
Olivia menata makanan diatas meja dengan rapih. Sembari dibantu Ragel yang mengambil beberapa piring dan sendok.
Walau Olivia tidak pernah menyajikan makanan mewah. Tapi kurang lebih gadis itu mengerti bagaimana menyajikan makanan yang terkesan mewah tapi simpel.
"Udah cocok jadi istri gue," celetuk Ragel melirik Olivia sekilas.
"Nggak cocok," ucap Olivia.
Ragel terkekeh kecil. Mengusap rambut Olivia lembut.
"Assalamualaikum!! Papa pulang!! Where are u Ragel?!!!!"
Teriakan sang Papa membuat Ragel dan Olivia kompak menoleh bebarengan. Terkekeh kecil mendengar sang Papa yang seperti anak kecil.
"Gue samperin Papa dulu," ucap Ragel yang balas anggukan oleh Olivia.
***
"Widih, enak nih! Kebetulan Papa tadi abis meeting langsung tancap gas ketemu calon mantu," ucap Pak Tama sembari duduk dikursi tunggal meja makan.
"Eh, kamu yang masak kan Ragel? Bukan Olivia?" selidik Papa serius.
Ragel menghela napas panjang. "Papa kira Ragel bisa buat opor sama semuanya ini sekaligus? Ya enggak lah!"
Olivia tersenyum kecil. "Saya yang masak Pak," ucap Olivia.
Pak Tama melirik Ragel sinis. "Kenapa harus kamu yang masak. Ada Ragel juga. Biarin dia yang repot," ujar Pak Tama menyendok nasi.
"Nggak apa-apa kok Pak. Sesekali saya masak opor," ucap Olivia sopan.
Pak Tama mengangguk pelan. "Nggak usah panggil Pak. Panggil Papa aja. Berasa lebih tua 10 tahun saya."
__ADS_1
"Emang udah tua," celetuk Ragel.
"Ragel?!"
Ragel menoleh sekilas. Melihat Papa nya yang menahan marah.
Oke, sepertinya peperangan kecil akan terjadi disini.
Olivia menendang kaki Ragel di bawah meja. Mengisyaratkan untuk tidak membuat gaduh dan meminta maaf.
"Oke, Ragel minta maaf," ucap Ragel pelan.
Pak Tama diam sesaat. Tersenyum penuh arti menatap anak laki-lakinya.
"Apasih Pah?"
"Acieeee, anak Papa mudah ngalah juga kalau ada cewek disini. Cieeeeee," goda Pak Tama.
Olivia terkekeh kecil, melihat tingkah anak dan ayah ini. Bener-bener lucu sekali.
"Ngeselin, ngeselin. Tapi takut juga kalau nggak ada Papa."
"Ge-er!"
Ragel kembali menyantap makanannya. Masakan Olivia lumayan enak di lidah Ragel.
"Oh iya, Papa lupa bilang makasih sama kamu. Karena udah membanggakan sekolah dari kelas 10 hingga sekarang. Terus semangat meraih prestasi, maaf juga karena telat bilang nya. Soalnya Papa sibuk," ujar Pak Tama terkekeh kecil.
"Eng ... makasih Pah. Pa ... Papa nggak perlu minta maaf. Saya udah seneng banget dapet semangat dari Pa ... Papa," ujar Olivia grogi.
Ragel melirik sang Papa, lalu menoleh pada Olivia. Menggeleng kecil.
__ADS_1
"Papa nggak usah maksa orang buat manggil 'papa' sama Papa. Entar kalau nggak jodoh, baru tau rasa," ucap Ragel tanpa sadar membuat suasan hening.
"Ragel?"
Ragel menaikkan kedua alisnya. Menyadari ucapannya, cowok itu meralat nya kembali.
"Ah, maksudnya. Jodoh kan di tangan Tuhan. Kita nggak tau siapa yang tertulis di lauhul mahfuz," ralat Ragel realita.
Entah kenapa, rasanya ada ruang hampa di diri Olivia saat Ragel mengatakan hal tersebut.
***
"Hati-hati Olivia! Kapan-kapan balik lagi," ucap Pak Tama melambaikan tangan pada Olivia.
"Iya Pah. Lain kali saya mampir lagi," ucap Olivia tersenyum canggung.
Rasanya masih canggung, nggak menyangka kalau Olivia bisa berbicara dan berinteraksi langsung dengan kepala sekolahnya sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Ragel pamit nganterin Livia. Papa jangan nunggu Ragel pulang!"
Pak Tama terkekeh kecil. Mengangguk saja apa yang di bilang Ragel.
Walau kadang ada pertengkaran kecil diantara mereka. Tapi saling mengingatkan dan saling bergantung satu sama lain. Masih ada kesadaran untuk selalu bersama hingga nanti.
Motor Ragel melaju meninggalkan rumahnya. Menbawa Olivia pulang ke rumah dengan selamat sentosa.
"Dia beneran adek nya Gilang. Korban kecerebohan Ragel," lirih Pak Tama.
Mendongakkan kepalanya, melihat langit hitam gelap tanpa bintang itu.
"Andai saya tau dari awal. Semuanya pasti tidak akan terjadi."
__ADS_1