MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
20. Dream Catcher


__ADS_3

Ragel memakai jaket denim abu-abu miliknya. Cowok itu bergegas keluar kamar, lalu turun tangga.


Pak Tama yang berada diruang tamu mengernyitkan dahi. Dengan kaca mata frame hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya dan juga buku tebal di tangannya.


"Mau kemana?" tanya Pak Tama.


Ragel menoleh sekilas, lalu mengambil sendal biasa yang dia pakai.


"Ke planet Mars," jawab Ragel santai.


"Papa nanya serius!!"


"Ragel juga jawab serius Pah~" balas Ragel jengah.


Pak Tama menutup bukunya, lalu berdiri. Menunjuk anak laki-lakinya dengan buku tebal itu.


"Ragel! Jawab yang serius!!" lugas Pak Tama.


Ragel menghela napas panjang. "Ke supermarket Pah."


"Oh, belanja bulanan."


Ragel hanya mengangguk. Melangkah mendekati Papa nya, lalu mengulurkan tangan.


"Apaan?" tanya sang Papa bingung.


"Duit. Ragel lagi melarat. Lagian si Papa, udah tau kulkas kosong melompong kek hati Papa. Dibiarin gitu aja," ujar Ragel kelewat sinis.


Pak Tama menepuk jidat anaknya pelan dengan buku. Lalu mengeluarkan dompet, memeriksa uang lembaran merah. Dan memberikannya beberapa pada Ragel.


"Yang cash aja. Kalau Papa kasih black card, sedetik habis!"


"Dih, nggak ada yang minta black card kali!!"


Pak Tama menggeleng pelan. Nggak habis pikir sama Ragel. Orangtua nya sendiri seperti teman saja.


"Jangan lupa beli tahu juga," ucap pak Tama sedikit berteriak. Karena Ragel sudah di depan pintu.


Ragel berbalik, tangannya memegang ganggang pintu kayu itu.


"Nggak! Ragel nggak suka tahu. Tempe aja!" balas Ragel.


"Eh, tapi Papa suka tahu dari pada tempe!"


"Iya kan Ragel yang beli, suka-suka Ragel!!"


"Ragel!!"


"Papa!!"


Mata kedua bapak dan anak itu saling melotot. Walau memang nggak adu otot. Tapi mereka sering kali bertengkar kalau sudah soal belanja bulanan.


"Yaudah, telor aja 2 papan!" putus Pak Tama seraya mengibaskan tangan.


Ragel menggeleng kuat. "Ayam dua ekor!" bantah Ragel cepat.


"Ragel!!"


"Udah deh Pah. Yang beli juga Ragel, suka-suka Ragel dong. Lagian si Papa kalau belanja bulanan, juga suka-suka Papa," ujar Ragel kelewat jengah.


Pak Tama menghela napas panjang. Memijit pelipisnya capek. "Iya, tapi telur sama tahu itu wajib."


"Papa jangan cari masalah ya!"


"Kamu yang cari masalah sama sekolah Papa," jawab Pak Tama cepat.


Ragel diam, berbalik. Cowok itu berkata pelan, "sori. Ragel beliin telur sama tahu nya juga."


Brak!


Pak Tama menggeleng pelan. Bingung dengan tingkah dan mood anaknya sekarang. Bukan seperti Ragel yang biasanya.


Mungkin ada masalah, antara dia dengan pacarnya. Entah kenapa, Pak Tama merasa Ragel kembali seperti anak-anak pada umumnya.


***


Ragel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denim nya. Cowok itu sesekali tersenyum tipis kala tetangga menyapanya.


Hari sudah malam, tapi orang-orang yang ada di komplek ini masih ramai. Maklum, udah biasa kayak gini.


Lagian Papa dan Mama Ragel juga memilih beli rumah di komplek yang nggak begitu elit. Walau Mama nya membangun beberapa perumahan elit di Jakarta. Tetap saja, mereka lebih memilih tinggal di perumahan yang nggak begitu elit.


"Nak Ragel mau kemana?" tanya salah satu tetangga.


Ibu paruh baya itu berdiri di depan Ragel dengan menggandeng tangan anaknya yang berumur lima tahun.


