MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
42. Skorsing hari pertama


__ADS_3

"Gue naik angkot aja Gel. Serius, gue nggak pa-pa."


Olivia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Tangan kanannya masih setia memegang hp miliknya. Ada satu panggilan dari Ragel.


"Nggak, gue anter--"


"Gel!" Olivia memberhentikan aktifitas nya. Menatap dirinya dalam cermin. "Gue bukan anak kecil lagi. Serius. Gue nggak mau kejadian lagi kayak kemarin," jelas Olivia menyandang tas nya.


"Kepala batu banget sih lo nya, Liv!" Di seberang sana, Ragel menggerutu.


Olivia terkekeh kecil mendengar gerutuan Ragel. "Anggap aja, gue lagi mereda emosi lo. Untuk nggak ketemu sama Rian dulu. Dan gue nggak mau, lo cari masalah lagi-- ah, bukan ..."


"Gue nggak mau lo dalam masalah karena gue," ralat Olivia.


Di seberang sana, Ragel menghela napas panjang. Percuma berdebat sama Olivia. Ujung-ujungnya, Ragel sendiri yang mengalah.


"Yaudah. Tapi nanti pulang gue jemput. Nggak ada penolakan!" titah Ragel mutlak.


Olivia menggeleng, walau dirinya tau Ragel takkan melihatnya.


"Gue ke rumah elo. Nggak usah jemput. Gue naik angkot aja," tolak Olivia.


"Bener-bener kepala batu!" Ragel mendesis pelan.


Olivia terkekeh. Menatap dirinya sekali dalam cermin.


"Makasih Gel. Gue nggak tau, apa jadinya kalau nggak ada elo kemarin," ucap Olivia tersenyum kecil. Mengambil dua gelang dari dalam laci nya.


Gelang yang Olivia buat sendiri untuk dirinya dan Ragel.


"You're my hero. Tentu saja setelah ayah dan bang Gilang," ujar Olivia tulus.


Ragel diseberang sana mengulum senyum. "Udah takdir gue buat jagain elo dari apapun. Lo istimewa Liv."


"Apa sih lo! Gombal!" Olivia memasukkan dua gelang tersebut ke dalam saku seragamnya.


Melangkah keluar kamar. Gadis itu mendekati sang ayah yang sedang mengambilkan nya makanannya.


"Udah dulu ya. Nanti pulang sekolah gue telpon lagi," ucap Olivia sembari duduk.


"Oke. Hati-hati," ucap Ragel diseberang sana.


"Iyaaaaa."


Panggilan berakhir. Gadis itu menatap layar ponselnya. Nama Ragel tertera disana. 'Bukan pacar gue, sumpah!🔥'


"Ragel?" tanya ayah mengulurkan piring pada Olivia.


Olivia mengangguk. "Nanti Oliv pulang nya agak lama. Mampir dulu ke ruang Ragel. Boleh Yah?"


Sang ayah mengangguk. "Hati-hati. Pulang nya minta anterin Ragel."

__ADS_1


"Siap! Komandan!"


***


Olivia menghela napas panjang. Memutar pena nya bosan. Menunggu guru selesai absen itu sangat melelahkan.


"Syera Rahmania!"


Seluruh kelas hening, saat nama Syera di panggil. Tak ada sahutan dari gadis itu.


Olivia menoleh ke belakang. Dimana bangku Syera duduk. Benar saja, cewek itu tidak ada di bangku nya. Hanya ada Hani di sampingnya yang terlihat bingung karena Syera tak datang.


"Kemana Syera Rahmania?" tanya guru sejarah.


"Nggak tau buk. Mungkin telat bangun buk," jawab salah satu murid.


Guru sejarah tersebut menyipitkan matanya. Tak percaya dengan jawaban muridnya. "Syera bukan murid yang gampang nyerah kalau telat. Ada alasan lain?"


Tiba-tiba, Laura mengangkat tangan. Dengan tenang cewek itu berkata, "tadi Mama nya telpon saya buk. Katanya Syera izin nggak masuk. Sakit katanya."


Olivia mengerjap bingung. Menatap Laura yang kini menatapnya. Cewek itu tersenyum devil menatap Olivia licik.


"Sakit? Kenapa nggak telpon guru piket?"


"Nggak tau. Saya cuman nyampain pesan," jawab Laura santai.


Guru sejarah itu menghela napas panjang. Mengangguk saja dengan jawaban Laura.


