MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
27. Cinta Itu Luka


__ADS_3

Ragel memantulkan bola voli, lalu melambungkannya ke atas. Dengan cekatan Ragel melompat dan memukul bola tersebut sekuat tenaga.


Dash!!


Cekiiitt!!


Angga menahan bola yang di pukul Ragel. Hampir saja bola keras itu mengenai wajahnya.


"Asu!" umpat Angga tiba-tiba. "Untung refleks gue bagus. Kalau kagak, bisa hancur muka gue!"


Ragel tak menggubris. Kembali mengambil bola di keranjang. Saat cowok itu memukul bola sekali lagi.


Angga langsung mengumpat sekuat tenaga nya. "Heh beruk! Sekali lagi lo mukul tuh bola," Angga mengacungkan jempolnya lalu mengarahkannya ke lehernya. "Tau lo kan, beruk!"


"Lo ngajak berantem sampe mati?"


Ragel tersenyum sinis, memilih memukul bola ke bawah hingga berbunyi cukup kuat.


Angga menghela napas kasar. Memilih duduk di pinggir lapangan. Menatap net yang lebih tinggi dari kejauhan.


"Gue tadi nyari info soal pak Saga," ucap Angga.


Ragel yang sibuk mendribble bola berhenti. "Ngapain lo nyari info soal guru PL entu?" tanya Ragel.


Angga mengerutkan keningnya, mencoba berpikir. "Mungkin ... karena gue kepo. Oh! Satu lagi. Karena menurut gue, pak Saga akan berpotensi besar menghancurkan hubungan lo sama Oliv."


Angga mengedikkan bahu dengan bibir berkedut. "Atau mungkin, hubungan kalian bakalan selesai bukan karena pak Saga aja," lanjut Angga santai.


"Hah!" Ragel menghela napas kasar. Memantulkan bola sekuat tenaganya. Cowok itu langsung terduduk di lantai.


"Lo kenapa? Berantem sama Oliv?" tanya Angga tepat sasaran.


Angga menghembuskan napas panjang. Memantulkan bola voli ke lantai pelan.


"Hubungan kalian belum cukup sebulan. Berantemnya mau tiap hari emang?"


Ragel diam sesaat, menatap bola voli di tangannya. "Gue nggak tau. Kayaknya gue banyak dosa sama Olivia," ujar Ragel.


Angga berkedip sekali, hampir ternganga mendengar ujaran Ragel yang mengejutkan.


"Maksud lo? Dosa apaan coba? Lo ketemu sama dia baru dua Minggu yang lalu," Angga menatap Ragel tak mengerti.


Cowok tampan blesteran itu. Kadang selalu banyak kejutan. Ada saja hal yang bahkan tidak bisa Angga perkirakan.


Ragel menghela napas panjang. Mengusap wajahnya. "Lo nggak perlu tau."

__ADS_1


Ragel berdiri dari duduknya. Melemparkan bola ke arah Angga. "Gimana cara minta maaf sama cewek secara baik-baik?" tanya Ragel tiba-tiba.


Angga berkerut, memicingkan matanya menelisik.


"Bener kan kata gue. Lo berantem lagi--"


"Lo tinggal jawab tanpa harus ngomel," potong Ragel cepat. Nada suaranya semakin sinis saja.


Angga menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Bingung sendiri harus jawab apa.


"Gue jomblo dan gue nggak tau soal begituan. Tapi, menurut penelusuran gue. Cewek itu bakalan maafin cowok. Kalau si cowok mau mengakui kesalahannya dan nggak mengulangi nya lagi. Dan yah ..." Angga memantulkan bola ke lantai sekali. "Ajak dia jalan-jalan kemanapun yang dia mau. Atau terserah si cowok juga sih."


"Oke thanks. Gue hutang budi sama lo."


Ragel berlalu begitu saja. Membiarkan Angga yang semakin tercengang dengan tingkah absurd temannya itu.


"Gila emang!"


***


Tidak susah mencari Olivia saat jam kosong. Gadis itu mudah sekali di tebak. Apalagi tipe gadis seperti Olivia pasti menyukai ketenangan dan sepi.


Ragel tidak perlu susah-susah pergi kesana-kemari mencari sosok kekasihnya itu. Cukup pergi ke perpus.


Ah, mungkin saja di taman belakang sekolah.


Ragel tersenyum kala melihat sosok gadis bertubuh mungil sedang membaca buku di bawah pohon rindang.


