
Kacamata mata bulat yang membingkai mata indah gadis itu. Tak henti-hentinya membaca sederet kalimat lagi dan lagi.
Gadis itu lebih memilih berkutat dengan buku-bukunya yang dia pinjam beberapa hari yang lalu. Tanpa memedulikan keributan di luar kelas. Karena ada pertandingan bola voli dadakan antara 12 IPS 5 dengan 12 IPA 3.
"Kyaaaa!! Smash aja kak Ragel ganteng. Apalagi nyemeshin hati gue. Duh, meleleh deeehhhh!!"
"Go go, IPS 5 go!!"
"Kyaaa, kak Ziky!!"
"Woaaahh!! Mantap jiwaaaa!!"
"Yeay, kelas kak Ragel menang!!"
"Duh, ganteng banget ya Allah! Nggak kuat dedek!!"
Olivia mengetuk kepalanya dengan pena kesal. Menyembulkan kepala di jendela, melihat ke bawah. Dimana pertandingan bola voli di lapangan outdoor berlangsung.
Olivia melihat Ragel yang sedang melakukan servis dengan cepat. Hingga lawan mereka tak sempat memblok.
Sekali lagi, Ragel melakukan servis. Tapi tim lawan malah salah memblok. Hingga ketiga kali nya, tim lawan mampu memblok bola yang di servis Ragel.
Olivia tau, Ragel sengaja tidak memakai banyak kekuatannya untuk ketiga kalinya. Dalam sekali lihat, Olivia dapat melihat dengan jelas gelagat Ragel.
Tentu saja Ragel yang berdiri tak jauh dari kelas Olivia di lantai atas menoleh. Tersenyum entah apa maksudnya pada Olivia sekilas. Sebelum tangan itu dengan sigap memblok bola yang nyaris masuk ke daerahnya.
Olivia berdecih pelan, duduk kembali.
"Ragel caper! Ragel kampret!" umpat Olivia. Kembali membaca buku nya lagi.
Brak!
"Kak Oliv! Ayo kita liat orang tanding voli!!" pekik Ratu di depan pintu kelas Olivia.
Olivia menoleh dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya. Mata polos itu menatap Ratu bingung.
"Kyaaa!! Kakak imut banget!!" pekik Ratu melompat-lompat. Menghampiri Olivia, mengambil tangan gadis itu.
"Ayo, kita liat kak Ragel main voli. Ayo kak!!" paksa Ratu menarik-narik tangan Olivia.
"Iya iya. Tapi gue letak kacamata dulu."
Olivia berusaha untuk meletakkan kacamatanya di dalam kotaknya. Tapi Ratu malah lebih dulu menarik Olivia.
"Pake aja kacamata nya kak! Soalnya kakak imut banget. Kak Ragel pasti terpana," ucap Ratu sedikit menggoda Olivia agar tersipu malu.
Olivia tersenyum kecil. "Cih, terpana apa nya. Yang ada gue di ejek."
***
Ratu dan Olivia sampai di pinggir lapangan. Kedua gadis itu melihat tim Ragel yang tak jauh dari mereka. Ziky sedang melakukan servis untuk terakhir kalinya.
"Kak Ziky!!! Semangat!! Ratu disini nyemangatin kak Ziky!!!" pekik Ratu penuh semangat. Melambaikan tangannya ke arah Ziky.
Ziky menoleh, melihat tunangannya yang tersenyum penuh ceria. Lalu membalas senyum itu. Tapi yang dilihat Olivia, Ziky bukan tersenyum pada Ratu.
Olivia ikut menoleh ke belakang. Melihat cewek dengan seragam sekolah yang agak ketat. Tersenyum cantik ke arah Ziky. Cewek itu diapit oleh dua orang temannya.
Ziky ... tidak tersenyum untuk Ratu. Tapi dia tersenyum, untuk seseorang yang menurut Ziky lebih istimewa di bandingkan tunangannya ini.
