
"Mama itu emang cantik. Cantik banget," ucap Ragel menatap foto Mama yang sedang tersenyum. Cowok itu ikut tersenyum kecil.
Ragel memberikan lipatan baju yang ada di tangannya.
"Nah, baju ganti untuk lo. Dari sekian banyak baju gue, cuman ini yang pas untuk lo. Atau ... kebesaran juga?"
Olivia terdiam, menatap baju berwarna abu-abu itu lekat. Lalu mengangguk pelan mengambil baju dan handuk dari tangan Ragel.
Saat gadis itu akan melangkah meninggalkan Ragel. Olivia berbalik, menatap Ragel dengan satu pertanyaan.
"Gue ganti baju dimana?" tanya Olivia.
"Di ruang ganti dekat dapur," jawab Ragel seadanya.
Olivia mengangguk mengerti. Lalu pergi meninggalkan Ragel sendirian di ruang tamu.
Ragel mengamati wajah Mama nya yang tersenyum cantik itu. Entah kenapa, Ragel jadi teringat akan masa dimana keluarga mereka sedang sibuk untuk persiapan foto keluarga di ruang tamu ini.
"Ragel sayang, ya ampuunn!! Mana jas kamu, hm? Mana?"
Ragel kecil mengernyit dahi bingung. Menggaruk pipinya pelan, "Ragel letak dimana tadi ya Ma?"
Bu Tama membulat mata tak percaya. "Astagaaa," Bu Tama mengusap wajahnya pelan. Melirik suami nya yang sibuk memasang dasi. "Papa kenapa lagi?"
"Ini lho Ma, Papa lupa gimana cara pasang dasi. Mana jas Papa letaknya entah dimana," ucap Pak Tama berusaha memasang dasi nya.
Bu Tama menggeleng pelan. Mendekati Pak Tama yang, membantunya memasang dasi.
Bu Tama berkacak pinggang, menatap anak dan bapak itu lelah.
"Emang ya, anak sama bapak sama aja. Pelupa, pikun. Kemarin-kemarin Mama bilang, kalau hari ini mau foto keluarga. Nggak di dengerin kan! Malah berantakan jadi nya!!" omel Bu Tama, tangannya masih setia memasangkan dasi Pak Tama.
"Sellow Ma, sellow." Pak Tama mencoba menenangkan Bu Tama.
"Nah, ketemu!" seru Ragel kecil tersenyum senang. Langsung memakai jas abu-abu miliknya. "Dah, yok Ma, Pa!"
Ragel menampakkan deretan gigi nya tanpa dosa.
Bu Tama dan Pak Tama tentu saja saling pandang. "Anak kamu tuh Pa!"
"Bukan Ma! Anak Mama kali!"
"Ye, masa anak Mama?"
"Ya kan emang anak kamu."
"Anak kamu juga."
"Papaaa."
__ADS_1
"Stop! Ragel anak orang kaya. Selesai!" ucap Ragel tegas. Memilih pergi dari sana.
"Kayaknya emang anak kita Ma."
"Hm, anak kita emang beda."
Ragel tersenyum kecil ketika mengingat kejadian sebelum foto keluarga. Menurut Ragel, kejadian itu adalah kejadian terindah yang masih Ragel ingat.
Dan itu terjadi, sebelum mimpi buruk dalam hidupnya jadi kenyataan.
"Gel?"
Ragel kaget dan langsung menoleh ke sumber suara dimana Olivia berdiri tak jauh darinya.
"Udah selesai?"
"Udah dari tadi Gel," jawab Olivia mengernyit bingung.
Tumben sekali Ragel gagal fokus gini. Biasanya cowok itu selalu memasang wajah datarnya dan bersikap serius.
"Oke. Pulang sekarang?"
"Ya iyalah! Masa' gue nginep," omel Olivia.
Ragel terkekeh kecil. "Siapa tau?"
