
Olivia menatap sepatu bututnya lekat. Telapak kirinya setia menutupi pipi kiri yang tercetak jelas sekali bekas tamparan dari Laura.
Gadis seragam sekolah abu-abu itu tak pernah sedikitpun bergeming dari duduknya di halte. Bahkan angkot dan kendaraan umum lainnya yang berhenti disana.
Tidak juga membuat Olivia pergi dari halte.
"Lho, Olivia?"
Saga yang kebetulan lewat sana mengernyitkan dahi bingung. Ini sudah jam setengah lima dan langit sangat tidak mendukung.
Mungkin saja air dari langit akan turun secara tiba-tiba nantinya.
Saga memberhentikan motor bututnya. Melangkah mendekati siswinya tersebut.
"Hei? Kenapa belum pulang?" tanya Saga lembut.
Olivia mengangkat kepalanya. Menatap langsung pada kedua manik hitam kelam milik Saga.
"Nggak apa-apa pak. Nunggu angkotnya lama," dalih Olivia tersenyum kecil.
Saga membalas senyum kecil Olivia. Seolah tau isi hati gadis itu.
"Pulang gih! Kalau kamu makin ngulur waktu buat pulang. Orangtua kamu pasti semakin khawatir. Ingat, ikatan batin orangtua tentang anaknya itu kuat. Jangan bikin mereka khawatir dan mikir yang enggak-enggak nanti nya," ujar Saga.
Olivia menghela napas. "Salah satu kemampuan guru. Bisa menangkap tingkah aneh dari muridnya," ucap Olivia berdiri dari duduknya.
Saga tentu saja terkekeh. Disekolah, Saga memang dikenal sangat ramah. Tapi bukan berarti kekehan yang sekarang di tampakkan adalah free bagi siapa saja.
Bahkan Olivia baru pertama kali melihat Saga terkekeh manis seperti itu.
"Jadi guru juga harus bisa membaca apa yang dipikirkan muridnya. Makanya, kalau kamu minat jadi guru. Kamu juga bisa membaca gerak gerik murid kamu sendiri. Apalagi yang bandel," ujar Saga masih terkekeh.
Olivia mematung ditempatkan. Menatap kekehan dari guru PL yang terganteng di sekolahnya itu lekat.
Astaga!
Mimpi apa Olivia semalam. Sampai gadis itu melihat Saga terkekeh semanis itu?
Ragel yang berdiri tak jauh dari halte hanya menatap Olivia dan Saga lekat.
Entah memang semenjak pacaran dengannya, Olivia kadang jadi sering berpapasan dan berbincang akrab dengan Saga. Atau bagaimana. Ragel sendiri pun juga kurang tau.
"Eh Gel! Lo mau kemana?" tanya Angga menarik tas cowok itu kuat.
"Anj*! Lo ngapain narik-narik tas gue, hah?!"
Ragel murka, mata hitam kelam cowok itu membulat lebar. Angga tentu saja tidak mau kalah. Ikut membulatkan matanya selebar mungkin.
"Lo cemburu?" tanya Angga tiba-tiba.
Ragel berkedip sekali. "Ngapain lo nanya gituan?"
Angga menghela napas panjang. "Susah emang sama jomblo yang baru pacaran seumur jagung kayak elo!"
Ragel ingin sekali melayangkan satu tinju ke wajah Angga. Tapi urung, karena satu-satunya orang yang dapat memberikan dia informasi penting.
Angga menatap lurus ke arah Saga dan Olivia. Cowok itu seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Gel, gue rasa. Rumor yang belum lama beredar tentang Oliv yang diam-diam menyukai pak Saga itu benar," ucap Angga tiba-tiba.
Tuh kan, apa di bilang. Angga itu ibarat reporter yang tau seluk-beluk yang ada di sekolah. Sekecil apapun itu, Angga pasti tau.
"Rumor si Livia suka sama guru PL sialan itu? Lo ngaco Ang!"