Ragel mengusap kepala anak laki-laki itu. "Ke supermarket Buk," jawab Ragel ramah.


Ibuk itu mengangguk pelan. Menepuk pundak Ragel pelan. "Makin ganteng aja kamu."


Ragel terkekeh kecil, kembali mengusap kepala anak ibuk itu lembut.


"Anak ibuk juga makin ganteng," puji Ragel. Membuat anak laki-laki berumur 5 tahun itu tersipu malu.


Ibuk tersebut menepuk tangan Ragel pelan. "Bisa aja kamu Nak~"


Ragel tertawa kecil. "Kalau gitu, saya pamit buk!" pamit Ragel sopan.

__ADS_1


Ibuk itu mengangguk seraya tersenyum kecil.


Melanjutkan langkahnya lagi. Cowok itu menatap lurus ke depan. Semua orang selalu menyapa dirinya.


Karena memang, keluarga Ragel terkenal disini. Bahkan saat Mama Ragel meninggal, semua orang ikut melayat dan membantu keluarga Ragel.


Ragel tersenyum hambar kala melihat anak laki-laki yang asik berlarian dengan teman-temannya. Rasanya cowok itu jadi teringat masa kecilnya.


Sebelum mimpi mengerikan itu menjadi kenyataan.


Ragel terdiam, menatap seorang nenek yang ingin menyebrang melewati zebra cross. Ragel segera menghampiri nenek tersebut.


"Ragel bantu ya Nek," ucap Ragel lalu memegangi tangan nenek tersebut hati-hati.


Nenek itu mengangguk singkat.


Ragel mengangguk. Lalu nyebrangin nenek tersebut dengan hati-hati hingga sampai tempat tujuan.


"Makasih sekali lagi Nak," ucap nenek itu.


"Iya Nek, sama-sama."


Ragel menatap punggung layu itu hingga menjauh. Cowok itu menghela napas panjang. Lelah rasanya memasang topeng palsu. Apalagi itu sama sekali bukanlah jati diri Ragel sama sekali.


Ragel melangkah menuju supermarket yang memang di depan. Cowok itu masuk ke dalam lalu mengambil keranjang belanja. Mulai menuju bahan-bahan yang memang di butuhkan untuk beberapa bulan ke depan.


***


"Dua ratus ribu mas," ucap mbak kasih tersebut curi-curi pandang ke wajah Ragel yang datar tapi tetap tampan.


Ragel mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu. Lalu mengambil dua kantong belanja itu tanpa ekspresi sama sekali.


"Pulsanya sekalian mas?" tanya mbak kasir modus.


"Saya butuh kuota, bukan pulsa!" jawab Ragel enteng. Berlalu begitu saja dengan langkah dinginnya.


Mbak kasir bengong beberapa saat. Mencak-mencak karena nggak dapet nomor cogan. Maklum, udah lama nge-jomblo. Jiwa-jiwa mencari cogan semakin meningkat drastis. Aw!


Ragel menoleh ke kanan dan ke kiri. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melewati jalan yang berbeda.


Ragel mengerutkan keningnya kala melihat seorang gadis yang dia kenal. Semakin besar langkah Ragel. Semakin jelas siapa gadis itu.


Ragel memutuskan untuk mendekati gadis itu. Samar-samar senyum Ragel terukir di wajah tampannya.


"Yo!"


Olivia menoleh dengang wajah lugu nya. Sedetik kemudian berubah masam. Gadis itu langsung berbalik dan sibuk melakukan apa saja dengan kerajinan jualannya.


Ragel memiringkan wajahnya, meletakkan dua kantong plastik di bangku panjang berwarna coklat kayu. Disamping tas kecil Olivia yang lusuh.


Cowok itu langsung membalikkan badan Olivia. Hingga mereka saling berhadapan.


"Dih, lo bukan pacar gue lagi!!" bantah Olivia kukuh.


"Serius? Kapan putus nya?"


Olivia menghela napas pendek. Menepuk jidat Ragel cukup kuat. Lalu mundur beberapa langkah.


