MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
56 Olivia Dan Saga


__ADS_3

Ada banyak hal yang tak terduga dari dunia ini. Peristiwa apapun itu. Hal-hal yang bahkan kita sendiri tak pernah menyangka akan sampai di satu titik. Dimana, semuanya terasa berat.


Begitu yang dialami Olivia, gadis berusia 18 tahun itu duduk sendirian di halte bus dekat sekolah. Menatap hujan yang membasahi jalan dengan tatapan lurus.


Apakah takdir Olivia harus begini? Mengapa dirinya tak menyadari bahwa semua hal yang ada disekitar nya, satu persatu menghilang.


Persahabatannya, Ragel-- sosok kekasih yang dia harap akan ada disampingnya.


Oke-oke, Olivia menyadari nya. Diri nya sendiri lah yang meminta putus pada Ragel.


Tapi Olivia tidak menyangka kalau hal itu akan membuat hati nya sakit. Olivia tak menyangka hati nya benar-benar sudah berlabuh sampai se-jauh itu pada sosok laki-laki yang tak pernah dia sangka juga.


Tin!


Olivia kaget, menoleh pada sumber suara. Mendapati sosok Saga yang terkekeh kecil melihat raut menggemaskan Olivia.


Saga turun dari motornya. Meletakkan helm nya di kaca spion. Lalu menghampiri Olivia.


"Kenapa belum pulang, hm?" tanya Saga berdiri tepat di depan Olivia. Menghalangi pandangan muridnya itu.


"Eum, bus sama angkot nya belum dateng," alasan Olivia. Padahal dirinya sengaja untuk tidak pulang lebih cepat.


Saga mengangguk percaya saja. Dirinya tau, kalau Olivia sudah berbohong padanya.


"Mau saya antar?" tawar Saga.


Olivia terperangah. Mulut mungilnya terbuka dan tertutup. Menatap Saga tak percaya.


"H-huh? Gi-gimana Pak?" tanya Olivia mencoba mencerna apa yang diucapkan Saga.


Saga terkekeh kecil lagi. Tangannya terulur mengacak rambut Olivia gemas.


"Saya antar kamu sampai rumah, ya?" ulang Saga lebih menegaskan setiap kata nya.


"Ta ... tapi, anu, maksud saya. Nggak apa-apa? Bapak ... anu, itu, tidak ada yang marah kah?" tanya Olivia ragu-ragu.

__ADS_1


Saga mengernyitkan dahi nya. "Marah? Siapa?"


"Ah ..." Olivia menggaruk pipinya bingung, "pa ... pacar? Atau ... istri?" cicit Olivia pelan.


Kali ini Saga tertawa renyah. "Hahahaha, kamu ngelucu ya Oliv."


Olivia terpaku, menatap Saga yang tertawa di depannya dengan tatapan kagum. Saga tertawa dan itu sangat menawan di mata nya.


"Saya nggak punya pacar ataupun istri. Plis yah, saya masih jomblo," jawab Saga setelah meredakan tawa nya.


Olivia menepuk pipinya pelan. Aish, malu sekali!


"Yaudah, yuk! Saya antar kamu ke rumah hingga selamat. Daripada disini terus, yang ada kamu di culik lagi," ajak Saga mengulurkan tangannya.


Olivia mengangguk. Berdiri dari duduknya tanpa menerima uluran tangan Saga sanking gugupnya.


"Ah ..." Saga memahami itu. Lalu berjalan menuju motornya, "bawa helm nggak? Atau, kira-kira polisi masih ada nggak sih sore-sore begini?" tanya Saga.


Olivia ikut berpikir. "Kayaknya enggak deh Pak," jawab Olivia seadanya.


"Hm, oke. Ayo naik!" Saga menaiki motornya duluan. Lalu menghidupkan mesin motornya. Pria itu menoleh lagi pada Olivia. "Ayo, tunggu apa lagi?"


"Pegangan yang kuat yah," ucap Saga.


Olivia mengangguk, walau dia tau Saga tak akan melihat dirinya mengangguk.


Saga tersenyum segaris. Mulai melajukan motornya membelah jalan Jakarta.


***


Three point!


Lagi-lagi, Ragel memasukkan bola ketiga ke dalam ring. Keringat terus bercucuran membasahi wajah dan rambutnya.


Ragel mengambil bola basket yang memantul ke arahnya. Mendribble bola tersebut, lalu melompat tinggi. Memasukkan bola keempat dengan mulus.

__ADS_1


Napas cowok itu berhembus tak beraturan. Menatap ring basket yang tinggi di depan matanya.


"Woi, Gel! Buru lah, elah! Dah tengah malam nih," omel Angga di pinggir lapangan.


Ragel menoleh sekilas. Lalu mulai mengambil bola dan mendribble nya.


"Duluan! Gue masih main basket!"


"Lo pulang. Atau gue tebas?" ancam Ziky menyorot Ragel tajam.


"Gue tebas balik lo!"


Ziky emosi, melangkah menuju Ragel dengan sorot semakin tajam. Tapi Angga malah menahan dirinya.


"Udah bro, udah. Biarin aja dulu dah. Orang yang patah hati," lerai Angga. "Jangan lupa pulang ye lo! Awas aja gue di telpon Pak Tama!"


Setelahnya kedua teman Ragel melangkah meninggalkan lapangan. Membiarkan Ragel sendirian di lapangan basket tersebut.


Ragel memantulkan bola basket kasar. Cowok itu menghembuskan napas kasar. Menatap langit tengah malam yang gelap.


Ragel sadar, kalau dirinya juga menyukai Olivia. Tapi kenapa baru sekarang dia menyadarinya?


***


**HALO GAIIISSSSS👋💞


AKHIRNYA UP JUGA


GIMANA KABARNYA HARI INI?


MOGA BAIK-BAIK AJA YAH


BYE THE WAY, MAKASIH UDAH SETIA SAMA MY PSIKOPAT BOYFRIEND YAAAHHH💞


JANGAN BOSAN-BOSAN BACA CERITA AKU YAAAHH

__ADS_1


TETAP STAY SAMPAI ENDING


SANKYUUUUU 💓**


__ADS_2