"Baik, kita mulai pelajaran kali ini."


Padahal Olivia ingin mengucapkan terimakasih pada Syera. Karena Syera, Olivia selamat dari hal yang tidak dia inginkan.


***


Brak!


Olivia terkaget. Laura kembali menggebrak meja. Hingga mengenai perut Olivia.


"Lo tau kenapa Syera sakit." Itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan. "Karena elo!"


Laura menunjuk Olivia intimidasi. Membulatkan matanya horor.


"Karena elo yang dengan seenaknya ngambil Ragel dari dia! Karena elo yang buat dia dalam bahaya. Dan karena elo, yang buat Syera jadi bego. Sebego-bego nya!"


Laura mengangkat dagu Olivia tinggi. Menekan kedua pipi gadis itu kuat.


Olivia meringis kesakitan. Berusaha untuk melepaskannya. Tapi tangan Laura terlalu kokoh.


"Dengar ya miskin. Lo itu nggak akan pernah bisa jadi Cinderella. Dan jangan pernah bermimpi lo ada di dalam kisah dongeng atau apapun itu. Jangan pernah berharap, ending cerita elo akan baik-baik saja. Elo, nggak akan bisa masuk ke dalam cricle kami. Orang-orang yang kelas tinggi. Karena elo cuman kelas rendahan yang akan selalu jadi sampah. Paham, hm?!" kecam Laura menghempas wajah Olivia kuat.


Hampir saja kepala Olivia mengenai dinding. Gadis itu meringis kesakitan memegangi pipi nya.

__ADS_1


Laura tersenyum sinis. Memukul meja kuat. Hingga atensi kelas tertuju pada mereka.


"Lo itu sampah! Lebih dari sampah. Lo nggak pantas disini, dan lo nggak pantas sama Ragel," hujat Laura.


Laura membulatkan matanya horor.


"Enyah aja lo dari sini, sampah!"


***


Olivia menunduk dalam. Menatap dua gelang yang ada di genggamannya. Kini gadis itu sudah ada di depan pintu rumah Ragel.


Bel rumah sudah dia tekan. Tinggal menunggu Ragel keluar dan membukakan pintu rumahnya yang menjulang tinggi.


"Enyah aja lo dari sini, sampah!"


Kata-kata Laura masih terngiang di telinganya.


Ceklek!


Pintu rumah terbuka. Ragel berdiri tepat di depan Olivia dengan rambut acak-acakan dan sendok masak di tangannya.


Ditambah lagi, celemek berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Menambah kesan kegantengan Ragel.


"Liv?" panggil Ragel.


Olivia buru-buru menyembunyikan dua gelang di tangan nya ke balik badannya.


"Ah, ya-- ma ... maksud gue. Lo ...?"


Ragel menggaruk tengkuknya pelan. Jadi canggung saat Olivia melihatnya dengan celemek.


"Ayo masuk!" Ragel segera menarik tangan Olivia. Mengajak gadis itu masuk ke dalam rumah. "Gue lagi buat pasta. Udah selesai. Tinggal di salin ke piring aja," jelas Ragel masih menarik tangan Olivia ke dapur.


"Duduk dulu. Biar gue salin pasta nya," ucap Ragel.


Lalu berjalan menuju pantry. Mengambil perlengkapan makan.


Setelah menata pasta nya diatas piring. Ragel lalu membawa dua piring tersebut ke meja makan.


Ragel tersenyum saat melihat mata Olivia berbinar.


"Ini serius elo yang buat?" tanya Olivia tak yakin.


"Kenapa? Nggak percaya? Gue emang nggak bisa masak makanan rumahan. Tapi setidaknya gue bisa buat pasta. Gampang sama gue itu mah," ucap Ragel menyombongkan diri.


"Iya iya. Ragel apapun bisa," ngalah Olivia mulai menyuap pastanya.


Gadis itu tersenyum gembira saat merasakan masakan buat Ragel sangatlah enak.


"Ini enak banget Gel! Jujur deh, ini pertama kalinya gue makan pasta. Dan rasa menjanjikan!" seru Olivia mulai menyantap lagi dan lagi.

__ADS_1


Ragel terkekeh, melihat wajah Olivia yang berbinar. Perlahan, tangan cowok itu terulur mengusap rambut Olivia lembut.


"Lo harus tetap tersenyum Liv."


__ADS_2