MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
60. Sebuah Kunci (1)


__ADS_3

Olivia melepaskan genggaman nya pada pinggang Ragel. Gadis itu masih memegangi pipi nya yang terasa nyeri.


"Thanks," ucap Olivia pelan.


Saat akan melangkah meninggalkan Ragel. Cowok yang sejak tadi menatapnya lekat itu mencegahnya, membuat Olivia berhenti tanpa menoleh.


"Lo gue anter sampe rumah," ucap Ragel.


"Nggak usah. Gue bisa sendiri naik angkot," balas Olivia.


Ragel menghela napas panjang. "Lo pikir tengah malam gini, masih ada angkot?"


Olivia tertegun. Ah, iya, benar juga. Kenapa Olivia bodoh sekali.


"Nggak ada penolakan. Lo gue anter," ucap Ragel menarik gadis itu untuk mengikutinya ke area parkir.


Membuka pintu mobil. Memberi isyarat pada Olivia untuk masuk.


"Tapi gue--"


"Liviaaa~" panggil Ragel halus.


Olivia tertegun. Segera masuk tanpa melihat raut wajah Ragel sedikitpun.


Setelahnya Ragel masuk dan duduk di kursi pengemudi. Memasang seatbelt, lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Ragel menoleh pada Olivia yang masih diam. Tak ada pergerakan dari gadis itu.


"Nggak usah kaku gitu. Gue nggak bakalan macem-macem sama lo," ucap Ragel tersenyum kecil. "Jangan lupa pasang seatbelt lo!"


Olivia mengangguk memasang seatbelt nya.


Beberapa menit mobil Ragel melaju membelah kota Jakarta. Tak ada percakapan sedikitpun diantara mereka. Bahkan untuk membahas kejadian tadi juga tidak.


Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


"Gue berhenti di depan gang aja," ucap Olivia.


Ragel mengangguk. Fokus menyetir dengan sesekali melirik Olivia yang memilih menatap jalanan dari balik kaca mobil.


"Kenapa lo bisa ada di pesta Laura?" tanya Ragel akhirnya.


"Karena gue diundang sama dia," jawab Olivia cepat.


Ragel mengangguk pelan. Tak tahu harus bertanya apa lagi.


"Kalau lo?"


"Hm?" Ragel menoleh lagi pada Olivia yang enggan menatapnya.


"Pertanyaannya kurang lebih sama dengan pertanyaan elo tadi."


"Aaaa .... karena gue diajak Angga. Dia dengar percakapan antara Laura dan kedua temannya. Di dalam percakapan mereka ada nama lo dan Syera," jelas Ragel.

__ADS_1


Olivia mengangguk pelan. Memilih kembali diam setelah mendapat jawaban dari Ragel.


Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di gang dekat rumah Olivia.


Saat Olivia akan melepas seatbelt nya. Ragel bersuara kembali.


"Apa rasa lo masih tetap sama dengan gue?" tanya Ragel ragu-ragu.


Olivia terdiam, kali ini menatap Ragel dengan jantung yang mulai berdetak dua kali lebih cepat. Dia sudah menduga Ragel akan membahas ini, cepat atau lambat.


Tak kunjung mendapat jawaban. Ragel kembali bersuara.


"Maksud gue .... lo beneran suka sama gue? Karena yang gue tau, lo .... sebegitu benci pada gue karena telah menyeret elo ke hubungan yang bahkan tak ada rasa suka di dalamnya," lanjut Ragel kini menatap Olivia dalam.


Olivia yang di tatap salah tingkah. Gadis itu buru-buru melepas seatbelt nya. Lalu keluar dari mobil.


"Gue tau ini agak aneh. Hanya saja, gue cuman mastiin kebenaran yang lo katakan tadi," ucap Ragel kembali.


Olivia yang belum menutup pintu mobil. Memilih berani menatap tepat di manik kelam Ragel.


"Kalau itu yang lo dengar dari mulut gue. Itu berarti benar ada nya, kan?" ucap Olivia lugas.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap satu sama lain. Bergelut pada pikiran dan jantung keduanya yang semakin berdetak cepat.


"Thanks, udah nganterin gue. Lo hati-hati," ucap Olivia seraya menutup pintu mobil.


"Sama-sama."


Ternyata benar, mereka saling suka. Tapi sayang, mereka tak bisa jujur akan perasaan masing-masing.


Hari ini sekolah nampak ramai dengan bisikan-bisikan yang terdengar seperti lebah. Yah, semua orang membicarakan kejadian tadi malam.


Ditambah lagi saat mereka melirik Olivia. Bisikan tersebut semakin menjadi-jadi. Seolah Olivia memang patut untuk dijadikan bahan perbincangan satu sekolah.


Tapi gadis itu memilih untuk bodoh amat dan melangkah cepat menuju kelas nya.


Tak ada seorang pun di kelas. Biasanya di jam segini, teman-teman sekelas Olivia sudah mulai rapih dengan buku dan alat tulis diatas meja mereka.


Tapi kenapa sekarang berbeda?


"Liv!" Seseorang menepuk pundak Olivia. Gadis itu kaget setengah mati, ingin rasanya pingsan di tempat. "Sori, bukan maksud gue--"


"It's okay," ucap Olivia.


Melangkah menuju meja nya. Terdiam beberapa saat melihat tas Syera yang ada di kursi samping nya. Olivia menatap Syera bingung.


"Aaaa .... gue duduk sebangku sama lo lagi," jawab Syera ragu-ragu.


"Kenapa?"