Angga menatap Ragel tajam. Menjitak kepala temannya itu kuat. "Elo yang ngaco! Main pacarin anak orang aja!" balas Angga nggak terima.
"Sekarang gue tanya," Angga berkacak pinggang menghadap Ragel sepenuhnya. "Lo bener-bener suka sama Oliv atau lo ada maksud lain?"
Ragel membalas jitakkan di kepala Angga lebih kuat. Membuat temannya itu kesakitan.
"Lo nggak perlu tau maksud dan tujuan gue pacaran sama Olivia. Nggak guna juga sama lo!"
"Guna bangs*t!" semprot Angga cepat. Ragel tentu saja mengernyitkan dahi bingung. "Nih ya ... selama gue temenan sama lo dari kelas 10. Nggak ada tuh, yang gue denger kalau lo suka sama cewek. Gue kadang suka ilfeel liat lo. Senyumin cewek iya. Baperin cewek iya. Kasih lampu hijau aja terus, jalannya entah kapan!!"
"Bangs*t! Lo kira gue Ziky jamet, hah?!" bentak Ragel tak terima.
Ampun dah, Ragel walaupun ramah gitu ke cewek. Tapi cowok itu masih memberi batas, antara kehidupan yang sebenarnya dengan topeng palsu yang dipakai Ragel saat ini.
"Anj*r! Ziky itu beda lagi, bego! Dia lebih dari itu! Udah strata tertinggi soal modusin sama bikin cewek sakit hati sama dia!"
Ragel memutar bola matanya malas. Dari kedua orang yang kadang Ragel anggap teman. Hanya Angga yang kadang kurang waras. Walau memang Ziky juga kadang kurang waras sih.
Cowok jangkung itu terlalu kepo sama kehidupan orang. Cocok bener jadi reporter kelas kakap.
"Eh, kalau dipikir-pikir. Pak Saga emang populer. Lo tau nggak? Waktu lo libur seminggu cuman karena males ketemu bokap lo. Pak Saga berasa jadi artis di sekolah."
Tuh kan! Di bilang apa! Angga bener-bener kepo banget kan!
"Terus, gue harus waw gitu? Harus kepoin juga?!"
"Tapi ya Gel! Pak Saga emang bener-bener punya daya pikat tersendiri. Gue nggak yakin umurnya 22 tahun. Dari perawakan sama gestur tubuhnya aja. Dia ..."
Entah Ragel emang nggak dengar apa yang dibilang Angga atau bagaimana. Tapi yang jelas, cowok itu jadi teringat pembicaraannya dengan pak Tama di rumah saat Ragel baru naik kelas 12.
"Gel, duduk dulu sini!"
Pak Tama menepuk pelan sofa yang ada di disampingnya. Mengisyaratkan Ragel untuk duduk di sampingnya.
"Apa? Papa mau blokir black card Ragel juga?" tanya Ragel kesal.
Mereka sedang perang dingin. Bisa-bisanya Papa nya seolah tidak ada yang terjadi. Padahal jelas-jelas, pak Tama sengaja menskorsing anak nya sendiri selama sebulan hanya karena Ragel nyaris saja membuat nyawa anak orang melayang.
Ya ... emang sih. Tapi yang salah duluan itu, si korban. Kenapa ngejek Ragel anak Papa. Padahal cowok itu jelas-jelas nggak pernah manja sama pak Tama.
"Enggak! Duduk dulu. Papa mau cerita," ucap pak Tama tersenyum penuh arti.
"Satu kalimat, 20 juta!" ucap Ragel enteng.
"Astagaaa, anak ini ya!!! Mau jadi tukang palak orang di masa depan, hah?!" hardik pak Tama menarik tangan anaknya kasar.
"Ya iyalah! Jadi orang jahat itu lebih baik daripada jadi orang baik. Yang ada dikambinghitamkan sama orang--"
"Ragel! Shut up! Jangan bahas itu. Papa nggak mau kamu malah semakin tersiksa. Soal kejadian 5 tahun lalu, lagi diselidiki sama pihak polisi Austria. Kamu--"
"Pah! Ragel nggak terima dan Ragel nggak akan diam aja," potong Ragel cepat. Tersenyum sinis pada Papa nya.
