
Olivia mengeratkan genggaman tangannya pada bahu tegap Ragel. Gadis itu terus menunduk, dia menahan sakit di perut dan kakinya yang terkilir.
Memang itu bukan seberapa, Olivia malah lebih menahan telinga dan hatinya untuk tidak mendengar hujatan orang-orang terhadap dirinya yang di pandang hina ini.
"Kak Ragel beneran sayang ya, sama kak Oliv?" tanya salah satu siswi melirik Ragel dan Olivia yang melewati mereka.
"Nggak tau. Kayaknya enggak deng, eh nggak tau lah gue!! Moga aja kagak. Ogah banget tau, masa' gue nge-ship kak Ragel sama gue. Malah kak Oliv yang dapet kak Ragel. Jadi kesal kan!!"
"Dih elo! Nggak boleh gitu. Suka-suka kak Ragel dong. Btw, kalau di pikir-pikir. Kak Ragel pasti ada udang di balik bakwan itu mah."
"Serius?"
"Ya iyalah! Siapa coba yang mau sama kak Oliv yang miskin gitu, ups! Sori, mulut gue rem nya blonk, whahahahha!!"
Ragel menoleh, menaikkan dagunya ke atas. Menatap orang tak beradab yang hobinya ghibah itu hina.
"Lo punya masalah apa sama gue dan pacar gue, sampai kena ghibah menjijikkan gitu?" tanya Ragel dingin.
Semua orang yang ada di lorong tersebut bergidik ngeri. Selama 2 tahun mereka mengagumi Ragel dan menggapai si pangeran sekolah itu.
Baru kali ini, mereka melihat raut wajah dan nada suara Ragel yang terdengar seperti seorang psikopat sungguhan.
Orang-orang yang ada di lorong tersebut langsung pergi. Hingga hanya ada Olivia dan Ragel yang tersisa disana.
Olivia menghela napas panjang. Menempelkan keningnya di punggung lebar Ragel. Lelah rasanya jadi bahan gosip mulu.
"Ke rumah sakit. Lo harus di periksa sama dokter, apalagi perut lo di hantam sama meja sekuat itu," ucap Ragel mutlak.
Baru dua langkah, Ragel berhenti mendadak karena Olivia buka suara. Kata-kata yang membuat jantung Ragel serasa berhenti berdetak.
"Lo ... sayang nggak sama gue, Gel?" tanya Olivia.
Ragel terdiam beberapa saat. Meluruskan pandangan ke depan. "Kalau gue bilang sayang ke elo. Apa lo bisa berhenti nanya itu sampai seratus kali?" tanya Ragel balik.
Olivia menggeleng, "lo kira, bilang sayang ke orang semudah lo ngucapinnya? Semudah elo membuat orang-orang kaya bangkrut? Enggak Gel!"
Olivia tersenyum sinis, menoleh ke arah dimana sepasang remaja yang sedang memadu kasih di taman sekolah.
__ADS_1
"Ngucapin sayang ke orang yang kita sukai itu emang mudah di mulut. Tapi hati, jalurnya lain. Sayang itu ... ibarat elo nggak bisa kehilangan orang itu. Sedetikpun lo nggak ketemu dia, maka rindu dan kangen akan hadir. Sedetikpun lo ninggalin dia, ujung-ujungnya lo juga bakalan balik lagi ke pelukannya. Karena sayang sama cinta cuman beda tipis. Ibarat kagum sama suka. Lo ... akan terus bergantung dan selalu ingin ada di dekatnya," ujar Olivia melingkarkan tangannya di leher Ragel. Menumpukan kepalanya di bahu tegap Ragel
"Lo nggak usah geer gue di posisi kayak gini. Kepala gue lagi pusing," desis Olivia. Matanya perlahan menutup. Dia ingin tidur saja.
Ragel terdiam, memikirkan kata-kata Olivia tadi. "Kalau lo, sayang nggak sama gue?" tanya Ragel balik.
Untuk kali ini, Ragel boleh kan nanya gitu ke Olivia? Walau dia tau, jawaban apa yang akan dilontarkan gadisnya itu.
"Gue nggak jamin," jawab Olivia pendek. Bulu mata lentik itu terbuka perlahan. "Tapi gue rasa, gue ... boleh jujur nggak?"
Ragel mengangguk. Sebenarnya berdiri dengan posisi menggendong Olivia seperti ini. Rasanya berat sekali. Tapi entah kenapa, Ragel kuat untuk menahan berat badan Olivia.
