MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
63. Usai


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak kejadian itu. Sekolah kini sudah kembali seperti biasa, walau gosip tentang kejadian di gudang tersebut masih hangat dibicarakan.


Tak banyak yang berkomentar terkait Ragel yang ternyata juga terlihat dalam kasus besar di Austria tersebut. Kasus itu memang sengaja ditutup serapat mungkin.


"Liv!" Syera berlari menghampiri Olivia yang sedang sibuk mengangkat beberapa buku.


Mengambil 3 buku teratas, Syera membantu Olivia walau masih ada tumpukan buku di tangan temannya itu.


"Rajin bener," ucap Syera membuka buku biologi tersebut tak minat.


"Bentar lagi kan ujian masuk perguruan tinggi. Jadi gue kudu belajar lebih giat lagi," jawab Olivia lugas.


Syera mengangguk pelan. Mereka masuk ke kelas. Olivia meletakkan tumpukan bukunya diatas meja, disusul Syera.


"Lo nggak ada minat untuk masuk universitas mana gitu Sye?" tanya Olivia duduk di kursinya.


Syera ikut duduk di kursinya, menggeleng pelan. Mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah pesan di email nya.


"Gue di undang sama entertainment terbesar di Indonesia. Audisi mencari idol baru, di undang secara resmi," ujar Syera dengan senyum lebar.


Olivia membulatkan matanya tak percaya. Membaca pesan itu saksama.


"Seriusan ini? Beneran?"


Syera mengangguk berkali-kali.


"Aaaaaa, akhirnya temen gue jadi artis jugaaaa. Gue turut senang Sye!"


Olivia memeluk Syera erat. Senyum bahagia masih terukir di wajahnya.


"Tapi Liv," wajah Syera berubah murung, "jadwalnya bentrok sama ujian masu perguruan tinggi," lirih Syera.


Olivia diam, membaca pesan email itu sekali lagi. Ah benar juga, jadwalnya bentrok. Dan tak mungkin Syera mengambil salah satu.


"Ortu lo?"


"Papi pasti marah kalau tau gue nggak ikut ujian itu. Tapi ini juga penting, sangat penting malah," ucap Syera dilema.


Olivia menggenggam bahu Syera kuat. Menatap mantap pada mata Syera.


"Lo tau kan kalau akan ada keajaiban?"


Syera menatap Olivia ragu-ragu. Siapa yang percaya hal itu? Tidak ada. Bahkan anak kecil sekalipun.


"Pasti ada Sye! Yakin aja! Sekarang lo harus persiapkan keduanya. Belajar untuk ujian iya, latihan nyanyi untuk audisi iya," ucap Olivia penuh keyakinan.


Syera tersenyum semangat. "Ho'oh, lo bener gue harus semangat menyiapkan keduanya. Lo harus bantu belajar juga Liv!"


Olivia mengangguk, ikut semangat.


Hubungan mereka sudah mulai membaik. Satu per satu permasalahan sudah mulai terselesaikan.


Walau masih ada satu hal yang belum usai sampai saat ini.


***


Olivia melangkah menuju etalase makanan ringan. Satu keranjang di tangannya sudah terisi oleh bahan-bahan masak untuk beberapa ke depan.


Saat ini ekonomi keluarga Olivia sudah mulai membaik. Ayah mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di salah satu PT dan ibu membantu Olivia untuk mengajar anak-anak di dekat rumah nya belajar les semua mata pelajaran.


Rasanya semakin kesini, semakin banyak hal-hal baik yang menghampiri Olivia. Semuanya dipermudah saat ini bagi Olivia.


Memang benar kata Tuhan, kalau ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Dan Olivia bersyukur akan hal itu.


Setelah memilih beberapa makanan ringan. Olivia berjalan menuju kasir. Membayar belanjaannya, lalu keluar dari supermarket tersebut.

__ADS_1


Menghela napas panjang saat hujan lebat membasahi bumi malam itu. Olivia menunggu dengan sabar, tidak mungkin juga dia menerobos karena dirinya tidak membawa payung.


Karena dia pikir ramalan cuaca yang mengatakan bahwa malam ini akan cerah, ternyata hanya ramalan saja.


"Ramalan cuaca sialan."


Olivia menoleh, menatap sosok laki-laki yang masih memakai baju sekolah yang sama dengan Olivia.


Tercenung saat mata mereka saling bertemu pandang satu sama lain.


