yang lo pikirkan. Lagian niat gue juga baik," ujar Rian meyakinkan Olivia.
Olivia mengangguk pelan. Walau masih ada keraguan dalam dirinya.
Mereka mulai masuk ke dalam ruangan putih itu. Olivia terkesima dengan lab kimia yang sangat ingin dia kunjungi.
Ruangan ini benar-benar berbeda dengan lab kimia yang biasa digunakan anak IPA. Alat-alat kimia yang lengkap. Semua alat yang serba baru. Bau cat yang baru, terasa menyengat di hidung Olivia.
Olivia melangkah mendekati meja dimana letak alat-alat kimia tersusun rapih.
"Wah, keren! Udah ada neraca analitik," seru Olivia mengamati neraca yang biasanya dia lihat hanga dibuku kimia saja.
Rian tersenyum, "lo nggak berubah dari di sampai sekarang. Tetap seperti Olivia yang selalu suka sama hal-hal yang berbau kimia."
Olivia mengangguk kecil. "Dari dulu, hal yang pengen gue lihat. Alat-alat kimia yang lengkap. Gue bakalan seneng banget diperbolehkan menggunakan alat nya," ujar Olivia mengamati dengan seksama semua alat tersebut.
Mengingat nya dalam memori gadis itu. Dan Olivia akan mengulang kembali, setiap detail dari alat-alat kimia tersebut.
Rian melangkah mendekati Olivia. Cowok itu berdiri tepat di belakang Olivia. Cukup dekat.
"Senyum lo selalu manis seperti biasa," ucap Rian mengamati wajah manis Olivia. "Dan akan tetap seperti itu."
Olivia berbalik. Tersentak kaget karena jarak mereka cukup dekat. Seolah tak ada ruang lagi diantara mereka.
"Ri--Rian, maaf. Kita jadi kan--"
"Dan gue harap, senyum lo tetap akan seperti itu. Tapi hanya untuk gue. Bukan orang lain."
__ADS_1
Rian mendekatu wajahnya pada Olivia. Mengamati setiap detail wajah gadis manis itu dari dekat.
"Andai waktu itu, lo terima pernyataan cinta gue. Mungkin sekarang lo akan lebih bahagia sama gue, Oliv," ujar Rian.
Wajah Olivia berubah pucat. Mendengar perkataan cowok itu yang membahas tentang dirinya yang menolak Rian tanpa jawaban. Membuat Olivia ketakutan.
"Gu-- gue ... nggak bermaksud--"
Lagi dan lagi, Rian memotong ucapan Olivia.
"Gue suka elo, dari dulu sampai sekarang. Perasaan gue nggak akan pernah berubah. Dan asal lo tau. Alasan gue suka elo, karena senyum elo. Sikap yang bodo amat sama sekitar. Walau dunia membenci diri lo. Lo tetap menyayangi diri lo sendiri. Itu, yang gue suka dari sosok Olivia Dwi Ananda," ujar Rian mengulurkan tangan.
Memegangi pipi Olivia yang lembut dan tembem. Merasakan halus kulit pipi gadis itu.
"Gue akan selalu suka elo--"
"Rian!!"
Plak!!
Olivia menampar pipi Rian sekuat tenaganya. Hingga cowok itu mundur beberapa langkah dan mengaduh kesakitan.
Olivia segera keluar dari kukungan cowok itu. Katanya bukan cowok brengsek. Tapi sekarang apa?! Cowok bajingan, huh?!
"Liv, awas!"
Olivia terjatuh, tanpa menyadari kalau lantai yang ada di pijakannya licin. Hingga gadis itu kehilangan keseimbangan.
Dan naas nya, ember yang ada diatas meja berisi air bekas terjatuh hingga mengguyur tubuh Olivia.
"Rencana awal gue. Lo ajak si miskin ke lab kimia yang baru. Lo tau kan, kalau dia tergila-gila sama hal-hal berbau kimia," bisik Laura tepat di telinga Rian.
"Gue yakin lo tau. Penggemar berat si miskin, masa' nggak tau sama hal sekecil ini." Laura tersenyum menatap Rian yang terdiam mendengarkan saja.
"Lalu, dekatin si miskin saat dia lengah. Pepet si miskin hingga nggak ada celah buat dia kabur. Gue yakin, kejadian selanjutnya akan berjalan secara alami," lanjut Laura. Menyeruput minumannya. Tersenyum miring saat kejadian demi kejadian terlihat jelas di benaknya.
"Dan hal kuno yang akan gue lakukan. Meletakkan air bekas di atas meja. Saat si miskin lari ketakutan melihat kebrengsekan elo. Dia akan jatuh, dan ..."
"Byuuuurrrr!" Laura membuang minumannya diatas meja. "Hal selanjutnya, gue serahkan sama lo. Kapten basket!"
Rian segera menghampiri Olivia. Membantu gadis itu untuk berdiri. Tapi ditepis Olivia mentah-mentah.
"Gue bisa sendiri!"
Rian terdiam, mengingat ucapan Laura. Kejadian hari ini benar-benar terjadi. Seakan memang sudah di reka cewek iblis itu lebih dulu.
Rian segera berjongkok. Menyadari kejadian apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Lo nggak boleh nolak!" ucap Rian hangat. Mengulurkan tangannya pada Olivia.
Sekali lagi, Olivia menepisnya dengan kasar. "Gue berhak nolak pertolongan cowok brengsek seperti elo!"
Dada Rian sakit. Rasanya ada beribu jarum yang menusuk hingga ke tulang rusuknya yang paling dalam.
Wajah Rian yang semula hangat. Malah dingin, dan semakin dingin.
"Nggak ada penolakan!" Rian mencoba menarik tangan Olivia. Membantunya berdiri, walau gadis itu memberontak.
"Nggak usah! Gue bisa sendiri, Rian!!" pekik Olivia memberontak sejadi-jadinya, agar cowok itu melepaskan genggaman tangannya dari Olivia.
Wajah Rian semakin beku. Melihat kondisi gadis itu yang mengenaskan. Seragam putih nya yang basah, hingga tercetak jelas. Membuat Rian tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa lo nggak mau menerima uluran tangan gue?" tanya Rian dingin.
"Karena lo cowok brengsek!" Olivia segera menutup tubuh bagian depannya. Menyadari kalau seragam putih nya basah, hingga terlihat dengan jelas.
"Gue bukan cowok--"
"Iya! Awalnya gue berpikir kalau lo cowok baik-baik Rian! Cowok yang selalu menjaga perempuan lemah. Cowok yang murah senyum. Cowok populer yang disukai banyak cewek. Tapi sekarang, melihat kelakuan lo. Gue nggak yakin lagi, kalau lo cowok baik-baik!" sentak Olivia. Air matanya jatuh hingga membasahi pipi dan punggung tangan gadis itu.
Olivia tidak mudah menangis. Tapi mengingat kejadian beberapa saat lalu. Saat Rian mengukungnya tanpa memberikannya ruang sedikitpun. Membuat Olivia seakan dilecehkan terang-terangan.
"Gue nggak bermaksud begitu. Liv, dengerin gue! Gue cuman mau nolongin elo dari cowok yang lebih brengsek dari gue. Gue mau nolongin lo dari Ragel bangs--"
"Ragel bukan cowok brengsek!" pekik Olivia sekuat tenaganya.
See you gaiiiissss, part selanjutnya. hayooo, tebak apa yaaaaa๐๐ญ
__ADS_1
oke, Acha minggat dulu
pay pay๐๐ฟ๐๐ฟ๐๐ฟ๐คง๐ญ