Angin yang berhembus sepoi-sepoi. Membuat rambut panjang gadis itu menari-nari.


Ragel melangkah pelan. Matanya masih menatap lekat sosok Olivia yang sedang membaca buku dengan tenang.


Semilir angin yang lembut, menyapa keduanya dengan berbisik lirih. Seperti memberitahu mereka masing-masing.


Kalau akan ada kejadian baru yang sedang menanti mereka.


"Hai!" sapa Ragel berdiri tepat di depan Olivia.


Olivia mendongak, menatap Ragel beberapa saat. Sebelum akhirnya pandangan itu jatuh kembali ke buku yang ada di tangannya.


Membaca sederat kalimat lebih baik, daripada menatap Ragel yang hanya akan merusak matanya.


Ragel sudah menduga. Tak mudah bagi Ragel untuk meminta maaf secara tiba-tiba. Atau ... memang sejak kecil.


Kata maaf tak pernah terucap di mulut cowok tampan itu.

__ADS_1


Ragel duduk di samping Olivia. Mendekatkan kepalanya, membaca sederet kalimat yang dibaca Olivia.


Cinta itu luka. Bunga mawar itu berduri. Tapi sayangnya, manusia selalu menyukai dua hal yang mereka tahu. Kalau itu hanya akan membuat mereka sama-sama terluka terlalu dalam.


"Kenapa harus sama-sama terluka?" tanya Ragel.


"Karena sejatinya cinta, bukan hanya sekedar bahagia. Tapi juga membuka luka baru yang akan membekas di hati. Sama hal nya dengan mawar yang berduri," jawab Olivia. Matanya masih terus membaca sederet kalimat di buku.


Ragel menatap Olivia lamat. "Kalau gitu, rasa sayang juga sama-sama buat luka. Karena cinta dan sayang itu beda tipis, ya kan?"


Olivia diam, menoleh pada Ragel. Mata mereka saling menumbuk. Olivia menghela napas panjang.


"Yaaa ... bisa jadi," jawab Olivia ragu.


"Kenapa kebanyakan manusia malah jatuh cinta. Kalau mereka tau itu hanya akan membuat mereka terluka?" tanya Ragel lagi.


Olivia menghela napas panjang, menatap Ragel jengkel. "Lama-lama lo ngeselin ya Gel!"


Bukan tertawa melihat raut wajah Olivia yang kesal. Ragel malah makin menatap Olivia polos.


"Gue se-ngeselin itu di mata lo?" tanya Ragel polos.


Tuk!


Olivia mengetuk kepala Ragel pelan. Memilih berdiri dari duduknya. "Karena cinta bukan hanya sebagai landasan dasar dalam hubungan. Saling melengkapi juga, bukan berarti bisa mengawetkan hubungan. Bahkan orang-orang yang memandang mereka cocok. Belum tentu jodoh."


Olivia berbalik, memiringkan wajahnya menatap Ragel lugu. "Karena definisi jodoh terbaik menurut kita. Belum tentu baik menurut Tuhan," ucap Olivia tersenyum kecil.


"Dan siapa tau. Mereka yang sering bertengkar, dan merasa tidak serasi adalah jodoh terbaik yang Tuhan takdirkan," imbuh Ragel.


Olivia terdiam beberapa saat. Buru-buru gadis itu berbalik. Entah kenapa, pipi gadis itu malah bersemu merah.


"Nggak usah sok manis!"


Ragel tersenyum, melangkah mendekati Olivia. Berdiri di depan gadis itu dengan sedikit membungkuk.


Ragel menepuk kepala Olivia pelan. "Sorry, gue nggak maksud buat lo terluka kemarin. My bad. Really really, my bad," maaf Ragel menatap Olivia sungguh-sungguh.


"Lo mau kan, maafin gue? Gue bakalan bilang janji. Kalau hati gue bener-bener kuat buat mempertahankan janji itu, okey?"


Olivia menatap Ragel lamat. Entah kenapa, jantungnya berdebar kencang. Wajah mereka terlalu dekat.


"Gue nggak tau antara bisa maafin lo atau enggak," mata gadis itu masih menatap Ragel lekat. Tanpa sadar, setitik air jatuh ke bumi. Membasahi mereka setitik demi setitik. "Tapi, yang harus lo tau. Memaafkan, bukan berarti luka yang telah tergores, akan sembuh begitu saja."


Karena sejak awal, hubungan mereka hanya akan membuat luka baru yang akan tergores semakin dalam.

__ADS_1


__ADS_2