"Ah, ramalan cuaca emang sialan. Padahal katanya bakalan cerah malam ini. Harusnya tadi gue bawa payung," ucap Ragel canggung.


Olivia masih menatap Ragel syok. Tak percaya bahwa mereka akan bertemu disini. Padahal tadi di sekolah, tak ada tanda bahwa mereka akan bertemu secara tiba-tiba seperti ini.


"How are you?"


"I'm fine," jawab Olivia ragu-ragu.


Ragel mengangguk pelan, menatap lurus jalanan yang basah. Sedangkan Olivia masih menatap Ragel.


"Gue tau, gue ganteng," celetuk Ragel asal.


Olivia kaget, menatap Ragel kesal. Lalu ikut menatap jalanan yang basah.


"Gue udah membuktikan semuanya sama polisi bulan lalu. Dan Saga akan langsung di bawa ke Austria untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh kepolisian disana," ujar Ragel tiba-tiba.


Olivia hanya diam. Tak banyak berkomentar.


"Kata polisi, Saga akan dijatuhi hukuman mati," lanjut Ragel.


"Hukuman mati?" Olivia menoleh cepat.


Ragel mengangguk sekali. "Dia tidak hanya menghilangkan satu atau dua nyawa. Tapi lebih dari lima nyawa, dan pihak keluarga yang ditinggalkan meminta untuk dijatuhi hukuman mati. Karena itu setimpal dengan perbuatan yang telah dia lakukan 5 tahun lalu."


"Dia memang patut di hukum mati," ucap Olivia.


"Buat apa?"


"Saga. Bukankah lo menyukainya?"


Olivia membulatkan matanya lebar. Ingin sekali dia memukul Ragel sekuat tenaga.


"Itu dulu. Sekarang udah beda," elak Olivia cepat. Menatap kaki Ragel yang ternyata sudah bisa memakai kaus kaki dan sepatu seperti biasa.


"Luka tembak waktu itu?"


"Ah, sudah sembuh. Walau benang jahit nya masih belum boleh di buka sih," jawab Ragel santai.


Olivia menatap ngeri, secara tiba-tiba memukul pundak Ragel kuat.


"Bego! Kalau benang jahitnya belum boleh dibuka, kenapa lo malah pake kaos kaki!!" marah Olivia.


"Buka kaos kaki nya! Bisa infeksi yang ada!"


"Iya iya!" Ragel menuruti ucapan Olivia. Membuka kaos nya sebagian. Menampakkan luka tembakan yang memang belum di buka benang nya sama sekali.


Olivia menghela napas lega setelah melihat luka nya masih baik-baik saja.


"Yaudah kalau gitu, gue pamit dulu," izin Olivia melangkah meninggalkan Ragel karena hujan sudah mulai reda.


"Mau gue anter nggak?"


***


Olivia sendiri bingung bagaimana dia bisa berada di mobil Ragel saat ini. Bahkan mobil itu telah terparkir apik di depan rumah nya.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Ragel membuka pintu mobilnya.


Olivia menyusul keluar. Berniat untuk mengucapkan makasih dan menyuruh Ragel untuk pulang langsung.


Tapi cowok itu malah berjalan mendekati rumahnya. Tentu saja pintu rumah terbuka dan menampakkan sosok sang ayah.


Olivia buru-buru menyalami ayahnya. Disusul Ragel. Wajah ayah langsung berubah dingin seketika.


"Kenapa kamu disini?"


"Saya tau kedatangan saya kesini hanya akan membawa masalah. Tapi niat saya datang kesini untuk meminta maaf atas kesalahan saya di masa lalu om," ucap Ragel sopan.


Olivia menatap ayahnya takut-takut. Wajah sang ayah bahkan tak berubah sama sekali setelah Ragel mengatakan itu.


"Kamu salah meminta maaf ke saya. Kamu harus meminta maaf sama ibunya Olivia," ucap ayah.


Ragel mengangguk sopan, "kalau boleh tau. Ibu Olivia apakah ada di dalam om?"


Olivia membulatkan matanya lebar. Dirinya kalang kabut. Bukan masalah Ragel akan di marahi habis-habisan oleh ibu nya. Tapi dia lebih khawatir jika ibu nya menangis histeris lagi mengingat kejadian waktu itu.


"Kalau begitu, ayo masuk!" suruh ayah mempersilakan Ragel masuk.


Ragel mengangguk sopan lagi. Masuk ke dalam rumah setelah Olivia dan ayah masuk.


