
Olivia berdiri disini. Di depan rumah besar nan mewah. Rumah keluarga Laura yang begitu megah.
Manik hitam tersebut menelisik setiap sudut rumah mewah ini. Aura mencekam terasa, hingga dapat menyelimuti tubuh Olivia yang kaku.
Perlahan gadis itu melangkah menaiki anak tangga, membuka pintu rumah tersebut. Menampakkan ornamen rumah yang sangat asing dipandangan Olivia, membuat langkah gadis itu terhenti.
"Hai, tamu spesial gue!" sapa Laura.
Gaun yang digunakan gadis itu nampak mewah. Semuanya serba mewah. Laura sendiri sedang menggenggam segelas minuman yang Olivia sendiri tidak tahu itu apa.
Laura menggiring Olivia, seolah mereka bukanlah musuh. Membawa gadis itu ke panggung yang memang sudah tertata rapih di dekat dua tangga yang melingkar setengah tersebut.
"Hei guys!" Laura memberikan gelas minum tersebut kepada Olivia. "Kenalin, dia Olivia. Cewek pintar disekolah kita," ucap Laura tersenyum picik.
"Oh, dan itu ..." Laura menunjuk Syera yang juga digiring oleh kedua temannya. "Syera. Mereka sahabatan berdua," lanjut Laura.
Cewek itu kini menatap lurus, tiba-tiba lampu yang ada dirumah tersebut mati. Lalu lampu lain menyorot Ragel yang berdiri tak jauh dari panggung.
Stelan baju santai yang dia kenakan, membuat orang kagum. Ditambah lagi wajahnya yang rupawan bak dewa Yunani.
"Dia Ragel. Cowok tampan yang banyak digandrungi cewek-cewek," tunjuk Laura. Kali ini senyum nya jauh lebih mengerikan.
"Oh iya, ada hal menarik gais!" Laura berdiri diantara Syera dan Olivia. "Lo semua harus tau. Mereka berdua ini, sama-sama punya hubungan sama Ragel," ucap Laura.
Laura menatap Olivia yang juga menatapnya. Tersenyum lebar dengan bola mata yang menyorot tajam.
__ADS_1
"Syera dulunya tunangan Ragel. Tapi hubungan itu kandas setelah 5 bulan ikatan tunangan itu dilakukan, dan Olivia ..." Laura semakin menyorot tajam mata Olivia. "Merupakan mantan pacar Ragel, mereka baru saja putus setelah menjalin hubungan satu bulan yang lalu."
"Lucu banget nggak sih? Kayak ... waw! Keren banget. Mereka yang merupakan sahabat sejak dibangki SMA. Ternyata pernah menjalin hubungan dengan orang yang sama. Wah, wah, wah!"
Laura menepuk tangannya tiga kali. Semakin mengintimidasi Olivia yang juga menatap nya. Sedangkan Syera berusaha untuk menarik gaun Laura agar tidak membuat kekacauan.
"Lau, udah. Pesta lo bisa kacau--"
"APA-APAAN LO NARIK-NARIK GAUN MAHAL GUE, HAH!" Laura menghentak tangan Syera hingga gadis itu terjatuh dari panggung.
Semua orang memekik melihat Syera yang terjatuh, apalagi suara benturan keras dari kepala Syera.
Angga yang berada tak jauh dari panggung, segera berlari menghampiri gadis itu.
Olivia menggeram marah. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaiman Laura menghentak tangan Syera hingga Syera terjatuh dari panggung.
Sraaaa!
Olivia menyiram minuman yang ada di tangannya ke gaun cokelat milik Laura. Melempar gelas kaca tersebut ke panggung.
"Ah, ****!" Laura mendesis kasar. Menarik rambut Olivia sekuat tenaga. Mengarahkan kepala gadis itu ke atas. Hingga mata mereka saling bertemu.
"Lo nyari mati sama gue, hah? Dibayar berapa lo sama orang-orang ini sampai berani nyiram gaun mahal gue! Bahkan harga diri lo aja belum bisa membeli baju mahal gue, jal*ng!" umpat Laura semakin menarik rambut Olivia.
Tertawa jahat melihat Olivia yang meringis kesakitan minta di lepas. Laura malah semakin menarik rambut gadis itu.
__ADS_1
"Gue ... emm, lepasin nggak! Lo itu yang jal*ng!" teriak Olivia menarik tangan Laura, lalu memutar nya hingga tulang nya berbunyi.
"Gue tau, gue miskin. Tapi gue nggak se-bodoh itu untuk di sogok orang. Setidaknya gue punya otak untuk mengelola mana yang baik dan mana yang buruk. Dan juga, Syera bukan sekedar sahabat bagi gue. Dia lebih daripada itu. Dia udah gue anggap keluarga gue sendiri," ujar Olivia semakin memutar tangan Laura.
"Dan untuk Ragel ...." Olivia menghela napas panjang. Melirik Ragel yang masih menatap nya lekat, "gue .... masih menyukai nya."
Laura menghempas tangan Olivia. Lalu menampar pipi kanan Olivia keras dan refleks tangan Olivia yang memutar tangan Laura terlepas.
"Stop!"
Laura menghentikan aksi nya ketika dia berniat untuk menendang tidak tubuh Olivia.
Ragel segera naik ke atas panggung. Memeluk Olivia, membenamkan wajah gadis itu di dada bidang nya.
"Cukup drama nya! Lo ngadain pesta bukan buat senang-senang. Tapi bikin celaka!" bentak Ragel tak main-main.
"Gue bisa aja meminta kepsek untuk mengeluarkan elo dari sekolah atas tindak kejahatan, Laura!"
Laura tersenyum sinis. Memiringkan kepalanya, menatap Ragel remeh.
"Lo kira gue takut? Silakan saja. Masalah yang larut-larut disekolah yang di pendam sama papa lo itu akan gue buka di pengadilan dan tentu saja perbuatan elo yang berusaha untuk menyiksa pelaku," ujar Laura.
Ragel mendesis pelan. Sangat susah untuk membuat Laura kalah telak. Karena gadis itu pasti akan memperkarakan semua hal yang terjadi di sekolah.
"Silakan. Lo liat saja. Siapa yang menang dan siapa yang kalah!" ucap Ragel muak. Membawa Olivia pergi dari sana.
__ADS_1