__ADS_1
Pak Tama menghela napa panjang. "Kamu tau kan, kalau besok hari pertama sekolah setelah libur panjang? Dan juga waktu nya mahasiswa semester akhir menjalankan tugasnya sebagai guru PL?"
Pak Tama mengalihkan topik. Membicarakan kejadian 5 tahun lalu, hanya akan membuat hati anak laki-lakinya semakin sakit dan tentu nya. Pak Tama semakin merindukan sosok istrinya.
"Kalau Papa cuman bahas sekolah. Ragel males!" Berdiri dari duduknya, berniat ke kamarnya sendiri.
"Papa kayak pernah ketemu sama salah satu guru PL entah di tempat mana. Tapi yang jelas, wajahnya nggak asing sama Papa," jelas pak Tama.
Ragel terdiam, menoleh pada Papa nya. "Terus?"
"Ya ... namanya Saga. Satu-satunya mahasiswa yang memiliki skill yang boleh dikatakan waw. Dia bisa apa saja. Kelebihan yang bahkan hanya dimiliki satu dari berjuta orang," ujar Pak Tama.
Pak Tama sedikit menunduk dari duduknya. Menyatukan kedua tangannya. Mencoba mengingat percakapannya dengan Saga.
"Papa tanya, apa kita pernah ketemu. Tapi pertanyaannya bener-bener bikin Papa berpikir beribu-ribu kali. Dia bilang, menurut pak kepala sekolah gimana? Saya rasa Fifty-Fifty. Kalau diingat-ingat, dia ngomong gitu sambil tersenyum aneh," jelas pak Tama.
Mencoba memutar memorinya beberapa tahun ke belakang. Tapi sama sekali tidak bisa pak Tama ingat tentang dirinya yang pernah bertemu dengan sosok Saga.
"Papa de javu kali!"
Pak Tama menggeleng kuat. Menyangkal pernyataan Ragel.
"Papa nggak de javu Ragel. Papa yakin, kalau Papa pernah ketemu Saga. Tapi ... entah dimana," sela Pak Tama seyakin-yakinnya.
Ragel sedikit terkejut, saat Angga menepuk pundak nya kuat.
"Woi! Gue panggil-panggil dari tadi kagak kedengaran lo! Lagi mikirin apaan, hah?!"
Ragel memberikan tatapan sinis pada Angga. Menoleh lagi ke arah halte sekolah. Melihat Olivia yang sudah menaiki angkot.
Ragel buru-buru menghidupkan mesin motornya. Melaju begitu saja meninggalkan Angga yang tercengang.
"Kalau emang se-bucin itu, agak meragukan sih. Tapi yah ... nasib jomblo dari embrio emang gitu."
***
Olivia memberhentikan angkot saat melewati TPU. Gadis itu turun masih dengan satu tangan menutupi pipinya.
"Makasih neng."
Olivia mengangguk singkat, lalu berbalik badan melihat gapura TPU tersebut. Gadis itu menghela napas panjang. Mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam TPU.
Ragel yang tak jauh dari Olivia mengernyitkan dahi. Olivia kenapa ke TPU?
***
Hai kaliaaann!!👋
Maaf yah baru up, soalnya Acha lagi sibuk sana-sini. Hehehe, maaf yah sekali lagi.
Doain aja, semoga alur cerita MPB makin lancar dan Acha bisa up lagi kayak biasa ðŸ˜ðŸ’ž
Btw, mulai part ini. Ayo main teka-teki:) kira-kira disini ada berapa kata kunci yang kemungkinan besar akan terjadi di part selanjutnya?
Ayo penuhin komen nya, wkkwkwkwkwk 🤣 nanti kita temukan jawabannya sama-sama.
Oke Acha minggat dulu
__ADS_1
See youuuu👋