Olivia menghela napas pendek. Melepas tangannya dari leher Ragel. "Gue kagum sama salah satu guru PL," ucap Olivia mutlak.
Ragel tetap diam. Raut wajahnya pun tak berubah sedikitpun. Bahkan cowok itu masih setia menunggu kalimat Olivia selanjutnya.
"Hehehe, tapi gue nggak tau. Apa rasa kagum gue bisa berubah jadi suka. Atau hanya sekedar kagum yang menyapa diri gue. Gue nggak mau berharap lebih. Karena bagi gue ... cukup ayah sama ibu yang bisa gue jadikan harapan dan alasan untuk gue bisa bertahan hidup lebih lama lagi," jelas Olivia terkekeh kecil.
"Biar gue tebak. Guru PL yang lo maksud, Saga kan?"
Tebakan Ragel membuat Olivia terkejut. Pipi gadis itu langsung merona. Membuang muka sembarang arah. Entah kenapa Olivia jadi gugup.
Sial! Harusnya dia nggak usah jujur sama si Ragel kampret.
Ragel terkekeh,menoleh ke belakang. Melihat pipi Olivia yang merona. "Lo emang berat, Livia!"
Olivia membulatkan matanya, lalu menepuk bahu tegap Ragel sekuat tenaga.
"Kampret lo! Gue udah diet tau nggak lo!!" damprat Olivia kesal.
"Sama satu lagi, JANGAN PANGGIL GUE LIVIA RAGEL!!"
***
Olivia mengerjapkan matanya beberapa kali. Menatap rumah sakit mewah yang kini ada di depan matanya.
Bukan norak, tapi seumur-umur Olivia sakit. Paling gadis itu hanya ke puskesmas. Itu pun kalau sakitnya boleh dikatakan parah. Tapi kalau enggak, ya ... beli obat di warung aja.
__ADS_1
"Gel, yang sakit kaki gue sama perut gue. Paling nanti kalau di urut sama ayah udah sembuh. Perut gue juga nggak sakit lagi. Paling nanti gue tinggal makan aja," ujar Olivia menolak secara halus.
Ragel mengetuk kening Olivia sekali. "Ngeyel! Kalaupun lo bilang gitu. Setidaknya periksa ke dokter untuk memastikan kalau lo baik-baik aja, paham Livia?"
Olivia mendesis kecil. "Iya, paham! Tapi jangan panggil gue Livia!!" sergah gadis itu berlalu meninggalkan Ragel dengan jalan terseok-seok.
Lihatlah, pacar Ragel benar-benar kepala batu.
"Bareng gue Liv! Nanti lo jatuh--"
Bruk!
Belum selesai Ragel ngomong, Olivia sudah jatuh tersandung batu. Gadis itu meringis kesakitan. Ragel menghampiri gadisnya, berjongkok di depan Olivia.
"Gue udah bilang, biar gue gendong. Kenapa tuh kepala keras banget kayak batu, hm?!" tanya Ragel dingin.
"Gue bukan anak kecil lagi Gel!!" bantah Olivia.
"Siapa bilang lo anak kecil? Setidaknya lo sadar, disaat lo sakit kayak gini. Harus ada orang yang bantuin lo. Bukan malah sok kuat, bodoh!!" sentak Ragel mengetuk kecil kening Olivia. Mengangkat tubuh gadisnya itu di belakang.
Olivia diam. Menatap tangannya yang saling menaut di depan Ragel.
Derap langkah Ragel yang ringan dan semilir angin yang menghembus menyapa mereka berdua. Orang-orang yang berlalu lalang dengan seragam putih ataupun baju pasien.
Olivia berujar kecil, "gue rasa ... rasa sayang mungkin akan hadir dalam diri kita. Cepat atau lambat. Tapi sayangnya, kita tidak menyadari itu."
...****************...
***selamat malam Minggu gais😭 akhirnya bisa up, maaf yah 10 hari ini Acha nggak up-up.
eh, iya nggak sih sepuluh hari? au ah, bingung.
BTW, gimana nih? masih setia kan sama cerita Ragel sama Olivia? masih dong, iya kan😎
menurut kalian, bener nggak kalau Ragel sama Olivia bakalan saling sayang? kita liat di episode selanjutnya 🌬️
oke itu aja dulu, Acha mo minggat
__ADS_1
pay pay gaiisss👋💞***