"Pikun!! Tadi sore. Gue yang putusin," jawab Olivia gemas.


Ragel tertawa hambar. Sedikit menunduk, menatap Olivia dengan senyum jahilnya. Membuat Olivia memundurkan wajahnya karena terlalu dekat.


Astaga, Ragel ini benar-benar nggak tau tempat ya?


"Benarkah? Perasaan gue, yang seharusnya mutusin hubungan itu gue!" ucap Ragel lugas.


Olivia menahan napas. Memalingkan wajahnya, lalu memundurkan wajah Ragel hingga wajah mereka kembali berjarak.


"Dih siapa bilang elo aja yang berhak mutusin hubungan? Gue juga ada hak kali!!" bantah Olivia semakin kukuh.


Ragel menoyor jidat Olivia pelan. Membuat gadisnya mengaduh kesakitan. "Tapi sejak awal gue bilang. Gue yang bakalan putusin hubungannya. Kenapa elo yang ngatur?"


"Ya suka-suka gue lah! Lo sendiri kenapa malah nembak gue jadi pacar lo? Masih banyak cewek diluar yang lebih baik dari gue Gel!!"


Olivia mengepalkan kedua tangannya di samping wajahnya. Menutup matanya kala berucap sesuatu, yang malah membuat Ragel tergugu beberapa saat.


"Masih banyak yang caaaantiiikkk!!!"


Orang-orang yang berlalu lalang memandang Olivia dengan tatapan takjub. Gadis itu benar-benar imut sekali. Seolah-olah sedang menghibur sang pacar.


Ragel tersenyum simetris, mengusap kepala Olivia tanpa sadar.


Olivia tentu saja terdiam, perlahan-lahan pipinya memerah. Buru-buru gadis itu menunduk agar tidak ketahuan oleh si Ragel kampret.


"Ekhem! Mas, mbak! Saya mau beli nih!!"


"Hachim!! Kayaknya yang jualan hantu deh!!" kesal seorang pembeli. Sudah berkali-kali dia memanggil dua orang remaja itu.


Tapi rasanya dunia seakan milik berdua, yang lain ngontrak.


"SAYA TAU SAYA JOMBLO. SAMA KEK AUTHOR, TAPI JANGAN GINI JUGA YA ALLAH!!!" pekik pembeli tersebut semakin bertingkah.


Olivia dan Ragel langsung tersadar. Olivia buru-buru berbalik, sedangkan Ragel memasang wajah super datar nya.


"Mau beli dream cathcer yang mana mas?" tanya Olivia sedikit gugup.


"Saya mau ambil hati mbak buat saya aja boleh?" tanya pembeli itu balik.

__ADS_1


Olivia bengong menatap pembeli tersebut bingung. Lalu menoleh pada Ragel yang malah memasang wajah dingin nya.


Tentu saja si mas nya langsung ciut. Niat modus, sekalian beli barang Olivia. Malah ada pawang nya. Nasib-nasib~~


"Nggak jadi deh mbak. Pawangnya seram. Saya beli penangkap cinta aja," ucap sang pembeli tersenyum takut menatap Ragel.


"Maksud mas, yang bentukan love?" tanya Olivia lagi.


"Iya mbak, yang love. Biar ada yang nyantol satu hati nya ke saya."


"Oh yaudah, bentar yah."


Olivia segara mengambil satu dream cathcer yang berbentuk love. Membungkusnya dengan paper bag.


"Nih mas, 25 ribu," ucap Olivia memberikan paper bag itu.


Pembeli tersebut mengangguk, seraya mengambil paper bag. Pembeli itu memberikan selembar uang biru.


"Ambil aja kembaliannya mbak. Saya udah lumayan jadi holkay!!"


Sang pembeli langsung ngacir meninggalkan Ragel dan Olivia. Olivia langsung terkekeh melihat tingkah pembeli nya yang satu itu.


Ragel membeku beberapa saat melihat kekehan Olivia. Saat sadar apa yang muncul di benaknya. Cowok itu langsung membuang muka sembarangan.


"Pembeli lo suka gitu emang?" tanya Ragel melihat-lihat kerajinan pacar nya.


