
..."***Benang takdir itu, mengikat aku dan kamu. Seakan mengatakan, kalau aku dan kamu. Akan tetap bersama selamanya....
...~Olivia Dwi Ananda~...
HAPPY READING GAIS 💕
JANGAN LUPA VOTE SAMA KOMEN NYA YAH
SANKYUUUUUUU 💓***
***
"Ayah, ini kenapa? Kenapa banyak sekali orang di rumah kita?"
Olivia kecil bertanya polos. Menatap sang ayah dengan mata bulatnya lugu.
Ayah menggendong Olivia. Memeluknya begitu erat.
"Kita ..." Sungguh, berat rasanya memberitahukan kematian anak sulungnya kepada si bungsu. "... kehilangan bang Gilang," lirih ayah pelan.
Olivia mengerjap polos. "Bang Gilang kan di luar negeri. Bang Gilang nggak mungkin hilang disana ayah. Bang Gilang kan tau jalan," jawab Olivia.
Ayah tersenyum sendu. Mencium pipi Olivia pelan. Membawa Olivia masuk ke rumah kecil mereka.
Olivia dapat melihat ibu nya menangis terisak-isak. Mata bulat itu menangkap sosok yang terbungkus kain kafan terbaring diatas kasur.
Tanpa pikir panjang, Olivia meminta turun dari gendongan. Melangkah pelan menghampiri sang ibu.
"Ibu jangan nangis," ucap Olivia menghapus air mata ibunya di pipi.
"Oliv." Sang ibu memeluk Olivia erat. Semakin menjadi-jadi tangis sang ibu.
Olivia mengerti sekarang, maksud kehilangan yang di bilang ayahnya.
Dia ... kehilangan kakak yang dicintai nya. Kehilangan sosok yang menjadi panutannya. Kehilangan janji yang sebenarnya ingin dia ingkari dan akan kembali janji lagi dengan sang Abang.
Semuanya hilang. Seakan di telan bumi.
Saat itu, Olivia hanya bisa menitikkan air mata tanpa berkata apa-apa. Dia tak kuasa melihat wajah Abang nya, untuk yang terakhir kali nya.
"Jangan pernah pergi Gel. Gue nggak mau kehilangan lagi," lirih Olivia duduk di kursi tunggu.
Menunggu kabar tentang kondisi Ragel dari dokter. Membuat jantung Olivia berdetak dua kali lebih cepat.
Rasanya dia kembali ke masa dulu. Masa dimana dirinya melihat tangisan sang ibu yang tak pernah berhenti. Mata lembab sang ayah yang berusaha tegar.
Dan kain putih yang membalut tubuh Abang nya terakhir kali nya.
"Oliv!" Pak Tama melangkah cepat menghampiri Olivia. Sorot matanya begitu khawatir. Mendengar berita tentang putra semata wayangnya kecelakaan. Membuat Pak Tama buru-buru ke rumah sakit tanpa peduli dengan meeting nya.
"Ragel gimana?" tanya nya.
Olivia mengangkat pandangan. Melihat Pak Tama dengan mata sembab nya. "Masih di periksa dokter Pak. Oliv ... nggak tau gimana kondisinya."
__ADS_1
Suara Olivia tertelan isak tangis. Gadis itu kembali menunduk. Membiarkan dirinya masuk ke dalam tangisan tersebut.
Kenapa semua orang yang dia sayangi. Harus mengalami hal menyakitkan seperti ini.
"Keluarga Ragel Shaquille Adhitama!" Seorang dokter dengan jas putih keluar dari ruang IGD.
"Saya dok. Saya Papa nya!" seru Pak Tama. "Bagaimana kondisi anak saya dok?"
Dokter tersebut menghela napas panjang. Sebelum dirinya mengatakan hal yang sangat penting.
"Pasien mengalami pendarahan di kepalanya. Jadi kami langsung mengambil tindakan untuk melakukan operasi. Karena dikhawatirkan terjadi geger otak, karena benturan keras yang terjadi di kepalanya," jelas dokter tersebut.
"Tapi, anak saya baik-baik aja kan dok?"
Dokter tersebut mengangguk. "Tidak ada penolakan saat kami melakukan operasi dari tubuh pasien. Pasien telah melewati masa kritis nya. Dan juga ..." Dokter tersebut menggumam pelan. Berpikir sejenak. "... apakah pasien mengalami trauma? Karena setahu saya, kecelakaan yang terjadi terhadap pasien adalah kecelakaan tunggal. Dan kemungkinan besar penyebab nya adalah, pasien mengingat trauma nya di masa lalu. Sebelum kecelakaan terjadi."
Pak Tama diam sesaat. Menoleh pada Olivia yang begitu khawatir.
"Bisa kita bicara di ruangan dokter?" pinta Pak Tama.
"Baik. Mari ke ruangan saya Pak."
Pak Tama mengangguk. Menoleh pada Olivia kembali.
"Oliv, bisa jaga Ragel. Kalau dia siuman, beritahu saya," ucap Pak Tama.
"Baik pak." Olivia mengangguk singkat.
Pak Tama segera menyusul dokter yang lebih dulu berjalan darinya.
Ada apa dengan Ragel? Trauma di masa lalu? Apa ... ada kaitannya dengan sifat Ragel yang kadang terlihat seperti psikopat?
Olivia menggeleng pelan. Dia tak perlu mencampuri urusan orang lain. Toh sekarang, Olivia harus menjaga Ragel. Agar tak terjadi apapun lagi pada nya.
***
Olivia membuka ruang IGD. Bau obat-obatan menyeruak masuk ke indera penciumannya.
Gadis itu menatap Ragel yang terbaring lemah di ranjang putih rumah sakit. Kepalanya yang di perban. Alat medis yang berbunyi terdengar, untuk memastikan kalau jantung Ragel masih berdetak.
Masker oksigen dan jarum infus. Membuat Olivia tak kuasa melihat kondisi sang pacar saat ini.
Seumur hidup Olivia, gadis itu tidak pernah datang ke rumah sakit barang sedikitpun.
Bukan berarti Olivia tidak tau apa-apa tentang alat medis dan sejenisnya. Tapi memang, Olivia tidak pernah diizinkan untuk masuk ke bangunan serba putih itu.
Bahkan, saat ibu nya mengalami kecelakaan dan harus di amputasi. Olivia tidak pernah boleh masuk ke bangunan putih itu. Dirinya hanya bisa melihat bangunan tersebut dari luar.
Olivia melangkah pelan. Duduk di kursi di samping ranjang. Mengambil tangan Ragel dan menggenggam nya hati-hati.
Gadis itu mengusap tangan Ragel begitu lembut. Menatap wajah tenang nan tampan itu sendu.
Perlahan tangannya terulur. Mengelus rambut Ragel begitu lembut. Rambut cowok itu begitu halus. Hitam dan berkilau.
__ADS_1
Kadang Olivia minder memandang wajah yang begitu sempurna itu.
Bulu mata panjang. Hidung mancung yang seolah terpahat sedemikian rupa. Bibir nya yang tipis. Kulit putih bersih.
Olivia antara bersyukur atau tidak. Karena berpacaran dan mengenal Ragel begitu dekat.
"Lo tadi bilang nggak akan keluyuran. Lo tadi janji bakal langsung pulang ke rumah," Olivia berbisik lirih. Terus mengelus rambut Ragel lembut. "Kenapa lo selalu saja bikin gue khawatir. Lo dengan mudah nya, bikin gue nggak berhenti mikirin elo. Padahal gue berharap, gue bisa benci sama lo. Dan pada akhirnya hubungan gila yang elo ikatkan pada gue. Akan berakhir semudah itu," ujar Olivia menatap wajah tenang itu.
"Lo pinter banget bikin gue terus bergantung dan terikat sama lo Gel. Seperti ada benang merah diantara kita yang akan terus terikat. Seperti kita memang ditakdirkan untuk bersama."
Olivia menghela napas panjang. Setitik air mata jatuh membasahi pipi nya. Membuat suara gadis itu terdengar samar.
"Kenapa sulit rasanya bagi gue untuk mengakui. Kalau sebenarnya gue yang lebih dulu jatuh hati sama lo? Kenapa gue terus mengelak, kalau kita memang benar-benar diikat oleh benang takdir. Kalau kita akan selalu bersama?"
Olivia menatap Ragel mata basah nya. Hanya suara mesin medis yang terus berbunyi. Menandakan kalau Ragel masih bernyawa.
"Apa karena perbedaan kita yang begitu jelas. Kalau lo dan gue itu, memiliki status sosial yang jauh berbeda. Rasanya lo berada di dimensi lain. Dan gue, nggak mungkin bisa menggapai nya. Terlalu mustahil Gel," lirih Olivia menghapus air matanya.
Gadis itu berusaha untuk tersenyum. Menatap Ragel kembali dengan mata sendu nya.
"Tapi gue selalu berharap. Lo dan gue, akan tetap bersama."
***
***AUTHOR'S NOTE (づ。◕‿‿◕。)づ
HUHUHUHUHUHU, SAYANG KALIAN SEMUA NYA😭😭
KALIAN SAYANG NGGAK SAMA ACHA? SAYANG DONG, SAYANG. YA KAN?
ACHA MAKSA NIH🤭
BTW, ACHA MAU NANYA. KALIAN PERNAH MERASA OVERTHINKING NGGAK SIH? SAMA HAL-HAL YANG PADAHAL BELUM TENTU TERJADI.
ATAU KALIAN TAKUT BANGET. HAL YANG NGGAK KALIAN INGINKAN MALAH TERJADI LAGI?
TERUS, GIMANA CARA KALIAN MENGATASI OVERTHINKING ITU? DAN SOLUSINYA APA?
KOMENT YA GES YA😭😭😭
SEBENARNYA GINI ... ACHA MO CURHAT. TAPI NGGAK ENAKAN. JADI ACHA NANYA GITU AJA YAH.
SEMOGA PERTANYAAN YANG ACHA KASIH DAN KALIAN MENJAWABNYA. DAPAT MENGURANGI RASA OVERTHINKING ACHA SAAT INI.
TENANG GES, ACHA BAKAL USAHA UNTUK MENJADI LEBIH BAIK LAGI. DAN TENTU NYA, AKAN TETAP SETIA NULIS DI NOVELTOON.
SANKYUUU ATAS HADIAH DAN SUPPORT KALIAN.
ACHA SAYANG KALIAN(つ≧▽≦)つ PELUK ONLEN GES.
OKE, ACHA MINGGAT.
SEKIAN TERIMA GAJIIII. EH, TERIMAKASIH MAKSUDNYA 💓💓
__ADS_1
TARARENGKYU POKOKNYA, MUAH!🤭***