MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
13. A Hero


__ADS_3

Dulu sekali, saat seorang gadis kecil yang sedang duduk di bangku usang dekat sekolah sambil memakan es potong kesukaannya. Menatap sekolah SD, terus-terusan tersenyum saat melihat anak laki-laki yang 10 tahun lebih tua dari nya sedang asik bermain bola.


Gadis kecil dengan kuncir dua itu berteriak dengan suara cemprengnya. Mencoba menyemangati anak laki-laki yang dia panggil Abang itu sekuat tenaga.


"BANG GILANG PASTI BISAAAA!!! OLIP DUKUNG BANG GILANG DISINIIII!!" teriak gadis kecil itu semangat.


Walau dia tau, kemungkinan kecil Gilang tidak akan mendengar suaranya. Tapi gadis itu benar-benar semangat sekali menyemangati abangnya.


"Oliv kenapa duduk disini? Kenapa nggak duduk di dekat pagar sekolah bang Gilang? Kalau kamu nyemangatin bang Gilang dari sini. Mana dengar sama bang Gilang," ujar sang ibu yang sibuk menyusun mainan-mainan diatas terpal biru yang di kembangkannya.


Olivia menggeleng kuat. Menoleh pada ibunya. "Kalau Olip kesana. Nanti bang Gilang nggak fokusy mainnya," ucap Olivia polos.


Bu Ina terkekeh kecil. Mengusap kepala anak gadisnya lembut. "Yuk, sini. Duduk dekat ibuk dulu. Bentar lagi, bel keluar mainnya bunyi," ujar Bu Ina menarik tangan Olivia.


Olivia mengangguk. Menuruti perkataan ibu nya. Duduk disamping ibuk. Lalu berteriak semangat saat mendengar bel berbunyi nyaring.


"YEAY!! KELUAR MAIN!!"


Bu Ina terkekeh kecil. Melihat tingkah anak bungsunya yang benar-benar heboh.


Terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut basah menghampiri mereka. Anak laki-laki tersebut langsung menggendong Olivia kecil.


"Bang Gilang menang lagi, kan? Iya, kan? Ada hadiah nya nggak, untuk Olip?"


Gilang langsung menggendong tubuh mungil adiknya. "Menang dong. Livia mau hadiah?" tanya Gilang balik.


Olivia mengangguk semangat. Mengulurkan tangan meminta hadiahnya. "Mana? Olip mau hadiah!" pinta Olivia kecil maksa.


Gilang terkekeh kecil. "Ini hadiahnya." Gilang langsung mencium pipi gembul Olivia berkali-kali.


Membuat gadis mungil itu tertawa menahan geli. "Bang Gilang!!! Geliiii," seru Olivia


Gilang terkekeh kecil. Melihat adik perempuannya tertawa, membuat hati Gilang menghangat. Baginya, Olivia itu adalah sosok adik yang mampu membuat dirinya tertawa saat Gilang di landa kesedihan.


"Gilang, kamu tuh ya. Udah ibuk bilang, kalau gendong Oliv itu jangan berkeringat. Oliv kan udah mandi. Ya kan, nak?" canda Bu Ina.


Olivia mengangguk polos. "Iya ih, turunin Olip bang!! Nanti bau keringat Abang ketularan sama Olip!!"


Gilang tertawa. "Nih Abang kasih ketek Abang!!" Gilang semakin tertawa kencang. Melihat wajah cemberut Olivia.


Sampai kehangatan itu pecah, saat salah seorang teman Gilang datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Heh, anak miskin! Nggak usah belagu lo disini. Udah miskin, nunjukkin kemesraan keluarga di depan kita-kita," serang salah satu dari mereka. Berkacak pinggang, menganggap remeh keluarga Gilang.


Sial! Baru umur 10 tahun, udah bisa menghina orang. Gimana kalau 10 tahun mendatang. Mungkin bisa menjatuhkan orang-orang lemah.


Gilang diam, menatap ketiga orang yang memakai seragam yang sama dengannya lekat. Menuruni Olivia dari gendongannya.


"Harusnya orang miskin itu malu yah. Udah miskin, kerjaan cuman jual mainan dengan untung nggak seberapa. Masih mau nunjukkin seberapa bahagianya kalian? Bahagia gitu, diatas kemiskinan lo, hah?!" hardik salah satu murid dengan tangan yang di tenggelamkan ke dalam saku celananya.


