MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
30. Sebuah Fakta


__ADS_3

Pak Zam kini menatap Ragel lekat. Sangat-sangat lekat, seolah mengatakan hal yang tak pernah Ragel perhitungkan akan terucap di mulut Pak Zam.


"Tersangka itu adalah ... kamu, nak Ragel."


Ragel terdiam beberapa saat. Menatap Pak Zam balik dengan mata terkejut.


"Ma ... maksud Om?"


Pak Zam tersenyum tipis. Raut wajahnya seolah mengisyaratkan, kalau tidak ada pengulangan sama sekali.


Ragel menghela napas pelan. Mengusap wajahnya, matanya terpejam sesaat. Mencoba untuk mencerna semua kata-kata Pak Zam.


"Saya memang satu-satunya orang yang berada di tragedi itu. Tapi saya bukan tersangka," jawab Ragel jujur.


"Polisi tidak menetapkan saya sebagai tersangka. Tapi sebagai saksi atas kejadian lima tahun lalu. Tapi sayangnya, saya sendiri tidak mengingat begitu jelas kejadian itu persis seperti apa di benak saya," ujar Ragel menatap wajahnya di air bening di dalam gelas itu.


"Otak saya seolah dicuci. Dan ketika polisi menanyakan hal yang sama berulangkali. Yang teringat sama saya hanyalah suara tembakan pistol bertubi-tubi di telinga saya."


Pak Zam tersenyum remeh. Menatap Ragel dengan tatapan tak percaya. "Apa polisi sangat mudah di sogok oleh orang kaya seperti kamu?"


"Om! Saya, Papa saya. Nggak ada niatan untuk menyogok siapapun. Bahkan Mama saya juga korban dari tembakan itu. Korban Om, korban!"


Napas Ragel memburu, mengingat bagaimana wajah Mama nya yang berlumuran darah karena peluru yang menancap tepat di kening Mama nya hingga bolong. Membuat Ragel tak kuasa menahan genangan air di matanya.


"Mama saya korban. Saya korban, dan semua orang yang ada di bank itu juga korban. Kejadiannya terlalu cepat, seolah hanya terhitung 1 menit saja."


Ragel memegangi wajahnya. Matanya berkeliaran ketakutan, mengingat bagaimana suara tembakan, senyuman mengerikan, dan juga darah yang mengalir dari wajah Mama nya. Membuat Ragel kembali tremor.


Pak Zam yang melihat wajah Ragel yang pucat. Terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya, Pak Zam mendekati Ragel. Menepuk pelan pundak Ragel.


"Waktu itu, saya merasa sangat terpukul atas kematian Gilang yang begitu cepat. Saya ... merasa kalau semua ini tidak adil. Kalau tau siapa tersangkanya, harusnya polisi menindaklanjuti secepatnya. Tapi nyatanya ..."


Pak Zam menghela napas panjang. Menyandarkan punggungnya di dinding.


"Saya nggak tau harus merespon bagaimana. Ibuk, Oliv, semuanya terpukul. Seolah kematian Gilang hanya sekedar mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi. Dan harapan kami satu-satunya, kami terbangun dari mimpi itu. Dan bertemu dengan Gilang. Hanya itu! Hanya itu yang kami harapkan."

__ADS_1


Pak Zam mengusap jidatnya. Ragel menatap Pak Zam dengan sorot kosong.


Mereka sama-sama kehilangan. Mereka sama-sama belum bisa menerima kematian seseorang yang mereka cintai. Harapan mereka juga sama, mimpi itu kalau bisa. Tidak menjadi kenyataan.


Tapi takdir malah berkata lain.


"Saya ... minta maaf," Ragel menunduk. Menatap tangannya yang bergetar hebat. "Saya benar-benar minta maaf. Saya ... berusaha untuk mengingat kejadian itu. Saya berusaha untuk melawan ketakutan saya. Tapi ..."


"Nak Ragel," Pak Tama memotong pembicaraan Ragel cepat. "Saya pribadi sudah bisa menerima kepergian Gilang. Saya juga berusaha untuk berpikir positif, bagaimana bisa anak umur 12 tahun membunuh segitu banyak orang. Saya nggak bisa menyalahkan Nak Ragel."


Pak Zam menepuk pundak Ragel sekali lagi. "Tapi Nak, ibuk dan Oliv. Masih belum ikhlas dengan kepergian Gilang yang secepat itu. Jadi saya harap ..."


Pak Zam tersenyum tipis. Menatap Ragel penuh pengharapan.


"Jangan sakiti Oliv."


***


Ragel menatap langit abu-abu yang perlahan mulai berubah menjadi jingga. Sesekali helaan napas terdengar dari mulut Ragel.


"Lho, lo belum pulang Gel?"


Olivia berjalan mendekati Ragel. Menatap wajah tampan itu dari samping. Ragel terlihat gusar, sepertinya ada banyak pikiran yang menumpuk di benak cowok itu.


"Halooo? Ragel?" Olivia melambaikan tangannya di depan wajah Ragel.


Ragel terkaget kecil, menoleh pada Olivia yang menatapnya dengan tanda tanya.


"Ah, gue mau pamit sama lo dan juga ibu ayah," ucap Ragel mengusap keningnya gusar.


"Ya ... udah, tadi bukannya udah pamit sama ayah? Ibu belum bangun dari tadi. Lo boleh pulang kok. Nanti gue bilang ke ibuk kalau lo titip salam," ujar Olivia mengangguk kecil.


Ragel mengangguk kecil, memasang helm nya. "Gue pamit. Besok mau pergi sekolah bareng?"


"Nggak!" tolak Olivia cepat.

__ADS_1


Ragel terkekeh kecil. Mengulurkan tangan mengacak rambut Olivia lembut.


"Yaudah, gue tunggu lo di depan sekolah."


"Dih, modusnya jelas banget!"


Ragel semakin tergelak melihat raut kesal Olivia.


"Gel!" panggil Olivia.


"Hm?"


"Kalau boleh sih sama lo. Gue ... pengen ketemu Mama lo," ucap Olivia pelan.


Ragel mengangkat alisnya bingung. "Ketemu Mama gue?"


Olivia mengangguk yakin.


"Boleh," jawab Ragel tak yakin. "Lain kali gue ajak lo ketemu Mama gue."


"Lho, kenapa nggak ta--"


"Liv, gue pamit. Kirim salam sama ibuk dan ayah."


Ragel buru-buru pergi dengan sepeda motornya. Meninggalkan Olivia dengan tumpukan pertanyaan di benak nya.


***


"Mah, Ragel harus gimana? Ragel harus gimana sekarang Mah?"


Ragel menatap foto keluarga yang ada di ruang tamu lekat. Menatap Mama nya yang duduk cantik dengan Ragel di pangkuannya.


Bahkan di foto pun, Ragel tidak bisa mengingat jelas wajah cantik Mama nya. Ragel ... berbohong sama Olivia tentang Mama nya yang sangat cantik.


Padahal Ragel sendiri, tidak bisa mengingat raut wajah sang Mama dengan jelas semenjak kejadian itu.

__ADS_1


"Maafin Ragel Mah."


__ADS_2