"Rat," panggil Olivia. Ratu menoleh, menatap Olivia polos. Sedangkan yang ditatap malah khawatir. "Gue tau lo nggak bego. Ziky ... nggak tersenyum--"
"Ratu tau kok kak," potong Ratu malah mengulas senyum. "Dan Ratu nggak masalah. Karena bagi Ratu, kak Ziky udah cukup jadi tunangan Ratu dan mau jadi Raja-nya Ratu. Itu udah lebih dari cukup."
Olivia terdiam, menatap gadis bertubuh mungil itu sendu.
"Lo nggak sakit hati? Jangan bunuh rasa cemburu lo sendiri Rat."
Ratu malah tertawa kecil mendengar kalimat Olivia. Membuat Olivia semakin khawatir dengan sosok Ratu.
"Kak Oliv nggak usah khawatir. Ratu nggak se-polos itu kak," ucap Ratu menepuk tangan Olivia pelan.
"Ratu ke tempat kak Ziky dulu yah!"
Ratu melambaikan tangan pada Olivia, lalu berlari menghampiri Ziky yang langsung dikerubungi cewek-cewek.
Olivia mengerjap bingung. Melangkah menuju mesin minuman dingin. Sesekali gadis itu menoleh ke arah Ratu yang sedang berusaha untuk memberikan minuman dan handuk yang dia bawa tadi.
Olivia menghela napas. Memasukkan beberapa uang koin ke dalam mesin pendingin tersebut. Lalu mengambil minuman kaleng rasa fruit juice dan susu cokelat.
Olivia memilih duduk di kursi panjang tanpa sandaran berwarna putih di samping mesin pendingin.
__ADS_1
Menatap lurus ke depan, melihat Ragel yang sedang di kerubungi cewek-cewek. Padahal niat Olivia tadi ingin langsung kembali ke kelas. Tapi hati nya malah berkata lain.
Ragel yang tak jauh dari tempat Olivia. Menatap gadis itu lama. Sebelum akhirnya membelah kerumunan bak lautan. Berlari menghampiri Olivia.
Puk!
"Kenapa pake kacamata?" tanya Ragel setelah menepuk kecil kepala gadis itu.
"Gue habis baca buku. Lo tau Ratu? Dia narik paksa gue kesini. Ya mana sempat gue buat nyimpan kacamata," ujar Olivia cemberut.
Ragel terkekeh kecil. Mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Lalu membiarkan handuknya tergantung diatas kepala cowok itu.
"Thanks!" Ragel mengambil kaleng susu cokelat dari tangan Olivia. Meneguknya hingga habis.
"Heh!" Olivia memekik tercekat. "Bukan untuk lo, Ragel kampret!!"
Ragel menaikkan sebelah alisnya polos. Ber'oh' ria tak peduli.
"Lo jelek kalau pake kacamata," ejek Ragel duduk di samping Olivia.
"Gue tau. Makanya, nggak usah dekat-dekat sama gue yang jelek ini. Putusin aja cepat gih. Biar lo cari yang cantik dan seksi," ujar Olivia menoleh pada Ragel yang sedang mendongakkan kepala.
Ragel mengerjap bingung, menghela napas pelan. Olivia terlalu baper.
"Gue bercanda. Lo marah-marah terus, entar makin tua. Baru tau rasa lo!" cibir Ragel.
"Biarin. Biar lo muak," balas Olivia nggak mau kalah.
Tak!
Ragel menyentil kening Olivia pelan. Membuat gadis itu mengaduh.
"Mau ngelawan, hm?"
"Apaan? Lo berani sama gue? Berani?" tantang Olivia tak takut.
Ragel mendekatkan wajahnya pada Olivia. Tersenyum penuh arti pada gadis itu.
"Lebih dari berani," bisik Ragel.
Olivia terdiam, menatap Ragel dengan jantung dag-dig-dug. Wajahnya langsung memanas dan Olivia berharap. Ragel tidak menyadari perubahan wajahnya ini.
"RAGEEELL!!" pekik Olivia membuat Ragel tertawa puas. "Gue benci sama lo. Bencii!!"
***
Olivia terus menghela napas. Menoleh pada Ragel yang berjalan disampingnya dengan gagahnya. Cowok itu sesekali tersenyum saat murid-murid menyapa.
Padahal tadi Olivia mau ke kelas sendirian. Tapi si Ragel ngeyel banget mau anterin dirinya.
Olivia berbalik, menatap Ragel jengkel. "Udah sampe. Lo balik sana ke kelas lo!" usir Olivia.
"Nggak. Gue anter sampai depan kelas," tolak Ragel melangkah duluan meninggalkan Olivia.
"Eh!" Olivia buru-buru berlari dan berdiri di depan Ragel. "Nggak boleh! Balik ke kelas lo. Belajar yang bener," ucap Olivia serius.
"Oke," Ragel tiba-tiba setuju begitu saja tanpa penolakan. "Kalau gue belajar yang bener. Lo harus nurutin kemauan gue," ucap Ragel menaik turunkan alisnya.
"Hah? Maksud lo gimana? Coba ulang."
Ragel tersenyum, mengusap rambut Olivia lembut. "Minggu besok ke rumah gue. Papa gue mau ketemu sama lo," ucap Ragel lalu berlalu begitu saja.
Olivia membulatkan matanya. Berbalik melihat punggung Ragel yang sudah menjauh.
"Nggak mau Gel! Gue belum siap ketemu kepala sekolah!!! Gue nggak mau cari masalah!!" pekik Olivia nggak terima.
Ragel malah mengibaskan tangannya nggak peduli.
Olivia mendesis pelan. Menghentakkan kakinya masuk ke dalam kelas.
Gadis itu membulatkan matanya saat melihat Laura melempar buku-buku yang ada diatas meja Olivia.
Olivia berlari menuju meja nya, lalu menarik tangan Laura disusul dengan tamparan keras dari pipi cewek itu.
Plak!
"Aih!" Laura berdesis pelan. Memegangi pipinya yang panas karena tamparan Olivia. "Wah, berani banget si miskin."
Laura tersenyum sinis menahan perih di pipinya. Menatap Olivia penuh tantangan.
Olivia tak peduli, gadis itu berjongkok mengambil buku-bukunya di lantai. Lalu berdiri lagi menatap Laura lebih nyalang.
__ADS_1
"Belagu banget lo natap gue gitu, hah?!!" murka Laura.
Olivia ikut tersenyum sinis. "Nggak salah? Bukannya elo yang belagu? Sori Lau, gue nggak se-polos yang lo pikirkan. Karena kalau soal buku, gue nggak main-main," ucap Olivia dingin. Berbalik, meletakkan buku-bukunya diatas meja.
"Si miskin udah mulai belagu ya?"
Tiba-tiba Laura menarik rambut Olivia kuat. Membuat Olivia meringis kesakitan.
"Lo tau, akibat belagu sama gue. Lo ..." Laura semakin menarik rambut Olivia kuat. Membuat gadis itu meringis kesakitan. "Nggak akan selamat, seperti orang-orang yang gue bully!"
Laura melepas tangannya dari rambut Olivia. Menarik kerah baju Olivia dalam sekali hentakan. Lalu menampar pipi Olivia sekuat-kuatnya, hingga berbunyi mengisi ruang kelas.
"Lo itu cuman orang miskin yang kebetulan sekolah di tempat orang kaya. Dan harusnya lo sadar itu. Dan juga, lo sadar diri. Kalau lo nggak pantas jadi kekasih Ragel. LEVEL LO BEDA!! SADAR MISKIN!! SADAR!" bentak Laura habis-habisan. Mata nya membulat lebar seakan keluar dari tempatnya.
Olivia mendesis kesakitan. Memegangi pipinya yang perih. Pasti, sangat dipastikan jejak tangan Laura membekas di pipi Olivia.
"Terus lo kira, gue peduli?" lawan Olivia nggak mau kalah. Cukup dia diam selama ini. "Lo kira, gue takut sama ancaman lo?"