Gilang maju selangkah. Aura dingin sangat terasa dari diri Gilang berumur 10 tahun. "Terus kalau gue miskin. Lo susah? Enggak kan? Ibu gue, ayah gue, sama adek gue nggak minta uang jajan tuh, sama mama papa lo. Nggak minta dikasih apa-apa. Kita miskin juga, nggak peduli. Emang kehangatan dalam keluarga, kebahagiaan dalam keluarga. Hanya bisa dimiliki bagi orang-orang yang kaya aja? Orang miskin juga bisa. Kebahagiaan tercipta bukan karena lo kaya. Banyak duit, tapi karena lo dan keceriaan yang lo punya. Bisa tercipta kebahagiaan. Nggak peduli seberapa melaratnya elo. Karena kehangatan dalam keluarga belum tentu bisa dicari," ujar Gilang dingin. Anak kecil 10 tahun, sudah memiliki pemikiran yang bijak.


Karena sejak kecil. Sejak Gilang mengetahui, kalau keluarganya selalu di pandang rendah sama orang-orang ber'uang' banyak. Gilang seakan dituntut dirinya sendiri untuk menjadi bijak diusianya yang masih belia.


"Sok banget lo! Nggak usah nge-bela diri. Nggak usua sok keren di depan orang-orang. Nggak usah jadi pahlawan!!" Murid tersebut mendorong Gilang sangat kuat, hingga anak laki-laki itu terjatuh ke tanah.


"Hahahaha!! Harusnya orang miskin itu duduk di tanah. Nggak layak lo, sekolah di sekolah orang kayak gini!!! Hahahaha!!"


Semua murid yang ada disana tertawa. Menatap Gilang dan keluarga mereka penuh hina.


Gilang mengepalkan tangan sekuat nya, menahan amarahnya. Berusaha untuk tidak hilang kendali.


"Orang miskin itu, nggak layak sekolah di tempat yang mewah. Apalagi sekolah sebagus ini. Harus nya nyadar diri!! Mending keluar deh dari sini. Nggak usah nongol-nongol lagi di depan mata kita-kita. Lo nggak selevel!!!" hina murid tersebut semakin menjadi-jadi.


Olivia yang ada dibelakang Gilang menatap punggung tegap Abangnya itu. Gadis mungil berumur 3 tahun itu, menghampiri sang Abang. Memeluknya dari belakang.


...


Olivia terjaga. Napas nya terengah-engah. Menatap langit biru dari jendela kelas. Sial! Dia ketiduran. Gadis itu melirik jam dinding yang ada di depan kelas. 7 lewat 15.


Syukur deh, Olivia hanya tertidur selama 15 menit. Akhir-akhir ini, entah kenapa Olivia sering ketiduran. Mimpi nya pun terasa nyata. Bukan, memang kenyataan. Mimpi 14 tahun lalu, saat dirinya masih kecil dan Abangnya baru berumur 10 tahun.


Bagi Olivia, Gilang adalah Abang yang terbaik dalam hidupnya.


"Gaiiiissss!!! Ada liat hp baru gue sama kotak-kotak nya nggak?!!" tanya Sinta setengah berteriak. Semua murid yang ada di kelas langsung menoleh padanya. Kompak menggeleng tidak tahu.


Olivia mengernyit tak mengerti. Hp baru? Maksudnya gimana?


Sinta melangkah mendekati Olivia. Karena hanya gadis itu yang tidak menggeleng.


Sinta menggebrak meja Olivia, menatap gadis itu penuh intimidasi. "Heh, miskin!! Lo ya yang ambil hp baru gue, hah?!!" tuding Sinta setengah berteriak.


Olivia semakin mengernyitkan dahinya. Semakin bingung dengan apa yang di bilang Sinta. "Hp baru? Maksud lo apa? Gue nggak tau menahu soal hp baru lo. Liat tadi kan? Gue tetap pada tempat gue. Nggak kemana-mana?"

__ADS_1


Olivia membela diri. Tapi Sinta malah berdecak kesal. Melangkah mendekati Olivia. Menendang kursi gadis itu kuat.


"Minggir lo!! Nggak usah pura-pura begoo!!" bentak Sinta.


Olivia terpaksa berdiri. Meletakkan tas nya diatas meja. "Ck! Kalau mau periksa tas gue bisa izin ke gue kan?! Nggak nge-bentak juga!!" marah Olivia. Menatap kesal pada Sinta yang nggak tau sopan santun.


"Njir! Sok berani lo!" Sinta menarik tas Olivia jijik. Membuka setiap ruang tas Olivia. Cewek dengan rambut merah yang sengaja di blow layer itu. Membalikkan tas Olivia, hingga buku-buku gadis itu keluar, termasuk kotak pensilnya.


Pak!


Satu kotak hp yang segel nya sudah dibuka keluar dan jatuh diatas meja Olivia. Sinta tersenyum hina, menatap Olivia dengan tatapan seakan menemukan sosok maling berbakat dikelas ini.