Syera mengedarkan pandangannya. Perlahan gadis itu duduk di kursi nya. Lalu menyuruh Olivia duduk juga.


"Sori soal kemarin-kemarin. Bukan maksud gue untuk buat lo bingung dan menyesal. Tapi .... you know, Laura akan melakukan apapun yang dia mau untuk nyiksa elo, kalau sampai gue masih dekat-dekat sama lo," ujar Syera berkata pelan.

__ADS_1


Olivia terdiam. Memerhatikan raut wajah Syera yang kini sudah kembali normal. Maksudnya, biasanya akan banyak luka lebam di pipi atau dagu gadis itu.


Olivia juga tidak tahu apa penyebabnya.


"Gimana kondisi lo?" tanya Olivia tiba-tiba.


"Hm?"


"Maksud gue, lo kemarin jatuh. Apa lo baik-baik aja?" ralat Olivia.


"Oh, okey. Gue sangat baik-baik aja. Walau kaki gue jadi membiru di betis nya, hehehe." Syera nyengir seolah luka lebam bukanlah masalah buat dirinya.


"Kenapa Laura juga manfaatin elo?" tanya Olivia serius.


Syera menghela napas panjang. Mengatur posisi nya senyaman mungkin.


"Ini soal tunangan antara gue dan Ragel," ucap Syera mulai bercerita. "Sebelum gue bertunangan sama Ragel dulu. Gue sempat bertemu Laura. Kami sempat sekelas saat kelas 4 SD. Tapi setelahnya, gue dipindahkan ke kelas khusus waktu SD karena obsesi orang tua angkat akan prestasi dan juara. Gue kira, gue nggak bakalan bisa bertemu sama dia. Tapi ternyata, dia selalu menyelinap saat pelajaran tambah berlangsung di kelas khusus."


Syera menghela napas sekali lagi. Mulai menundukkan kepala.


"Saat itu, gue ngajak dia ke rumah orang tua angkat gue dan ngenalin dia sama orang tua gue. Gue senang karena Laura bisa akrab sama orang tua gue. Itu tanda nya, kalau gue sama Laura. Gue bisa melakukan apapun, asal sama dia kan?" Syera tersenyum kecut. Memilin tangannya yang di penuhi luka sayatan.


"Tapi ternyata sama aja. Dan puncak masalah itu terjadi, ketika gue dan Ragel bertunangan. Laura melihatnya dengan mata kepala nya sendiri. Lalu, setelah pertunangan itu selesai. Laura mengancam gue untuk membatalkan pertunangan tersebut, karena dia juga menyukai Ragel. Tapi sayang, Papi nggak menerima ucapan Laura. Meskipun Papi sama Mami juga sudah menganggap Laura sebagai anaknya," jelas Syera, sorot mata sendu nya. Gadis itu memilih menggigit ujung kukunya.


Olivia yang mendengar cerita Syera dan melihat perubahan Syera saat bercerita. Mengambil kedua tangan Syera, lalu menggenggam nya kuat.


"Sye, kalau lo nggak mau cerita sekarang. It's okey, nggak usah dipaksa. Gue bakalan nunggu kesiapan lo untuk--"


Syera menggeleng, "enggak Liv. Bagi gue, menceritakan semua tentang diri gue ke elo itu adalah satu kelegaan. Gue nggak masalah untuk mengulik kembali masa lalu gue. Karena gue percaya, kalau gue ceritanya ke elo."


Olivia tersenyum, mengusap punggung tangan Syera lembut.


"Permintaan Laura yang tidak terwujud itu ternyata membuahkan hasil. Pada akhirnya, gue dan Ragel memutuskan pertunangan tersebut. Papi sendiri yang memutuskan pertunangan kami, padahal dia sangat bersemangat saat kamu bertunangan beberapa bulan sebelun itu."


Syera menghela napas panjang. Mengusap wajahnya, entah kenapa suasananya malah sangat berat.


"Seminggu sebelum pertunangan itu dibatalkan. Ragel dan keluarganya mengalami kemalangan yang dimana Mama Ragel meninggal dunia di tempat kejadian dan merupakan korban penembakan di bank sentral di Swiss. Hal itu juga ada keterlibatannya dengan Ragel yang ditemukan polisi berada ditempat kejadian dengan wajah syok dan pistol yang ada di depannya. Salah satu mayat di depan Ragel diduga ada kaitannya dengan Ragel sendiri," ujar Syera menatap Olivia dengan sorot sedih.


Olivia mencoba mengingat kejadian yang diceritakan Syera. Dirinya seperti tahu tempat dan kronologi cerita yang pernah diceritakan polisi saat dia pergi ke--


"Sye, apa... mayat korban tersebut berjenis kelamin laki-laki?" tanya Olivia.


Syera mengangguk yakin.


"Apa dia.... salah satu pemuda yang berasal dari Indonesia?"


Sekali lagi, Syera mengangguk.


"Sye--"


"Liv, gue tau. Tapi bukan Ragel yang menembak nya. Itu semua salah paham. Pasti ada seseorang yang sengaja menjebak Ragel waktu itu," ucap Syera cepat.


Dirinya yakin bukan Ragel yang melakukannya. Karena tau bagaimana Ragel yang sebenarnya. Ragel begitu baik pada orang-orang.

__ADS_1


"Gue.... Ragel itu sangat sulit di tebak dan...." Olivia terdiam beberapa saat, mencoba mencerna kembali apa yang diolah otak nya. Dengan tiba-tiba gadis itu berdiri.


"Gue harus menemui Ragel."


__ADS_2