Olivia tersenyum sinis. Menatap Laura lebih hina. "Gue nggak se-lemah yang lo kira dan gue nggak akan tinggal diam. Kalau lo sampai nekad menghabisi nyawa gue. Gue nggak takut sama sekali sama lo Lau. Sama sekali nggak takut."
Laura murka, mengangkat tangannya sekali lagi setelah mendengar kata-kata yang terdengar belagu di telinga Laura. Ingin menampar gadis itu berkali-kali.
"STOP LAURA!!" titah Saga di depan pintu. "Kalau kamu nekad menampar lagi. Saya jamin, kamu diskors sebulan!" ancam Saga tak main-main.
Laura menurunkan tangannya, memilih menggenggam tangannya sendiri sekuat tenaga. Menahan emosi yang meletup-letup.
"Lo selamat. Tapi lain kali, gue pastikan mental dan fisik lo kena, Olivia!"
Laura tersenyum sinis, melangkah meninggalkan Olivia.
Olivia menatap lamat punggung Laura. Gadis itu menghela napas panjang. Rasanay umur Olivia berkurang satu, karena melawan Laura yang sebenarnya membuang tenaga.
"Olivia duduk di tempat kamu dan kamu Laura!" Saga menatap Laura marah. "Jangan cari masalah lagi. Harusnya kamu yang sadar diri. Kamu udah kelas 12. Pikirkan masa depan kamu, bukan malah bully orang kayak tadi. Paham?!!"
Laura berdecih, memutar bola matanya malas. "Iya!"
Saga menghela napas panjang. Melangkah menuju meja guru. Meletakkan buku-bukunya diatas meja.
Matanya tertuju ke seluruh ruang kelas. "Saya memang guru PL. Tapi kalau kelas saya yang masuk dan menggantikan Bu Nita apabila ada halangan. Setidaknya hargai saya, karena saya juga ada hak sebagai guru disini. Kalau sampai saya lihat kejadian kayak tadi lagi. Bukan Laura atau Olivia saja yang saya seret ke ruang BK. Semuanya!"
Semua murid terkejut bukan main. Saling berbisik-bisik satu sama lain. Tak terima kalau mereka ikutan diseret ke ruang BK juga.
"Baik, kita lanjut materi selanjutnya. Olivia, tolong tuliskan materi selanjutnya selagi saya mengambil absen," titah Saga.
Olivia mengangguk menurut. Maju ke depan seraya mengambil spidol diatas meja.
"Saya tau kamu nggak salah. Tapi setidaknya, diam saja dan ikuti alur mereka. Daripada kamu jadi kambing hitam di dalamnya," bisik Saga tiba-tiba.
Olivia terdiam, menatap Saga yang sedang sibuk mengisi absen kelas.
"Makasih Pak."
"Nggak perlu terimakasih. Memang tugas saya sebagai guru untuk membantu dan melerai muridnya," ujar Saga tersenyum kecil.
Olivia tentu saja tertegun. Saga, adalah guru PL yang dengan mudahnya membuat jantung Olivia berdetak dua kali lebih cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Ahem, Ahem! tes tes🎤
Baik, kali ini Acha buat author note, xixixi><
hai kalian semuaaaaaaa 💞 makasih banyak karena udah baca cerita Ragel dan Acha, eh salah👀 maksud nya Ragel dan Olivia.
si Acha ye, kenapa jadi sama Ragel sih😆✌️ canda canda, btw apa kabar nih? maaf yah nggak up kemarin-kemarin
makasih juga udah baca cerita Acha dan komen sama vote nya. Sankyuuuuuuu
and .... Acha mau kasih opsi nih sama kalian!!!! jeng jeng jeng!
A. Pilih couple Ragel Olivia sampai mereka saling suka
B. Saga Olivia, supaya pak guru PL nya pekaaaa👀
atau mungkin ....
C. couple Ziky Ratu:) btw, Acha lagi kepikiran sama nih dua anak Acha:)
okeeeeeee, opsi apapun itu. yang penting semua tokoh-tokoh sama-sama bahagia yah😀🍂
tapi nggak jamin gaiiiisssss😙
__ADS_1
oke Acha minggat, see you next chapter 🎉🌬️***