"Selain pintar, cantik, dan sok caper. Ternyata lo punya keterampilan untuk memindahkan barang berharga orang ke dalam tas ya, Liv?" tanya Sinta memojokkan Olivia. Tatapannya yang penuh intimidasi dengan sorot mata penuh hina dan jijik.


Cewek itu mengambil kotak hp nya, mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kadang gue bertanya-tanya, hal apa yang membuat hidup sebagian orang-orang melarat dan semakin melarat karena mereka mengais rejeki dengan cara salah."


Sinta tersenyum semakin hina, menampar pipi Olivia kuat. "LO NGERTI SOPAN SANTUN NGGAK SIH?!! NGERTI KAN LO, KALAU LO ITU UDAH MISKIN. MAKIN TAMBAH MISKIN KARENA NGAMBIL BARANG-BARANG BERHARGA ORANG KAYA. KALAU BUTUH, TINGGAL MINTA!!! LO PUNYA MULUT. NGGAK USAH GENGSI BUAT NUNJUKKIN, BETAPA MISKIN NYA ELO!!!" bentak Sinta, suaranya menggelegar hingga terdengar sampai keluar kelas.


Semua orang berbondong-bondong menghampiri Sinta yang marah-marah dan Olivia yang terkejut tak percaya. Karena secara tiba-tiba, Sinta menampar pipinya sekuat itu.


Perih, benar-benar perih rasanya. Denyut dari pipi Olivia terasa sangat-sangat perih.


"LO TAU NGGAK SIH, HAH?!! JADI ORANG ITU HARUSNYA TAU DIUNTUNG. JANGAN MENTANG-MENTANG ELO UDAH JADI PACAR RAGEL DENGAN SEENAKNYA ELO MALAH MAKIN MENAMBAH KETERAMPILAN MENGAMBIL BARANG BERHARGA ORANG KAYA. GINI NIH, ORANG MISKIN NGGAK TAU UNTUNG!!!" hardik Sinta semakin menjadi-jadi.


Menendang meja Olivia kuat. Hingga Olivia meringis kesakitan karena perutnya terbentur meja cukup keras.


Olivia menatap Sinta marah. Napas nya terengah-engah. Tega nya, mereka yang memerhatikan Olivia yang menderita dan Sinta yang marah-marah. Apa mereka hanya menjadi dua objek ini sebagai bahan tontonan gratis?


Olivia mengangkat sebelah alisnya, "kalau gue miskin, lo sewot? Susah lo ngeliat gue miskin? Dimana-mana orang susah karena ngeliat orang senang."


Olivia memiringkan kepalanya, senyum segaris terukir di wajahnya. "Mau beberapa kali pun gue bersumpah karena bukan gue yang ngambil barang lo. Lo percaya? Enggak. Mau beribu kali pun gue memohon dan sujud sama lo, agar buat lo yakin. KALAU GUE ..." Olivia menunjuk dirinya sendiri.


"BUKAN NGAMBIL BARANG LO!! LO KIRA, GUE SE-HINA ITU. SAMPAI-SAMPAI HARUS NGAMBIL BARANG YANG BUKAN HAK GUE?! ENGGAK!! GUE, MASIH TAU DOSA DAN MASIH INGAT SAMA NERAKA DAN AZAB KUBUR. DAN GUE JUGA TAU ... PERCUMA AJA GUE MENJADI KAYA, KALAU GUE NGGAK BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG UDAH DITETAPKAN SANG MAHA KUASA!!!" marah Olivia, napas gadis itu menggebu-gebu. Mengepalkan tangannya kuat.


Saat-saat seperti ini lah yang nggak disukai Olivia. Karena dia sudah punya janji sama almarhum Abangnya. Kalau Olivia, nggak akan terbawa emosi lagi. Walau seberapa kali pun mereka mengejek dirinya.


'Bang, Olivia tau. Abang pasti marah diatas sana. Tapi kali ini, kesabaran Olivia sudah dilewat batas,' batin Olivia.


"BERANI-BERANINYA ELO BENTAK GUE!! MANA ADA MALING NGAKU!! KALAU YANG NAMANYA MALING, YA TETAP MALING, MISKIN!!" bentak Sinta menarik rambut Olivia kuat. Cewek itu terus menarik-narik rambut Olivia brutal.


Olivia berusaha untuk melepas tangan Sinta dari rambutnya. Meringis kesakitan karena jambakan Sinta semakin kuat. Seakan rambut Olivia tertarik sampai ke akar-akarnya.

__ADS_1


"Lo mau cari mati sama gue, hm?" suara dingin itu, langsung menyelimuti ruangan tersebut.


__ADS_2