Terlihat ibu sedang asik menonton film di TV. Melihat Ragel masuk ke dalam, tv langsung dimatikan secara tiba-tiba oleh ibu.


Sebenarnya ayah dan ibu sudah tau berita terkait pelaku pembunuhan berencana itu. Bahkan polisi telah menelepon ayah untuk dimintai keterangan.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Ibu.


"Kedatangan saya kemari untuk meminta maaf atas kesalahan saya di masa lalu. Saya sadar, bahwa saya salah karena telah membiarkan anak om dan tante ditembak oleh pelaku sebenarnya. Harusnya saya mencegah hal itu dan bukan hanya mematung saja, menyaksikan kejadian berdarah itu terjadi di depan mata saya. Saya sungguh minta maaf," ujar Ragel tulus menundukkan kepalanya.


Tak sekalipun Ragel mengangkat kepalanya saat itu. Dia sadar bahwa dia salah dan dia mengakui nya.


"Pelakunya sudah di tangkap. Bohong kalau saya bilang bahwa saya sudah baik-baik saja saat ini. Bahkan saya masih menyesali kepergian Gilang saat itu. Dan menyesali ucapan saya untuk mendesak Gilang memberikan uang hasil gaji nya karena kaki saya akan di operasi. Saya menyesali semuanya. Sampai saat ini, saya masih mengingat jelas bagaimana mayat Gilang datang ke Indonesia. Tubuh kaku itu, rasanya saya masih tak percaya. Anak sulung saya, pergi ke Austria hanya untuk merenggut nyawa saja."


Ibu meneteskan air matanya. Mengingat kembali tubuh kaku anak sulungnya. Hanya membuat hati ibu semakin sakit.


"Saya tahu bahwa kamu ditetapkan sebagai tersangka. Saya marah saat itu. Bahkan saat kamu dengan wajah tebal mu itu datang menemui Olivia. Saya ingin memaki kamu sekuat tenaga saya. Sampai saya puas. Tapi tak bisa. Saya tak bisa memakai siapapun, karena itu juga salah saya. Salah saya yang melepaskan anak saya ke negeri orang. Negeri yang bahkan tak ada satupun sanak saudara disana."


"Saya hanya berharap, kalau kasus ini cepat diselesaikan dan harapan saya terkabulkan. Saya benar-benar lega, walau rasa bersalah dan penyesalan ini masih ada di dalam diri saya," ujar ibu menghapus air mata nya. Menghampiri Ragel yang masih tertunduk.


"Saya menghargai permohonan maaf kamu. Saya tau pasti sangat berat menghadapi ini semua. Apalagi melihat nya secara langsung. Terimakasih karena sudah bersedia meminta maaf pada keluarga kami. Terimakasih juga karena sudah bertahan sampai detik ini dan mau menjadi saksi atas kasus yang telah berlarut ini."


Ibu tersenyum manis, mengelus pipi Ragel lembut. Seolah sedang membayangkan Gilang ada di depannya.


"Kamu bisa kapan saja datang kesini. Anggap saja ini juga rumah kamu dan kami juga keluarga kamu, nak Ragel."


Ragel tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Cowok itu mengangguk sekali. Semua bebannya terasa runtuh setelah ibu menerima permintaan maaf dirinya.


"Makasih Bu. Makasih."


***


Olivia mengantar Ragel sampai depan rumahnya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Setelah sesi permintaan maaf yang dilakukan Ragel.


Ibu meminta Ragel untuk makan malam bersama dirumah kecil mereka baru pulang. Tapi ternyata semuanya berlanjut hingga mereka menonton tv bersama.


Ragel berdiri tepat di depan Olivia setelah memasang sepatunya kembali.


"Makasih," ucap Ragel.


"Gue yang harusnya makasih. Makasih udah bersedia meminta maaf secara tulus pada ibu," ucap Olivia tersenyum tipis.


Ragel mengangguk pelan. Ingin rasanya dia mengusap rambut Olivia. Tapi dia sadar, bahwa dirinya dan Olivia bukankah siapa-siapa lagi.

__ADS_1


"Sampai jumpa di acara perpisahan besok!" ucap Ragel melambaikan tangan.


Olivia mengangguk, ikut melambaikan tangan. Canggung rasanya bercanda bareng sama Ragel seperti dulu. Ada rasa asing yang mendera di dalam dirinya.


__ADS_2