"Enggak. Lagian lo ngapain sih?! Pulang sono! Hush, hush!!"


Olivia mendorong Ragel dari belakang. Tapi sayangnya cowok itu bahkan tak berpindah posisi sama sekali. Sepertinya kekuatan Olivia tak sekuat itu.


Ragel terkekeh kecil. Menoleh ke belakang, melihat wajah pacar nya. "Mau gue bantuin nggak?"


"Nggak!!" tolak Olivia cepat. "Gue bisa sendiri. Pulang aja lo!"


"Dih, gengsi!!"


Ragel melangkah ke pinggir jalan. Menawarkan dream catcher pada orang-orang yang lewat. Ada yang benar-benar ingin beli, ada juga yang cuman kagum sama Ragel sampai mau-mau aja beli jualan Olivia.


Dalam beberapa menit, kerajinan yang dibuat pacarnya itu habis tanpa tersisa satu pun.


Ragel tersenyum, melangkah mendekati Olivia. "Gimana? Cepatkan laku nya?" tanya Ragel sombong.


Olivia mendengus kesal, memasukkan barang-barangnya yang lain. Di bantu Ragel, cowok itu mengangkat meja kayu biasa ke samping toko buku yang memang sudah di sewa Olivia sejak lama.


"Biasa aja," jawab Olivia melangkah meninggalkan Ragel.


Ragel mengambil barang belanjaannya. Lalu menyusul Olivia yang semakin menjauh.


"Kenapa nggak jual online aja lo?" tanya Ragel menyamakan langkah Olivia.


"Udah, tapi untungnya nggak banyak," jawab Olivia seadanya.


Ragel mengangguk. "Lo percaya sama mitos begituan?"


Olivia menoleh, menatap Ragel kesal. "Percaya nggak percaya. Yang penting gue jualan, dapet duit. Terus duitnya bisa beli kaki palsu ibuk."


Ragel menggeleng pelan. Melihat wajah Olivia yang kesal. Menghela napas pendek.


"Sori."


Olivia menoleh cepat, seraya membulatkan matanya. Tak percaya dengan satu kata yang diucapkan Ragel.


"Gue emang jahat Liv. Dan gue minta maaf," jelas Ragel mengakuinya.


Olivia tanpa sadar menangkupkan tangannya di wajah Ragel. Menatap cowok itu semakin tak percaya.


"Hey Ragel! Ini beneran elo?" tanya Olivia semakin nggak percaya.


"Lo kira gue setan, hah?!"


Olivia mengangkat wajahnya ke langit seraya menghela.Lalu melepas tangannya dari sisi pipi Ragel.


"Syukur deh," ucap Olivia. Melambaikan tangan kala melihat angkot lewat di depannya.


Sebelum Olivia masuk ke dalam angkot. Cewek itu mengeluarkan satu dream catcher berukuran kecil berwarna hitam dan putih.


Mengambil tangan Ragel, meletakkannya di atas telapak tangan Ragel.


"Gue nggak tau soal penangkap mimpi itu benar fakta atau bukan. Tapi ..." Olivia tersenyum tipis. "Makasih udah nolongin gue. Ini gue buat sendiri beberapa hari yang lalu. Jangan lupa letak di pintu atau di manapun yang lo suka."


Olivia menepuk pipi Ragel pelan. "Sori juga. Bye Ragel!!"


Olivia buru-buru naik angkot. Ragel masih diam menatap angkot yang ditumpangi Olivia menjauh dari pandangannya.


Entah kenapa, malam Sabtu ini keduanya ... seakan benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


****


Ekhem! Ekhem!!


CIE CIEEEEEEEE😗😗


PART NYA BIKIN SALTING YAU. SERASA DUNIA MILIK BERDUA, YANG LAIN NGONTRAK DAH!!!


ASIIIKKK!! BTW, ITU SI PEMBELI KENAPA NYEBUT ACHA JOMBLOOOOO!!!!! JANGAN BUKA KARTU WOI!!


OKE DEH, ACHA MINGGAT!!

__ADS_1


BYE BYE!!!👋🔥🔥


__ADS_2