Ragel kembali terkekeh. Menggelengkan kepalanya pelan. Mengambil kunci motor diatas meja.
"Yok!"
Olivia mengangguk, menyusuk Ragel yang lebih dulu keluar daripada dirinya.
Olivia menatap wajah Mama Ragel lekat.
"Tante, Oliv nggak pernah ketemu Tante barang sedikitpun. Tapi Oliv rasa, Tante adalah alasan Ragel untuk tetap menjalani hidupnya sampai sekarang," ucap Olivia pelan.
"Dan Oliv harap, Oliv bisa bertemu dengan sosok Tante. Walau hanya dalam mimpi."
***
"Lo nggak mampir dulu?" tanya Olivia lebih tepatnya menawarkan.
Ragel mengangguk, "boleh. Sekalian menyapa calon mertua."
Ragel terkekeh kecil melihat raut wajah Olivia yang kesal menggemaskan.
"Dih, calon mertua!"
Ragel menyusul Olivia yang lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Yah, Buk! Oliv pulang!!"
Olivia masuk ke dalam rumah nya. Disusul dengan Ragel dari belakang.
Olivia langsung menyalami sang ayah dan buru-buru masuk ke dapur untuk mencuci baju sekolah nya yang basah.
"Nak Ragel silakan duduk dulu," ucap Zam mempersilakan Ragel duduk.
Ragel mengangguk sopan. Duduk di lantai dengan gelaran tikar lusuh sebagai lapisannya supaya tidak dingin.
"Nak Ragel mau minum apa?"
"Ah, nggak perlu repot-repot om. Saya--"
Pak Zam menggeleng cepat. "Nggak baik nolak, pamali nak."
Ragel hanya cengir malu. Pak Zam menepuk paha Ragel pelan. Lalu berdiri lagi untuk pergi ke dapur mengambilkan minum.
Ragel hanya diam beberapa saat. Memerhatikan dinding lusuh rumah itu. Mata cowok itu menatap lekat pada satu foto disana.
Seorang cowok dengan pakaian lusuhnya yang sedang berfoto di suatu tempat. Atau Ragel ... tau tempat tersebut dan orangnya?
Ragel berdiri untuk melihat jelas siapa orangnya. Memerhatikannya lebih lekat lagi.
Rasanya wajah itu tak asing lagi. Wajah yang terbayang di benak Ragel seperti wajah yang pernah dia lihat 5 tahun lalu.
Saat tragedi di bank itu terjadi.
"Dia Abangnya Oliv."
Tiba-tiba Pak Zam datang dari arah dapur dengan dua gelas air di tangannya.
Ragel menoleh, segera membantu Pak Zam untuk meletakkan dua gelas itu di lantai.
Pak Zam mengambil foto tersebut. Lalu duduk di tempatnya. Ragel ikut duduk di samping Pak Zam.
"Namanya Gilang Dwiguna. Dia anak yang baik. Anak yang selalu patuh pada saya dan ibu Olivia. Dia ... anak yang pekerja keras," ujar Pak Zam menatap lekat foto tersebut.
Ragel hanya diam, memerhatikan Pak Zam dengan wajah sendu.
Ragel ingat. Gilang adalah kakak Olivia. Gilang yang telah lama pergi. Dan yang paling Ragel ingat, Gilang juga korban dari tragedi di bank tersebut.
"Dia meninggal karena tragedi penembakan yang menewaskan banyak orang di bank Austria," lanjut Pak Zam menatap Ragel lebih sendu.
"Dan sampai sekarang, titik terang untuk menemukan pelaku nya. Masih belum jelas. Tapi tersangka dari polisi sudah ada."
Pak Zam kini menatap Ragel lekat. Sangat-sangat lekat, seolah mengatakan hal yang tak pernah Ragel perhitungkan akan terucap di mulut Pak Zam.
"Tersangka itu adalah ... kamu, nak Ragel."
__ADS_1