
..."Dunia ini begitu rumit. Bahkan masalah kecil saja. Akan semakin rumit, jika tidak diselesaikan langsung. Sama hal nya dengan benang kusut."...
...***MY PSIKOPAT BOYFRIEND...
HAPPY READING GAIS 💕***
"Jadi begitu dok. Saya mohon untuk tidak memberitahu kan ini pada siapapun," ujar Pak Tama mengakhiri ceritanya.
Dokter tersebut mengangguk pelan. "Apakah pasien sudah dibawa ke psikiater?"
"Sudah dok. Saya sudah berusaha keras untuk menyembuhkan Ragel-- anak saya. Seperti sebelumnya, Ragel masih dihantui bayang-bayang masa lalu nya," jelas Pak Tama menghela napas.
"Saya selalu berharap. Kasus ini mendapat titik terang nya. Karena ini juga menyangkut mental anak saya."
Pak Tama tertunduk. Mengingat kejadian saat itu. Membuat Pak Tama terpukul. Apalagi dia kehilangan istri yang sangat dia cintai.
Tapi Pak Tama terus bersyukur. Karena anak nya Ragel, masih ada di sisi nya.
"Ragel satu-satunya keluarga saya saat ini. Satu-satunya harapan saya, untuk tetap bertahan hidup sampai saat ini. Satu-satunya yang selalu saya harapkan," lirih Pak Tama.
***
Olivia menatap wajah Ragel. Mengelus pipi itu pelan.
Kelopak cowok itu masih setia tertutup. Membiarkan Olivia larut dalam kesedihan nya saat ini.
"Bangun Gel. Gue disini. Nemenin elo," pinta Olivia lirih.
Menghela napas. Hanya suara mesin medis yang berbunyi. Setidaknya Olivia masih punya harapan. Kalau Ragel akan bangun. Cepat atau lambat.
Kriet.
Olivia menoleh. Mendapati figur Pak Tama dengan wajah sendu nya. Duduk di seberang Olivia.
__ADS_1
Meraih tangan putra nya. Menatap wajah yang masih setiap menutupkan matanya itu.
Perlahan, Pak Tama tertunduk. Suara nya yang lirih dapat Olivia dengar samar-samar.
"Maafin Papa Gel. Maafin Papa," lirih Pak Tama menggenggam erat tangan putra nya.
"Jangan gini Gel. Jangan pernah tinggalin Papa. Cuman kamu, satu-satunya berlian dalam hidup Papa. Cuman kamu yang selalu menguatkan Papa saat ini Gel."
Pak Tama terisak lirih. Meneteskan air mata. Ada rasa pilu yang mengingatkan Pak Tama akan kepergian istrinya. Pak Tama sangat terpukul.
Apalagi saat mengetahui, kalau Ragel mengalami trauma yang sampai saat ini belum sembuh.
"Jangan pergi ketemu Mama. Tetap sama Papa disini Gel," pinta Pak Tama.
Olivia menatap Pak Tama sedih. Melihat gurunya terpukul seperti ini. Membuat Olivia bingung harus bagaimana.
Gadis itu segera bangkit. Berniat untuk mencari makan, alih-alih mencari suasana segar dan membiarkan Pak Tama meluapkan seluruh isi hati nya.
Perlahan Olivia melangkah meninggalkan kamar rawat inap. Menutup pintu sepelan mungkin. Gadis itu menghela napas, menatap Pak Tama dari balik kaca pintu.
"Seberapa terluka elo, Gel?"
***
Olivia mencoba mencari makanan yang terjangkau dari kantong nya yang sedang krisis. Tak ada yang murah di sekitar rumah sakit ini.
Semuanya cafe dan restoran mewah. Dan Olivia yakin, kantong nya akan menjerit kalau melihat price di buku menu nanti.
Pilihan gadis itu jatuh pada NASI GORENG SEDAAP!!. Olivia segera memesan nasi goreng tersebut dua bungkus.
Lalu Olivia mencari buah-buahan untuk dimakan oleh Ragel saat cowok itu siuman nanti.
Saat Olivia akan melangkah menuju rak buah di minimarket. Langkah gadis itu terhenti. Melihat Syera dengan jaket hitam dan topi hitam. Menunduk dalam seperti seseorang yang mencurigakan.
__ADS_1
Olivia buru-buru mengejar Syera. Menarik tangan gadis itu cepat.
"Sye!" panggil Olivia.
Matanya membulat lebar. Melihat wajah Syera yang lebam. Mata gadis itu juga bengkak.
"Lo ..."
Syera menepis tangan Olivia. Membulatkan matanya lebar. Gadis itu melangkah lebar meninggalkan Olivia.
"Sye! Tunggu!" Olivia mengejarnya. Mengikuti langkah Syera kemana pun. Hingga mereka berhenti di halte bus.
"Lo apa-apaan sih!? Bisa nggak, nggak usah ngekorin gue kayak anak yang gitu!" Syera murka. Berbalik, menatap Olivia kesal.
"Nggak! Lo harus jawab pertanyaan gue dulu," Olivia masih memerhatikan wajah Syera yang penuh lebam. "Lo kenapa?"
"Kenapa?" Syera tersenyum sinis. "Kenapa lo harus bertanya 'kenapa' seperti orang bego gitu?!"
Syera mengusap wajahnya. "Oke, sekarang gini aja. Anggap aja gue nggak pernah ketemu elo. Begitu sebaliknya," jawab Syera.
Olivia menggeleng pelan. "Nggak. Gue nggak bisa diam, disaat lo ada masalah--"
"OLIV! LO BISA NGGAK SIH, NGGAK USAH PEDULIKAN GUE!? MAU SAMPAI KAPAN LO MEMBEBANKAN SEMUA MASALAH ORANG-ORANG KE ELO!!? MAU SAMPAI KAPAN LO MEMOSISIKAN DIRI, SEOLAH ELO BISA MENYELESAIKAN MASALAH ORANG LAIN. PADAHAL MASALAH LO AJA NGGAK PERNAH SELESAI, HAH!!?"
Syera membentak Olivia habis-habisan. Mata gadis itu memerah. Napas nya terengah-engah seolah di kejar waktu.
Olivia terdiam. Melangkah mendekati Syera. Mencoba meraih gadis itu. Lalu memeluknya.
Tapi Syera lebih dulu menepisnya dengan kasar.
"Jangan pedulikan gue!"
Setelahnya Syera berlari pergi. Meninggalkan Olivia di halte bus sendirian.
__ADS_1
"Kenapa semuanya semakin rumit. Apa masalah lo sebenarnya Sye. Kenapa lo begitu susah untuk di jangkau," lirih Olivia menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh.